
Dibagian bumi yang lain ; Kandara sedang bekerja di kantor, bersama rekan-rekannya. Terutama timnya yang bekerja tanpa suara, tidak terdengar canda atau tawa. Semuanya bekerja sangat serius, tidak ada yang bersuara menjelang istirahat siang.
"Toby, aku mau minta ijin pulang dulu yaa, Ibuku sedang kurang sehat." Ucap Mala sambil mendekati meja Toby.
"Ooh, iyaa. Kenapa tadi masuk kerja, minta ijin dulu, gih. Mumpung Pak Ari belum keluar istirahat." Ucap Toby yang terkejut mendengar ucapan Mala.
"Tadi pagi Ibuku ngga papa, sebelum aku berangkat kerja. Ini baru diinfoin adikku." Ucap Mala lagi, menjelaskan.
"Ooh, ok. Sana gih, biar kau bisa pulang sekalian di jam istirahat. Semoga Ibumu ngga papa." Ucap Toby, ikut cemas mendengar kondisi Ibunya Mala.
"Amin." Mala mengaminkan harapan baik Toby untuk Ibunya. Kemudian berjalan ke ruangan Pak Ari.
"Mas, ada apa dengan Mas Mala?" Tanya Kandara, setelah melihat Mala berbicara dengan Toby dan langsung menuju ke ruangan Pak Ari.
"Mau minta ijin pulang lebih awal, karena Ibunya sedang kurang sehat." Toby menjelaskan, Kandara langsung terdiam, menunggu Mala keluar dari ruangan Pak Ari.
Setelah mendapat ijin, Mala kembali ke mejanya untuk mengambil laptop dan tas kerjanya. "Hati-hati ya, Mas Mala. Kami doakan, semoga Ibu baik-baik saja. Jangan lupa kabari kami berdua." Ucap Kandara, dan Mala mengangguk sambil mengangkat jarinya memberikan tanda OK. Karena sudah waktunya istirahat siang, kepulangan Mala tidak menarik perhatian yang lain.
"Dara, kau mau ikut denganku untuk makan siang?" Tanya Toby, saat hendak keluar ruangan untuk istirahat siang.
"Ngga, Mas. Dara bawa makan siang. Kalau Mas Toby mau, ini bisa kita bagi untuk makan berdua. Mama bawain kebanyakan." Ucap Kandara menawarkan makan siangnya.
"Bukannya kau memang harus makan banyak?" Tanya Toby, mengingat Kandara sedang hamil.
"Tidak juga, Mas. Ususku tetap segitu-segitu saja. Jadi makanku, yaa, seperti biasa saja banyaknya. Mungkin lebih sering saja makannya." Ucap Kandara, tersenyum mendengar pertanyaan Toby.
"Ooh, baiklah. Tapi nanti kalau lapar, kasih tahu, ya. Biar aku cari gantinya." Ucap Toby, tersenyum. Kandara langsung mengeluarkan kotak makannya ke atas meja dan terkejut.
"Astaga... Mama bawain makan siangku banyak sekali. Pantesan berat." Ucap Kandara terkejut, melihat makanan yang dibawain Bu Selvine
"Astaga... Ini mah, makanan untuk tiga orang." Ucap Toby yang juga ikut terkejut.
"Iyaa, Mas. Ini memang untuk tiga orang. Coba lihat sendok dan piring ini. Pasti Mama bawain untuk Mas Mala dan Mas Toby juga, tapi lupa ingatin Dara." Ucap Kandara ketika melihat perangkat makannya ada tiga.
Toby hanya bisa tersenyum sambil mengambil perangkat makan yang diberikan Kandara. Pak Ari yang baru keluar ruangan untuk beristirahat, mendekat ke arah meja Toby.
"Kalian bawa makan siang?" Tanya Pak Ari terkejut melihat Toby hendak makan siang di ruangan.
"Dara yang bawain makan siang Pak, saya yang kebagian." Ucap Toby tersenyum.
"Maaf, Pak. Kalau bapak bersedia, bisa makan bersama kami. Karena Mama saya bawain makanan untuk kami bertiga, tetapi Mas Mala sudah pulang." Kandara menawarkan makanannya untuk Pak Ari.
"Benarkah, masih ada piring?" Tanya Pak Ari, sambil melihat makanan di piring Toby yang menggiurkan.
"Iyaa, Pak. Ini perangkat makannya. Mama sudah siapin untuk kami bertiga." Ucap Kandara, meyakinkan Pak Ari. Akhirnya mereka bertiga menikmati makan siang bersama di ruangan. Yang lain sudah keluar makan siang. Toby dan Kandara terlambat keluar makan, karena menunggu Mala keluar dari ruangan Pak Ari.
"Wuuaaah, terima kasih Dara. Nanti sampaikan terima kasih juga untuk Mamamu. Kami jadi makan siang yang lezat." Ucap Pak Ari setelah selesai makan dan kembali ke ruangannya.
Toby membantu Kandara merapikan sisa-sisa makan siang mereka dan membuang perangkat makan ke tempat sampah.
"Mas Toby, sepertinya ada yang telpon. Karena dari tadi, telpon Mas bergetar terus." Ucap Kandara setelah Toby kembali dari toilet. Kemudian Kandara pergi ke toilet, sambil membawa perangkat untuk menyikat gigi.
