Me And You For Us

Me And You For Us
Khawatir



Efraim yang baru turun dari kamar dan melihat Efrima menangis langsung mendekati dan memeluknya.


"Efriii,, ada apa.? Kenapa menangis." Tanya Efraim sambil terus memeluk Efrima.


"Ada Grandpa..." Ucap Efrima, sambil menunjuk ponsel mommynya.


"Grandpa..?" Tanya Efraim sambil menatap layar ponsel. Ketika melihat wajah yang mirip daddynya, Efraim langsung membungkuk. Sedangkan Pak Darpha menatapnya dengan tidak bisa bersuara, karena takjub.


"Allooo, Grandpa.. saya Efraim." Sapa Efraim, sambil membungkukan badannya.


"Astagaaa,, kalian berdua benar-benar mirip dengan Darel." Ucap Pak Darpha, takjub.., seakan-akan tidak percaya. Mendengar itu, Bu Richel mengambil ponsel untuk melihat cucu laki-lakinya.


"Astagaaa.., cucuku ini tampan sekali." Ucap Bu Richel ketika melihat Efraim.


Mendengar itu, Efraim tahu ini Grandmanya.


"Allooo,, Grandma.. saya Efraim." Ucap Efraim sambil membungkuk dengan mata berembun melihat mata sembab Grandmanya. Bu Richel bersyukur, melihat kedua cucunya tumbuh dengan baik dan sopan.


Kandara yang baru selesai mandi dan keluar dari kamar dengan balutan handuk di kepala, karena baru selesai keramas. Dia terkejut melihat anak-anaknya sedang terisak. Dia mendekat dengan panik dan memeluk mereka.


"Efraa, Efrii, ada apa..? Kenapa kalian menangis.?" Tanya Kandara, terus memeluk dan mengusap punggung kedua anaknya. Mendengar suara Kandara, Darel mengingatkan Mommynya dengan jarinya. Jangan memarahi Kandara.


"Ada Grandma dan Grandpa.." ucap Efrima sambil menunjuk ponsel Kandara.


Ketika melihat layar ponsel, Kandara terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia langsung membungkuk memberi hormat.


Tanpa sadar, handuk di kepalanya terlepas membuat Bu Richel tersenyum. Bu Richel sangat senang melihat., Mommy dari cucu-cucunya. Selain cantik juga sopan dan baik.


"Namamu,, Dara..?" Kandara hanya bisa mengangguk dan berusaha merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kau tunggu saja,, besok saya akan datang patahkan tanganmu, karena telah menyembunyikan cucu-cucuku." Ucap Bu Richel.


Darel langsung mengambil ponselnya dan memberi kode ke Kandara untuk tenang. Darel tahu, Kandara pasti panik. Pak Darpha mengambil ponsel dari Darel dan menyapa Kandara. Ketika melihat itu, Kandara kembali membungkuk.


Pak Darpha memberikan kode untuk tenang. Bu Richel langsung berbicara dengan Mikha dan memarahinya. Darel langsung mengambil ponsel dari Pak Darpha untuk bicara dengan Kandara.


"Dara, lihat aku.., tidak apa-apa. Tolong tenangkan anak-anak. Nanti aku telpon lagi." Darel langsung mengakhiri pembicaraannya.


"Kenapa kau sudah putuskan telponnya. Aku masih mau bicara dengannya" Ucap Bu Richel.


"Astagaa Mommy., tadi Darel sudah bilang; Mommy jangan galak sama Dara. Dia tidak bisa di kasarin. Dia pasti sekarang lagi panik dan kebingungan." Ucap Darel sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Darel yang mondar mandir membuat Bu Richel menjadi khawatir.


"Mommy,, bagaimana jika terjadi sesuatu dengannya. Waktu Darel bertemu pertama kali dengannya, dia langsung pingsan. Mikha tahu itu." Ucap Darel, sambil menunjuk Mikha. Bu Richel melihat Mikha dan Mikha mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu, lekas telpon dia lagi. Jangan sampai terjadi sesuatu dengannya. Apakah mereka hanya tinggal bertiga.?" Tanya Bu Richel mulai panik.


"Ada Mamanya,., Mom.. Tetapi mungkin belum pulang kerja. Aku telpon Dara dulu." Ucap Darel sambil mengambil ponselnya dan menelpon Kandara. Kandara yang masih terkejut, duduk diam terpaku. Ketika melihat Darel telpon, Kandara menghembuskan nafasnya kuat dan menerima telponnya.


"Allooo, Dara.. kau tidak apa-apa.?" Tanya Darel, dan Kandara mengangguk.


"Anak-anak di mana.?" Tanya Darel, untuk mengalihkan perhatian Kandara. Karena dia bisa melihat wajah Kandara yang pucat dan bingung


"Mereka sudah di kamar, kerjakan tugas dari sekolah. Mau bicara dengan mereka.?" Tanya Kandara, tetapi Darel menggeleng.


"Mereka tidak apa-apa.?" Tanya Darel lagi, untuk menenangkan Kandara.


