Me And You For Us

Me And You For Us
Keputusan 1.



...~•Happy Reading•~...


Di bagian bumi yang lain ; Mikha telah terbang ke Pulau Jeju bersama pengacaranya untuk menindak lanjuti rencana pembelian Resort yang telah disetujui oleh Darel.


Ketika bertemu dengan pemilik resort, Mikha dan pengacara memeriksa semua dokumennya dengan teliti. Karena resort tersebut adalah warisan keluarga dan banyak pihak yang terlibat, sehingga banyak dokumen dan pihak terkait yang perlu diperiksa dengan baik dan cermat. Agar tidak menjadi masalah dikemudian hari.


Setelah semua dokumen telah selesai diperiksa, pengacara mengatakan kepada Mikha bahwa semua dokumennya tidak bermasalah dan bisa dilanjutkan ke proses berikutnya. Mengetahui semua dokumen clear, mereka segera kembali ke Seoul untuk berbicara dengan Darel.


Setelah tiba di Seoul, Mikha langsung menghubungi Darel. "Darel, ada di mana?" Tanya Mikha, saat Darel merespon panggilannya.


"Aku lagi di studio. Bagaimana, apa kalian masih di Jeju?" Darel menjawab dan balik bertanya kepada Mikha karena dia tahu, dua hari lalu Mikha dan pengacara telah berangkat ke Pulau Jeju.


"Kami sudah kembali dari Jeju dan sekarang aku sudah di kamar hotel. Kami sudah periksa semua dokumen dan semuanya clear. Kau bisa lanjutkan ke proses selanjutnya." Ucap Mikha yang sedang duduk beristirahat di balkon kamar hotelnya.


"Ok. Kalau begitu, sekarang kau istirahat dulu. Besok pagi kita bertemu di kantorku untuk melanjutkan prosesnya." Ucap Darel, karena dia tahu dari suaranya, Mikha sedang lelah.


"Ok. see you tomorrow. By." Ucap Mikha mengakhiri pembicaraan mereka. Dia sangat lelah, sehingga hanya duduk di balkon tanpa masuk ke kantornya. Semua urusan kantor telah diserahkan kepada Jeong, asistennya.


Sambil mencoba minuman juice jeruk yang di bawanya dari Jeju, Mikha menghubungi pengacara untuk membuat janji bertemu dengan Darel, di kantor Darel besok pagi.


...*((**))*...


Keesokan harinya, Darel dibangunkan oleh suara alaram. Karena tadi malam tidurnya sangat larut, dia mengatur alaram untuk membangunkannya. Dia harus bangun pagi karena ada janji bertemu dengan Mikha dan pengacara di kantornya.


Lantai tiga di gedung studionya lebih mirip apartement. Karena lengkap dengan kamar tidur, kamar mandi, meja sofa, dapur, kulkas, meja makan dan juga tempat olah raga. Di depan ruang pribadinya ada ruang kerjanya. Sekarang telah ditambah dengan ruang kerja asistennya.


Setelah selesai berolah raga ringan untuk menjaga kebugarannya, Darel mandi dan keluar untuk sarapan. Dia terkejut, ketika melihat ada sarapan di atas meja makannya. Dia segera keluar mencari asistennya.


"Hyun, kau yang menyiapkan sarapan untuk saya?" Tanya Darel, ketika melihat asistennya sedang duduk di meja kerjanya.


"Iyaa, tuan muda. Selamat pagi." Jawab Hyun, sambil berdiri dan membungkuk memberi hormat ketika melihat Darel masuk ke ruang kerjanya. Dia sengaja menyiapkannya, karena tahu pagi ini ada meeting. Pasti tuan muda Darel akan bangun pagi.


"Iyaa, selamat pagi. Baiklah. Kalau begitu, mari kita sarapan bersama." Ucap Darel sambil keluar ruang kerja asistennya. Hyun keluar mengikutinya dari belakang. "Maaf, tuan muda. Saya sudah sarapan." Ucap Hyun sambil terus berjalan mengikuti Darel.


