Me And You For Us

Me And You For Us
Kecewa.



...~•Happy Reading•~...


Tidak membutuhkan waktu lama, karena beberapa saat kemudian Mikha telah kembali ke kamar Darel dan membawa kabar yang tidak diharapkannya.


"Darel, aku telah memeriksa semua nama tamu hotel sampai hari ini. Tidak ada tamu hotel kita yang bernama Dara." Ucap Mikha, dan Darel tertunduk kecewa sambil mengusap wajahnya perlahan.


"Karena tidak menemukan nama Dara sebagai tamu hotel, aku juga telah menyelidiki cctv hotel sampai tadi siang. Memang betul, Dara bukan tamu hotel ini." Ucap Mikha mencoba menjelaskan. Tetapi Darel melihat wajah Mikha dengan bingung, karena dia belum bisa mencerna info yang disampaikan Mikha.


"Darel, dia hanya berkunjung ke cafe hotel. Ini kau bisa melihatnya di cctv." Ucap Mikha sambil mengambil flashdisk dari saku kemeja dan memberikannya kepada Darel.


"Cctv, yaa... Kenapa aku lupa akan hal itu?" Tanya Darel sambil mengetuk dahinya beberapa kali.


Dia mengambil laptop dari dalam lemarinya dan mulai melihat cctv hotel yang diambil oleh Mikha.


Terlihat di cctv, Dara keluar dari kamar tanpa alas kaki. Dia mengenakan sepatunya di lorong. Darel berhenti lama, dan memperhatikannya. 'Pantas aku tidak mengetahui kepergiannya.' batin Darel.


Ketika melihat cara berjalan Kandara, setelah mengenakan sepatu dan menggenggam jacketnya kuat, Darel mengusap wajahnya kasar, hatinya serasa terkoyak.


'Dia pasti sangat kesakitan.'  Batin Darel lagi, mengingat apa yang dilakukannya terhadap Kandara tadi malam.


"Mikha, Dara turun ke lobby dan langsung keluar dari hotel ini. Bagaimana ini, Mikha?" Ucap Darel bingung, karena melihat Kandara keluar dari hotel dan menghilang.


"Itulah kenapa aku berkesimpulan dia bukan tamu hotel ini. Ketika tidak menemukan namanya dalam daftar tamu hotel dan melihat cctv itu. Aku yakin, dia bukan tamu di hotel ini." Ucap Mikha lagi.


Darel berguman dan berdiri dengan kesal. 'Bagaimana aku bisa menemukannya?' Tanya Darel dalam hati dan mulai kesal. Dia berjalan mondar mandir, tanpa bisa melakukan sesuatu yang jelas.


"Mikha, tolong ambilkan rekaman cctv di dalam cafe tadi malam untuku." Ucap Darel sambil kembali duduk di depan laptopnya.


"Itu aku sudah ambilkan sekalian, aku mengambil yang ada kau tadi malam dan telah menghapus semua jejaknya." Ucap Mikha sambil menunjuk kepada Darel.


"Ooh, ok. Thanks." Sambil membuka cctv yang ada di dalam cafe. Ketika Darel memeriksa ruangan cafe, dia melihat Dara juga ada di sana. Dara sedang berbicara dan berjalan dengan seorang wanita.


"Mikha, ini ada Dara juga di cafe." Ucap Darel, terbersit harapan di hatinya. Mungkin bisa bertemu dengan Dara, lewat orang yang bersamanya di cafe.


"Iyaa, Darel. Aku sudah melihat itu juga." Ucap Mikha, mengerti yang dimaksudkan oleh Darel.


"Bagaimana dengan wanita ini, Mikha? Apakah kau bisa menemukannya?" Tanya Darel berharap, sambil menunjuk seorang wanita yang sedang berpelukan dengan Kandara di layar monitor.


"Wanita itu juga bukan tamu hotel ini. Mereka hanya adakan pertemuan di cafe dan sudah meninggalkan hotel tadi malam." Ucap Mikha, menerangkan.


Keterangan Mikha membuat Darel mengusap wajahnya dengan kasar dan kepalanya mulai berdenyut. Hati dan pikirannya bagaikan mobil yang sedang melaju di dua jalur yang berbeda dan berlawanan arah.


Semakin berpikir membuatnya pusing dan mual. Tetapi hatinya terus khawatir, ingin mengetahui keberadaan Kandara. Ini adalah hal pertama dalam hidupnya, dia melakukan kesalahan yang sangat fatal dan memalukan.


