
Darel terkejut mendengar pertanyaan Efraim, dan balik bertanya. "Kenapa Efra?"
"Begini Daddy, besok kami akan pergi berlibur ke Puncak." Efraim menjawab pertanyaan Darel.
"Puncak...? Itu di mana?" Darel kembali bertanya.
"Tidak jauh ko', Daddy. Hanya ada di luar kota Jakarta." Efraim menjelaskan.
"Ooh, kalian nginap di sana?" Tanya Darel.
"Iyaa, Deddy. Kami akan menginap besok Sabtu, dan Minggu baru kembali pulang ke rumah." Efraim menjelaskan lagi.
"Kalian ingin Daddy ikut berlibur juga?" Tanya Darel lagi, dan kedua anaknya mengangguk bersama-sama dengan wajah yang sangat mengharapkan.
"Coba kalian tanya Mommy, apakah Deddy dan Uncle bisa ikut. Setelah itu baru Daddy akan bicarakan dengan Uncle untuk mengatur schedule Daddy." Ucap Darel kepada kedua anaknya.
"Ok, Daddy." Mereka langsung memeluk Deddynya dengan sayang. Darel makin tersentuh melihat sikap kedua anaknya.
Ketika Kandara kembali dari dapur sambil membawa minuman hangat untuk Darel, Efrima menanyakan kepada Mommynya. "Mommy, apakah besok Daddy dan Uncle bisa ikut berlibur dengan kita?" Tanya Efrima, sambil menatap dengan wajah memohon.
Kandara langsung menatap Darel dan menjawab setelah melihat isyarat mata dari Darel. "Bisa saja, jika tidak mengganggu schedule Daddy dan Uncle." Ucap Kandara sambil menatap Darel.
Darel mengusap kepala kedua anaknya dan langsung berdiri ke dapur untuk membicarakannya dengan Mikha. Karena rencana sebelumnya, mereka akan kembali ke Seoul besok malam.
Mereka putuskan akan kembali ke Seoul hari Minggu malam. Karena hari Senin Darel akan menghadiri pemutaran perdana drama yang soundtracknya dibuat dan dinyanyikan oleh Darel.
Darel dan Mikha kembali ke ruang tamu untuk membahasnya dengan Kandara. Mereka bisa ikut, tetapi harus kembali ke Seoul Hari Minggu malam. Kandara langsung ke kamar Bu Selvine untuk memberitahukannya, bahwa Darel dan Mikha juga akan ikut berlibur dengan mereka. Bu Selvine mengangguk mengerti.
Kandara kembali ke ruang tamu dan menyuruh mereka semuanya untuk beristirahat, karena mereka akan berangkat pagi-pagi sekali. Setelah saling mengucapkan salam, mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beristrhat. Mikha, Efra dan Efri sudah naik terlebih dahulu.
Sedangkan Bu Selvine tetap di kamar, memberikan kesempatan untuk Kandara, Darel dan anak-anaknya bersama.
Kandara tadinya berpikir, jika Darel dan Mikha tidak bisa ikut dia akan membatalkan liburan jika besok mereka masih ada di rumah. Tetapi anak-anaknya sudah mendahuluinya, bertanya kepada Darel.
Ketika Darel hendak naik tangga, Kandara bertanya kepadanya. "Apakah bisa tidur berdua dengan Uncle?" Kandara bertanya pelan, karena dia tahu, Darel tidak biasa tidur dengan orang lain.
"Tidak apa-apa, aku akan tidur dengan Efra." Ucap Darel sambil mengusap lengan Kandara.
"Istirahatlah, tidak usah dipikirkan. Sampe besok." Ucap Darel lagi dan Kandara mengangguk.
Darel masuk ke kamar Efrima untuk melihat dan menyapanya. Di sana sudah ada Mikha yang sedang berbicara dengan Efrima. "Thank u Daddy." Ucap Efrima, ketika Darel masuk ke kamarnya. Efrima mengangkat tas dan jacket pemberian Darel dan Mikha yang telah diberikan oleh Mikha.
Efrima tersenyum riang sambil memeluk Darel dan Mikha bergantian, karena mendapatkan jacket dan tas ransel yang keren. Darel dan Mikha juga tersenyum senang mengetahui Efrima sangat menyukai pemberian mereka.
Kemudian Darel dan Mikha ke kamar Efraim untuk melihat dan menyapanya. Setelah mengetuk pintu kamar Efraim dan tidak ada respon, mereka membukanya. Mereka mengira Efraim telah tidur, ternyata Efraim sedang berdoa di atas tempat tidur.
*- Seorang anak bisa membawa kebahagian, jika dekat dengan Tuhan -*
Setelah selesai berdoa, Efraim segera turun dari tempat tidur ketika melihat Darel dan Mikha sedang berada di kamarnya. "Tidak usah turun Efra, Uncle hanya mau menyapamu dan memberikan ini untukmu. Ini dari Daddy dan Uncle." Ucap Mikha sambil memberikan paket yang di tangannya kepada Efraim.
