
Bu Selvine yang baru pulang dari butik, terkejut melihat Kandara yang sedang duduk diam di ruang tamu tanpa menyadari kehadirannya.
"Daraa,, ada apa..? Kenapa kau diam di situ sendiri.?" Tanya Bu Selvine., saat melihat Kandara sedang duduk di ruang tamu. Kandara terkejut mendengar suara Bu Selvine.
"Oooh,, Mama sudah pulang.? Mama sudah makan belum.?" Ucap Kandara., sambil berdiri dan mendekati Bu Selvine.
"Mama sudah makan, tapi tolong buatkan teh panas untuk Mama ya, Mama bersihkan badan dulu." Ucap Bu Selvine dan langsung ke kamarnya.
Kandara ke dapur untuk membuat teh panas untuk Bu Selvine dan dirinya. Dia ingin minum panas juga untuk menenangkan hatinya. Setelah selesai membuat teh, dia duduk di meja makan sambil menunggu Mamanya.
Bu Selvine datang dan duduk di depan Kandara sambil minum teh, Bu Selvine memperhatikan wajah Dara yang tidak seperti biasanya.
"Daraa, ada apa..? wajahmu pucat, kau terlihat tidak fokus dan bingung..." Tanya Bu Selvine. Kandara menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.
"Begini Ma,, tadi kami telponan dengan orang tua Darel." Ucap Kandara pelan.
"Oooh, terus bagaimana respon mereka terhadap kau dan anak-anak.?" Tanya Bu Selvine, dengan hati was-was. Khawatir orang tua Darel tidak menerima Kandara dengan baik-baik.
"Baik, Ma.. Mereka baik terhadap kami. Cuma tadi mereka bilang, besok mau datang ngelamar Dara." Ucap Kandara pelan.
"Astagaaa.., kenapa kau diam saja dan baru bilang sekarang.?" Tanya Bu Selvine, terkejut.
"Karena mereka baru bilang tadi, Ma." Ucap Kandara masih pelan.
"Apakah selama ini, Darel tidak pernah bilang padamu.?" Tanya Bu Selvine heran. Karena menurut yang diperhatikannya, Darel bukan orang yang seradak seruduk.
"Pernah, Ma.. Bulan lalu." Jawab Kandara makin pelan., karena dengan pertanyaan Mamanya, Kandara merasa salah.
"Astagaa, Dara. Apa yang kau pikirkan.? Sekarang ini, kau hanya dengar apa yang dikatakan Darel dan lakukan itu. Jangan kau tafsirkan kemana-mana dengan pikiranmu sendiri." Ucap Bu Selvine, tegas.
"Kau itu harus tahu, kau bukan sendiri lagi. Sudah ada Darel dan belajar dengar yang dia ucapkan. Jangan kau pikirkan yang lain dari apa yang diucapkannya, menurut pikiranmu." Ucap Bu Selvine, emosi.
"Mama sudah lihat dan dengar, Darel itu tidak pernah bicara yang tidak jelas. Dia tidak pernah berbicara berbumbu untuk menyedapkan telinga. Seharusnya kau bisa sangat mengerti ketika dia berbicara serius.." Ucap Bu Selvine, heran dengan sikap Kandara.
"Karena kau berpikir kemana-mana, akhirnya apa yang sudah jelas yang dikatakannya terjadi, kau panik dan kebingungan sendiri."
"Jadi sekarang, berhenti bingung yang tidak berguna itu. Sekarang bilang ke Mama. Apa saja yang dibilang Darel." Ucap Bu Selvine melihat Kandara yang hanya diam.
"Tadi Darel bilang, Mama tidak usah memasak. Nanti mereka tiba di sini, baru pesan makanan di restaurant terdekat." Ucap Kandara, mengulang pesan Darel.
"Lalu sekarang, apa yang kau pikirkan tentang itu.?" Tanya Bu Selvine, gemas.
"Yaaa, masa kita tidak siapkan makanan siih,.., Ma.." ucap Kandara bingung.
"Itu yang Mama bilang. Kau tidak dengar apa yang dikatakan Darel. Mengapa dia bilang begitu, karena dia lihat kau tidak siap dan panik. Makanya dia kasih solusi, supaya kau tidak pusing." Bu Selvine mengerti yang dimaksudkan Darel.
"Apa dia bicara denganmu tidak jelas.? Atau ada yang tidak kau mengerti dari kata-katanya.? Pantes dia harus bilang berulang kali, ketika berbicara dengannya. Lihat dan dengar dia." Ucap Bu Selvine, sambil mengingat sikap Darel.
"Tapi kau itu, dengar lain bikin lain. Kalau dia sampai marah padamu, memang sudah seharusnya." Ucap Bu Selvine tidak sabaran dan Kandara hanya diam mendengar.
"Mereka datang berapa orang.?" Tanya Bu Selvine.
"Berempat, Ma.." Jawab Kandara.
