Me And You For Us

Me And You For Us
Memahami.



Kandara telah mengganti bajunya dengan baju tidur., saat Darel kembali ke kamar.


"Dara, mari kita ke kamar Mama dulu." Ajak Darel, sambil menggenggam tangan Kandara, mereka turun ke kamar Bu Selvine. Kandara mengikuti Darel dengan bingung.


Setelah di depan pintu kamar Bu Selvine, Darel mengetuk pintu dan Bu Selvine membukanya. Melihat Darel dan Kandara, Bu Selvine terkejut.


"Ma, boleh kami masuk sebentar.?" Tanya Darel dan Bu Selvine mempersilahkan mereka masuk dengan membuka lebar pintu kamarnya.


Darel duduk di kursi meja rias Bu Selvine, sedangkan Bu Selvine dan Kandara duduk di tepi tempat tidur. Kandara menenangkan Efrima yang sudah mulai mengantuk.


"Ma,, Mama tidak apa-apa dengan kejadian tadi.?" Tanya Darel sambil menatap Bu Selvine.


"Iyaa Darel.. Mama tidak apa-apa, karena ketika mama sudah percayakan Dara dan anak-anak kepada keluargamu, semua keputusan keluargamu Mama terima." Ucap Bu Selvine meyakinkan.


"Supaya kau tahu juga, mama sangat bersyukur dengan keputusan kedua orang tuamu. Alasan mama bersyukur, pasti kau tahu. Dan Dara, kau masih ingat pesan mama tadi malam bukan.?" Tanya Bu Selvine, dan Kandara mengangguk mengiyakan.


Bu Selvine bersyukur, karena jika mereka menikah, bisa menghilangkan pandangan negatif yang sering dilontarkan kepada Kandara dan kedua anaknya.


"Kalau begitu, kami pamit ya, Ma.. Selamat istirahat." Ucap Darel sambil berdiri mendekati Bu Selvine dan mengelus lengannya. Begitupun dengan Kandara. Darel hanya memastikan, kondisi Bu Selvine atas keputusan orang tuanya.


"Ooh, iya Ma.. Kalau tidak merepotkan, bisakah besok mama membuat soup dan ayam seperti waktu itu.?" Tanya Darel kepada Bu Selvine.


"Bisa, tetapi apakah kedua orang tuamu bisa memakannya.?" Tanya Bu Selvine.


"Darel bisa makan, berarti mereka juga bisa., Ma.. Jadi Mama tenang saja, itu bagian Darel dan Mikha." Ucap Darel tersenyum senang dan memeluk Bu Selvine. "Terima kasih., Ma." Ucap Darel dan hal yang sama dilakukan oleh Kandara. Bu Selvine tersenyum sambil menutup pintu kamarnya.


Setelah Darel dan Kandara kembali ke kamar dan berbaring. Darel langsung memeluk Kandara dan mencium puncak kepalanya. Kandara membenamkan wajahnya di dada Darel. Itu adalah posisi yang sangat dirindukannya.


"Dara, Mommy dan Daddy seperti itu, jika menyangkut keluarganya. Yaaa.., kadang mommy juga bersikap galak. Bukan buatmu saja seperti kemarin, tetapi juga buatku dan Mikha. Apakah kau bisa memahami tindakan orang tuaku.?" Tanya Darel, dan Kandara mengangguk tanpa melepaskan pelukannya.


"Kadang kami berdua berbuat salah, dan mommy suka bilang akan mematahkan kaki kami berdua, tetapi lihat kaki kami berdua tetap utuh sampai sekarang." Ucap Darel., tersenyum sendiri mengingat Mommynya.


"Semakin dewasa, kami tahu ucapan mommy itu hanya karena beliau sayang kepada kami. Jadi ketika mendengar mommy mengatakan hal yang sama kepadamu untuk mematahkan tanganmu, aku tahu mommy juga sayang padamu." Ucap Darel.


"Iyaa, Darel.., aku tahu dan bisa merasakan kasih sayangnya. Buktinya, tadi tanganku tidak dipatahkan, tetapi malah diberikan cincin yang indah di jariku." Ucap Kandara sambil mengangkat tangan dan memperlihatkan cincin di jarinya manisnya sambil tersenyum. Melihat itu, Darel pun ikut tersenyum.


"Sebenarnya..." ucapan Darel terhenti ketika terdengar bunyi ketukan di pintu.


Darel langsung bangun dan membuka pintunya.


Ketika melihat Pak Darpha berdiri di depan pintu, Darel membuka pintunya dengan lebar.


"Apakah Daddy mengganggu kalian." Tanya Pak Darpha, dan dijawab 'tidak' oleh Kandara yang langsung bangun dan berdiri di samping Darel.


Tetapi Darel menjawabnya 'sedikiiit' sambil membuat tanda dengan kedua jarinya. Kandara memukul lengan Darel pelan.


