
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Setelah memikirkan baik buruknya, Darel memutuskan untuk bertemu dengan Lanna untuk menyelesaikan apa yang terjadi di antara mereka. Karena dia ingin berkonsentrasi untuk persiapan Mini Album Melo.
Darel menghubungi Mikha untuk mengatur pertemuan mereka di Cafe Relkha Hotel. Karena Darel telah mengirim pesan untuk Lanna, dan dia bersedia bertemu dengan Darel sesuai waktu dan tempat yang ditentukan oleh Darel.
Menjelang waktu pertemuan, Darel duduk dan berbicara dengan Mikha di ruang kerjanya. "Kau sudah siap?" Tanya Mikha sambil memegang bahu Darel. Darel mengangguk mengiyakan.
"Kalau bisa memilih, aku sudah tidak ingin bertemu dengannya." Ucap Darel tidak bersemangat.
"Tetapi ada hal-hal yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Suatu saat bisa menjadi bola salju yang menghalangi jalan atau menghantam diri kita." Ucap Darel lagi.
"Aku setuju denganmu, jadi mari kita siap-siap untuk menyelesaikan ini. Sebelum hal ini mengganggu atau menghantam kita." Ucap Mikha sambil berdiri.
Setelah itu mereka berjalan keluar dari kantor Mikha menuju cafe. Darel duduk di meja seperti pada malam pertemuannya dengan Lanna sebelumnya. Dia datang lebih awal dari waktu yang telah disampaikan kepada Lanna. Karena dia ingin melihat situasi dan cek semua persiapan.
Suasana cafe belum terlalu ramai, karena semua telah di atur oleh Mikha. Lanna datang dengan senyum senang, sesuai waktu yang telah ditentukan Darel.
Lanna merasa senang sekali, karena bisa bertemu dengan Darel lagi. Sehingga dia ingin mencium Darel, ketika bertemu dengannya. "Sudah kukatakan, jaga sikapmu." Ucap Darel dingin, sambil menyuruhnya duduk.
Melihat sikap dan suara Darel, Lanna langsung duduk tanpa suara. Darel memanggil pelayan untuk minta dibawakan minuman air mineral. Setelah minumannya datang, Darel mengambil minuman tersebut dan meminumnya. Darel juga mempersilahkan Lanna untuk minum.
Darel menatap Lanna tenang, tetapi serius. "Lanna, sekarang untuk kedua kalinya kita bertemu di meja ini. Kau masih ingat itu?" Tanya Darel.
"Ooh iyaa, Darel. Bagaimana aku lupa. Waktu itu aku kembali dari toilet kau sudah tidak ada. Aku telpon mencarimu tetapi kau tidak menerima panggilanku." Lanna menjelaskan tanpa curiga, Darel mengangguk.
"Sekarang aku mau bertanya dan kau harus menjawab dengan jujur. Apa yang kau lakukan dengan minumanku malam itu?" Darel menatap wajah Lanna, tetap tenang, tetapi fokus untuk melihat reaksinya. Hanya sesaat matanya panik dan kembali tenang.
"Aku tidak melakukan apa-apa terhadap minumanmu, Darel. Aku hanya pesan minuman yang kau minta." Ucap Lanna berusaha tetap tenang, tetapi jantungnya mulai dag dig dug.
"Lannaa, mungkin kau tidak mengenalku dengan baik. Aku tidak suka orang yang tidak jujur. Karena bagiku, orang yang tidak jujur itu seperti ular." Ucap Darel, terus menatap Lanna dengan tenang.
"Jadi sekali lagi aku memberikan kesempatan padamu untuk berkata jujur. Apa yang kau masukan ke minumanku malam itu?" Tanya Darel tenang.
"Benar, Darel. Aku tidak memasukan apa-apa keminumanmu. Aku bersumpah." Ucap Lanna sambil mengangkat dua jarinya untuk meyakinkan Darel. 'Kalau aku berkata sebenarnya, Darel pasti murka dan tidak akan bertemu denganku lagi. Aku tidak mau kehilangan dia.' Lanna membatin.
"Baiklah, kalau itu jujurmu." Darel memberikan kode untuk Mikha agar karyawan cafe datang ke mejanya. Ketika orang itu berdiri di samping meja dan menyapa Darel, Lanna membeku.
"Kau mengenal wanita yang ada di depanku ini?" Tanya Darel dingin kepada karyawan bar tersebut.
"Kenal, tuan. Wanita ini yang memasukan sesuatu ke minuman tuan beberapa waktu yang lalu." Ucap karyawan cafe, meyakinkan Darel.
"Dia berbohong, Darel. Bagaimana mungkin aku lakukan hal itu padamu. Aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu." Ucap Lanna masih mencoba mengelak.
"Wanita ini yang berbohong tuan. Dia memberikan uang kepada saya supaya diam, karena saya menegurnya ketika melihat dia memasukan sesuatu ke dalam minuman. Ini saya kembalikan uangmu, Nona. Saya mohon maaf tuan, tolong jangan pecat saya." Pinta karyawan cafe, sambil membungkukkan badannya.
