Me And You For Us

Me And You For Us
Curahan Hati



Darel memanggil Kandara dan berbisik. "Darah, ada handuk? Kami tidak membawa handuk." Ucap Darel. Inilah kebiasaan jika bepergian dan tinggal di hotel, sehingga tidak terpikirkan. Kandara mengangguk dan segera turun ke kamarnya untuk mengambil handuk.


Setelah mendapatkan handuk dari Kandara, Darel dan Mikha segera mandi, bergantian. Karena badan mereka sangat gerah dan lengket.


Selesai mandi Mikha tetap di kamar, membuka laptop dan mulai membuka emailnya. Karena dia telah berpesan kepada Asistennya untuk mengirim email, jika tidak bisa menghubunginya.


Bu Selvine sementara di kamarnya untuk menenangkan hatinya. Ketika mengetahui, Daddy dari kedua cucunya telah datang menemui mereka. Bu Selvine tidak tahu harus senang atau sedih. Entah apa yang akan terjadi ke depan dengan kedua cucunya dan Kandara. Karena Daddy mereka telah mengetahui keberadaan mereka. 'Kiranya Tuhan menolong Kandara dalam menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapinya.' Doa dan harapannya dalam hati.


Darel turun mencari anak-anak dan Kandara. Ketika tidak menemukan mereka, Darel mengetuk pintu kamar Kandara. Mendengar ketukan di pintu kamarnya, Kandara yang baru selesai mandi, membuka pintunya.


"Dara, di mana anak-anak?" Tanya Darel.


"Mereka tadi ada di ruang tamu, mungkin mereka lagi ke kamar." Ucap Kandara, sambil keluar dari kamarnya.


"Kalau begitu, kita bisa bicara?" Tanya Darel lagi. Kandara mengangguk, lalu berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa dengan hati yang was-was.


Setelah mereka duduk di sofa ruang tamu, Darel bertanya. "Bagaimana dengan kondisimu?"


"Sudah membaik." Jawab Kandara pelan.


"Kalau begitu, bisakah kita berbicara serius?" Tanya Darel lagi. Kandara menggelengkan kepalanya dan menunduk. Dia berpikir, Darel akan berbicara tentang kedua anaknya. Hal itu terlalu mendadak bagi Kandara untuk dibicarakan.


Dia belum siap untuk membicarakan perihal anak-anaknya dengan Darel. Pernah terlintas dibenaknya ketika anak-anak mulai besar. Bagaimana jika suatu saat, anak-anak bertemu dengan Darel? Apakah Darel akan mengambil anak-anaknya? Tetapi dia selalu menepis pertanyaan itu dari pemikirannya.


Tetapi sekarang Darel ada di depannya. Hal ini membuat hatinya mulai khawatir, dan matanya mulai berembun membayangkan dia akan jauh dari anak-anaknya.


Melihat Kandara menggelengkan kepala dan mulai cemas, Darel menatapnya dengan berbagai rasa di hatinya. "Dara, kau tidak merindukanku?" Tanya Darel, sambil menatapnya dalam. Kandara terkejut mendengar pertanyaan Darel, dia langsung diam terpaku dan balik menatap Darel.


"Tahukah kau, kalau aku merindukanmu?" Darel langsung mengutarakan pertanyaan itu karena dia menyadari, Kandara sedang cemas. Karena dia mulai meremas tangannya. 'Mungkin Dara menyangka aku akan berbicara tentang anak-anak.'  Darel membatin.


"Dara, jangan mencemaskan atau memikirkan tentang hal yang jauh dan berat." Darel berdiri dan duduk di samping Kandara.


"Aku datang ke sini hanya ingin bertemu denganmu dan anak-anak. Aku sangat merindukanmu." Ucap Darel, penuh penekanan, lalu melingkar lengannya di bahu Kandara dan mengusapnya pelan untuk menenangkan Kandara.


Air mata Kandara jatuh menetes ke tangan yang ada di pangkuannya. Dia tidak tahu harus mengatakan apa. Dia bisa merasakan ketulusan Darel dalam ucapannya. Darel makin merapatkan tubuhnya dan mencium pelipis Kandara sambil terus mengusap lengannya.


"Kau mengingat tanggal ini?" Kandara mengangguk kuat dengan air mata berurai. Darel sengaja datang di tanggal pertemuan pertama mereka.


