
Ketika melihat yang dilakukan Efraim, Darel langsung memanggil nama Efraim dengan suara yang tegas.
"Efraaa,, lihat daddy dan katakan untuk daddy. Kalau tidak, Efra tidak usah ke sekolah hari ini., karena daddy tidak akan mematikan telpon ini." Ucap Darel. Mendengar yang dikatakan Darel, Efra langsung bicara tanpa melihat kepada Mommynya.
"Iyaa daddy., bulan depan Efra mau ikut festival musik., daddy doakan yaa.. biar Efra dan Efri bisa tampil dengan baik." Ucap Efraim akhirnya.
"Efra ingin daddy hadir.?" Tanya Darel, mulai menurunkan nada suaranya sambil menatap putranya. Efraim mengangguk pelan, dan ragu-ragu. Darel sudah bisa mengerti maksud dari ucapan Efraim.
"Efra kirim jadwalnya., daddy tidak janji untuk bisa hadir. Yang penting daddy sudah tahu, kalau memungkinkan, daddy akan hadir. OK.?"
"OK, Dad..." Ucap Efraim lega., Daddynya tidak marah padanya.
"Sekarang, jangan pikirkan daddy bisa hadir atau tidak. Kalian berdua fokus untuk latihan saja. Latihan yang tekun.. OK.?" Ucap Darel, tegas.
"OK, Dad..." Ucap Efraim, mulai tersenyum.
"Sekarang, siap-siap ke sekolah dan tolong berikan ponselnya untuk Mommy, yaa.." Efraim mengangguk dan menyerahkan kepada Kandara.
"Dara,, tolong menjauh dari anak-anak." Ucap Darel dan Kandara mengangguk. Dia berjalan ke ruang tamu.
"Ini sudah, Darel.." Ucap Kandara setelah berada di ruang tamu.
"Tolong dengarkan, Dara.. Biarkan anak-anak bicarakan apa yang mereka inginkan dariku, jangan melarang mereka. Kalau aku bisa, aku akan katakan bisa. Kalau tidak, aku akan katakan tidak, jadi biarkan mereka terbuka padaku." Ucap Darel serius sambil menatap Kandara.
"Iyaa, Darel.. maafkan aku." Ucap Kandara yang merasa bersalah.
"Astagaaa,, Daraaa.. lihat aku. Jangan minta maaf padaku. Karena kau tidak salah apa pun padaku. Dan sekarang aku tidak sedang marah padamu." Ucap Darel tetap serius.
"Aku hanya meminta padamu, berikan aku kesempatan untuk mengerti kalian. Jangan meminta mereka untuk terus mengerti aku." Ucap Darel lagi.
"Anak-anak itu mungkin sudah belajar mengerti aku sepanjang usia mereka. Biarkan aku juga belajar mengerti kalian, karena kalian yang utama bagiku." Ucap Darel tegas, untuk meyakinkan Kandara.
"Sesibuk apa pun, aku akan berusaha membaca pesan dari kalian. Walau pun harus jawab dengan kalimat yang pendek. Yaaa,, kondisi kita lagi seperti ini, harus berjauhan." Ucap Darel, memurunkan nada suaranya. Karena melihat wajah Kandara berubah warna.
"Iyaa, Darel.." jawab Kandara pelan dengan mata berembun, menahan tangis. Dia ingin sekali memeluk Darel.
"Astagaaa, Dara.. jangan kau teruskan. Kita sedang berjauhan. Aku tidak bisa menghiburmu, jadi tolong berhenti. OK.?" Tanya Darel, menurunkan nada suaranya, melihat kondisi yang tidak baik. Kandara mengangguk kuat, sambil menghapus air matanya yang mulai mengalir.
"Anak-anak harus ke sekolah jam berapa.?" Tanya Darel, untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mereka sudah diantar Mama." Ucap Kandara, karena tadi melihat mereka pamit kepadanya tanpa suara.
"Lalu kau ke kantor pakai apa.?" Tanya Darel mulai serius lagi.
"Nanti aku pesan online saja." Jawab Kandara, yang tidak menyadari situasi.
"Oooh.., alangka baiknya kau pakai sopir saja, supaya bisa antar jemput kalian. Atau beli mobil yang baru untukmu, biar yang ada dipakai untuk antar anak-anak dan Mama.?" Tanya Darel makin serius.
"Tidak usah, Darel,.. nanti aku cari sopir saja. Aku siap-siap dulu ya.. hati-hati.. By." Ucap Kandara langsung mengakhiri pembicaraan. Karena dia khawatir, Darel benar-benar akan membeli mobil.
Darel hanya bisa geleng kepala sambil tersenyum melihat apa yang dilakukan Kandara.
*- Kadang perdebatan itu perlu, agar bisa saling mengerti dan memahami -*
Hampir satu bulan Darel di Tokio, Jepang untuk menyelesaikan masalah di sana yang berkaitan dengan kantor pusat di New York, Amerika.
Akhirnya Darel kembali ke Seoul. Dia telah meminta Mikha untuk menjemputnya, karena ingin langsung pulang ke mansion orang tuanya.
