
Semua itu dilihat dan didengar Darel dalam diam. Wajah Itulah yang dirindukan selama ini, tidak banyak berubah. Darel tidak dapat mengendalikan hatinya. Dia membuka pintu mobil dan keluar. Dia berteriak sambil duduk di pinggir jalan, dadanya terasa mau meledak.
"Daraaa, apa yang kau lakukan ini?" Berkali-kali Darel mengucapkannya. Ketika Efraim melihat Daddynya keluar dan berteriak, dia segera mengakhiri pembicaraan dengan Efrima. Namun sebelumnya dia telah mengingatkan Efrima untuk tidak menceritakan kepada Mommy dan Oma tentang Daddy mereka. Efraim keluar dari mobil dan menyusul Darel yang sedang berteriak sambil memegang dadanya.
Mendengar apa yang diucapkan Darel, Efraim langsung memeluknya. "Maafkan mommy, Daddy. Maafkan..." Ucapnya sambil menangis. Melihat Efraim yang menangis, Darel segera menguasai dirinya. Dia memeluk Efraim erat, mencium kepalanya dalam, dan mengajaknya kembali masuk ke mobil.
Setelah menguasai dirinya, dia mengelus kepala Efraim. "Maafkan daddy, karena tadi tidak bisa mengendalikan diri, ketika melihat mommymu. Daddy telah mencari mommymu sepuluh tahun lebih. Daddy tidak bisa lukiskan hati daddy saat ini. Daddy sangat bersalah untuk kalian semua. Jangan pernah meninggalkan daddy lagi." Ucap Darel dengan mata berlinang.
Darel mengontrol perasaannya dan menatap Efraim. "Efraaa. Sementara ini jangan katakan apa pun untuk mommymu tentang pertemuan kita sebelum daddy bertemu dengan mommymu." Pinta Darel sambil mengusap kepala Efraim dengan sayang. Efraim mengangguk mengiyakan.
Darel telah menguasai dirinya dan melihat sekeliling di luar. "Sekarang kau sudah terlalu lama di luar, nanti dicari. Besok daddy dan uncle akan datang bertemu denganmu. Kasih tahu daddy tentang kegiatanmu besok, agar daddy dan Uncle bisa mengatur schedule kami." Ucap Darel, dan Efraim mengangguk mengerti.
"Kau ambil dan pegang uang ini untuk beli yang kau mau beli." Ucap Darel sambil menyerahkan semua uang tunai yang ada di dompetnya. Melihat sangat banyak uang yang di berikan daddynya, Efraim menolaknya dan mengambil sesuai yang dikirim oleh mommynya untuk beli ole-ole.
"Ini saja Daddy, sama dengan yang dikirim Mommy. Nanti kalau lebih, akan ditanya oleh Mommy." Darel mengerti yang dimaksudkan Efraim. Dia memberikan 1 x lipat lagi dari yang diambil Efraim.
Kau tidak usah beli baju untukmu dan Efri, nanti besok Daddy dan uncle akan bawa untukmu. "Tidak usah daddy, nanti Efra beli dengan ini saja, nanti mommy tanya. Efra minta kaos daddy saja. 2 Kaos lama daddy, biar 1 untuk Efri juga." Darel menatap Efraim tidak mengerti.
"Kaos yang pernah dipakai daddy, biar besar tidak apa-apa. Jadi kami rasa daddy ada dekat dengan kami." Ucapan Efraim membuat Darel memeluknya dengan erat.
"Baiklah. Nanti besok daddy bawa untukmu. Oooh, iyaa. Tadi kau ijin mau kemana?" Tanya Darel, kembali mengingat Efraim sudah lama di luar.
"Mau beli makanan ringan, daddy." Efraim memberitahukan alasannya keluar rumah.
"Kalau begitu, mari turun dan kita pergi beli dan kau cepat masuk." Ucap Darel sambil memakai masker dan keluar menuju mini market di depannya.
Mereka sudah berada di dalam mini market. "Efraa, ambil juga untuk teman-temanmu. Nanti daddy yang bayar. Kalau ada yang tanya, bilang saja, mommy baru transfer uang untukmu." Efraim mengangguk mengiyakan.
Setelah itu, mereka keluar. Darel kembali memeluk putranya sebelum masuk ke mobil.
"Hati-hati. Daddy akan menunggumu di sini sampai kau masuk ke dalam." Efraim memeluk Darel erat.
"Terima kasih, Daddy." Efraim jalan kembali dengan air mata bahagia. Benar saja, sebelum masuk pintu, Pak Guru sudah keluar mencarinya. Pak Guru segera membantunya, ketika melihat Efraim membawa dua kantong belanjaan di tangannya.
Melihat itu, Darel tersenyum. Berarti gurunya memperhatikan putranya. Dia segera meninggalkan tempat Efraim untuk kembali ke hotel.
Di jalan, Mikha menelponnya. "Darel, kau ada di mana.?" Tanya Mikha.
"Aku sudah di jalan kembali ke hotel. Nanti sampai di kamar baru kita bicara." Jawab Darel.
