
...~•Happy Reading•~...
Hari baru, mentari kembali bersinar menyinari bumi. Memberikan semangat dan harapan baru, karena Tuhan selalu beserta orang yang berserah kepada-Nya.
Demikian halnya dengan Darel yang telah bangun dalam keadaan tubuh yang lemah. Dia menundukan kepalanya dan berdoa, memohon kekuatan dari-Nya.
Dia melangkah keluar ke balkon, ketika melihat mentari bersinar cerah, dia menggerakan tubuhnya dan menyemangati dirinya. 'Hari ini aku akan beraktivitas.' Tekad Darel, mengingat Dara.
'Yaaa, Dara mungkin mengikuti Melo atau dia seorang Melons.' Pikir Darel lagi. Hal itu makin menyemangatinya untuk bekerja. Dia mulai menggerakan tubuhnya dan berolah raga ringan.
Dengan tubuh yang berkeringat, Darel memandang langit bersih di antara gedung-gedung bertingkat. 'Aku percaya pada-Mu. Jika Engkau berkenan, Engkau akan pertemukan kami.' Ucap Darel dalam hati untuk meyakinkan dan menguatkannya.
'Yaaa... Jika Tuhan berkenan, kami akan bertemu lagi dengan cara-Nya. Karena ada hal yang tidak mungkin bagi manusia, tetapi itu mungkin bagi Tuhan.' Darel kembali membatin.
Berdasarkan keyakinan inilah, Darel masuk ke kamar mandi. Dia mengisi air hangat ke dalam bathtub. Kemudian merendam tubuhnya dengan air hangat untuk menyegarkan tubuhnya. Darel mencukur bulu halus di sekitar dagunya, sehingga wajahnya kembali bersih dan terawat.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Darel mengambil ponselnya dan menghubungi Mikha. "Mikha, kita sarapan di kamarku, ya." Ucap Darel, berusaha tenang dan tegar.
"Ok, aku akan ke kamarmu." Setelah dihubungi oleh Darel, Mikha memerintahkan karyawan kepercayaannya untuk membawa sarapan ke kamar Darel.
Setiba di kamar Darel, Mikha terkejut dengan penampilan Darel pagi ini. Dia terlihat rapih dan tampan seperti biasanya, walau matanya masih redup. "Wuuaah... Kau sudah mengetahui keberadaan Dara?" Tanya Mikha, karena melihat perubahan Darel pagi ini.
"Belum. Tetapi mengingat dia langsung mengenaliku saat melihatku di lift, kemungkinan dia mengetahui dan mengikuti Melo atau dia seorang Melons." Ucap Darel yang mencoba berpikir positif.
"Aku akan mengirimkan pesan lewat karyaku dan terus berharap dia akan menghubungiku." ucap Darel lagi.
"Aku setuju, kau tidak bisa berdiam diri berlama-lama atau terpuruk karena kejadian ini. Maneger, Asistenmu dan para member Melo sudah menghubungiku berulang kali." Ucap Mikha mengingatkannya.
Setelah sarapan tiba, mereka sarapan bersama dan merencanakan kegiatan yang akan mereka lakukan selanjutnya. Karena banyak pekerjaan yang sudah menanti dan harus dikerjakan.
"Ooh iya, Darel. Kau yakin Dara tidak akan menuntutmu?" Mikha bertanya demikian, karena mengingat kemaren dia melihat ada bercak darah kering di penutup kasur Darel. Sehingga Mikha tidak bisa mengusulkan, agar orang lain membantu mereka mencari Dara.
"Aku yakin, Mikha. Dara tidak akan melakukannya. Aku percaya pada apa yang dijanjikannya. Kalau dia marah dan tidak terima perlakuanku, bisa saja dia telah melapor atau memposting sesuatu tentangku di media sosialnya." Ucap Darel.
"Kemaren ketika mencari Dara di media sosial dan tidak menemukan postingan seseorang tentangku, aku jadi yakin, dia memegang janji yang ditulisnya." Ucap Darel lagi.
"Namun, sebenarnya Mikha, ada harapan di hati kecilku, agar Dara mau menuntutku. Dengan demikian aku bisa bertemu dengannya. Tadi malam aku sempat memikirkan itu, ketika tidak bisa menemukannya." Ucap Darel, ketika mengingatnya.
"Yaaa... Aku sudah siap menerima semua konsekuensinya. Aku harus bertanggung jawab dengan semua tindakanku." Ucap Darel lagi, dan Mikha mengangguk mengerti.
"Apa pun keputusanmu, aku akan selalu di belakangmu untuk mendukungmu. Karena aku percaya kau tahu yang terbaik untukmu." Ucap Mikha menyemangatinya. Mikha tahu, kasus yang sedang dialami Darel. Oleh sebab itu, dia tidak bisa berbuat banyak untuk membantunya.
