
Hal yang sama juga Bu Richel lakukan untuk Mikha setelah pulang kerja. Bu Richel menyuruhnya untuk makan malam lebih awal dan memberikan obat agar bisa beristirahat.
Sehingga di hari baru mereka sekeluarga bisa berkumpul di meja makan untuk sarapan, bersyukur dan bercengkrama lagi dalam keadaan sudah lebih baik.
Setelah itu, Darel dan Mikha mendiskusikan rencana Darel untuk adakan konferensi pers di ruang baca. Mereka setuju akan dilakukan besok siang sebelum makan siang.
Setelah itu, Mikha kembali ke kamar untuk bersiap-siap ke kantor. Sedangkan Darel kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya, karena dia akan meeting dengan staff perusahaannya yang ada di Jepang.
Tiba di kamar, Kandara baru selesai mengganti penutup tempat tidur dan sedang memasukan semuanya ke tempat loundry.
"Dara,, kau sedang melakukan apa.?" Tanya Darel terkejut melihat yang dikerjakan Kandara.
"Biarkan saja pelayan yang melakukannya." Ucap Darel sambil mendekatinya.
"Tidak apa-apa., Darel... Biarkan aku melakukan untuk kamar ini saja. Aku merasa tidak nyaman orang lain mengganti penutup tempat tidurku." Ucap Kandara sambil menatap Darel memohon.
"Baiklah,, tapi hanya untuk kamar ini. Semoga Mama tidak melakukan hal yang sama di kamar tamu. Sampaikan itu untuk Mama., biarkan Mama istrahat sementara di sini." Ucap Darel
"Kalau kalian mau jalan-jalan hari ini, katakan. Aku akan minta sopir untuk mengantar kalian. Karena aku dan Mikha tidak bisa mengantar kalian, ada kerja yang harus kami selesaikan." Ucap Darel sambil memeluk Kandara.
"Benarkah..? Kami mengikutimu saja, sambil kau berangkat kerja. Kau menurunkan kami, nanti pulangnya kami bisa sendiri." Ucap Kandara senang.
"Astagaaa, aku bekerja di sini. Kemaren kau mencariku saat aku bekerja.?" Tanya Darel dan Kandara mengangguk mengiyakan. Karena dia sempat mencari dan tidak bertemu. Dia berpikir mungkin sudah berangkat kerja, tetapi tidak sempat pamit dengannya.
"Sini, aku tunjukan ruang kerja pribadiku." Ucap Darel sambil menggenggam tangan Kandara dan masuk ke ruang tempat baju-bajunya.
"Dara,, tolong ambil baju kerjaku." Ucap Darel sambil membuka baju kaos dan celana pendeknya.
Jadi Darel hanya tinggal dengan celana boxer., sehingga terlihat jelas roti sobeknya. Hal itu membuat wajah Kandara memerah sambil menyerahkan baju kerja Darel.
Selama mereka belum menikah, Darel tidak pernah bertelanjang dada di depan Kandara. Walaupun saat mereka berada dalam kamar, sehingga kondisi Darel saat ini, membuat wajah Kandara merona merah., malu.
"Astagaaa,, wajahmu itu seperti baru perna melihatku telanjang. Padahal tadi malam kau sudah melihat lebih dari ini." Ucap Darel yang sengaja menggoda Kandara dengan mengganti baju di depannya.
"Kalau tidak ada meeting saat ini,, aku akan membuka semuanya." Bisik Darel sambil tersenyum, melihat Kandara masih melihat ke sembarang arah dengan wajah memerah.
"Sudah.., ini aku sudah rapi.." Ucap Darel sambil mengacak rambut Dara dan mengambil jas dari dalam lemari.
Darel mengambil kunci dan membuka pintu lemari yang paling ujung, yang tidak ada lebel/keterangan di atas pintunya. Setelah pintu terbuka, Kandara terkejut dan takjub.
Ternyata di balik pintu itu, ada ruang kerja yang cukup luas dengan meja dan kursi kerja yang mewah dan juga ada TV berlayar datar yang lebar. Hanya ada krey yang indah di balik kursinya menutupi jendela. Ada juga lemari kayu menutupi sepanjang dinding.
"Ini ruang kerja pribadiku. Karena sekarang kau istriku, aku menunjukan padamu. Kau orang keempat yang tahu setelah Daddy, Mommy dan Mikha. Semua dokumen perusahaan dan musikku ada di sini, di lemari-lemari itu." Ucap Darel sambil menunjuk lemari-lemari sepanjang dinding.
Kandara masih terpaku ditempatnya, tanpa bersuara. 'Ternyata banyak hal yang belum aku tahu tentang Darel.' Ucap Kandara dalam hati.
"Sebenarnya aku pernah mencoba membukanya, karena aku berpikir pintu itu lemari yang menyimpan perlengkapanmu. Tetapi karena tidak ada keterangan dan terkunci, aku berpikir mungkin ada perlengkapan pribadimu." Ucap Kandara.
"Baiklah,, untuk sementara ini, begitu dulu.., karena sebentar lagi mau meeting. Nanti baru kita bicarakan lagi." Ucap Darel sambil menyalahkan TV dan membuka laptopnya. Menyadari itu, Kandara segera pamit keluar.
"Daraa.." "Yaaa..?"
"Kalian mau jalan-jalan.?" Tanya Darel sebelum Kandara menutup pintu.
"Tidak usah.., nanti saja.. Kau kerja saja dulu.,. Tuhan berkati." Ucap Kandara sambil mengepalkan tangannya memberi semangat. Darel tersenyum melihat tingka Kandara.
