Me And You For Us

Me And You For Us
Sendiri.



...~•Happy Reading•~...


Di bagian bumi yang lain ; Siang menjelang sore, diumumkan bahwa pesawat yang di tumpangi oleh Kandara dan rekan-rekannya dari Incheon, Seoul, Korea Selatan akan mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Tanggerang, Indonesia.


Setelah pesawat telah mendarat, Kandara mengambil kopernya lalu turun dari pesawat. Mala dan Toby juga telah turun, dan mendekati Kandara. "Dara, mau ikut bersama dengan kami?" Tanya Toby.


"Ngga, Mas. Dara dijemput sama Mas Lucha." Ucap Dara tersenyum tipis. Toby mengangguk mengerti.


"Ok. Kalau begitu, hati-hati. Sampai ketemu besok di kantor." Ucap Mala, dan Toby mengangguk.


"Iyaa, makasih. Mas Mala dan Mas Toby juga, Hati-hati. Sampai ketemu besok." Ucap Kandara.


Kemarin Kandara sudah memberitahukan penerbangannya kepada Lucha. Walau pun hari ini Lucha ada pertemuan penting dengan client, dia akan berusaha untuk menjemputnya. Itu yang Lucha sampaikan lewat pesan balasannya.


Setelah menyelesaikan semua urusan di Imigrasi, mereka keluar dari Bandara dan berpisah karena Mala dan Toby telah dijemput. Sedangkan Kandara masih menunggu di jemput.


Kandara menghidupkan ponselnya yang telah dicharger di pesawat untuk menghubungi Lucha. Ketika ponselnya telah on, banyak sekali pemberitahuan di sana. Ada banyak pesan dan panggilan tidak terjawab. Terutama dari kedua rekannya, Mala dan Toby. Kembali dia sedih dan merasa bersalah kepada kedua rekannya.


Ada satu panggilan tidak terjawab dan satu pesan dari Lucha. Kandara membuka dan membaca pesan yang dikirim Lucha. Ternyata dia tidak bisa menjemput, karena pertemuannya belum selesai.


Kandara membalas pesannya dengan hati yang lega. "Ngga papa, Mas. Aku sudah tiba di Bandara Soeta, dan akan naik taksi."


Di dalam taksi ke rumah, Kandara sangat bersyukur Lucha tidak bisa menjemputnya. Karena jika bertemu dengan Lucha dan melihat wajahnya saat ini, pasti akan dibombardir dengan berbagai pertanyaan.


Kandara tidak bisa bersikap pura-pura dengan tersenyum untuk menutupi hatinya yang sedang sedih. Tidak lupa Kandara mengirimkan pesan untuk Mamanya. Dia memberitahukan bahwa telah tiba dan sedang dalam perjalanan pulang ke rumah.


Mamanya membalas pesannya dengan mengatakan akan pulang agak malam, karena ada beberapa pesanan yang harus diselesaikan. Hati Kandara semakin lega, mengetahui hal tersebut.


Dia tidak mau menelpon Mamanya, karena pasti tidak akan tahan berbicara dengan Mamanya. Mamanya akan mengetahui kondisinya, jika berbicara dengannya. Sedangkan saat ini, dia benar-benar belum siap untuk berbicara dengan seorang pun.


Setelah tiba di rumah, Kandara meletakan bawaannya begitu saja di kamar. Dia membersihkan diri dengan air hangat dan memakai baju tidurnya.


Dia mengirimkan pesan untuk Lucha, Manche dan Mamanya, bahwa dia sudah tiba di rumah dan akan beristiraht karena sangat lelah. Tanpa menunggu balasan pesannya, Kandara non aktifkan ponselnya.


Entah kenapa, saat ini hatinya begitu sedih mengingat Darel. Wajahnya tidak mau hilang dari ingatannya. Sambil menatap wajah Darel dalam gambar grup Melo didinding kamarnya, hatinya berbisik sedih. 'Apa yang kau lakukan saat ini, Darel. Semoga kau baik-baik saja.'


Air mata kembali membanjiri pipinya. Dia mengurut dadanya berkali-kali, tetapi tidak mampu menenangkannya. Dalam linangan air mata, dia berlutut di atas tempat tidur, dengan kedua tangan  yang menekan dadanya dia memohon kepada Tuhan.


"Ya, Bapa. Engkau Maha mengetahui semua hati. Saat ini hatiku sangat sedih, karena pelanggaran dan dosa yang kami lakukan. Ampunilah kami berdua dan kuatkanlah kami di mana pun berada. Dalam nama Tuhan Yesus, aku mohon pengampunan dan kekuatan dari-Mu. Amin."


Kandara merebahkan dirinya ke atas tempat tidur dan berusaha untuk tidur, karena tubuhnya sangat lemah dan lelah.


...°-° Hanya Tuhan yang mengerti setiap hati yang meneteskan air mata °-°...