Dia menghirup udara yang banyak dan menghembuskannya perlahan. "Sekian lama aku berusaha mencarimu, tetapi tidak juga menemukanmu. Aku hampir putus asah, karena dengan kemampuanku, tidak mungkin bisa bertemu lagi denganmu." Ucap Darel.


"Tetapi ada keyakinan di hati agar terus berharap pada kebaikan Tuhan. Hanya Tuhan yang bisa mempertemukan kita." Ucap Darel lagi.


"Dengan adanya aku di sini, inilah bagian dari kebaikan Tuhan itu. Tuhanlah yang membuka jalan, sehingga kita bertemu lagi." Ucap Darel dengan mata berembun. Sambil terus mengusap lengan Kandara perlahan.


Air mata Kandara mengalir deras, mendengar apa yang diucapkan Darel. Dia terus menunduk, tidak sanggup untuk melihat Darel. Hatinya benar-benar bergejolak mendengar apa yang dikatakan Darel.


*- Kebaikan Tuhan selalu terjadi bagi mereka yang terus berharap -*


Karena selama ini, Kandara tidak berharap agar Darel merindukannya. Jika Darel masih mengingatnya saja itu sudah sangat membahagiakannya. Karena sebagai seorang Idol, dia pasti bertemu dengan banyak orang dalam sehari.


Mikha yang baru keluar dari kamar dan hendak turun ke ruang tamu, melihat Efra dan Efri sedang duduk di tangga sambil menahan tangis. "Hi... kids." Sapa Mikha, Efraim dan Efrima sontak menengada dan meletakan jari telunjuk di bibir mereka untuk memberi isyarat agar Unclenya diam. Mikha menyadari, pasti sedang terjadi sesuatu di bawa.


Hal yang sama juga terjadi di balik tembok ruang tamu. Bu Selvine yang hendak kembali ke ruang tamu mendengar apa yang dikatakan Darel,  menangis terharu. Bu Selvine tidak menyangka, Darel mencari Kandara selama ini. Bu Selvine kembali masuk ke kamar dan bersyukur. Mendengar apa yang dikatakan Darel, kini ia yakin, Darel tidak akan meninggalkan putrinya dan kedua cucunya.


"Uncle haus, yuuuk... Temani Uncle ambil minum." Ucap Mikha tidak menanggapi isyarat yang diberikan mereka dan juga sebagai kode untuk Darel. Mikha berpikir, mungkin Darel sedang berbicara dengan Kandara. Jangan sampai ada hal-hal yang bisa membuat anak-anaknya sedih. Mikha melangkah turun sambil mengajak Efraim dan Efrima untuk turun.


Mendengar itu, Kandara segera menghapus air matanya, menarik nafas yang dalam dan menghembuskannya. Dia mencoba mengendalikan dirinya, karena jantungnya berdetak tidak beraturan dan hatinya ingin terus menangis mendengar ucapan Darel.


Darel tidak melepaskan tangannya dari bahu Kandara dan berbisik pelan. "Tenanglah..." Ucap Darel juga mencium pelipisnya. Kandara mengangguk pelan dengan wajah memerah.


Ketika melihat anak-anak dan Mikha telah turun, Darel memanggil anak-anaknya dan menyuruh mereka untuk duduk di sofa, di sampingnya. Mikha ke dapur untuk mengambil air minum dan duduk di kursi meja makan. Dia ingin memberikan kesempatan untuk Darel bebicara dengan Kandara dan anak-anaknya. Karena dia tahu, Darel sangat merindukan mereka.


Kandara berdiri ke dapur, meninggalkan Darel dan anak-anak dengan alasan mau membuat minum. Darel membiarkannya karena dia tahu, Kandara pasti akan menangis jika tetap duduk bersama mereka.


Darel menanyakan tentang sekolah dan kegiatan di luar jam sekolah mereka. Anak-anak bercerita bergantian dengan bersemangat, tentang sekolah dan yang dilakukan diluar jam sekolah.


Darel bersyukur, karena Kandara memberikan sekolah dan memilih kegiatan eks-school yang baik bagi kedua anaknya. Sesuai dengan kondisi finansial Kandara, dia bisa memberikan yang terbaik bagi kedua anaknya. Hatinya menghangat dan mengagumi mommy dari anak-anaknya.


Tiba-tiba Efraim teringat rencana mereka sekeluarga, akan pergi berlibur. "Daddy, apakah besok masih tinggal dengan kami di sini?" Tanya Efraim sambil melihat Daddynya.


*- Ketulusan dapat dirasakan oleh hati yang mengasihi dengan tulus -*


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