"Ok, thanks. Tolong antarkan aku pulang ke rumah, ya. Aku mau bertemu Mommy, sebelum berangkat ke Agency. Ada banyak pekerjaan yang perlu aku kerjakan dan selesaikan di sana." Ucap Darel menyemangati dirinya.
Hari baru di bagian bumi yang lain ; mendung meredupkan cahaya mentari. Menjadikan banyak orang enggan beranjak dari tempat pembaringan.
Tetapi tidak demikian dengan Kandara. Pagi ini dia telah bangun dan bersyukur. Karena tubuhnya mulai membaik, setelah beristihat yang cukup. Dia merenggangkan tubuhnya perlahan sambil merapikan tempat tidurnya.
Dia keluar kamar menuju dapur, untuk menyiapkan sarapan untuknya dan Mamanya. Dia hanya tinggal berdua dengan Mamanya, karena Kandara adalah anak tunggal. Sedangkan Papanya sudah meninggal hampir lima tahun yang lalu, karena penyakit jantung.
Ketika hal itu terjadi, Kandara sedang di pertengahan kuliahnya. Jadi sampai sekarang dia hanya hidup berdua dengan Mamanya.
Papa Kandara seorang pegawai BUMN dan Mamanya memiliki butik sendiri. Mama Kandara mendesain perlengkapan bayi dan berbagai baju hamil santai dan resmi.
Penghasilan dari butik itulah yang membiayai kuliah Kandara sampai selesai. Dan juga untuk menghidupi kehidupan mereka berdua. Karena uang pensiun yang ditinggalkan oleh Pak Adrian, Papa Kandara telah dipakai untuk mengembangkan butik Mamanya.
Sekarang Kandara telah bekerja sebagai seorang Programmer di sebuah Perusahan IT, sehingga perekonomian keluarganya bisa dikatakan lebih baik. Semua kebutuhan mereka bisa tercukupi. Mereka bisa tinggal di Kompleks Perumahan yang lumayan baik dan bagus di BSD. Mereka bisa memiliki mobil untuk beraktivitas sehari-hari.
Setelah selesai mempersiapkan sarapan, Kandara kembali ke kamar untuk mempersiapkan pakaian yang akan di kenakan ke kantor.
Ketika mengambil pakaiannya, Kandara melihat jacket Darel yang telah digantung di dalam lemari. Hatinya bergetar, mengingat orang yang telah menjungkir balikan hidupnya.
Tanpa disadari, tangannya perlahan mengusap jacket Darel. Entah mengapa, dia tidak bisa membencinya untuk apa yang dilakukannya. Dengan menyentuh jacketnya, ada perasaan hangat dan sayang mengalir di hatinya.
Dengan melihat jacketnya lagi, hatinya membatin. 'Apa kabarmu hari ini, Darel? Apakah kau mengingatku?' Kandara bertanya dalam hatinya, sambil terus memandang jacketnya.
Kemudian dia mengambil jacket Darel dan menciumnya, aroma tubuhnya menyeruak, menghadirkan kerinduan. Kembali dia mengingat harum tubuh Darel ketika bersamanya di lift. Hatinya membatin dan berharap, 'Semoga dia baik-baik saja.'
Kandara menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan rasa yang hadir di hatinya. Rasa yang telah mengeser posisi Lucha di hatinya. Sehingga timbul tanya di hatinya. 'Apakah dia tidak sungguh-sungguh mencintai Lucha?' Karena rasa itu tidak pernah dia rasakan ketika bersama Lucha hampir setahun ini.
Kandara akan tertawa senang jika Lucha menceritakan hal-hal lucu. Dia merasa senang jika Lucha, bersikap baik padanya. Tetapi, kadang tindakan dan ucapan Lucha suka membuat Kandara khawatir bahkan takut.
Lucha sangat pencemburu, sehingga seringkali membuat Kandara kewalahan menghadapinya. Dia harus ekstra hati-hati bersama teman pria. Padahal pekerjaannya membuat dia, lebih banyak berhubungan dengan pria.
Karena rekan kerjanya 80 % adalah pria. Hal itulah yang membuat mereka sering bertengkar. Kandara lebih memilih diam atau mengalah, karena terlalu lelah untuk bertengkar.
Hatinya jadi membanding-bandingkan Lucha dan Darel. Jangankan menyentuh wajah Darel, mengingat wajahnya begitu tenang dan damai di pagi itu, seakan-akan telah menyerap semua hal buruk yang dirasakannya. Amarah, benci dan sakit hatinya menguap begitu saja, hanya dengan melihat wajahnya.
...°-° Hati selalu mengetahui tempat yang nyaman baginya °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...