
Efraim masih duduk di belakang piano.
"Silahkan menikmati makan siang semua. Saya ingin memainkan satu lagu untuk menghibur Grandma kami. Karena pasti lelah mengajak kami jalan-jalan hari ini. Thank u, Grandma." Ucap Efraim langsung memainkan instrumental lagu daddynya.
"Astagaa,, Efra berlatih di mana.? Bukankah di rumah tidak ada piano.?" Tanya Darel takjub. Bu Richel dan Bu Selvine juga memandang cucunya takjub.
"Efra hanya berlatih di tempat kursus musik. Aku juga tidak tahu dia bisa seperti itu. Di Gereja mereka hanya bernyanyi." Ucap Kandara juga takjub. Darel mengangguk mengerti., anaknya akan lebih hebat darinya.
Sebelumnya Darel pernah mendengar permaianan piano Efraim yang direkam Mikha, tetapi tidak terlalu jelas karena tertutup dengan suara riuh pengunjung. Ternyata anaknya belum 10 tahun sudah bermain dengan sangat baik.
Efrima yang turun dan masuk ke ruang makan, mendapat tepukan tangan dan pelukan hangat dari kedua orang tuanya, Oma, Grandma dan juga Uncle nya.
Begitu pun dengan Efraim. Darel langsung memeluknya dengan erat. Suasana haru dan bahagia itu, terhenti ketika Maneger restaurant mendekati Mikha dan membisikan sesuatu.
"Efra dan Efri,, keluarga yang berulang tahun meminta untuk foto bersama." Ucap Mikha, menyampaikan pesan Manager restaurant.
Mereka berdua langsung melihat Mommy dan Daddynya bergantian. Setelah kedua orang tuanya menyetujui, mereka mengikuti manager restaurant ke tempat keluarga yang berulang tahun.
Setelah itu mereka hendak pulang, Mikha memberikan amplop untuk Efraim dan Efrima karena telah bermain musik memggantikan pemusik yang berhalangan.
"Ini bayaran untuk pemusik di restaurant ini, jadi terima saja." Ucap Mikha. Darel pun mengangguk mengiyakan.
"Anggap saja itu gaji pertama kalian. Kalian boleh menyimpannya atau membeli sesuatu yang kalian suka." Ucap Darel sambil mengacak rambut mereka dengan sayang.
Efraim dan Efrima menerima amplop yang di berikan Mikha dan menyerahkannya kepada Kandara.
"Mommy, titip di tas Mommy, yaa.." Ucap Efraim dan Efrima, dan Kandara memberikan tasnya kepada mereka.
Darel hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan kedua anaknya.
"Apakah ada yang masih mau jalan-jalan lagi." Tanya Bu Richel kepada kedua cucunya. Efraim menggeleng, karena dia melihat Omanya sudah lelah.
"Kita pulang saja, Grandma., Efri sudah kenyang dan ngantuk." Ucap Efrima, Kandara tersenyum sambil mengelengkan kepalanya. Darel pun ikut tersenyum mendengar ucapan putrinya.
"Kalau begitu pamit sama Uncle, kita akan akan pulang." Ucap Darel kepada kedua anaknya. Efraim dan Efrima memeluk Unclenya. "By,., Uncle.."
"By.,. sampai nanti malam." Ucap Mikha., membalas pelukan Efraim dan Efrima.
"C u.., Mom.." ucap Mikha sambil memeluk Bu Richel. Mikha juga mengelus lengan Kandara dan Bu Selvine.
"C u .." "C u .." Setelah itu mereka berpisah.
Darel menelpon sopir Mommynya untuk memberi tahukan bahwa mereka akan tunggu di pintu utama. Selesai telpon, Darel mengajak mereka ke pintu utama Relkha Mall.
Mereka tiba di pintu utama Mall, tidak lama kemudian mobil mereka tiba. Mereka segera naik dan keluar dari Mall. Tidak berapa lama kemudian, Efrima dan Efraim tertidur.
Darel tersenyum melihat kedua anaknya yang telah tertidur. Jadi yang dikatakannya tadi bahwa sudah mengantuk, benar.., mereka memang mengantuk.
Bu Richel melihat ke belakang, karena kedua cucunya tidak bersuara. Ternyata mereka sudah tidur., hal itu membuatnya tersenyum.
Tiba-tiba, ponsel Darel bergetar. Ketika melihat David yang menelpon, dia meresponnya. Darel tahu, kalau tidak terlalu penting, biasanya David hanya mengirim pesan.
"Allooo, David.." Sapa Darel.
"Allooo, Kak.. masih di luar.?" Tanya David, karena tahu Darel sedang ke luar negeri.
