
Kandara mendengar semuanya dengan hati yang tidak bisa dilukiskan.
"Baik, Dad.. Terima kasih sebelumnya." ucap Kandara, sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya. Dia merasa sedikit lega setelah melewati hal yang menegangkan.
Tetapi Kandara masih penasaran dengan Pak Jinwoo. Karena mereka pernah bekerja sama beberapa tahun yang lalu, dan setahu Kandara Pak Jinwoo orang yang baik.
"Mikha,, seperti yang aku bilang tadi, perusahaan tempatku bekerja beberapa tahun lalu pernah bekerja sama dengan perusahaan Pak Jinwoo. Sehingga kami pernah ke Korea. Sepertinya beliau dan perusahaannya berhubungan baik dengan perusahaan kami.
"Oooh iya, Dara.. sebelumnya Pak Jinwoo dipercayakan mengelolah perusahaan Inte'Q, tetapi beliau ketahuan melakukan penipuan dan menggelapkan uang perusahaan sehingga dipecat dan tidak lagi bekerja di sana." Ucap Mikha. 'Dan perusahan tersebut ada dalam tanggung jawabku saat ini' ucap Mikha dalam hati.
Darel hanya bisa tersenyum, saat Mikha menyebut nama perusahaan itu. Karena dia tahu, perusahaan Inte'Q adalah anak perusahan Daddynya.
"Oooh,, pantas sekarang beliau lebih sering berhubungan secara pribadi dengan kami, bukan melalui perusahaan." Kandara mengangguk mengerti.
Berapa saat kemudian, Toby menelpon.
"Allooo, Dara.. apakah benar yang kau katakan tadi.? Pak Jinwoo tadi marah sekali, dan beliau mengatakan kepada kami jangan percaya yang kau katakan. Beliau ingin membeli aplikasi kami berdua, tapi kami belum menyetujuinya. Kami tunggu persetujuanmu." Ucap Toby.
"Iyaa, Mas.. Tadi Dara mau telpon Mas Toby, tetapi Mas sudah menelpon duluan.. Yang Dara katakan itu benar., tunggu kabar dari Dara ya.,. Dara akan atur pertemuan dengan Jion Comp. agar kita presentasikan applikasi kita." Ucap Kandara meyakinkan Toby.
"Sekarang ini jangan perlihatkan aplikasi Mas Mala dan Mas Toby untuk Pak Jinwoo., beliau sekarang menjadi orang yang tidak baik. Nanti Dara jelaskan, detailnya. Sementara ini, Mas sabar yaa." Ucap Kandara.
"Baik, kami tunggu kabar darimu.. Kau cuti berapa lama.?" Tanya Pak Toby.
"Dara mau ambil cuti pajang Mas, karena ada urusan keluarga yang penting. Nanti selesai itu baru Dara jelaskan untuk Mas Toby dan Mas Mala." Ucap Kandara lagi.
"Baik, kalau ada apa-apa dan perlu bantuan, kabari kami." Ucap Toby.
"Baik, Mas.. makasi." Ucap Kandara dan mengakhiri pembicaraan dengan Toby.
Melihat Dara telah selesai menelpon, Darel mendekat.
"Dara,, kau istirahat dulu. Bilang Mama juga untuk istirahat, tidak usah menyiapkan makan malam. Karena kita akan makan malam di luar." Ucap Darel, tegas.
"Ooh, iya Darel., maafkan soal tadi. Pembicaraan kita jadi terganggu" Ucap Kandara, dan Darel mengangguk mengerti
"Tidak apa-apa, yang penting intinya sudah dibicarakan. Nanti malam baru kita bicarakan lagi." Ucap Darel, untuk menenangkan Kandara.
"Sebelum istirahat, kau tolong cek tempat yang privat dan reservasi untuk makan malam kita, yaa.. Tolong juga sewa mobil yang agak besar untuk kita gunakan ke tempat makan." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk mengerti.
Kandara segera mencari Mamanya untuk memberitahukan apa yang disampaikan Darel, agar Mamanya tidak memikirkan apa yang akan disiapkan untuk makan malam. Bu Selvine sedang duduk di tempat tidur sambil meluruskan kakinya.
Kandara menyampaikan apa yang dikatakan Darel.
"Mama,, karena kita tidak makan malam di rumah, jadi sekarang Mama pakai kesempatan ini untuk istirahat saja dulu, karena Mama sudah sibuk dari pagi." Ucap Kandara, mengelus lengan Bu Selvine.
"Kalau begitu, Mama akan ke butik sebentar untuk berbicara dengan Mba' Yanti. Jadi nanti Mba' Yanti yang akan mengurus butik Mama selama kita tidak di sini.." ucap Bu Selvine, Kandara mengangguk mengerti.
"Ooh iya, Dara,.. Sepertinya orang tua Darel bukan orang biasa, jadi kau harus berhati-hati dalam bersikap dan dengarkan baik-baik apa yang dikatakan mereka." Ucap Bu Selvine lagi., dan Kandara mengangguk mengerti.
"Iyaa Ma.., Dara mau pesan tempat untuk makan malam dan pesan mobil untuk nanti malam dulu., baru istirahat. Anak-anak sudah istirahat, alangka baiknya Mama istirahat juga." Ucap Kandara, dan Bu Selvine mengagguk.
"Mama ke butik sebentar saja, supaya besok tidak terlalu repot. Dan kau urus yang dikatakan Darel, lalu istirahat." Ucap Bu Selvine dan segera merapikan diri untuk pergi ke butik.