Di bagian bumi yang lain ; Menjelang sore hari, Mikha belum memberi info tentang keberadaan Kandara. Darel sangat lelah dan letih dalam ketidak pastian. Kondisi yang mengesalkan hati ini, membuat dia tidak bisa memejamkan matanya sejenak untuk beristirahat.


Bunyi telpon berkali-kali dari Manager dan Asistennya, tidak diresponnya. Begitu juga dengan telpon dari Agency dan member Melo. Darel tidak meresponnya, karena dia sedang menunggu informasi dari Mikha. Karena sewaktu-waktu Mikha bisa menghubunginya.


Benar saja, ketika bunyi telpon dan nama Mikha muncul di layar ponselnya, Darel langsung menerimanya. "Bagaimana, Mikha. Apakah sudah dapat infonya?" Tanya Darel tidak sabar.


"Tidak, Mikha. Hanya itu yang aku tahu." jawab Darel pelan, karena hatinya mulai ragu ketika mendengar pertanyaan Mikha. 'Kalau tidak ada pesan dari Dara, aku tidak akan tahu namanya.' Darel membatin sendiri.


"Kalau begitu, sebaiknya aku ke kamarmu. Nanti kita bicarakan di sana." Ucap Mikha lagi.


"Baiklah, aku tunggu." Ucap Darel, dan langsung mengakhiri pembicaraan mereka.


Beberapa saat kemudian, Mikha tiba di kamar Darel. Dia menyampaikan apa yang diketahui ketika mencari Dara.


"Begini Darel, aku sudah coba memakai  semua marga untuk nama Dara, tetapi tidak ada orang yang bernama itu di sini." Ucap Mikha sambil duduk di sofa.


"Astagaaa... Sorry, Mikha. Aku lupa mengatakannya. Dara bukan dari Korea, tapi dari Indonesia." Ucap Darel sambil menepuk dahinya.


"Whaatt...?! Are u seriously...?!" Tanya Mikha, dan Darel mengangguk mengiyakan.


"Itu yang aku tau dari pesan yang ditinggalkannya." Ucap Darel lagi.


"Kau mengingat wajahnya?" Tanya Mikha, dan Darel kembali mengganguk.


"Kalau begitu, kau tunggu apa lagi? Ayooo, carilah dia di sosial media. Mungkin kau bisa menemukannya." Mikha memberikan ide dan menyemangatinya.


Darel kembali menepuk dahinya. "Aahh, kenapa itu tidak terpikirkan olehku?" Tanya Darel heran, karena pikirannya benar-benar tidak berfungsi. Sehingga hal yang demikian pun, tidak terpikirkan olehnya.


Dia kembali mengambil laptopnya dan membuka sosial medianya. Dia telah mengnonaktifkan ponselnya. Dia mengetik nama Dara di satu per satu sosial media miliknya. Darel memperhatikan setiap wajah yang bernama Dara dari Indonesia.


Mikha mengurus makan malam untuk mereka berdua. Setelah itu kembali dengan laptopnya untuk membantu Darel mencari Dara di sosial medianya. Setiap ada nama Dara yang muncul, Mikha menunjukannya kepada Darel. Tetapi Darel terus menggeleng, karena tidak dikenalnya.


"Mari kita makan dulu, Darel. Jangan sampai kau jadi sakit." Ucap Mikha mengingatkan. Karena kalau dibiarkan, Darel akan lupa bahwa dia belum makan dan mungkin tidak akan makan.


Selesai makan malam, mereka kembali  mencari Dara di sosial media. Sampai larut malam, mereka belum bisa menemukannya. Ada banyak nama Dara ***** dengan nama lain dibelakang namanya, tetapi tidak satu pun wajah yang di kenal Darel.


Akhirnya Mikha meninggalkan Darel,  karena sudah tidak bisa berbuat sesuatu untuk membantu atau menghiburnya. Darel membiarkan Mikha pergi, karena menyadari, Mikha tidak bisa membantunya lagi.


Dalam kesendirian, Darel merenungi semua yang telah terjadi. Dia merasa sangat lelah dan lemah. Kekuatan dan rasa percaya dirinya selama ini, tidak bersisa.


Dia teringat kepada Satu Pribadi yang dapat menolongnya. Dengan hati yang hancur, sambil berlutut di samping tempat tidur, dia meletakan tangannya di atas kasur dan meletakan dahi di tangannya, dia memohon kepada Tuhan.


"Yaa, Tuhan. Aku sudah melakukan salah dan dosa terhadap-Mu. Ampunilah akan kesalahanku dan tolonglah aku untuk memperbaiki semua kesalahan yang telah kulakukan. Amin!"


Darel menaikan tubuhnnya ke tempat tidur dan berbaring. Tubuhnya benar-benar tidak bertenaga. Dia tertidur karena kelelahan.


...°-° Seorang manusia memiliki keterbatasan, sesukses apapun hidupnya °-°...


...~***~...


...~●○♡○●~...