Ketika bertemu mereka berpelukan, karena sudah lama tidak bertemu. Pertemuan terakhir mereka saat kembali dari Indonesia. Setelah di dalam mobil, Darel membicarakan rencananya.
"Mikha,., sekarang kita pulang ke mansion, ya.. Karena aku ingin berbicara dengan Mommy dan Daddy tentang Dara dan anak-anak. Selagi persoalan di kantor sedang mereda." Ucap Darel, dan Mikha mengangguk mengerti.
"Aku setuju denganmu, kasihan Dara dan anak-anak. Mereka mungkin tidak mengucapkan, tetapi mereka sebenarnya butuh kehadiranmu." Ucap Mikha.
"Aku bisa melihatnya,., ketika belum bertemu denganmu, mungkin mereka kuat dan tegar. Tetapi setelah bertemu denganmu, mereka akan merasa tidak sekuat dan setegar sebelumnya. Terutama Dara, dia butuh pundakmu untuk bersandar." Ucap Mikha lagi.
"Iyaa Mikha, makanya aku berusaha membereskan di sana agar beberapa waktu ke depan aku bisa menyelesaikan persoalan pribadiku." Ucap Darel menyetujui yang dikatakan Mikha.
Setelah tiba di mansion,, Pak Darpha dan Bu Richel senang sekali melihat kedua putranya datang. Mereka disambut dengan senyum bahagia.
"Darel,, kapan kau kembali dari Jepang.?" Tanya Bu Richel sambil memeluk Darel dengan sayang. kemudian memeluk Mikha juga demikian.
"Ini baru kembali dan langsung pulang ke sini temui Mommy dan Daddy.., sudah rinduuu." Ucap Darel dan kembali memeluk Mommy dan Daddynya dengan hangat dan sayang.
"Baiklah.., bersihkan diri kalian.,., Mommy akan buat minuman kesukaan kalian." Ucap Bu Richel, happy. Bu Richel tidak tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, bisa berkumpul dengan kedua putranya.
Darel dan Mikha ke kamar mereka untuk mandi dan berganti pakaian santai, dan segera turun ke ruang keluarga. Karena Bu Richel dan Pak Darpha telah menunggu mereka dengan kue-kue lezat dan minuman hangat di sana.
Mereka berbincang-bincang sampai sore menjelang malam. Karena Pak Darpha menanyakan Darel, tentang perkembangan penyelesaian masalah perusahan di luar negeri, yang ditanganinya beberapa waktu belakangan ini. Darel menjelaskan semuanya dan Pak Darpha mengangguk lega.
Setelah itu, Darel merebahkan dirinya di sofa dan meletakan kepalanya di pangkuan Mommynya. Bu Richel langsung mengelus kepala Darel. Dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi dengan putranya.
Karena itu adalah kebiasaan Darel, jika ada masalah yang dihadapi dan butuh kepastian dan dukungan darinya. Dia akan bersikap demikian dan mengharapkan Mommynya mendukungnya.
"Apa ada sesuatu yang terjadi denganmu.?" Tanya Bu Richel. Darel mengangangguk dan membuka matanya.
"Iyaa Mom.., aku akan menceritahkan, tetapi mommy janji dulu tidak memarahiku." Ucap Darel dan Bu Richel menggangguk mengiyakan.
"Kalian berdua sudah sangat dewasa, bagaimana mungkin Mommy akan memarahi kalian lagi. Kecuali kalian melakukan hal yang tidak pantas." Ucap Bu Richel, membuat Darel terdiam dan Mikha tersenyum masam melihatnya.
"Tapi tadi Mommy sudah janji yaa..?" Tanya Darel lagi membuat Bu Richel ragu-ragu menjawabnya. Darel mengambil jari Mommynya dan mentautkannya.
"Deal..!" Ucap Darel sambil mencium perut Bu Richel dan bangun dari pangkuannya.
"Ini sebenarnya kau telah melakukan apa, Darel... Daddy,., putramu telah menjebakku." Ucap Bu Richel, disambut senyuman Pak Darpha dan Mikha. Sedangkan wajah Darel tetap serius, hal itu membuat Bu Richel makin khawatir.
"Begini Mom., Darel mau bilang sekalian minta doa dari Mommy dan Daddy... Darel mau menikah." Ucap Darel, Bu Richel terkejut dan langsung memeluk putranya. Bu Richel sangat senang, mendengar Darel akan menikah.
"Astagaaa.., itulah yang dinanti-nantikan Mommy dan Daddy dari kalian berdua. Siapa gadis yang telah membuat putra kami yang satu ini memutuskan untuk menikah.?" Ucap Bu Richel sambil menatap putranya dengan senang, sambil memegang pipi Darel. Bu Richel bersemangat, tetapi Darel masih diam berpikir.
"Dia dari mana.? Korea, Jepang atau Amerika, atau campuran seperti Mommymu ini." Tanya Bu Richel, karena dia tahu anaknya sering bekerja di tiga negara itu dalam waktu yang lama.
*- Jangan cepat berjanji untuk sesuatu yang tidak bisa kita kuasai -*