"Sepertinya tidak apa-apa., mereka tadi terkejut bisa melihat Grandma dan Grandpa mereka. Terutama Efri, lama baru berhenti menangis. Diancam sama Efra akan dilapor sama Uncle Mikha, baru berhenti menangis.


"Astagaaa,, anak itu akan ikut Mikha kemana saja. Mama belum pulang.?" Tanya Darel.


"Belum, mungkin sebentar lagi. Oooh iyaa.., Darel, apakah kau baik-baik saja.?" Tanya Kandara khawatir.


"Iyaa, baik-baik saja. Kenapa tanya begitu.?" Tanya Darel, heran


"Apakah kau tidak dimarahin Grandma dan Grandpa.?" Tanya Kandara lagi.


"Yaaa,, karena kita sudah buat salah dan kau yang ada di situ." Ucap Kandara.


"Daraa,,  Jangan masukan ke hati ucapan Mommy. Kau bukan sudah terlatih mendengar nyanyian tanpa nada.?" Ucap Darel sambil menggerakan alisnya, membuat Kandara tersenyum.


Bu Richel langsung mengambil ponsel dari tangan Darel.


"Kalau aku tidak mengambilnya, kalian bisa telpon sampai besok." Ucap Bu Richel sambil gelengkan kepalanya kepada Darel.


"Daraa,, kau tidak apa-apa.?" Tanya Bu Richel, ketika melihat wajah Kandara yang masih pucat.


"Iyaa, Bu." Jawab Kandara pelan dan khawatir.


"Astaga, panggil aku seperti Darel." Ucap Bu Richel, tegas.


"Iyaa M o m.." ucap Kandara pelan.


"Besok kami akan datang melamarmu. Jadi kau siap-siap yaa.." ucap Bu Richel.


"Be sookk, Mom.?" Tanya Kandara terkejut.


"Iyaa, Dara.., besok.!.. Dan tidak bisa dibantah." Ucap Bu Richel, tegas. Kandara tidak bisa mengucapkan sepata katapun, dia benar-benar terkejut. Jantungnya berdegup makin kencang.


"Daraaa,, kenapa wajahmu seperti itu. Apakah Darel tidak bilang, kami akan datang melamarmu.?" Tanya Bu Richel lagi, karena terkejut melihat wajah Kandara.


"Sudah bilang, Mom.. Tapi Dara tidak menyangka secepat ini." Ucap Kandara dengan jantung yang masih berdegup kencang.


"Sudah tidak usah dipikirkan., kasih tahu Mamamu, ya.. Dan kau mau minta apa dari kami, saat datang melamarmu.?" Tanya Bu Richel, mencoba bicara santai.


"Tidak ada, Mom." Jawab Kandara sambil geleng kepalanya.


"Whaattt..?.. Benar kau tidak menginginkan sesuatu.?" Tanya Bu Richel tidak percaya.


"Iyaa Mom.." ucap Kandara lagi.


"Astagaaa.., Dara.. kau tidak tahu siapa yang akan datang melamarmu.?"


"Tahu,, Mom... Darel." Jawab Kandara pelan.


"Kau tidak tahu siapa dia.?" Tanya Bu Richel lagi. Darel langsung memberikan kode untuk Mommynya stop. Karena Kandara tidak tahu yang sebenarnya.


"Tahu Mom., Darel seorang Idol." Jawab Kandara pelan dan khawatir mendengar pertanyaan Bu Richel.


"Baiklah.., kalau begitu, Mommy akan bawa sesuai dengan keinginan Mommy. Selanjutnya, kau bicara dengan Darel dan Mikha, ya.." Ucap Bu Richel sambil memberikan ponselnya kepada Darel.


"Dara, kenapa dengan wajahmu. Tidak usah panik begitu." Ucap Darel., melihat Kandara yang sedang panik dan juga bingung.


"Darel,, benarkah besok Mommy mau datang.?" Tanya Kandara masih tidak percaya.


"Iyaa,, bukankah aku sudah bilang untukmu agar siap-siap.?" Ucap Darel. Kandara memeggang dadanya berdetak tidak teratur.


"Apakah Mikha akan datang juga.?" Tanya Kandara berharap.


"Iyaa Dara, kami berempat. Lihat aku, dan dengarkan baik-baik. Bilang Mama tidak usah menyiapkan makanan. Nanti kami sudah di sana baru pesan makanan di restaurant terdekat. OK.?"


Ucap Darel dan Kandara mengangguk.


"Dara,, besok bisa jemput kami.?" Tanya Darel, dan Kandara kembali mengangguk.


"Nanti anak-anak tidak usah ikut menjemput, yaa.. Setelah aku selesai bicara dengan Daddy, aku akan memberi tahukan waktu tiba kami di sana." Ucap Darel lagi. Kandara kembali mengangguk.


Darel mengakhiri telponnya.


Kandara duduk diam terpaku di ruang tamu.


*- Kadang kita tidak mampu menerima sesuatu yang sudah diduga akan terjadi, ketika datangnya melebihi dari dugaan kita -*