Darel berbalik dan melihat Hyun yang sedang mengikutinya. "Benar, kau sudah sarapan?" Tanya Darel untuk meyakinkanya.


"Benar, tuan muda." Jawab Hyun meyakinkan Darel. Karena memang dia telah sarapan saat berangkat dari rumah.


"Lalu mengapa kau menyiapkan, sarapannya begitu banyak?" Tanya Darel, dengan wajah yang serius. Darel melihat ada banyak sarapan di meja makan.


"Saya kira tuan muda Mikha akan sarapan di sini juga, tuan muda." Jawab Hyun, menjelaskan, mengapa menyiapkan sarapan yang agak banyak.


"Ooh, ok. Kalau begitu, kau tolong pisahkan buat saya, sedikit saja. Yang lain dibawa ke ruang meeting di lantai dua. Kita akan meeting di sana, karena ada bersama pengacara." Ucap Darel sambil masuk ke ruang pribadinya.


"Tolong minta karyawan di bawa untuk siapkan minuman, ya. Kau tolong tunggu Mikha dan pengacara, lalu antarkan mereka ke ruang meeting. Jangan ke ruang kerjaku." Ucap Darel lagi.


"Baik, tuan muda." Ucap Hyun sambil membungkuk hormat, karena mengerti maksud bossnya. Dia merapikan sarapan yang akan di bawa ke ruang meeting, dan memisahkan sedikit untuk Darel lalu segera turun ke lantai dua.


Hyun menunggu kedatangan Mikha dan pengacara di ruang tunggu di lantai dasar. Setelah mereka tiba, Hyun mengantar mereka ke ruang meeting. Di sana sudah ada Darel yang menunggu mereka.


Setelah minum dan makan snack yang disediakan, pengacara menjelaskan kepada Darel bahwa semua dokumen Resort yang akan dibeli, clear dan tidak bermasalah. Darel langsung menanda tangani dokumen terkait dan menyerahkan proses jual belinya kepada Mikha dan pengacaranya, karena Darel sedang sibuk mempersiapkan singlenya.


Mikha dan pengacara mengatur schedule untuk berangkat ke Pulau Jeju. Mereka akan bertemu lagi dengan pemilik resortnya. Mikha langsung menghubungi pemilik resort untuk memberitahukan kedatangan mereka.


...*((**))*...


Beberapa waktu kemudian, setelah kembali dari Pulau Jeju, Mikha bertemu dengan Darel di ruang kerjanya. Mikha melaporkan semua proses pembelian resort yang berjalan seperti yang mereka mengharapkan. Sekarang resort tersebut telah menjadi milik mereka.


"Oooh, Ok." Ucap Darel tidak bisa menembunyikan rasa senangnya. Karena hal itu sesuai dengan harapannya. Dia mulai memikirkan resort yang baru mereka beli.


"Aku telah membuat video resort dan sekitarnya. Ini, kau bisa melihatnya." Ucap Mikha, sambil meperlihatkan videonya kepada Darel. Ketika melihat video resort baru mereka, Darel menjadi semangat. Dia ingin sekali melihatnya secara langsung.


"Mikha, apa kita bisa membukanya menjelang Natal atau Tahun baru?" Tanya Darel, memikirkan waktu liburan. Pasti akan kedatangan banyak pengunjung.


"Sekarang sudah lewat pertengahan November. Kalau kau lebih cepat melihat resortnya, mungkin bisa. Supaya kita tahu mana saja yang akan diperbaiki, atau mana yang harus di tambah." Ucap Mikha.


"Aku sampai lupa waktu. Tidak usah dipaksakan, Mikha. Mungkin lebih baik di musim semi, atau menjelang musim panas saja, karena Jeju dekat dengan pantai." Ucap Darel lagi dan Mikha mengangguk setuju.


"Karena sekarang Melo sedang tidak banyak kegiatan, nanti awal bulan depan kita ke Jeju melihat resortnya. Sekalian berbicara dengan karyawan yang masih ada di sana." Ucap Darel bersemangat.


