
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Bu Selvine, Mama Kandara telah bangun dari pagi dan membersihkan rumah. Sedangkan Kandara yang menyiapkan sarapan. Kadang mereka lakukan sebaliknya.
Itu adalah hal rutin yang mereka lakukan secara otomatis, tanpa diatur. Karena mereka tidak memiliki pembantu. Rumah mereka tidak terlalu besar, jadi mereka bisa melakukannya sendiri.
Kalau untuk pakaian kotor, selimut atau lainnya yang tidak bisa dicuci sendiri, mereka akan membawahnya ke Laundry.
Setelah selesai membersihkan rumah, Bu Selvine menata sarapan mereka di atas meja makan. Nasi goreng spesial buatan Kandara, dan air jeruk panas buatan Bu Selvine telah tersaji di meja makan, siap menjadi sarapan mereka.
Bu Selvine memanggil Kandara untuk sarapan bersama. Karena sudah lebih dari 10 hari tidak bertemu dengannya. Akhirnya pagi ini mereka bertemu kembali dan bisa sarapan bersama.
Bu Selvine menambahkan beberapa irisan tomat dan timun di pinggiran piring nasi goreng Kandara. "Makanlah yang banyak, Dara." Ucap Bu Selvine sambil menatap sayang putri semata wayangnya.
Sejenak, keningnya berkerut ketika melihat putrinya. Ada yang berbeda dengannya. Karena pagi ini baru bertemu dengan Kandara setelah kemaren petang kembali dari Seoul. Bu Selvine baru menyadari ada yang berubah dari Kandara. Wajahnya tidak ceria seperti biasanya. Matanya yang selalu tersenyum, terlihat redup.
"Dara, mau masuk kerja hari ini?" Tanya Bu Selvine karena merasa khawatir.
"Iya, Ma. Dara mau menyiapkan laporan bersama Mas Mala dan Mas Toby. Kenapa Ma?" Tanya Kandara.
"Kalau masih capek, lebih baik cuti dulu. Karena kau terlihat kurang sehat." Ucap Bu Selvine lagi, merasa khawatir.
"Ngga papa ko', Ma. Dara baik-baik saja. Mungkin karena beberapa hari ini makanannya kurang sesuai selera." Ucap Kandara mencoba tersenyum untuk menenangkan hati Mamanya. Walau pun Kandara berusaha tersenyum, tetapi matanya tidak bisa berbohong. Bu Selvine merasakan ada sesuatu yang terjadi dengan putrinya
"Yaa sudah, kalau begitu nanti pulang makan siang di rumah, ya. Mama tidak ke butik hari ini. Mama akan buatkan soup ayam untukmu." Ucap Mamanya lagi.
"Baik, Ma. Makasiii... Kalau begitu, Dara mau siap-siap ke kantor dulu." Ucap Kandara setelah selesai sarapan dan mencuci semua perlengkapan sarapan mereka, dan segera ke kamar untuk bersiap-siap.
Jarak rumah dan kantor Kandara tidak terlalu jauh. Hanya 15 menit, jika menggunakan ojek. Kalau menggunakan mobil bisa 25 menit, karena harus memutar arah. Itulah sebabnya jika sedang terburu-buru, Kandara lebih suka menggunakan ojek ke kantor.
Hari ini dia mengenakan kemeja, blazer dan celana panjang, karena akan menggunakan ojek ke kantor. Semua ole-ole untuk teman kantornya sudah di masukan ke paper bag. Setelah rapi dan berdoa, dia keluar mencari Mamanya untuk berpamitan.
Bu Selvine sedang menyiapkan mobil. "Dara, ngga usah pesan ojek. Mama akan mengantarmu ke kantor. Ini sudah mulai gerimis, sebentar lagi akan deras." Ucap Bu Selvine saat Kandara memegang ponsel untuk mengirim pesan kepada tukang ojek langganannya.
Ketika Kandara mengintip keluar, benar saja. Ternyata bukan cuma mendung, tetapi sudah mulai gerimis. "Makasiii, Ma." Ucap Kandara sambil memeluk sayang Mamanya.
Bu Selvine balas memeluk putrinya, mengusap punggung dengan sayang sambil dan berucap : "Semoga harimu tidak seperti cuaca pagi ini, sayang. Tetapi jika demikian, kiranya payung perlindungan-Nya melindungimu."
"Amiiin...!" Kandara mengaminkan doa dan harapan Mamanya dengan sepenuh hati.
...°-° Harapan terbaik dari seorang Ibu, kiranya anaknya dalam keadaan baik °-°...
Setelah tiba di kantor, Kandara membagikan ole-ole yang telah di bawanya. Demikian juga dengan Mala dan Toby. Ternyata mereka bertiga membawa ole-ole untuk teman-teman satu ruangan sesuai dengan pilihan masing-masing.
