
Setelah di kamar hotel, Darel kembali membuka pesan Efraim yang ditulis dalam bahasa Korea.
Mohon maaf, Uncle. Saya mau minta tolong, bisakah Uncle tes DNA untuk rambut ini? Benarkah Uncle adalah Daddy saya? Karena menurut Mommy, Uncle adalah Daddy saya. Terima kasih.
Nama saya Efraim
( +62123456789 / No. Telpon )
Setelah membaca itu, Darel melihat video yang di kirim Mikha. 'Wajahnya memang mirip denganku, apakah dia anaknya Dara?' Batinnya bertanya. Karena selama ini, Darel tidak berhubungan dengan orang lain. Mengingat hal itu, jantungnya berdegup tidak teratur. Hatinya makin tidak sabar untuk bertemu dan memastikannya.
'Menapa aku seperti orang bodoh, menungguhnya di sini. Seharusnya aku bisa menunggunya di sana. Dia sudah mengirim alamatnya.' Batin Darel, sambil mengusap wajahnya.
Darel segera menghubungi asistennya untuk menjemputnya di hotel. "Hyun, tolong bawa mobilmu untuk menjemputku di hotel, dan juga tolong batalkan pertemuanku malam ini. Katakan saja kepada mereka, saya minta maaf tidak bisa hadir. Mendadak ada keperluan keluarga." Ucap Darel dengan jantung berdebar tidak beraturan.
"Baik, tuan muda." Ucap Hyun. Dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi. Karena tuannya tidak pernah membatalkan janji, jika ada sesuatu yang urgent.
Darel segera mandi dan menggantikan kemejanya yang basah, karena tadi dikerumuni banyak pangunjung. Setelah itu dia memakai masker, reben dan langsung keluar kamar menuju lobby hotel. Darel menunggu di lobby, agar Hyun tidak perlu menunggunya. Dia tidak mau membuang waktu dengan membiarkan Hyun menunggunya. Hatinya tidak sabar menunggu kedatangan Hyun. Setelah Hyun mengatakan sudah di depan lobby, Darel segera keluar menemuinya.
Hyun terkejut ketika Darel duduk di kursi depan di sampingnya. "Tolong jalankan mobil ini keluar dari hotel, nanti di jalan raya kau turun dan naik taksi kembali ke studio, ya. Untuk sementara ini, aku akan memakai mobilmu." Ucap Darel, dan Hyun mengangguk tanpa bertanya. Dia yakin tuannya sedang tidak mau memakai mobilnya sendiri.
Memang Darel tidak mau memakai mobil mewahnya ke tempat tinggal Efraim. Mobilnya pasti akan sangat menarik perhatian lingkungan sekitar tempat tinggal Efraim. Dia tidak bisa memakai mobil Mikha, karena mobilnya dan Mikha sama mewahnya. Sehingga dia meminjam mobil asistennya yang tidak terlalu menyolok.
Darel menuju alamat yang diberikan oleh Efraim, dengan hati yang tidak dapat dilukiskan rasanya. Kondisi jalan yang padat dengan kendaraan, membuat Darel makin tidak sabar. Dia ingin cepat tiba di tempat tujuan.
Darel tiba hampir bersamaan dengan bus yang membawa Efraim. Darel mengenalnya ketika melihat bajunya. Tetapi Darel tetap menunggu, karena masih bersama teman-temannya. Dia tetap duduk di dalam mobil sambil memperhatikan layar ponselnya.
Tidak berapa lama kemudian, ada pesan masuk dari Efraim yang mengatakan bahwa dia sudah sampai di tempat tinggalnya. Darel menelponnya dan langsung di terima oleh Efraim.
"Allooo, Uncle."
"Allooo, Efraim. Uncle sudah ada di depan tempat tinggalmu. Apakah kau bisa keluar?" Tanya Darel.
"Iyaa, Uncle. Efraim akan minta ijin dulu." Ucap Efraim sambil mengambil jacketnya dan minta ijin pada guru pendampingnya. Dia katakan mau keluar untuk membeli makanan ringan.
Setelah mendapat ijin, Efraim langsung keluar dan melihat sekitarnya, untuk mencari Darel. Ketika melihat Efraim sedang mencarinya, Darel langsung menelponnya.
"Efraim, lihat ke kanan. Ada mobil hitam, itu mobil Uncle." Ucap Darel yang melihat Efraim dari kaca spion. Setelah dekat dengan mobilnya, Darel membuka pintu dan menyuruhnya masuk.
Saat berada di dekatnya, Darel membeku. Ternyata Efraim benar-benar mirip dengannya, hanya mata dan rambut yang berbeda. Rambut Efraim agak ikal dan itu, membuatnya sangat tampan.
"Maafkan Efraim, Uncle. Sudah menyusahkan Uncle." Ucapan Efraim menyadarkan Darel dari rasa terkejutnya.
"Tidak mengapa, Uncle ingin tahu. Mengapa kau meminta tes DNA."
"Oooh, Uncle belum melakukannya?" Tanya Efraim. Dia mengira karena Darel orang terkenal, jadi bisa melakukannya dengan mudah dan cepat.
"Belum. Uncle mau bicara denganmu dulu, mengapa kau memintanya." Ucap Darel sambil berusaha menenangkan hatinya.
"Karena Mommy katakan, Uncle adalah Daddy Efraim." Ucap Efraim.
"Siapa nama Mommymu." Tanya Darel.
"Kandara, Uncle."
"Kandara...?" Tanya Darel ragu.
"Iya, Uncle. Biasa dipanggil Dara." Lanjut Efraim.
