Me And You For Us

Me And You For Us
Serba - Serbi.



Darel melihat wajah Kandara yang mulai sedih ketika melihatnya.


Dara,, sebentar lagi boarding, aku mau berangkat ke New York. Jadi dengar baik-baik., aku harap engkau mengerti dan tolong tenangkan anak-anak, yaa.." Ucap Darel pelan. Kandara mengangguk mengiyakan.


"Mungkin Beberapa waktu ke depan, aku akan sangat sibuk.,. Jadi tolong kalian bersabar. Aku akan usahakan menghubungimu setelah tiba di sana." Ucap Darel, mengharapkan pengertian Kandara.


"Iyaa, Darel.. Aku mengerti dan hati-hati di sana. Baru tadi malam terbang, sekarang terbang lagi, jaga kesehatan. Kami di sini akan selalu mendoakanmu." Ucap Andara dengan mata mulai berembun. Melihat wajah dan mata Kandara, Darel menjadi tidak tahan untuk terus berbicara dengan Kandara. Dia mengakhiri pembicaraan mereka.


"Dara, aku akan berangkat sekarang. Kalian hati-hati di sana., yaa.." Darel mengakhiri pembicaraan sebelum mendengar ucapan Kandara yang bisa membuatnya hilang konsentrasi.


Darel sangat mengerti perasaan Kandara, karena dia sendiri merasakan hal yang sama. Merindukan mereka, bisa bersama-sama dengan mereka.


Kini Darel mengerti, mengapa Daddynya selalu membawa Mommynya ketika melakukan perjalanan bisnis. Mereka tetap bisa menghabiskan waktu bersama di sela-sela kesibukan.


Kandara makin mengerti Darel, kenapa dia tidak mau berbicara lebih lanjut. Dia mengingat ucapan Darel ketika hendak meninggalkan mereka di Bandara.


'Aku tidak akan berbalik untuk melihat kalian, aku khawatir tidak jadi berangkat.'


Hal yang sama sedang dilakukannya sekarang, menguatkan dan menenangkan hatinya agar bisa berangkat. Melihat wajah yang sangat lelah, Kandara hanya bisa berdoa.


'Kiranya Tuhan melindungi dan menguatkannya.'


Kandara beranjak masuk ke kamar untuk beristirahat. Perasaan khawatirnya sangat berbeda dengan sebelum bertemu dengan Darel. Sekarang dia benar-benar khawatir kehilangan.


Kembali harapan yang sama dia sampaikan saat berdoa sebelum tidur.


'Kiranya Tuhan melindungi penerbangan Darel.'


*((**))**


Seperti yang dikatakan Darel, setelah tiba di New York, dia disambut dengan masalah di Perusahaan. Membuatnya tidak bisa berkomukasi dengan baik bersama keluarganya, terutama dengan Kandara dan anak-anak.


Perbedaan waktu yang jauh, makin mempersulit komunikasi Darel, Kandara dan anak-anak. Hal itu membuat, Kandara mencoba belajar sabar dan mengerti situasi yang sedang dihadapi Darel.


Oleh sebab itu, Kandara mengajak anak-anaknya berbicara.


"Efra dan Efri.., saat ini Daddy sedang sibuk. Jadi jangan hubungi Daddy, jika tidak perlu sekali. Tunggu sampai daddy menghubungi kalian, baru kalian respon. Jangan sampai kalian mengganggu konsentrasi Daddy." Ucap Kandara, sambil memelus kepala kedua anaknya. Karena Kandara berpikir, jangan sampai anak-anak mengganggu konsentrasi Darel.


"Iyaa,., Mommy.. Apakah Daddy lama sekali yaa, Mom.?" Tanya Efrima.


"Mommy tidak bisa menjawabnya., Efri." Jawab Kandara, dan dia tahu Efrima telah bertanya hal yang sama untuk kedua kalinya.


Darel hanya mengirim atau membalas pesan dengan kalimat yang pendek. Kandara tahu, Darel sedang sibuk atau sedang ada masalah. Berdasarkan pemikiran itu, dia mengajak anak-anaknya lebih sering berdoa untuk daddy mereka.


Hampir sebulan lebih, komunikasi mereka sangat minim dan bisa dibilang tidak lancar. Darel jarang sekali melakukan VC dengan anak-anak, bahkan mungkin tidak pernah.


Jadi ketika Darel telpon, Kandara sangat terkejut,, karena sedang ada di kantor. Kandara langsung mengelus dadanya dan bersyukur Darel tidak VC.


Kandara menjawab telponnya dengan suara yang rendah, khawatir didengar oleh Mala. Karena Mala sedang berada di dekatnya, mereka sedang mempersiapkan laporan untuk meeting.


"Allooo, Darel.." Mendengar suara Kandara yang pelan, Darel teringat mungkin Dara sedang di kantor.