"Thank u.." Ucap Darel sambil memakai jasnya. Kandara menutup pintu dengan pelan dan melangkah keluar kamar dengan perasaan takjub.
Kandara ke kamar tamu mencari Bu Selvine untuk menyampaikan apa yang disampaikan Darel. Setelah itu, dia membuka emailnya dan melihat banyak email yang masuk dan belum dibaca.
Termasuk dari Guru Efra dan Efri. Kandara langsung mencari Efra dan Efri untuk belajar, tidak lupa mengucapkan terima kasih untuk Ibu Gurunya. 'Syukur tidak jadi jalan-jalan.' Bantin Kandara.
*- Ketika mengenal dan mengerti, perlahan akan memahami -*
*((**))*
Di sisi yang lain,; Setelah tiba di kantor, Mikha segera mengatur semua seperti yang diinginkan Darel. Sambil menunggu hasil yang dikerjakan Asistennya, Mikha memeriksa beberapa kontrak kerja yang belum diselesaikan karena mengurus pernikahan Darel. Tiba-tiba ponselnya bergetar dan ada pesan masuk, ternyata dari Manche.
"Puji Tuhan.! Bagaimana kondisi Daddymu.?" Mikha menjawab pesannya.
"Lumayan baik., nanti kalau sudah di kantor dan kau tidak terlalu sibuk, apakah aku bisa menghubungimu.?" Tanya Manche.
"Sekarang aku sudah di kantor. 5 menit lagi aku akan menghubungimu." Balasan Mikha.
Mikha segera merapikan dokumen-dokumen di atas meja kerjanya dan mengatakan kepada sekretaris dan asistennya bahwa sementara ini, dia tidak mau diganggu.
Setelah itu Mikha menghubungi Manche.
"Allooo, Manche.. bagaiman.?
"Mikha, aku tadi mau hubungi Uncle Darpha untuk minta tolong, tetapi tidak punya No. telponnya. Aku mau minta dari Dara, nanti dia khawatir. Mungkin kau bisa menolongku.?"
"Soal apa.?"
"Apakah kau ada kenal pengacara yang baik di sini.? Kami punya pengacara perusahaan, tetapi Daddy minta aku mencari yang lain." Ucap Manche
"Nanti aku bicara dengan Darel." Jawab Mikha.
"Jangan, Mikha.. nanti Dara tahu. Aku tidak mau dia mengkhawatirkanku."
"Tidak apa-apa., Darel mengerti. Dia tidak akan sampaikan ke Dara. Tetapi,, kau butuh pengacara untuk apa, agar aku bisa bicarakan dengan Darel." Ucap Mikha, dan Manche terdiam sejenak, tanpa suara. Dia sedang menarik nafas dalam dan memegang dadanya.
"Manche..." Panggil Mikha sambil melihat ponselnya. Dia mengira terputus sambungan telponnya.
"Iyaa, Mikha.."
"Ada apa.? Kalau kau mau aku membantumu, bicarakan denganku."
"Iyaa, Mikha.. Sebentar, aku cari tempat duduk dulu.. Begini,, Mikha.. Setelah aku tiba di Rumah Sakit, dokter bilang Daddy belum sadar. Ketika Mommy pulang, daddy memegang tanganku dan berbicara pelan denganku. Minta aku mencari pengacara yang baik secepatnya. Tidak boleh memakai pengacara perusahaan." Ucap Mikha pelan.
"Garis besarnya, daddy mau memberikan semua sahamnya untukku. Deddy tidak mau terjadi sesuatu dengannya semua saham dan lainnya jatuh ke tangan Mommy.
"Astagaaa.." Ucap Mikha terkejut.
"Mikha, maaf. Aku belum bisa bicara yang lain, karena kondisi Daddyku sewaktu-waktu bisa drop." Uvap Manche lagi.
"Tidak apa-apa., aku sudah dapat intinya. Kau sekarang di rumah sakit.?"
"Iyaa.."
"Begini., kau kembali ke ruangan Daddymu. Setelah aku bicara dengan Darel dan sudah OK., aku akan menghubungimu. Secepatnya."
Mikha langsung mengakhiri pembicaraan dan langsung menghubungi Darel. Ternyata Darel telah selesai meeting dan sedang dalam perjalanan ke kantornya untuk mengecek rencana konferensi pers nya.
Setelah tiba di kantor Mikha, Darel berjalan cepat ke ruangan Mikha.
"Ada apa, Mikha.? Menerima telponmu membuat jantungku dag dig dug." Ucap Darel sambil menghempaskan tubuhnya di sofa. Mikha menceritakan apa yang dikatakan oleh Manche kepadanya.
"Astagaaa.., nanti kita bicarakan yang lain. Aku akan hubungi pengacara kita di sana." Ucap Darel, dan langsung telpon. Setelah itu, Darel menyuruh Mikha menghubungi Manche.
"Allooo, Mikha..
"Ini Darel, Manche."
"Ooh,, iya Darel. Jangan ..
"Aku tahu, tidak usah pikirkan itu. Sekarang, kalau Daddymu bisa bicara, tanya apa saja yang akan diwariskan kepadamu. Agar ketika pengacara ke Rumah Sakit, Daddymu tinggal tanda tangan." Ucap Darel.
"Lihat dokter dan suster yang baik untuk jadi saksinya. Dan kirim namanya kepada Mikha. Jangan kau berikan apapun kepada dokter dan suster. Bilang saja, itu permintaan terakhir Daddymu. Kami tunggu sekarang, yang lain kami urus." Ucap Darel, dan mengakhiri pembicaraan dengan menarik nafas panjang.
*- Harta bisa membawa kebahagiaan, tetapi juga bisa membawa kesengsaraan -*