
...~•Happy Reading•~...
Setelah tiba di rumah, Kandara langsung masuk ke kamar dan menangis sepuasnya. Dia sangat menyesal, tidak bisa mengendalikan dirinya sehingga membuatnya malu seperti itu.
Kandara kini baru mengingat banyak mata yang memandangnya saat dia meninggalkan restaurant, ketika Lucha berteriak memanggil namanya. 'Sangat memalukan!' Batinnya menjerit.
Terutama juga ketika mengingat kedua rekannya, Mala dan Toby sedang ada di ruangan yang sama dengannya. Hal itu membuat Kandara makin malu dan menangis sejadi-jadinya.
Dalam suasana hati demikian, Kandara mengingat kembali nasehat Mamanya. 'Dara, kita perlu belajar mengendalikan diri kita. Karena ada saatnya, kita harus berhadapan dengan orang yang tidak bisa mengendalikan dirinya.'
'Kita hanya dapat mengendalikan sikap diri sendiri atas perbuatan orang lain yang tidak menyenangkan terhadap kita. Hanya itu yang bisa kita lakukan, karena kita tidak bisa mengendalikan sikap diri orang lain.'
Ketika mengingat ucapan Mamanya, Kandara menghapus air mata dan keluar kamar untuk mencari Bu Selvine. Dia ingin berbicara dengan Mamanya. Ternyata Bu Selvine belum pulang dari pertemuan di Gereja. Kandara kembali ke kamar dengan perasaan yang masih sedih. Dia ingin mencurahkan apa yang sedang terjadi dengan dirinya kepada seseorang.
Kandara teringat kepada sahabatnya Manche. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuknya. "Che, aku baru saja putus dengan Lucha." Tulis Kandara, tidak lupa menyertakan emoticon sedih.
Manche tidak membalas pesannya, tetapi langsung melakukan VC.
"Hi, Dara. Kenapa bisa begitu?" Manche langsung bertanya, ketika melihat Kandara di layar ponsel.
"Hi, Che. Maaf mengganggumu." Jawab Kandara dengan mata yang sembap.
Kandara menceritakan semua peristiwa yang terjadi saat dia makan malam bersama Lucha. Manche mendengarnya dengan tenang dan sabar. Karena dia tahu, Kandara ingin menceritakan semua yang dirasakannya, agar hatinya bisa lega.
"Yang sabar ya, Ra. Dan juga, mungkin itu lebih baik buatmu. Karena menurutku, kalau seorang lelaki tidak bisa mengendalikan dirinya di tempat umum, apalagi nanti di tempat tertutup seperti rumah misalnya." Ucap Manche pelan, setelah Kandara selesai bercerita.
"Apalagi pakai ngancam segala. Padahal itu hanya hal biasa. Kita ini kan makhluk sosial, pasti akan bertemu atau berhubungan dengan orang lain."
"Kau adalah wanita karier, pasti berhubungan dengan banyak orang. Dan orang-orang itu bukan hanya perempuan, tetapi juga laki-laki."
"Apa jadinya jika suatu saat dia melihatmu berbicara atau makan dengan client? Mungkin dia akan menarikmu keluar dari tempat itu." Ucap Manche, sambil membayangkannya dan menggelengkan kepalanya.
"Kalau seperti yang kau ceritakan tadi, berarti selama ini kalian bisa bertahan karena kau yang sering mengalah. Mungkin selama ini kau menuruti saja apa katanya, sehingga egonya tidak terlihat." Ucap Manche lagi, dan Kandara mendengar dalam diam.
Manche menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia mamang tidak terlalu menyukai Lucha, karena teman-teman Gereja suka bercerita kepadanya tentang sikap Lucha yang tidak bersahabat dengan mereka. Tetapi mereka tidak enak menyampaikannya kepada Kandara.
Oleh sebab itu, mereka suka meminta tolong kepada Manche untuk menasehati Kandara. Mereka tahu hubungan dan kedekatan Manche dengan Kandara dan Mamanya.
Sehingga walaupun dia sudah di Amerika, mereka masih sering DM untuk meminta tolong. Karena mereka sayang sama Kandara tetapi merasa segan untuk menyampaikannya secara langsung. Mereka juga sudah menyampaikan sikap Lucha kepada Bu Selvine.
...°-° Dalam hidup ini, kita tidak bisa hidup sendiri, kita membutuhkan orang lain sebagai tempat untuk berbagi °-°...