"Astaga, Bu. Kenapa mendadak begini bilangnya? Yaaa... Toby ngga enak ngundangnya." ucap Toby, protes.
"Kalau kau tidak bisa ngundang, biar Ibu saja yang ngundang." Ucap Bu Asri. Toby sedang telponan dengan Ibumya.
"Dara sedang ke toilet." Jawab Toby singkat.
"Ibu mendengar suaranya, Toby. Berikan ponselnya kepada Dara." Ucap Bu Asri, karena telah mendengar suara Kandara. Akhirnya Toby menyerah, dia memberikan ponselnya kepada Kandara.
"Dara, ini Ibuku mau bicara denganmu." Ucap Toby sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kandara menerima telpon Toby dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"Allooo, Bu. Ini saya Dara. Maaf, tadi lagi ke toilet." Ucap Kandara yang masih tidak mengerti.
"Allooo, Dara. Maaf juga, mungkin Ibu mengganggu."
"Ngga papa, Bu. Ini masih waktu istirahat. Gimana, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kandara sebagai sopan santun. Tetapi pertanyaan Kandara membuat Toby makin menggaruk kepalanya. Kandara yang sedang melihat Toby, makin bingung karena tidak mengerti.
"Iyaa, Dara. Begini, nanti pulang kantor Dara bisa ke tempat kami? Ayah Toby ulang tahun dan ingin mengundang Dara juga." Ucap Bu Asri hati-hati. Mendengar permintaan Bu Asri, Kandara menjadi tidak enak hati untuk menolak. Dia teringat ucapan Mamanya, bahwa orang tua Toby, baik.
"Oooh, iyaa Bu. Terima kasih sudah ngundang saya. Saya akan bicara dengan Mas Toby dan Mama dulu ya, Bu. Nanti baru Mas Toby kasih tahu Ibu." Ucap Kandara, sopan.
"Ooh, iya. Terima kasih, Dara." Ucap Bu Asri, senang.
"Sama-sama, Bu." Ucap Kandara dan memberikan ponsel kepada Toby.
"Iyaa, Bu. Nanti Toby hubungi lagi." Ucap Toby dan mengakhiri pembicaraan dengan Ibunya.
"Sorry, Dara." Ucap Toby, tidak tahu lagi mau mengatakan apa untuk Kandara.
"Ngga papa, Mas. Tapi kalau Dara datang tanpa bawa apa-apa, ngga papa yaa, Mas?" Tanya Kandara, karena waktunya tidak keburu mencari sesuatu.
"Haaaa...?! Mengapa kau pikirkan itu? Jadi kau mau datang?" Tanya Toby terkejut mendengar pertanyaan Kandara.
Dia yang lagi tidak enak hati karena Ibunya tiba-tiba mengundang Kandara di acara keluarganya, tetapi Kandara sedang memikirkan untuk membawa sesuatu, jika menerima undangan Ibunya. Toby hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena tidak mengerti cara berpikir dua orang wanita yang harus dihadapinya.
"Kalau Mas Toby bilang ngga papa, iyaa, Dara akan datang." Ucap Kandara, dan Toby menatapnya dengan wajah terkejut. Karena dia tidak menyangka Kandara akan menerima undangan Ibunya.
"Dara ngga enak tolak, Mas. Karena beberapa hari lalu, kami sudah bertemu dengan orang tua Mas di Swalayan." Ucap Kandara menjelaskan, karena melihat Toby memandangnya dengan tertegun.
"Baiklah, kalau begitu. Kau kasih tahu Mamamu dulu, beliau ijinin, apa ngga. Atau aku yang minta ijin?" Tanya Toby.
"Ngga usah, Mas. Dara yang kasih tahu saja. Yang penting, Mama tahu Dara pergi dengan siapa dan kemana." Ucap Kandara lagi. Dia tahu, Mamanya akan ijinin jika pergi dengan Toby atau Mala. Kalau ijin mau pergi dengan Lucha, Wuuuaahhh... Perginya satu jam, diomelin berjam-jam. Mengingat hal itu, membuat Kandara tersenyum sambil mengetik pesan di ponselnya.
"Mengapa kau tersenyum sendiri seperti itu?" Tanya Toby, heran. Kandara langsung mengangkat wajahnya dan tertawa.
"Hehehee.., ini lagi mau minta ijin sama Mama, jadi teringat dulu mau minta ijin sama Mama juga." Ucap Kandara, jadi tertawa.
"Minta ijin apa yang bisa membuatmu tertawa seperti itu." Tanya Toby, heran.
"Minta ijin untuk pergi satu jam dengan Mas Lucha, tapi diomelin Mama berjam-jam. Hehehee." Ucap Kandara sambil tertawa.
"Hahahaaa... kau itu, diomelin berjam-jam, tapi tetap saja, lanjuuttt. Sekarang tertawa, dulu pasti nangis." Ucap Toby, menebak.
"Looh, kok Mas Toby tahu, sih." Tanya Kandara, heran.
"Ituu, tergambar jelas di wajahmu." Ucap Toby sambil menunjuk wajah Kandara.
*- Seorang Ibu yang baik, akan berjuang untuk kebaikan anaknya -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