Me And You For Us

Me And You For Us
Berpisah Lagi.



Mereka beristirahat di Rest Area kedua, karena anak-anak mau ke toilet dan membeli minuman. Mikha bersama anak-anak ke toilet, sedangkan Bu Selvine ke mini market untuk membeli minuman dan cemilan.


Darel tetap di mobil untuk menemani Kandara yang ingin istirahat sejenak. "Dara, mana minyak hangat itu? Biar kupijit kakimu." Ucap Darel, sambil mengulurkan tangannya.


"Tidak usah, Darel. Tadi aku becanda saja." Ucap Kandara tersenyum, malu.


"Tidak mengapa, aku mau melakukannya." Ucap Darel lagi, dan mendesak Kandara untuk memberikannya.


Akhirnya Kandara memberikan hand bodynya karena Darel serius mau memijit kakinya. "Pakai ini saja, biar tidak ada yang pingsan dalam mobil karena bau minyak yang terlalu tajam." Ucap Kandara, masih tersenyum malu.


Darel mengambil hand body dan menuangkan ke tangannya. "Lepaskan sepatumu dan letakan kakimu di sini." Ucap Darel sambil menepuk pahanya, agar Kandara meletakan kakinya di sana. Kandara menurut, melepaskan sepatu dan meletakan kakinya di paha Darel sambil menatap ke sembarang arah dengan wajah memerah.


Darel tahu wajah Kandara yang sedang memerah, hal itu membuat hatinya tersenyum. Ketika Kandara meletakan kakinya di atas paha Darel, kakinya benar-benar tegang.


"Dara, sandarkan punggungmu ke pintu dan coba santai, kakimu sangat tegang." Kandara menurut. Darel memijit kaki Kandara perlahan sampai yang lain kembali.


"Gimana, sudah lumayan?" Tanya Darel, dan Kandara mengangguk.


"Thanks." Ucap Kandara sambil menurunkan kakinya dan memakai kembali sepatunya dengan wajah memerah, karena malu.


"Lain kali, kalau bepergian jauh begini, pakai sopir saja." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk mengiyakan. Bu Selvine membagikan minuman dan cemilan ringan untuk mereka semua.


Setelah itu, Kandara kembali membawa kendaraannya menuju Bandara. Karena waktu tidak memungkinkan untuk pulang ke rumah. Mereka tiba di tempat parkir Bandara Soeta tepat waktu. "Dara, kau dan anak-anak tidak usah turun untuk mengantar kami." Ucap Darel, ketika Kandara telah memarkir kedaraannya. Karena dia akan sangat berat untuk meninggalkan mereka.


"Kami hanya turun dari mobil ini saja." Ucap Kandara dan Darel mengangguk mengiyakan. Mereka semua turun dari mobil. Darel dan Mikha sudah memakai masker dan menurunkan tas mereka.


Darel dan Mikha berpamitan dengan mereka satu persatu. Darel mendekati Kandara dan memeluknya. "Jaga dirimu dan anak-anak baik-baik." Ucap Darel dan Kandara menganggukan kepalanya di dada Darel sambil menahan air matanya. "Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku atau Mikha." Kandara kembali mengangguk tanpa suara.


Darel melepaskan pelukannya dan berpamitan dengan anak-anaknya. Dia memeluk mereka berdua dalam pelukannya. "Ingat pesan yang Daddy katakan tadi malam, yaa." Ucap Darel sambil mencium mereka bergantian.


Bu Selvine mengulurkan tangan untuk berpamitan dengan Darel, tetapi Darel langsung memeluknya. "Terima kasih untuk semua, Ma. Darel titip Dara dan anak-anak." Ucap Darel dan Bu Selvine mengangguk mengerti.


Walaupun baru pertama kali bertemu, Bu Selvine dapat merasakan kebaikan hati Darel dan Mikha. Bu Selvine sangat menyayangi Daddy dan Uncle dari kedua cucunya itu. Hal itu membuat Bu Selvine tidak bisa menahan air matanya.


"Jaga dirimu dan Mikha baik-baik di sana. Kiranya Tuhan menjauhkan kalian dari segala yang jahat dan membuat semua pekerjaan kalian berhasil." Ucap Bu Selvine dengan air mata berlinang. "Amin.' Ucap Darel dan Mikha mengaminkan bersamaan dengan mata berembun.


Ketika Mikha mengulurkan tangan untuk berpamitan dengan Kandara, dia langsung memeluknya. "Aku bersyukur kau ada bersamanya. Aku titip Daddynya anak-anak padamu, Mikha." ucap Kandara pelan dan tersenduh. Mikha mengangguk mengiyakan.


"Tolong beritahu aku jika ada sesuatu yang terjadi dengannya, walaupun dia melarangnya." Mikha mengangguk mengerti, dan mengusap lengan Kandara untuk menenangkannya.