"Dia yang berbohong dan memfitnaku, Darel. Mana mungkin aku mau mencelakaimu." Ucap Lanna mengelak lagi, sambil menyingkirkan uang dengan tangannya hingga berserakan di lantai.
...°-° Ketidak jujuran akan melahirkan sebuah kebohongan °-°...
"Karena kalian saling menuduh, berarti diantara kalian ada yang tidak jujur. Kalau begitu, kau kembali ke bar dan bawa laptop serta rekaman cctv malam itu kepadaku." Perintah Darel yang sudah geram, dan menatap kepada karyawan cafe. Mendengar itu, wajah Lanna langsung memucat.
"Eeeh, tidak usah." Ucap Lanna dengan suara bergetar sambil mencegah karyawan cafe itu melangkah. Darel tetap diam menanti apa yang akan di katakan oleh Lanna.
"Iyaa Darel, aku melakukannya. Karena aku menyukaimu, aku ingin bersamamu. Tolong maafkan aku." Ucap Lanna pelan, sambil memohon.
"Kau boleh kembali bekerja." Karyawan cafe itu membungkukan badannya memberi hormat dan berterima kasih. Ketika dia hendak memungut uang yang berserahkan di lantai, Darel melarangnya.
"Biarkan uang itu di situ dan mulai sekarang nikmati uang dari kerja yang benar." Ucap Darel.
"Baik, tuan. Terima kasih." Katanya lagi sambil membungkuk dan kembali ke bar.
"Dan untuk kau, aku pikir kau wanita baik-baik. Sehingga aku menjadikanmu teman. Aku bersedia membantumu dalam berbagai hal. Baik itu hidupmu maupun kariermu." Ucap Darel dan Lanna terdiam, menunduk dan mulai menangis.
"Tetapi apa yang kau lakukan padaku? Hapus air matamu, karena air matamu itu membuatku makin muak. Sekarang, silahkan ambil uangmu itu. Kalau uang itu kau dapatkan dengan cara yang tidak benar, nikmati saja sendiri. Jangan memberikannya kepada orang lain." Ucap Darel dingin.
Mendengar suara Darel, Lanna langsung memungut uang yang berserahkan di lantai dengan rasa malu dan air mata. Dia terus berpikir, bagaimana pun dia jangan terlalu jelek di mata Darel. Sehingga jika mungkin, masih bisa bertemu dengannya lagi.
"Darel, aku minta maaf. Sebenarnya bukan aku yang mau melakukan itu, tapi Baek menyuruhku melakukan itu. Dia bilang dengan cara itu aku bisa mendapatkanmu dan juga dia akan membuat lagu untukku. Aku telah salah menerima sarannya." Ucap Lanna sambil terisak.
"Sekarang kau bawah-bawah Baek? Kau tahu apa resikonya dengan ucapanmu itu, jika kau berbohong?" Tanya Darel sambil menatap Lanna tajam.
"Aku tidak berbohong, Darel. Aku bersedia bertemu dengannya atau aku bisa menelponnya sekarang." Ucap Lanna sambil mengambil ponselnya.
"Tidak perlu." Bentak Darel, membuat Lanna terkejut dan diam membeku.
"Dan juga, kau tidak perlu mengatakan kepada Baek bahwa kau sudah mengatakan hal ini kepadaku. Kau mengerti?" Tanya Darel sambil menatap Lanna tajam. Lanna mengangguk mengiyakan dalam diam. Karena dia baru pernah melihat wajah Darel yang begitu serius dan dingin.
"Maafkan aku, Darel." Ucap Lanna pelan penuh penyesalan. Dia sadar telah kehilangan Darel.
"Kau beragama bukan?" Tanya Darel, dan Lanna kembali mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu, jangan meminta maaf kepadaku, tetapi minta ampunlah kepada Tuhanmu. Karena kau sudah mempermalukan-Nya dengan perbuatanmu yang memalukan itu." Ucap Darel.
"Mulai dari saat ini, menyingkirlah dari hadapanku. Dan jika nanti bertemu denganku, kita tidak pernah kenal. Aku harap kau mengerti maksudku." Ucap Darel tegas dan dingin.
"Jika kau mencoba berulah lagi denganku, aku tidak segan-segan menjatuhkanmu dengan rekaman ini." Ucap Darel lagi, karena orang seperti Lanna tidak bisa dipercaya. Lanna tersentak dan baru menyadari kalau Cafe dalam keadaan sepi. Hanya mengalun permainan piano yang pelan. Ternyata Darel telah merekam semuanya.
Darel berdiri dan sebelum meninggalkan Lanna, dia berkata : "Ingatlah kata-kataku ini. Jika tujuanmu baik, lakukanlah dengan cara yang baik untuk mencapai tujuanmu. Karena sesuatu yang diperoleh dengan cara yang tidak baik, akan berakhir dengan cara yang tidak baik." Ucap Darel, lalu segera meninggalkan Lanna yang diam, tertunduk malu dan sedih.
...°-° Jika mulai berbohong, akan melahirkan kebohongan berikutnya dan akan berakhir memalukan °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...