Setelah itu mereka berbagi cerita kepada rekan-rekannya selama mereka berada di Seoul. Kemudian mereka disibukkan kembali oleh pekerjaan masing-masing.
Begitu pun Kandara, Mala dan Toby yang mulai sibuk membuat laporan kerja mereka selama tugas di Perusahan Inte'Q, Seoul. Karena semua laporan akan dibahas dalam pertemuan dengan pimpinan mereka, Pak Ari.
Tiba-tiba, ponsel Kandara bergetar dan nama Lucha tertera di sana. Kandara menarik nafas perlahan sebelum menerimanya. Hal itu menjadi perhatian Mala dan Toby.
Sebenarnya ada beberapa karyawan kantor yang jatuh hati padanya. Mereka suka mengatakan : 'Kandara paket komplit, seorang wanita idaman untuk dijadikan istri.'
Walaupun Kandara dan Lucha tidak semesra orang pacaran pada umumnya, tetapi mereka terlihat baik-baik saja. Karena Kandara orangnya ramah, lembut dan hangat. Dia sering mengalah untuk meredam sifat pemarah dan cendrung arogan dari Lucha.
Mereka pernah melihat Kandara dipelototin, hanya gara-gara waktu di jemput dia masih asyik berbicara dengan rekan-rekannya. 'Sangat tidak sabaran dan mungkin juga cemburuan.' Pikir Mala.
Kandara menerima telpon dari Lucha dengan hati yang was-was. Karena dia belum siap untuk bertemu dengannya. "Allooo, Mas." Ucap Kandara saat merespon panggilan Lucha.
"Allooo, Dara. Kau masuk kerja hari ini?" Tanya Lucha.
"Iyaa, Mas. Ini sudah di Kantor dan lagi buat laporan. Gimana, Mas?" Kandara balik bertanya.
"Nanti aku jemput untuk makan siang." Ucap Lucha
"Yaaa, maaf Mas. Hari ini aku makan siang di rumah, tadi pagi sudah janjian dengan Mama. Mama akan masak untukku." Ucap Kandara.
"Ooh, baiklah kalau begitu. Padahal, rencananya mau makan siang denganmu, karena nanti sore aku mau ke Surabaya." Ucap Lucha kecewa.
"Yaaa, maaf Mas. Kalau kasih tau tadi pagi, aku bisa bilang Mama ngga usah masak, biar ke Butik saja." Ucap Kandara lagi.
"Its ok, nanti setelah kembali dari Surabaya saja baru kita makan bersama." Ucap Lucha.
"Ok, Mas. Hati-hati." Kandara mengakhiri pembicaraan dan menghembuskan nafas lega.
Hal itu pun menjadi perhatian Mala dan Toby dalam diam.
Menjelang waktu makan siang, Kandara pamit kepada kedua rekannya untuk pulang makan siang di rumah. Karena hujan telah redah, dia menghubungi tukang ojek langganannya untuk menjemputnya.
Mala dan Toby berjalan ke kantin, karena mereka akan makan siang di sana. Sedangkan Kandara ke tempat tukang ojek yang telah menunggunya.
Setelah tiba di kantin, Mala dan Toby pesan makanan kesukaan mereka. "Toby, apakah tadi kau melihat Dara berbicara dengan pacarnya?" Tanya Mala, mengingat wajah Kandara.
"Iya, Mala. Tadi aku perhatikan juga, sepertinya dia tidak happy." Ucap Toby.
"Iyaa, tadi dia berusaha untuk tenang, tetapi wajahnya seperti langit mendung. Ketika tidak jadi bertemu pacarnya, wajahnya terlihat sedikit lega." Ucap Toby, sambil mengingat Kandara.
Mereka berhenti berbicara ketika makanan yang dipesan telah diantar oleh pelayan dan diletakan di atas meja, depan mereka.
"Iyaa, kadang-kadang aku kasihan juga melihat dia, kalau mau dijemput pacarnya itu. Dia sudah duduk tunggu di lobby dan tidak bercengkrama lagi dengan kita atau teman lainnya. Sangat berbeda kalau dia pulang sendiri atau pulang di antar kita." Ucap Mala.
"Iyaa, Mala. Dia akan becanda riang. Kadang mengajak kita untuk mampir ke rumahnya untuk sekedar minum teh atau kopi dengan kue-kue buatan Mamanya." Ucap Toby
"Dan juga, semoga kejadian di Seoul kemaren tidak membuat dia kehilangan keceriaannya." ucap Toby, mengingat kondisi Kandara di Bandara Incheon.
"Iyaa, Toby. Semoga dia lekas kembali ceria. Agar ruangan kantor kita tidak menjemuhkan. Bisa-bisa wajah kita semua menjadi kotak-kotak seperti laptop." Ucap Mala sambil tersenyum. Membuat Toby hampir tersedak mendengar apa yang di katakannya.
...°-° Wajah seseorang bisa menceritakan kondisi hatinya °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...