Tetapi Kandara masih bertahan berpacaran dengannya. Hal itu membuat Manche merasa ini adalah kesempatan baginya untuk menasehati Kandara, agar bisa melihat Lucha dengan baik.
"Dara, sekarang dengarkan aku. Kau sudah cukup bersedih untuk kejadian ini. Seharusnya kau bersyukur, karakter aslinya terlihat sebelum kalian melanjutkan ke jenjang yang lebih serius." Ucap Manche, dan Kandara tersentak sambil menatap Manche serius.
"Dengan sifatmu yang seperti itu, kau bisa berdarah-darah jika terus bersamanya. Karena bukan saja tubuhmu yang akan berdarah, tetapi hatimu yang akan lebih berdarah."
"Kau ingat harus mengucap syukur dalam segala hal?" Tanya Manche dan Kandara mengangguk mengerti.
"Tetapi ngomong-ngomong, tadi kalian makan malam apa?" Tanya Manche, sambil tersenyum di dalam hatinya.
"Memang kenapa, Che." Kandara balik bertanya, karena tidak mengerti maksud pertanyaan Manche.
"Ngga papa, Dara. Aku tanya saja. Ini baru terpikirkan, mungkin kau tadi salah makan atau makan sesuatu yang tidak biasanya. Karena aku heran saja, keberanianmu dan galakmu itu datang dari mana." Ucap Manche dengan senyum tipis.
"Aku juga dari tadi heran sendiri, Che. Ko' bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu kepada Mas Lucha." Ucap Kandara, heran
"Yaaa, itu dia. Kandara yang kukenal, sangat lembut dan sabar. Suka mengalah, karena tidak suka ribut atau beradu mulut." Ucap Manche lagi karena merasa surprise.
"Iyaa, Che. Sekarang aku sangat menyesal tidak bisa mengendalikan diriku. Sehingga membiarkan diriku dipermalukan dengan menjawab Mas Lucha." Ucap Kandara dengan wajah sedih.
"Ngga usah menyesal, Ra. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Mungkin itu sudah terlalu lama dipendam, akhirnya muncul pada saat ditekan." Ucap Manche, mencoba bijak.
"Sekarang ini, yang seharusnya menyesal itu Lucha. Dia telah melepaskan orang sepertimu. Aku ngga sabar menunggu, melihat dia menyesal kehilangan sahabatku." Ucap Manche menghibur Kandara.
"Makasiii, Che." Ucap Kandara dengan mata berembun, karena terharu mendengar apa yang dikatakan Manche.
"Aku mengenalmu, Ra. Oleh sebab itu aku percaya, kau akan dapat seseorang yang lebih baik darinya." Manche terus menyemangati sahabatnya.
"Amiiin..!" Kandara mengamini apa yang dikatakan Manche.
"Jadi mari berhenti menangis, jangan buang air matamu untuk orang yang tidak pantas untuk kau tangisi." Ucap Manche lagi untuk menyemangati Kandara.
"Sekarang yang harus kau lakukan adalah berdoa dan bersyukur. OK?" Tanya Manche, dan Kandara mengangguk.
"Terima kasih, Che.. Kau sudah berikan waktu untuk mendengarku, menghiburku dan menyemangatiku. Love u." Ucap Kandara.
"Love u too, sweet dreams. Manche mengakhiri VC mereka.
Setelah selesai VC dengan Manche, Kandara keluar kamar untuk membuat minuman hangat untuknya. Karena tadi dia belum selesai makan, jadi dia ingin minum minuman hangat untuk melegakan tenggorokannya, sebelum tidur.
Karena Bu Selvine belum pulang juga, Kandara kembali ke kamar untuk beristirahat. Dia duduk di atas tempat tidur sambil merenungi lagi apa yang disampaikan Manche.
Hati Kandara penuh dengan ucapan syukur dan terima kasih. Dia jadi teringat Firman Tuhan yang disampaikan oleh Pendeta saat Ibadah Hari Minggu yang lalu. "Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak."
Kandara kini lebih lagi merenunginya dan itu menenangkan hatinya, kemudian berdoa : "Ya, Bapa, ampunilah hati dan perbuatanku hari ini. Baharuilah hati dan pikiranku. Berikanlah ketenangan dan kedamaian dalam tidur kami malam ini. Dalam nama Tuhan Yesus aku memohon kepada-Mu. Amin!"
Kandara merasa lebih baik. Dia membaringkan tubuhnya lalu mencoba untuk tidur.
...°-° Karakter seseorang dapat dilihat, dari kebiasaannya °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...