"Ooh,, syukur.. ini pihak TV ZK minta bertemu dengan Kk sekarang, untuk menandatangani kontrak kerjanya." Ucap David.
"Oooh,, saya lagi di jalan.., kalau begitu., tolong kau mundurkan satu jam dari sekarang., ya.., dan tolong hubungi Kak Mikha.. Saya akan menghubungi Hyun untuk menemanimu sebelum saya tiba." Ucap Darel dan mengakhiri pembicaraannya dengan David
Darel segera menghubungi Asistennya.
"Allooo, Hyun.., tolong hubungi David dan temani dia sebelum saya tiba, ya.. Dan tolong siapkan semua dokumen yang akan disampaikan David." Ucap Darel.
"Baik,, tuan muda.., segera saya siapkan." Ucap Hyun., mengerti.
Ok, Thanks." Darel mengakhiri pembicaraan dengan Asistennya.
Kemudian., Darel menghubungi Mikha.
"Allooo, Mikha,,. kau sudah dihubungi David..?"
"Iyaa, baru saja dia menghubungiku." Ucap Mikha.
"Ok,, tolong kau dan pengacara temani mereka sebelum aku tiba., ya.. Aku akan tiba satu jam dari sekarang." Ucap Darel mengakhiri pembicaraannya dengan Mikha dan mobil mereka masuk ke halaman Mansion keluarga Jion.
"Dara, tolong bangunkan anak-anak, ya.. Pak Jae, semua barang yang di mobil tolong dibawa ke kamar tamu." Ucap Darel setelah turun dari mobil dan masuk ke rumah.
"Baik, tuan muda." Ucap Pak Jae sambil membungkuk.
Kandara membangunkan kedua anaknya untuk turun. Mereka terkejut, karena sudah sampai di rumah Grandmanya.
Pak sopir bantu menurunkan barang belanjaan mereka. Sebelum mereka semua masuk ke rumah, Darel sudah keluar dari rumah. Dia telah mengganti kaosnya dengan kemeja. Sambil menenteng jas dan tas kerja di tangannya, dia menuju ke mobilnya.
"Dara, Mama, aku pergi dulu.. kids, by.. Mom, jangan tunggu kami, untuk makan malam,.." Ucap Darel sambil masuk ke mobil sport mewahnya, dan langsung menjalankannya keluar gerbang Mansion orang tuanya.
Bu Richel hanya bisa geleng-geleng kepala. Kandara dan kedua anaknya masih diam terpaku melihat ke arah gerbang. Darel begitu cepat menghilang dari pandangan mereka.
"Mariii, kita masuk dan istirahat." Ucap Bu Richel, menyadarkan mereka. Bu Richel tahu, mereka pasti terkejut dengan ritme kerja Darel.
Bagi Bu Richel, saat ini adalah waktu terbanyak dia bisa berkumpul dengan kedua putranya setelah mereka dewasa. Karena setelah mereka berkarier, mereka mempunyai kehidupan sendiri, sehingga jarang pulang ke rumah.
Semua keperluan yang telah dibeli dimasukan ke kamar tamu. Bu Selvine, Kandara dan kedua anaknya berpamitan dengan Bu Richel untuk beristirahat sebentar.
Ketika masuk ke kamar tamu, mereka terkejut melihat banyak sekali paper bag di dalam kamar. Ternyata yang mereka beli sangat banyak.
"Ma,, jangan dibuka dulu, mari istirahat sebentar. Nanti bangun baru kita rapikan." Ucap Kandara, melihat Bu Selvine hendak merapikan hasil belanjaan mereka.
"Mom,, tadi Daddy mau kemana.? Ko' cepat sekali." Ucap Efrima, yang tidak tahan mau menanyakannya sejak tadi.
"Daddy ada pertemuan penting, jadi harus segera berangkat kerja. Yaa, seperti mommy. Kadang-kadang harus buru-buru mengejar waktu." Ucap Kandara, menjelaskan.
"Kalian selama bertemu Daddy kan, belum pernah melihat Daddy bekerja. Mungkin seperti itu, Daddy bekerja. Jadi kalian harus belajar mengerti." Ucap Kandara, mengingat pernah melihat Darel bekerja, dalam 24 jam bisa dari Bandara 1 ke Bandara yang lain.
"Benar kata Mommy.., kalau Daddy tidak buru-buru pasti akan pamit dengan kalian dengan cara yang berbeda. Jadi kalian harus bisa membedakan., sikap Daddy. Ketika Daddy seperti itu bukan tidak sayang kalian." Ucap Bu Selvine sambil membaringkan tubuhnya untuk beristirahat.
*- Harus bijak menyikapi sesuatu yang terjadi, karena dengan demikian hidup akan lebih baik -*