
Setelah mendengar kabar bahwa kemaren pagi Kandara telah melahirkan anak kembar, rekan-rekan Kandara di ruang programmer senang sekali. Mereka tidak sabar untuk melihat Kandara dan bayinya.
"Rina, kita kumpul uang untuk beli kado, yuuk..." Ucap Yeni mengajak rekan-rekannya untuk kolektif.
"Ok, aku setuju." Mendengar usul Yeni, Rina setuju dan yang lain juga ikut. Jadilah mereka membeli kado untuk bayinya Kandara secara kolektif.
Setelah semua uang terkumpul, sekarang untuk membeli kadonya yang memjadi persoalan. "Apa yang akan kita beli dengan uang ini?" Tanya Rina kepada Yeni, karena Rina dipecayakan untuk memegang uang hasil kolektifan
"Apa kita tanya sama Dara? Mungkin ada yang dia perlukan." Yeni memberikan saran, tetapi Rina memukul lengannya.
"Ngacoo. Mau ngasih kado, ko' nanya. Ntar Dara bilang, ngga usah ngasih. Kalian datang saja, udah senang." Ucap Rina lagi.
"Terus gimana dong. Apa kita beli pampers saja yang buanyak?" Yeni bertanya sambil membuka kedua tangannya, lebar.
"Njuulll... Usul tu yang benar dikit. Emangnya mau beli semua ukuran?" Ucap Rina sambil memukul lengan Yeni lagi.
"Jadi apa dong. Ini bukan, itu jangan, mendingan aku coding saja." Ucap Yeni, ngambek dan balik ke mejanya.
Mala dan Toby yang melihat mereka berdua, langsung memanggil Yeni dan Rina ke meja mereka. "Ada apa sih, kalian berdua seperti cacing kungfu. Heheheee..." Mala berkata, tetapi tertawa sendiri mendengar ucapannya.
"Hahahaaa... Makanya, jangan keseringan main tanah. Sampai cacing berantem saja tau." Toby berkata, lalu melepar Mala dengan kotak tissu yang ada di dekatnya.
Yeni dan Rina yang sudah berdiri dekat meja Mala dan Toby ikut tertawa sambil memegang perut mereka. "Abis mereka berdua ini, uuuppss.." Mala tidak jadi meneruskan ucapannya, karena khawatir Yeni dan Rina tidak berhenti tertawa.
"Ada apa, Yeni." Tanya Toby, mengambil alih, meneruskan pertanyaan Mala.
"Begini Mas Toby. Uang sudah terkumpul, tetapi belum tau mau beli apa untuk bayi Dara." Rina berhenti tertawa dan menjawab pertanyaan Toby.
"Astagaaa, begitu saja susah sampai bawa-bawa cacing segala. Sanaaa, berdua minta ijin sama Pak Ari, lalu pergi ke butik Bu Selvine, Mamanya Dara. Tinggal kalian pilih saja di disana." Ucap Toby, sambil menggelengkan kepalanya.
"Ooh, iyaa Mas. Makasih." Ucap Rina, lalu berjalan ke ruangan Pak Ari bersama Yeni.
Beberapa saat kemudian, Rina dan Yeni keluar dari ruangan Pak Ari sambil mengangkat tangan dan memberikan tanda 'OK' dengan jarinya ke arah Mala dan Toby.
"Rinaa, siniii..." Panggil Toby, dan Yeni juga ikut Rina ke meja Toby.
"Rina, kalau yang mau kau beli itu, lebih mahal dari uang yang terkumpul, beli saja dulu, pakai uangmu. Nanti diganti sama Mas Mala dan Yeni." Ucap Toby sambil tersenyum.
"Kenapa kami?" Tanya Mala dan Yeni bersamaan.
"Uang taruhan untuk traktir, ngga jadi digunakan, kan? Itu saja dipakai untuk ganti uang Rina. Hehehee..." Ucap Toby, lalu tertawa senang.
"Iyaa. Sana Rina, beli saja." Mala menyetujui, lalu menyuruh Rina dan Yeni pergi dengan tangannya.
"Tenang saja, Mas. Yang terkumpul buaanyak." Ucap Rina kepada Mala sambil menarik tangan Yeni keluar dari ruangan programmer dengan wajah tersenyum. Mala dan Toby ikut tersenyum melihat mereka berdua.
Sore harinya setelah pulang kerja, mereka bersama-sama ke Rumah Sakit untuk mengunjungi Kandara dan bayinya. Mereka sampai di di ruang perawatan Kandara, ada Bu Selvine yang menemaninya. Manche sedang pulang ke hotel untuk beristirahat. Manche dan Bu Selvine bergantian menemani Kandara.