"Ok. C u..." Ucap Mikha, lalu mengakhiri pembicaraan mereka.
*- Akan ada pelangi setelah hujan deras-*
*((**))*
Setelah tiba di kamar hotel, Darel menghempaskan tubuhnya dan duduk di atas sofa dalam kamar hotelnya. Hatinya benar-benar seperti baru berlari marathon. Tubuhnya benar-benar lemas tidak bertenaga. Kejadian yang baru dialaminya sungguh menguras energinya. Dia telah menjadi seorang Daddy, membuatnya tersungkur dan berdoa:
Setelah itu dia bangun, berjalan ke balkon dan memandang jauh melewati gedung-gedung tinggi, diantara langit yang sudah gelap. Hatinya berkecamuk dengan banyak pertanyaan untuk Kandara.
Tetapi yang terucap dari bibirnya pelan ; 'Terima kasih Dara, terima kasih. Andaikan kau ada di sini.' Hatinya penuh dengan rasa rindu yang membuncah.
Dia mengambil ponsel dan mengirim pesan untuk Mikha bahwa dia sudah di kamar dan tolong bawakan makan malam untuknya, karena merasa sangat lapar. Dia melihat juga ada pesan masuk dari Efraim. "Terima kasih, daddy. Teman-teman senang sekali dengan makanan ringannya. Apakah daddy sudah sampai di rumah?"
"Iyaa, Efra. Apa kalian semua sudah makan malam?" Tanya Darel membalas pesan Efraim.
"Sudah daddy, kami semua sudah makan. Oh iya, daddy. Besok kami hanya ke pasar untuk beli ole-ole. Karena sore sudah pulang ke Indonesia." Pesan balasan Efraim.
"Baik, kalau begitu sekarang Efra istirahat, nanti besok pagi daddy akan telpon Efra. Gd night."
"Iya daddy. Gd night." Darel meletakan ponselnya setelah saling berkirim pesan dengan Efraim
Tidak lama kemudian, Mikha bersama seorang pelayan mengantar makanan untuk mereka berdua. Setelah ditinggal pelayan, Darel langsung memeluk Mikha. "Aku telah menjadi daddy, Mikha. Efraim benar anakku." Ucap Darel dengan mata berembun. Mikha menepuk punggung Darel pelan. Dia tahu apa yang sedang berkecamuk di hati dan pikiran Darel saat ini. Dia pasti sangat shock.
"Syukurlah, penantianmu tidak dia-sia." Ucap Mikha. Darel melepas pelukannya dan mengajaknya makan, karena dia sudah sangat lapar.
Setelah selesai makan, mereka duduk di balkon dan berbicara. "Apakah kau sudah berbicara dengan Dara?" Tanya Mikha.
"Belum, tadi hanya melihatnya saat Efraim VC dengan adiknya." Ucap Darel tenang, tetapi Mikha menatapnya fokus.
"Apakah Dara sudah menikah?" Tanya Mikha khawatir.
"Belum. Ooh iya, astagaaa... Aku lupa bilang padamu, kalau Efraim memiliki adik kembar. Aku telah menjadi daddy dari dua orang anak. Adiknya perempuan bernama Efrima. Dia hampir seperti aku dalam versi wanita. Hanya rambutnya yang ikal seperti Efraim. Mungkin seperti rambut Dara." Ucap Darel menceritakan.
"Wuuuah, aku bisa membayangkannya. Pasti dia sangat cantik." Ucap Mikha, dan Darel mengagguk setuju.
"Aku tidak sabar untuk bertemu dengan mereka." Ucap Mikha.
"Itulah yang kurasakan saat ini. Nanti besok kita akan bertemu dengan Efraim sebelum dia kembali ke Indonesia. Tadi aku sudah bilang padanya, akan datang bersama Unclenya. Jadi besok tolong kosongkan schedule mu." Darel menjelaskan.
"Baiklah, aku akan mengajaknya keliling Mall dan membelikan apa yang dia inginkan." Ucap Mikha senang, dan sudah membayangkannya.
"Aku sudah mengatakannya, tetapi Efraim tidak mau. Dia akan membeli ole-ole hanya sesuai dengan uang yang dikirim Mommynya." Ucap Darel, dan Mikha melongo kecewa.
"Aku setuju dengannya. Jangan Mommynya tahu kalau kami sudah bertemu, sampai aku menemuinya. Jadi jangan kau mengacaukannya, dengan memberi uang juga untuk Efraim." Darel mengingatkan Mikha, karena was-was dengan tindakan Mikha.
"Apakah aku tidak bisa memberikan sedikit uang untuknya juga?" Tanya Mikha sedikit kecewa.
"Tidak bisa, tadi aku sudah memberikannya. Dan dia mengambil sesuai dengan yang kirim Mommynya. Jadi jangan kau tambahkan." Ucap Darel lagi. Mikha hanya bisa mengangguk, mengerti.
*- Kadang seseorang akan bertindak sesuai dengan standar hidupnya. Butuh pengertian agar bisa memahami orang lain di level tingkat hidup yang berbeda -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡~•