"Sekarang tidur dulu, nanti besok baru kita bicara lagi." Ucap Mikha, Efraim segera berdiri di tempat tidur dan memeluknya.
"Selamat tidur Uncle." Mikha balik memeluknya dengan sayang.
Setelah ditinggal Mikha, Darel mendekati tempat tidur Efraim dan membaringkan tubuhnya. "Daddy akan tidur bersamamu malam ini. Mari kita tidur, seperti kata Mommy, kita harus bangun pagi." Ucap Darel, dan Efraim mengangguk mengiyakan.
Efraim meletakan paketnya di meja belajarnya dan tidur memeluk Darel. Darel balik memeluknya dengan erat. "Thank u, Daddy. Sudah datang melihat kami." Ucap Efraim, sambil terus memeluk sayang daddynya. Darel tidak bisa berkata-kata, dia hanya mengusap punggung putranya dengan sayang. 'Inilah perasaan orang tua ketika mengetahui disayang oleh anaknya.' Darel membantin.
Dia teringat kedua orang tuanya, pantas saja orang tuanya sangat bahagia ketika menerima perhatian sekecil apapun darinya dan Mikha. Akhirnya Darel tertidur sambil memeluk putranya.
*((**))*
Hari baru, mentari belum mulai bersinar, di rumah Kandara telah terjadi kesibukan. Jam telah menunjukan pukul 05.00 pagi penghuni rumah sudah bangun dan siap-siap untuk pergi berlibur.
Kandara dan Bu Selvine yang sudah bangun, telah selesai menyiapkan sarapan dan mulai memasukan semua keperluan yang akan di bawah ke dalam mobil. Efraim dan Efrima juga sudah rapi, duduk di meja makan.
"Efra, tolong lihat Daddy dan Uncle. Kalau sudah siap, biar sarapan dulu." Ucap kandara sambil kembali ke halaman. Efraim hendak naik memanggil Daddy dan Unclenya, ternyata mereka telah turun, dalam keadaan rapi dan tampan.
"Wuuuaahhh. Daddy dan Uncle tampan sekali." Ucap Efrima sambil berdiri menggandeng tangan Daddy dan unclenya ke meja makan untuk sarapan. Darel merasakan sesuatu yang berbeda, ketika bangun dan melihat anak-anaknya duduk di meja makan.
"Anak-anak Daddy juga sudah cantik dan tampan." Ucap Darel sambil mencium kepala kedua anaknya. Mikha pun ikut mencium kepala mereka: "Morning..."
"Morniiing, uncle." Efrima mengajak Darel dan Mikha duduk.
"Mommy dan Oma sudah sarapan?" Tanya Darel, karena tidak melihat mereka di meja makan.
"Mommy dan Oma sudah minum, Dad. Kalau makan, nanti menyusul. Mommy dan Oma sedang merapikan barang yang akan di bawa." Ucap Efrima dan mempersilahkan Deddy dan Unclenya sarapan.
"Morniiing..." Sapa Bu Selvine dan Kandara bersamaan ketika masuk ke ruang makan. Mereka terpesona dengan keempat orang yang duduk di meja makan. Mereka benar-benar cantik dan tampan.
"Ooh, iya. Daddy dan Uncle, tasnya sekalian di bawa, yaa. Jika nanti terlambat, kita bisa langsung ke Bandara." Ucap Kandara, karena belum melihat tas mereka.
"Ooh, begitu. Jadi tidak kembali ke rumah ini lagi?" Tanya Darel, terkejut.
"Bisa saja kembali, tapi keadaan jalan di hari Minggu tidak bisa di prediksi. Lebih baik di bawah saja, biar tidak buru-buru." Ucap Kandara memberi keterangan.
Darel dan Mikha mengangguk mengerti. Selesai sarapan, Mikha naik ke kamar umtuk mengambil tas mereka dan langsung dimasukan ke dalam mobil. Tas mereka kecil, karena tidak membawa banyak baju. Sedangkan kedua Laptop tetap dipegangnya.
Kandara dan Bu Selvine mengambil roti yang di atas meja dan makan sambil memperhatikan, mungkin ada barang yang ketinggalan. Setelah semua telah sarapan dan semua barang telah berada di mobil, mereka langsung masuk ke mobil. Kandara mengunci pagar, dia masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi.
Darel duduk di kursi depan samping Kandara. Setelah mengatur dan melihat, yang duduk di belakang semuanya OK, Kandara bersyukur.
"Thanks God." Bisik Kandara pelan.
*- Mengucap syukur adalah awal yang baik untuk melakukan segala sesuatu -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