Pak Darpha duduk di kursi belajar Efrima, Darel dan Kandara segera duduk di tepi tempat tidur.


"Dara,, kau tidak apa-apa dengan kejadian tadi.?" Ucap Pak Darpha, Kandara mengangguk mengiyakan menjawab pertanyaan Pak Darpha.


"Daddy kesini melihat kondisimu dan juga ingin tahu, mungkin ada bagian yang kau tidak setuju. Daddy minta kalian menikah di Seoul, karena menurut daddy itu yang lebih mudah bagi Darel." Ucap Pak Darpha mencoba menjelaskan


"Kalian menikah secara pribadi dulu, agar statusmu dan anak-anak jelas di hadapan Tuhan dan umum. Soal resepsi untuk mengundang orang lain atau teman-teman nanti kita bicarakan kemudian. Kau bisa memahami maksud kami.?" Tanya Pak Darpha sambil memandang Kandara.


"Iyaa,, Dad.. Terima kasih." Ucap Kandara sambil membungkukkan kepalanya.


"Selamat istirahat juga, Dad.," ucap Darel dan Kandara sambil berdiri dan memeluk Pak Darpha.


"Ooh iya Dad., mohon maaf jika kamarnya kurang nyaman." Ucap Kandara sambil mengatup kedua tangannya di dada.


"Kau tenang saja.., kalau mommymu tidak minta pindah ke hotel, berarti aman." Ucap Pak Darpha sambil mengusap kepala Kandara dan meninggalkan mereka.


Kandara mengusap dadanya legah.


"Darel, tadi aku kira ada apa,., tiba-tiba Daddy datang." Ucap Kandara.


"Tenang saja, Daddy biasa seperti itu. Kalau memutuskan sesuatu tentang aku dan Mikha, pasti akan mendatangi kami. Daddy khawatir kami tertekan dengan keputusannya." Ucap Darel dan Kandara mengangguk mengerti.


"Dara,, kau pakai lagi bajumu yang tadi aku tunggu di luar. Cepat.,." Ucap Darel sambil buka pintu dan keluar. Kandara mengikuti tanpa banyak bertanya.


Mereka langsung turun dan menuju ke kamar Kandara dan mengetuknya. Bu Richel membuka pintu dan terkejut melihat Darel dan Kandara berdiri di depan pintu.


"Syukur mommy belum tidur., Dara mau ambil baju ganti untuk tidur, Mom." Ucap Darel, dan Bu Richel membuka pintu lebar. Pak Darpha yang masih duduk dan minum di meja dapur tersenyum.


Kandara langsung ke lemari untuk mengambil baju gantinya.


"Dara,, untung kau ada ke sini.,, kau tidak apa-apa dengan keputusan kami tadi.?"


"Tidak, Mom.. Dara percaya Mommy dan Daddy berusaha yang terbaik bagi kami." Ucap Kandara sambil mendekat dengan baju tidur di tangannya.


"Syukurlah.., kau bisa memahami kami." Ucap Bu Richel sambil memeluk Kandara dengan sayang.


"Daddy kemana, Mom.?" Tanya Darel.


"Tadi lagi keluar cari minum." Ucap Bu Richel menjelaskan.


"Mommy, mohon maaf kalau kamarnya kurang nyaman." Ucap Kandara sambil mengatup kedua tangan di dadanya dan baju tidur tergatung di lengannya.


"Tenang saja, Dara.. Kalau daddymu tidak minta pindah ke hotel, aman." Ucap Bu Richel sambil mengusap lengan Kandara. Mereka pamit dan menutup pintu sambil tersenyum.


Sebelum naik tangga ke kamar, mereka melihat Pak Darpha dari arah dapur sambil memegang segelas air mineral.


Pak Darpha mengelus lengan mereka berdua dan menyuruh mereka naik sambil tersenyum.


Mereka pun tersenyum mengingat kejadian yang baru mereka alami.


"Dara,, kau masuk duluan dan ganti bajumu, aku ke kamar sebentar." Ucap Darel sambil meninggalkan Dara menuju kamar tamu. Ternyata Mikha belum tidur.


"Tadi aku lihat daddy ke kamarmu, semua baik-baik saja.?" Tanya Mikha.


"Iyaa,, its ok.. Daddy khawatirkan Dara." Jawab Darel.


"Kalau begitu, kau sudah menemui Mommy.?" Tanya Mikha lagi.


"Sudah,, ini baru dari sana. Sudah OK." Ucap Darel sambil memberi tanda dengan jarinya dan keluar kamar meninggalkan Mikha. Mikha menarik nafas lega dan membarigkan dirinya untuk tidur.


*- Ketika bisa memahami seseorang, kita bisa terhindar dari banyak perdebatan -*