Me And You For Us

Me And You For Us
Gift.



Saat Darel kembali ke kamar, Kandara telah mengganti bajunya dengan baju tidur yang baru diambilnya. Dia sedang duduk di tepi tempat tidur menunggu Darel. Dia ingin menanyakan apa yang baru saja terjadi.


Melihat wajah Kandara, Darel langsung duduk juga di tempat tidur dan memutar tubuh Kandara supaya berhadap-hadapan dengannya. Dia tahu ada banyak tanya di kepala Kandara


"Kau belum mengantuk." Tanya Darel, dan Kandara mengangguk.


"Baik, aku akan jelaskan peristiwa tadi. Aku sudah bilang, kalau ada keputusan yang dibuat oleh daddy tentang kami, sebelum tidur Daddy akan pastikan kami tidak merasa terganggu atau tertekan dengan keputusan itu. Jadi Daddy akan kunjungi kami di kamar masing-masing." Ucap Darel mulai menjelaskan.


"Itu yang tadi Daddy lakukan, saat Daddy keluar, aku teringat Mommy. Karena itu juga adalah keputusan Mommy, pasti Mommy juga tertekan memikirkan kita." Ucap Darel, menjelaskan.


"Jadi tadi itu, kita sengaja datang untuk mengambil baju gantimu. Itu alasan yang baik untuk melihat keadaannya dan supaya Mommy melihat kita baik-baik saja dengan keputusannya.


Mendengar pertanyaannya, berarti benar Mommy menguatirkan kita. Jadi sekarang mereka bisa tidur nyenyak." Ucap Darel lagi, dan Kandara mendengarkan penjelasan Darel dengan takjub.


"Lalu tadi kau ke kamar tamu untuk melihat Mikha.?" Tanya Kandara, dan Darel mengangguk.


"Aku tahu, Mikha pasti tahu Daddy ke kamar kita. Membicarakan keputusan Daddy. Yaaa.., benar saja dia sedang khawatir aku belum menemui Mommy." Ucap Darel, sambil tersenyum.


Semua sudah clear.,, kita bisa tidur dengan nyenyak. Bagi kami, jangan ada persoalan yang mengganggu tidur kita. Karena tubuh sudah lelah bekerja, pikiran jangan menambahnya lagi. Ok.?" Ucap Darel, dan Kandara mengangguk mengerti.


"Dan ini sebenarnya yang mau aku berikan padamu tadi, sebelum Daddy datang." Ucap Darel sambil menyerahkan kotak hitam mungil ke dalam tangan Kandara.


"Apa ini.?" Tanya Kandara sambil menatap wajah Darel.


"Bukalah..!" Ketika membuka dan melihat isinya, Kandara terpesona. Kandara menatap Darel sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


Dalam kotak hitam kecil itu ada sebuah kalung dengan liotin tiga bintang yang berkilau. Satu bintang besar dan dua bintang kecil menggantung dibawahnya.


Kandara langsung memeluk Darel dengan erat.


"Kau suka.?" Tanya Darel, dan Kandara mengangguk kuat di bahu Darel.


"Sini,., aku pakaikan untukmu." Ucap Darel, dan Kandara memberikannya. Darel langsung mengalungkan ke leher Kandara yang sedang tersenyum, happy. Sangat pas sekali dengan leher Kandara yang kuning langsat dan jejang.


"Baguskah..?" Tanya Kandara sambil memegang liontinnya. Darel mengangguk mengiyakan. Kandara langsung turun dari tempat tidur dan melihatnya di cermin lemari Efrima. Darel hanya bisa tersenyum melihat apa yang dilakukan Kandara.


"Sini,, mari kita tidur.. nanti besok baru dilihat lagi." Ucap Darel sambil gelengkan kepalanya dan membaringkan tubuhnya yang mulai lelah, karena serangkain kegiatan dan penerbangan yang panjang sepanjang hari.


Kandara ikut berbaring dan memeluk Darel erat sambil ucapkan terima kasih. Darel mengangguk sambil mencium puncak kepala Kandara.


"Dara,, sebenarnya itu aku siapkan untuk hadiah pertunangan kita. Namun tadi ketika melihat Mommy memberikan cincin pertunangannya, aku tidak jadi mengeluarkannya. Aku tidak menyangka Mommy sudah siapkan itu untukmu." Ucap Darel., Kandara menarik kepala dan badannya dari pelukan Darel.


"Terima kasih, kau tidak mengeluarkannya. Kau telah menempatkanku menjadi calon mantu yang baik." Ucap Kandara dan kembali memeluk Darel.