"Jadi tidak perlu persiapankan macam-macam. Lebih baik, kau cari restaurant yang baik yang cocok dengan keadaan mereka. Jangan bikin malu di hadapan orang tua Darel. Jadi sekarang cari dan siapkan, biar besok tidak buru-buru."
"Apakah kau sudah minta cuti untuk beberapa hari ke depan.?" Tanya Bu Selvine lagi.
"Belum,.,Ma." Jawab Kandara pelan.
"Astagaaa, kau masih mau masuk kerja atau kau berpikir mereka tidak akan datang besok.?" Ucap Bu Selvine, dan Kandara menggeleng.
"Tidak usah tunggu., sekarang minta cuti.., karena waktu terus berlalu. Kalau mereka tiba pagi, apa kau tidak kelimpungan.?" Tanya Bu Selvine makin gemas melihat putrinya tidak bisa berpikir jernih.
*- Kematangan dan kedewasaan berpikir dapat dilihat saat situasi mendesak -*
Kandara mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk pimpinan kantornya. Dia meminta cuti 3 hari. Bu Selvine terus memperhatikan putrinya.
"Sekarang bersihkan kamarmu dan kamar tamu. Jangan berpikir mereka akan tinggal di hotel. Bukan karena mereka tidak sanggup, tetapi kau sudah tahu anak-anakmu."
"Mereka akan meminta Darel dan orang tuanya menginap di sini. Mama yakin, orang tuanya tidak akan menolak jika cucu-cucunya memintanya." Ucap Bu Selvine dan Kandara mengangguk.
"Mereka akan datang sendiri ke sini atau minta dijemput.?" Tanya Bu Selvine lagi.
"Darel minta Dara yang jemput, tapi tanpa anak-anak, Ma."
"Sudah pasti., Darel sudah tahu mobilmu. Sekarang kau rapikan kamar, nanti Mama keluarkan semua barang dari mobil. Kalau masih ada waktu, besok kau bawa mobilnya untuk di cuci."
"Iyaa, Ma.. mksiii.." ucap Kandara sambil memeluk Mamanya. Bu Selvine hanya bisa geleng-geleng kepala melihat putrinya itu.
Beberapa saat kemudian, Darel mengirim pesan bahwa mereka akan tiba di Jakarta sore hari dan Kandara bersyukur karena masih ada waktu.
Kandara merapikan kamarnya, kamar tamu dan rumah sebisanya. Setelah bersih-bersih dan kamarnya sudah dirapikan, Kandara tidur bersama Efrima di kamarnya. Agar tidak membuat kusut penutup tempat tidur di kamarnya.
Sebelum tidur, dia merenungkan apa yang diucapkan Mamanya. Dia menyadari, kondisi yang dia alami saat ini akibat dia belum bisa memahami Darel dengan benar.
Dia terlalu menguatirkan hal-hal yang belum tentu terjadi dikemudian hari. Seperti yang dikatakan Darel.
'dia sedang belajar mengerti kami, seharusnya aku juga belajar memahami pemikiran-pemikirannya. Bukan hanya tetap di tempat dengan pemikiran-pemikiranku sendiri.' Batin Kandara.
'Jika aku tidak berubah, mungkin saja Darel akan berlaku seperti Mama yang mengomeliku panjang pendek tanpa nada. Padahal dia sudah lelah di luar sana, masih harus bersitegang denganku untuk hal-hal yang sederhana.' Kandara membatin.
'Melihat kedua orang tuanya dan lingkungan mereka tadi, sepertinya kedua orang tuanya bukan dari kalangan biasa.' Batin Kandara. Kemudian Kandara melihat sosial media Darel, tetapi tidak ada info tentang keluarganya.
Ternyata aku tidak terlalu kenal Darel dan keluarganya. Pantas saja tadi Mommynya menanyakan : 'Apakah aku mengenal Darel.'
'Aku pikir, selama ini aku sudah mengenalnya dengan baik. Dia sangat berbeda dengan apa yang terlihat waktu bersama Melo. Dia baik, memang iyaa.., dia sangat baik. Sopan dan hangat, juga iyaa.. Tetapi ada sisi lain yang tidak akan terlihat jika tidak bertemu langsung dengannya.'
'Benar Mama., dia tidak berbasa basi ketika berbicara tentang hal serius. Terlihat dari sikapnya terhadap anak-anak. Tidak ada yang meragukan kalau dia sangat menyayangi anak-anaknya.'
'Tetapi dia selalu bersikap tegas dalam menentukan sesuatu. Efraim saja menyadari itu, sehingga ketika Darel mengatakan tidak akan mematikan telpon, daddynya akan melakukannya. Akhirnya Efraim harus mengatakan yang sebenarnya.'
'Dia tidak umbar amarahnya, secara membabi buta. Tetapi jika ada sesuatu yang mengganggunya, dia tidak akan membiarkannya. Dia akan menyelesaikannya baru bisa tenang.' Kandara terus membatin.
*- Setiap orang yang mau merenungi setiap peristiwa yang dialami, akan mendapatkan intisari hidupnya -*