Darel kembali memeluk Kandara sebelum masuk ke Bandara. "Aku akan berangkat sekarang, dan aku tidak akan berbalik melihat kalian. Karena jika berbalik, aku khawatir tidak bisa berangkat." Ucap Darel sambil menatap wajah Kandara dalam. Kandara mengangguk sambil menahan air matanya. "I love u." Bisik Darel sambil mencium pelipisnya. "Me too." Ucap Kandara sambil mencium dada Darel. Air matanya sudah membasahi kemeja Darel.


Darel melepaskan pelukannya dengan tarikan nafas yang dalam. Dia mengambil tasnya dan beranjak diikuti oleh Mikha ke gerbang keberangkatan. Darel berjalan cepat sambil menunduk. Berusaha mengendalikan hatinya yang sedang berkecamuk.


*- Ada pertemuan, ada perpisahan. Masing-masing memiliki rasa di hati -*


Setelah di ruang tunggu, Darel dan Mikha duduk menyendiri. Karena walau pun sudah mengenakan masker, mereka tetap menarik perhatian orang-orang yang melewati atau dekat dengan mereka.


Sebelum boarding, Darel menelpon Efraim.


"Allooo, Efra..."


"Alllooo, Dad..."


"Kalian sudah di jalan untuk kembali ke rumah?" Tanya Darel.


"Bilang Mommy, hati-hati. Jangan ngebut." Ucap Darel, mengingatkan.


"Siap, Daddy. Tenanglah." Ucap Kandara, karena Efraim menerima telpon Darel, menggunakan spiker.


"Baiklah, aku akan berikan kabar setelah tiba di Seoul. Mungkin besok pagi saja, karena kami tiba, kalian masih tidur." Ucap Darel lagi.


"Iyaa Dad, jangan lupa berdoa sebelum take of." Ucap Kandara, mengingatkan.


"Ok. Thank u." Ucap Darel.


Anak-anak langsung teriak.


"Love u, Dad."


"Love u too." Balas Darel.


"Love u, Uncle."


"Love u too." Balas Mikha, ketika Darel mendekatkan ponselnya kepada Mikha.


"Jangan lupa pesan Uncle, yaa... By." Tambah Mikha lagi.


" Siap Uncle, by... By Daddy." Darel mengakhiri telponya.


"Apa yang kau pesankan kepada anak-anak?" Tanya Darel ingin tahu.


"Kalau ada apa-apa dan tidak bisa hubungi Daddy, langsung hubungi Uncle saja." Jawab Mikha, dan Darel tersenyum.


Di dalam mobil, Kandara bertanya kepada anak-anak apa pesan Uncle Mikha.


"Sama dengan pesan Daddy, Mom. Kalau tidak bisa hubungi Daddy, hubungi Uncle saja." Mereka semua jadi tersenyum mengingat kasih sayang Daddynya dan Uncle Mikha. Persahabatan dan persaudaraan mereka sangat menghangatkan hati.


"Setiap orang baik, Tuhan pasti mengirimkan malaikat pelindung baginya."  Ucap Kandara, mengingat betapa baiknya Darel, walau pun dia seorang bintang yang terkenal. Tidak sombong atau arogan.


Dia sudah mengetahuinya lama, ketika menjadi seorang melons. Tetapi setelah bertemu dengannya di dunia nyata, ternyata sama bahkan lebih dari yang sering diberitakan.


"Yaaa... Mungkin mereka tidak menyadarinya, sebenarnya mereka menjadi malaikat pelindung seorang  terhadap yang lain." Ucap Bu Selvine, mengingat mereka berdua.


"Msksud Oma, gimana?" Tanya Efraim.


"Maksudnya, Daddymu telah menjadi malaikat pelindung bagi Uncle Mikha dan Uncle Mikha telah menjadi malaikat pelindung bagi Daddymu." Bu Selvine menjelaskan, Kandara dan kedua anaknya mengangguk mengerti.


"Oma berdoa, semoga kalian bisa memiliki persahabatan dan persaudaraan seperti Daddymu dan Uncle Mikha." Harapan Bu Selvine.


"Amin..!" Diaminkan oleh Kandara dan kedua anaknya.


Kandara membawa mobilnya keluar dari bandara dengan hati yang berat. Pertemuannya dengan Darel terasa sangat singkat. Dia menguatkan hatinya, demi anak-anak. Karena dia tahu, mereka yang paling sedih saat ini.


Kandara bisa mengontrol diri dan hatinya, tetapi anak-anak mungkin belum bisa mengerti.


*- Sebuah hubungan yang dibangun atas dasar ketulusan dan kebaikan, dalam keheningan pun dapat dirasakan -*