Karena Kandara berpikir dan khawatir, dia akan bereaksi berbeda ketika menerima cincin dan liontinnya. Tidak lama kemudian, Kandara menyadari Darel telah tertidur. Kandara memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur.


*- Orang cerdas dapat membaca situasi dan bereaksi sesuai kecerdasannya -*


*((**))*


Dia merapikan selimut di tubuh Darel dan perlahan turun dari tempat tidur, agar tidak membangunkan Darel.


Kandara ke dapur, dan menemukan Bu Selvine juga sudah bangun.


"Morning, Ma." Sapa Dara.


"Morning, sayang." Jawab Bu Selvine sambil mengajaknya duduk di meja makan.


"Dara, Mama mau buat nasi goreng dengan nasi yang tadi malam. Sayang, nasinya masih banyak, ngga papa..?" Tanya Bu Selvine, meminta pendapat Kandara untuk menu sarapan.


"Ngga papa, Ma.., Dara setuju. Nanti kalau mereka tidak bisa memakannya, masih ada roti. Sedangkan nasi gorengnya akan Dara kirim ke kantor." Ucap Kandara, dan Bu Selvine tersenyum lega, karena nasinya tidak terbuang.


Kandara segera berjalan ke ruang tamu untuk melihat dan merapikan ruang tamu dengan pelan. Karena semua penghuni yang lain belum bangun.


Setelah selesai membuat nasi goreng, Bu Selvine membuat telur mata sapi untuknya dan Kandara.


Kandara yang sudah selesai merapikan ruang tamu, kembali menuju dapur.


"Dara, buatkan teh panas untuk kita berdua sarapan sebelum yang lain bangun. Biar kau sudah bertenaga untuk melayani mereka. Mama mau ke pasar untuk membeli bahan keperluan membuat soup kacang merah dan ayam berbumbuh permintaan Darel." Ucap Bu Selvine sambil meletakan dua piring nasi goreng spesial di atas meja makan.


Kandara meletakan dua gelas teh panas, mereka bersyukur dan sarapan bersama. Tidak sengaja, Bu Selvine melihat kalung indah di leher putrinya. Bu Selvine tersenyum tipis, 'pasti pemberian Darel'  batinnya.


Selesai sarapan, Bu Selvine pergi ke pasar mengenakan ojol. Karena tidak mau mobil mereka jadi kotor dan bau, jika nanti digunakan oleh keluarga Darel.


Kandara membersihkan meja makan dan mencuci semua perangkat sarapan yang telah mereka gunakan. Semua perangkat makan tadi malam telah dicuci oleh Bu Selvine.


Setelah semuanya rapi, Kandara menyiapkan minuman; ada kopi, teh panas dan air jeruk sebagai teman nasi goreng untuk sarapan.


Efraim dan Efrima yang sudah bangun menuju dapur mencari Oma dan Mommynya untuk sarapan. Mereka sudah mandi dan bersiap-siap untuk ke sekolah. Mereka lupa kalau hari ini diminta libur oleh Grandpa nya.


"Efra, Efri.., sarapannya tunggu Grandpa dan Grandma yaa,. Hari ini kalian tidak masuk sekolah. Nanti Mommy telpon Pak Guru untuk minta ijin lagi." Ucap Kandara, dan kedua anaknya mengangguk mengiyakan.


Tidak lama kemudian, Bu Selvine pulang dari pasar sambil membawa barang belajaan yang lumayan banyak. Kandara dan anak-anak segera keluar membantunya. Bu Selvine membeli beberapa ekor ayam yang telah dipotong untuk membuat soup dan ayam berbumbu. Kandara bantu membersihkannya.


"Efra dan Efri,, tolong bersihkan daun kering di halaman dan sekalian buang sampah ke tempat sampah." Ucap Kandara, dan kedua anaknya segera keluar ke halaman untuk membantu, karena Mommy dan Omanya yang mulai sibuk di dapur.


Setelah selesai membersihkan halaman, mereka cuci tangan dan duduk di meja makan untuk menunggu sarapan. Bu Richel yang baru bangun langsung menuju dapur, karena mendengar keramaian di dapur.


"Morniiing.." sapa Bu Richel.


"Morniiing.., Grandma." Mereka semua balik menyapa.


"Kalian sudah bangun pagi sekali." Ucap Bu Richel kepada kedua cucunya sambil mengacak rambut mereka dengan sayang.


"Iyaa, Grandma.., karena kami terbiasa bangun pagi ke sekolah. Kami lupa hari ini Grandpa minta kami libur lagi." Ucap Efrima tersenyum.


*- Jangan membuang sesuatu yang masih bisa bermanfaat bagi orang lain -*