Kandara keluar kamar dan duduk di meja makan untuk googling. Dia mau mencari restaurant yang tidak jauh dan ada di lingkungan sekitarnya. Restaurant yang memiliki ruangan privat seperti kata Darel. Begitu pun dengan mobil yang agak besar yang bisa memuat mereka semua.
*- Setiap persoalan ada jalan keluarnya -*
*((**))*
"Dara, sedang apa.? Aku kira kau sudah beristirahat." Ucap Darel sambil duduk di sampingnya.
"Aku baru selesai bicara dengan Mama dan sekarang sedang mencari tempat seperti yang kau katakan tadi." Ucap Kandara menjelaskan.
"Ooh,, ok.. Mama sudah beristirahat.?" Tanya Darel, dan Kandara menggeleng.
"Mama sedang ke butik untuk mengatur dengan karyawannya. Biar besok tidak terlalu repot katanya." Jawab Kandara, dan Darel mengangguk mengerti.
"Ini, gunakan kartu ini untuk reservasi dan untuk pesan mobil." Ucap Darel sambil meletakan sebuah black card di hadapan Kandara.
"Jangan melihatku seperti itu, gunakan kartu itu untuk semua keperluan. Tidak usah berpikir kemana-mana." Ucap Darel melihat Kandara yang menatapnya dengan wajah berbagai tanya.
"Baiklah,, kalau begitu.. Thank u.." ucap Kandara sambil mengambil kartu di depannya. Darel mengusap kepalanya pelan dan berdiri.
"Kalau perlu apa-apa, aku dan Mikha ada di kamar tamu. Ada yang perlu kami kerjakan... Ooh iya., passwordnya tanggal pertemuan kita." Ucap Darel sambil berjalan meninggalkan Kandara yang hanya bisa mengangguk.
Kandara melihat black card yang ada dalam tangannya dengan takjub. Kandara mengingat ucapan Darel ketika di puncak saat itu, 'aku akan membuat kartu untukmu'. Darel benar-benar melakukan apa yang diucapkannya.
'Benar kata Mama; aku harus benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan Darel.' Kandara membatin.
Saat ini, kadang kita cendrung mengabaikan perkataan orang lain apalagi sebuah janji, karena sering kita jumpai kebanyakan orang sangat mudah mengucapkan kata-kata manis untuk menyenangkan hati orang lain. Atau mengucapkan janji yang muluk-muluk, tetapi tidak pernah ditepati.
Melihat apa yang dilakukan Darel, kita tahu di dunia ini masih ada orang baik yang bisa dipercaya. Kita juga bisa belajar menjadi pribadi yang baik, karena itu bukan saja membahagiakan orang lain, tetapi juga diri sendiri.
Ketika menemukan restaurant yang cocok, Kandara langsung reservasi dan memesan mobil dengan kartu yang diberikan Darel. Setelah itu, dia menyimpan kartunya baik-baik di dalam dompetnya dan istirahat di kamar Bu Selvine.
Ketika Bu Selvine pulang dan melihat Kandara masih tidur, beliau membangunkannya.
"Dara, bangun dan buatkan minuman hangat." Ucap Bu Selvine sambil menepuk lengannya pelan.
Kandara langsung bangun dan mengiyakan. Sambil merapikan rambutnya, dia menuju kamar tamu dan mengetuk pintu. Darel yang membuka pintu, dan terlihat mereka sedang bekerja.
"Darel, mau aku buatkan kopi atau teh.?" Tanya Kandara., dan Darel mengangguk.
"Boleh Dara ,, kopi yang ringan saja ya.. Thank u." Ucap Darel, dan Kandara segera turun untuk membuat kopi.
Beberapa saat kemudian, Kandara membawa dua cangkir kopi dan kue coklat buatan Bu Selvine dalam nampan untuk Darel dan Mikha.
Ketika turun dari kamar tamu dan melihat Pak Darpha keluar dari kamar, Kandara bertanya.;
"Daddy, mau Dara buatkan kopi.?"
"Boleh, Dara.. Kopi yang ringan saja,.." ucap Pak Darpha, sambil berjalan menuju ruang makan dan duduk di meja.
Kandara membuat kopi untuk Pak Darpha dan meletakan di depannya dengan sepiring kue coklat. Bu Richel yang baru keluar dari kamar meminta secangkir teh hangat dari Kandara.
Kandara membuat dua cangkir teh juga untuk Bu Selvine dan dirinya. Mereka menikmatinya dengan kue coklat. Pada kesempatan itu juga, Kandara menyampaikan bahwa makan malam mereka akan dilaksanakan di luar atas permintaan Darel.
Pak Darpha dan Bu Richel mengangguk mengiyakan. Ketika melihat kalung cantik di lehar Kandara, Bu Richel tahu itu dari Darel. Karena Darel menghadiakan kalung yang sama kepadanya, hanya liontinnya berbintang satu dan bintangnya lebih besar.
Bu Richel tersenyum mengingat malam pertunangan mereka. Pasti itu disediakan untuk acara pertunangan mereka, tetapi putranya tidak memberikannya. Bu Richel makin sayang dan bangga pada putranya.
*- Seorang anak yang menyayangi orang tuanya, bukan karena bisa memberikan hadiah yang indah,
tetapi bisa menjaga hati dan perasaan orang tuanya -*