Mikha yang melihatnya, menjadi cemas dan khawatir. Karena sepanjang mereka bersama-sama, Mikha baru pernah melihat Darel dalam kondisi seperti ini.


...°-° Kadang dalam suatu waktu tertentu, seakan hal baik menjauh dari kita °-°...


Darel mencoba memperhatikan cctv untuk mengetahui keberadaannya di dalam cafe tadi malam. Dia ingin melihat siapa yang telah melakukan hal buruk terhadapnya.


Ketika melihat orang yang mengerjainya, wajah Darel memerah. Dia mengepalkan tangannya dengan geram. 'Ternyata kau rupanya. Kau akan terima akibat perbuatanmu padaku.' ucap Darel dalam hati dengan amarah yang meluap.


"Aku sudah melihatnya juga. Sekarang apa yang akan kau lakukan padanya?" Tanya Mikha melihat Darel yang geram dan mulai marah.


Mikha tidak tahan melihat Darel dalam kondisi seperti ini. Dia seperti orang yang sudah jatuh dan dilempar sepatu. Mikha ingin melakukan sesuatu untuk menolongnya. Dia ingin sekali menyeret orang yang telah mengerjai Darel saat ini juga.


Darel menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan, lalu memijit pelan pelipisnya yang sedang berdenyut dan sakit. Berulang kali Darel memijit pelipisnya.


"Biarkan dia dulu, Mikha. Aku belum bisa berpikir dengan baik, untuk melakukan apa padanya. Aku saat ini merasa sangat bersalah pada wanita ini." Sambil menunjuk Kandara di layar laptopnya.


"Bantu aku mencarinya, Mikha." Ucap Darel, dan Mikha mengangguk mengerti. Pasti sesuatu telah terjadi tadi malam, yang sangat mempengaruhinnya.


Dia tidak perlu menanyakannya kepada Darel. Dengan melihatnya saja, Mikha bisa memahami dan yakin Darel akan menceritakan kepadanya pada waktunya.


Sekarang ini Darel sangat membutuhkan dukungannya. Karena baru pertama kali, Mikha melihat Darel seperti ini. Tidak fokus, kacau dan sangat berantakan.


Darel yang dia kenal selama ini, selalu bersikap tenang dengan senyum mempesona yang menghiasi wajah tampannya. Kini semuanya itu sirna tak berbekas, yang ada hanya wajah tampan yang gusar dan sangat cemas.


Akhirnya Darel menyadarkan punggung sambil terus memijit pelipisnya: "Mikha, sementara ini aku ingin sendiri. Kalau ada yang cari atau bertanya tentangku, jangan katakan aku ada di sini." Ucap Darel sambil menatap langit-langit kamar.


"Ok, aku mengerti. Kalau ada apa-apa,  hubungi aku." Ucap Mikha sambil menepuk bahu Darel dan beranjak keluar kamar untuk meninggalkannya sendiri.


Setelah ditinggal Mikha, Darel kembali memperhatikan Kandara di cctv. Wajahnya agak samar, kurang jelas. Tetapi Darel masih mengingat sekilas wajahnya yang cantik dan lembut ketika dia menciumnya pertama kali.


Wajah yang terkejut, tapi tidak bisa menutupi kelembutan dan kecantikannya. Mata hitam bening, hidung mancung dan bibir tipis lembut.


'Aaahhk.' Mengingat itu semua, jantung Darel berpacu tidak teratur dan hatinya terasa seperti disayat. Matanya mulai berembun, karena sedih memikirkan kondisi Kandara yang belum diketahuinya.


Disentuhnya wajah Kandara di layar laptop. Hatinya terus menyebut nama Dara, Dara dan Dara. Hatinya terus bertanya: 'Dara, kau di mana? Mengapa kau pergi begitu saja, tanpa memberikan kesempatan bagiku untuk bertanggung jawab padamu?' Darel membatin sambil mengusap wajahnya kasar.


Kedua tangannya memegang kepalanya, sambil menunduk Darel terus berucap. 'Hatimu terbuat dari apa, Dara? Kau masih memaafkanku, masih memikirkan karierku, sedangkan apa yang kulakukan padamu seperti seorang baji***n.'


Darel berdiri, masuk ke kamar mandi dan berteriak sekeras-kerasnya. Dadanya seakan mau meledak. Ini pertama kali dalam hidupnya, Darel merasa kecewa dengan tindakannya. Dia sangat kecewa menjadi orang yang jahat dan bahkan breng**ek.


...°-° Yang tertinggal hanya kekecewaan, ketika kebanggaan diri telah sirna °-°...


...~***~...


...~●○♡○●~...