Ketika rekan kantor datang besuk, Bu Selvine bersyukur Kandara dirawat di ruangan sendiri. Sehingga canda tawa dari rekan-rekannya tidak mengganggu pasien yang lain. Mala dan Toby memeluk Bu Selvine dan mengucapkan selamat telah menjadi Oma. Bu Selvine jadi terharu melihat teman-teman kerja putrinya.
"Iyaa, bisa. Mariii..." Bu Selvine berkata, dan mengajak mereka ruangan bayi.
"Astagaaa, bayinya Dara cantik dan tampan sekali." Ucap Yeni terpesona, saat melihat kembar.
"Hati-hati Yeni, air liurmu bisa jadi kali." Ucap Mala melihat Yeni yang sedang melongo.
"Biarkan saja, supaya bisa menghanyutkanmu." Ucap Yeni sambil mengatupkan mulutnya, tetapi matanya tidak lepas dari bayi Kandara.
"Iiiih... Amit-amit, dah." ucap Mala sambil mengetuk ruas jarinya ke tembok. Disambut tawa ngakak dari teman-temannya.
"Sudah cukup scannya Yeni, gantiiiaan. Mereka juga ingin melihat wajah Om-Omnya yang ganteng." Ucap yang lelaki, sambil menarik lengan Yeni dari jendela kaca. Ketika melihat bayinya Kandara, mereka semua takjub. Memang benar kata Yeni. Bayi Kandara sangat cantik dan tampan dan mengemaskan.
Mereka berlama-lama melihat bayinya, sampai lupa waktu. Kalau tidak diusir oleh suster mungkin mereka akan makan malam di rumah sakit. Akhirnya mereka beramai-ramai pamit dari Bu Selvine dan Kandara karena sudah ditegur oleh Suster.
"Dara, cepat sembuh dan cepat pulang, ya. Biar kami bisa puas melihat bayimu di rumah." Ucap mereka sambil keluar dari ruangan.
Mala dan Toby mendekati Kandara dan mengelus tangannya. "Semangat. Kau telah dikaruniai dua malaikat kecil." Ucap Toby terharu, dan Mala mengangguk menguatkan Kandara.
Setelah ditinggalkan rekan-rekan kantornya, Bu Selvine menceritakan apa yang terjadi di ruang bayi. Bagaimana sikap dan candaan teman-temannya. Kandara dan Bu Selvine jadi tertawa.
Ketika tiba waktunya menyusui dan Kandara sudah bisa menyusui, kedua bayinya di bawa untuk disusui. Kandara mengakui yang dikatakan Yeni, anak-anaknya memang cantik dan tampan.
Kulit mereka berdua kemerahan, sedangkan wajah anak perempuannya hampir mirip dengan Darel. Kalau yang lelaki masih ada sedikit mirip dengan Kandara. Tapi lebih banyak kepada Darel. Hatinya penuh dengan rasa syukur ketika menyusui anak-anaknya.
Manche sangat bahagia ketika datang keesokan harinya dan sudah bisa menggendong bayinya. Dia tak henti-henti mengagumi bayi dalam gendongnya. Dia menggendong bergantian dengan Kandara untuk disusui.
"Allooo, kids. Welcome to the world." Ucapnya sambil mengelus pipi mereka dengan sayang.
"Dara, kalau mereka mau dibaptis, tunggu aku datang lagi, ya. Aku harus jadi ibu baptis mereka." Ucap Manche tanpa bisa dibantah oleh Kandara.
"Iyaa, auntie cantik. Sebelum dibaptis, akan konsul sama auntie, biar bisa diatur waktunya." Ucap Kandara tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
Manche mengambil ponsel Kandara dan mengabadikan kedua bayi yang ada dalam gendongannya. Tidak lupa juga, Manche meminta Kandara untuk foto dia dengan kedua bayinya. Kandara tidak mau memakai ponsel Manche, tetapi memakai ponselnya sendiri.
Dia akan mengirimkan kepada Manche setelah Manche berjanji tidak posting di media sosial. Dia tidak mau ada yang memposting wajah anak-anaknya di media sosial. Manche mengangguk mengerti.
Dengan melihat wajah bayi dalam gendongannya, dia tahu wajah kedua bayi ini lebih mirip dengan ayah mereka. Karena wajah Kandara hanya sedikit ada pada bayi laki-laki.
Setelah tiga hari kondisi bayi dan ibunya dinyatakan sehat, mereka diijinkan pulang pada hari ke empat. Bu Selvine bersyukur bersama Manche dan Kandara setelah tiba di rumah.
Melihat kondisi Kandara dan kedua anaknya makin baik dan sehat, Manche meninggalkan mereka untuk kembali ke Amerika. Karena dia tidak bisa terlalu lama meninggalkan pekerjaannya.
*- Dalam setiap moment kehidupan, selalu ada yang mendampingi orang baik -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