*- Sebuah kejutan yang berhubungan dengan hati, akan sangat mengejutkan -*
Darel tetap terkejut, walaupun sudah menduganya. "Astagaaa... Berapa usiamu?" Tanya Darel, dan matanya tidak beralih dari wajah Efraim.
"Sudah 9 Tahun lebih, Uncle."
"Astagaaa... Kau lahir di bulan April?" Tanya Darel, karena dia tidak pernah lupa pertemuannya dengan Kandara.
"Iyaa, Uncle. Tanggal 26 April."
"Astagaaa... Daraaa..." Darel tidak bisa mengontrol dirinya. Dia langsung memeluk Efraim erat. Dia mengingat kejadian musim semi 9 Tahun yang lalu di resortnya, di Pulau Jeju. Sunrise dengan cahaya keemasan yang memberkatinya di tanggal yang sama.
"Kau memang anakku, Efraim. Aku Daddymu." Ucap Darel sambil mencium puncak kepala putranya, lamaa dan dalam. Efraim yang menerima perlakuan itu, menangis dalam pelukan Darel.
Dia merasa senang sekali, bukan saja karena Darel adalah Deddynya. Tetapi juga karena mommynya tidak berbohong kepada mereka. Mengingat Mommynya, Efraim makin menangis tersedu-sedu.
Kemudian dia teringat adiknya. "Daddy, bisakah menelpon adikku? Dia juga sangat merindukan Daddy." Tanya Efraim.
"Adikmu...? Apakah Mommymu sudah menikah?" Tanya Darel, dengan hati was was.
"Tidak Daddy, kami kembar. Efrima adalah kembaranku." Efraim menjelaskan.
"Astaga, kalian kembar? Jadi anakku ada dua?" Darel sangat terkejut mendenganya, sehingga bertanya seperti orang linglung. Dia segera mengendalikan dirinya dan mengangguk. Tangannya tidak lepas dari kepala Efraim dan terus mengelusnya dengan sayang.
Efraim mengirim pesan untuk Efrima menanyakan dia sedang di mana. Setelah menerima balasan dari Efrima bahwa dia sedang ada di rumah dan Mommy belum pulang kerja. Efraim mengatakan bahwa dia akan VC dengan Efrima sendiri. Jangan sampai ketahuan Mommy atau Oma. Karena itu syarat Mommynya mau kasih tahu siapa Daddy mereka, asal tidak boleh kasih tahu kepada Oma.
Efrima mengiyakan permintaan Efraim untuk VC, karena pikirnya mungkin Efraim mau beli ole-ole untuk mereka. Efraim mengatakan kepada Darel, kalau Efrima bisa VC. Darel mengangguk dengan jantung yang berdegup kencang.
Ketika tersambung dan wajah Efrima munjul di layar ponsel, Darel langsung menutup mulutnya dengan tangan. Karena dia bisa melihat wajah Efrima dari samping. Wajah Efrima benar-benar mirip dengannya. Wajahnya adalah wajah Darel dalam versi wanita. Hanya rambutnya yang berbeda, ikal seperti Efraim.
Efraim telah menghapus air matanya. "Alloo Efriii. Ada yang mau bicara denganmu." Ucap Efraim menggunakan bahasa korea. Karena mereka bisa berbahasa korea dengan baik. Selain kursus, mereka di rumah juga sering berbahasa korea atau Inggris selain Bahasa Indonesia.
"Tidak mau, aku tidak mau bicara dengan teman-temanmu." Ucap Efrima. Karena teman lelaki Efraim suka mengganggunya.
Efraim memberikan ponselnya kepada Darel. Ketika Efrima melihat siapa yang ada di layar, dia menutup mulutnya dan perlahan menyebut :
"Deddiii..." Ucap Efrima yang sedang menutup mulutnya dengan tangan, kemudian air matanya berlinang. Darel tidak bisa bersuara, dia hanya bisa mengangkat tangannya dan melambai kepada Efrima.
Tiba-tiba ada suara Kandara yang memanggil Efrima. Efraim langsung mengambil ponsel dari tangan Darel dan menghapus air matanya.
"Hiii Efraa, kalian berdua kenapa? Kau apakan adikmu, Efra?" Tanya Kandara, ketika melihat Efrima yang sedang menahan tangis dengan menutup mulutnya. Darel hanya bisa melihat Kandara dari samping.
"Tidak Mommy, hanya rindu rumah." Ucap Efraim dalam bahasa Korea.
"Oooh, kami juga merindukanmu. Cepatlah pulang." Ucap Kandara dalam bahasa Korea juga.
"Iyaa, Mom. Besok kami sudah pulang." Ucap Efraim pelan, dan matanya mulai berkaca-kaca karena merindukan Mommynya.
"Efra, tadi Mommy sudah transfer uang, agar Efra bisa beli ole-ole untuk Efri dan Oma, yaa. Besok mommy tidak bisa menjemputmu, karena mommy harus lembur. Jadi nanti Oma yang jemputmu." Ucap Kandara, menjelaskan.
"Iyaa, Mom. Terima kasih." Ucap Efraim menahan tangis. Dia ingin memeluk Mommynya, karena tidak berbohong kepada mereka tentang Daddy mereka.
"Mommy mau istirahat, hati-hati di sana, ya. Efra, ini bicara lagi dengan Efri. Luv u..." Kandara menyerahkan ponselnya untuk Efrima sambil mengacak puncak kepala putrinya dengan sayang.
*- Air mata seseorang, mengisyaratkan rasa hatinya -*
โกโข~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... ๐๐ป Makasih~โขโก