"Allooo Dara, kau lagi di kantor.?" Tanya Darel ketika mendengar suara Kandara.


"Iyaa,., Darel.. kau baik-baik saja.?" Tanya Kandara, merasa khawatir.


"Iyaa, aku baik. Aku baru tiba di Jepang, jadi telpon cek kau dan anak-anak. Aku lupa kau di kantor." Ucap Darel.


"Ooh.., kami baik-baik saja." Jawab Kandara dan tiba-tiba suara Toby memanggilnya dan Mala untuk meeting dengan para Petinggi. Ketika mendengar itu, Darel mengakhiri telponnya.


"Ok, Darel.. By." Ucap Kandara tertegun.


Sesuai keputusan rapat, mereka akan merayakan kesuksesan proyek dengan makan malam bersama. Mendengar keputusan itu,., Kandara mendekati Mala dan Toby setelah meeting.


"Mas,, maaf.. Dara ngga bisa ikut." Ucap Kandara mengingat, Darel berjanji mau menelponnya setelah pulang kantor.


*- Kasih sayang yang nyata, dapat merubah sikap seseorang -*


Toby yang mendengar itu langsung bertanya :


"Apakah kembar baik-baik saja.?" Tanya Toby khawatir. Dia mengira Kandara tidak bisa ikut karena kedua anaknya sedang tidak sehat.


"Mereka baik-baik ko',., Mas. Hanya ada keperluan keluarga saja. Jatahku untuk yang lagi berbadan dua, yaa.." Ucap Kandara tersenyum, untuk menghindari pertanyaan lanjutan dengan ngeledekin Mala. Karena istrinya, Rina sedang hamil. Mereka semua langsung tertawa.


"Baiklah,.. kalau begitu hati-hati. Sampai ketemu besok." Ucap Toby, dan Kandara mengangguk. Dia segera keluar ruangan dan kembali ke ruangannya, merapikan meja dan pulang.


Setelah tiba di rumah, Kandara membersihkan tubuh dan istirahat sambil menunggu telpon dari Darel. Anak-anak sudah tidur, Kandara tidak memberitahukan kepada mereka bahwa Darel akan menelpon.


Mereka bisa tidak tidur, karena minta ikut menunggu telpon dari Daddy mereka. Dan kalau mereka sudah meminta demikian, Kandara tidak akan tega untuk tidak mengijinkannya.


Sudah agak malam baru Darel VC.


"Allooo, Dara.. aku tadi ketiduran. Kau sudah mau tidur.?" Tanya Darel.


"Tidak apa-apa.., aku menunggu telpon darimu." Ucap Kandara., dengan wajah tersenyum.


"Ooh.., Ok..,. Tadi banyak kerjanya.?" Tanya Darel, memulai percakapan.


"Lumayan banyak, tadi kami meeting untuk membicarakan proyek yang sudah selesai. Jadi mau ditraktir makan malam." Kandara menjelaskan.


"Oooh,, kapan acara makan malamnya.?"


"Makan malamnya, sudah,., tadi,..." Jawab Kandara.


"Loh,, kau sudah pulang atau tidak ikut.?"


"Aku tidak ikut, karena ada yang janji mau telpon." Ucap Kandara sambil tersenyum. Darel juga ikut tersenyum.


"Dara,, kau sudah lama bekerja di kantor yang sekarang.?" Tanya Darel.


"Iyaa, Darel.. dari sebelum bertemu denganmu. Waktu bertemu denganmu, aku lagi tugas ke sana dengan kedua temanku." Ucap Kandara.


"Kedua temanmu itu pria atau wanita.?" Tanya Darel. Kandara mengingat kejadian di kantor waktu Darel telpon.


"Keduanya pria.,. Pak Mala dan Pak Toby satu tim denganku., mereka juga suka menolongku. Apalagi ketika waktu aku hamil.. aahh iya, aku lupa bilang, mereka berdua pernah memukul Lucha, waktu bicara tidak sopan padaku, saat aku sedang hamil." Kandara menjelaskan.


"Ooh,, yaa..?" Ucap Darel., terkejut.


"Pak Mala sampai mengatakan; 'Dara., anakmu membuat kami seperti preman.. hehehe.." Ucap Kandara tersenyum dan tertawa, ketika mengingat kejadian yang terjadi dengan Lucha.


"Hahahaaa.. Nanti aku akan bertemu dengan mereka." Ucap Darel sambil tertawa. Tapi ada rasa terima kasih di hatinya untuk teman-teman Kandara yang telah melindunginya.


"Oooh iyaa,, Darel.. Pak Toby adalah Papa Rohaninya anak-anak, maksudnya Papa Baptis." Kandara mencoba menjelaskan tentang teman-temannya untuk menghindari salah paham antara dirinya dan Darel.


*- Dalam sebuah hubungan, harus saling mengerti, agar tidak terjadi benturan -*