"Iyaa, lebih cepat lebih baik. Aku akan mengirim Maneger hotel kita untuk bantu mengatur di sana sampai kita datang dan memutuskan." Mikha menyampaikan apa yang direncanakannya.


"Ok, siiip... Sementara ini, mengenai channel youtube akan ditangani oleh Hyun. Sedangkan untuk kontrak kerja dan pembagian keuangannya nanti Hyun akan konsultasi denganmu." Ucap Darel.


"Ada yang ingin kau ajak kerja sama?" Tanya Mikha, dan Darel mengangguk.


"Iyaa, aku ingin bekerja sama dengan Pak Yoon. Mungkin kau bisa sambil pikirkan itu. Aku ingin memakai dan memainkan lagu-lagunya yang pernah dinyanyikan Melo."


"Aku suka beberapa lagunya dan mungkin berdua Pak Yoon bisa kolab di channelku. Aku baru memikirkannya, tetapi belum berbicara dengan beliau." Ucap Darel lagi, ketika timbul ide dipikirannya.


"Ok, nanti aku akan berbicara dengan asistenmu dan pengacara. Supaya nanti tidak bermasalah, dan membuat kita pusing." Ucap Mikha lagi.


"Ok, Thanks. Ooh iyaa, thanks juga, kau sudah beli drone untuk crew. Mereka jadi semangat bekerja." Ucap Darel, dan Mikha mengangguk.


"Ok, aku sudah buat tim kreaktif untuk channelmu. Jadi nanti kau bicarakan saja dengan mereka apa yang ingin kau lakukan. Nanti biar mereka yang kembangkan." Ucap Mikha, dan Darel mengangguk.


"Baik, nanti aku bicara dengan Hyun untuk mengaturnya." Ucap Darel senang, mendengar yang telah dilakukan Mikha.


Tiba-tiba ponsel Darel bergetar dan melihat nama Daddy di layar. Dia langsung meresponnya, karena pasti ada yang penting sehingga Pak Darpha menghubunginya. "Alloo, Dad." Sapa Darel.


"Alloo, Darel. Jangan lupa nanti sore pulang ke mansion lebih awal." Ucap Pak Darpha.


"Ada apa Dad?" Tanya Darel, tidak mengerti. Mengapa Pak Darpha meminta dia pulang lebih awal.


"Astagaaa, kau dan Mikha sama saja. Melupakan hari kematian orang tuanya. Cepat pulang, dan jangan bilang di depan Mommymu kalau kalian lupa. Jangan sampai Mommymu marah." Ucap Pak Darpha dan mengakhiri pembicaraan mereka.


Darel melihat ke arah Mikha, karena tadi tidak mengingatkannya. Mikha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sambil melihat Darel dengan wajah yang merasa bersalah.


"Mengapa tadi saat datang, kau tidak mengingatkanku?" Tanya Darel serius.


"Tadi sudah di pikiranku, tetapi ketika bertemu dan kita membicarakan resort, aku jadi lupa." Ucap Mikha sambil menggelengkan kepalanya.


"Padahal aku sudah reminder, tetapi ketika Daddy menelponku dan bilang untuk pulang ke Mansion, aku bilang tidak bisa pulang hari ini, karena ada kerjaan. Yaaa, dimarahilah." Ucap Mikha lagi dan menceritakan ketika di telpon oleh Pak Darpha. Mikha tersenyum masam, sambil terus gelengkan kepalanya.


"Yaaa, sama denganku. Aku sudah reminder, tetapi tadi Daddy telpon, aku mala tanya ada apa harus pulang lebih awal." Darel ikut menggeleng kepalanya.


"Lebih baik, kau yang pulang terlebih dahulu. Nanti baru aku akan menyusul. Hati-hati, Mikha. Jangan membuat Mommy berpikir kita lupa." Ucap Darel. Mikha mengangguk mengerti dan langsung pulang. Selang beberapa waktu kemudian, Darel menyusulnya pulang ke Mansion.


...*- Mengasihi sungguh-sungguh, akan terujud dalam sikap dan ucapan -*...


...♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡...