
Mereka telah berada di Jalan Tol Jagorawi. Kendaraan yang menuju Puncak masih bisa dikatakan normal, karena belum terlalu padat. Mobil mereka masih bisa berjalan lancar.
Kandara berhenti sejenak di Rest Area, untuk membeli beberapa cemilan dan minuman untuk perjalanan mereka. "Mungkin ada yang mau ke toilet, silahkan, yaa..." Ucap Kandara setelah berhenti di Rest Area.
Karena tidak ada yang mau ke toilet, Kandara sendiri yang turun ke Mini Market untuk membeli yang dibutuhkan. Setelah mendapatkan yang dicarinya, Kandara keluar dari mini market untuk kembali ke tempat parkir. Tetapi betapa terkejutnya Kandara, ketika melihat Lucha sedang berjalan ke arah mini market dan Kandara tidak bisa menghindarinya. Kandara mencoba bersikap santai, ketika berjalan melewati Lucha.
"Waaah, selamat pagi wanita sombong. Mimpi apa aku semalam, sehingga bisa bertemu dengan orang murahan pagi ini?" Sindir Lucha menyakitkan, tetapi matanya tidak lepas dari wajah Kandara yang semakin cantik.
Telah berpisah sekian lama, Lucha belum bisa melupakan Kandara. Sudah berkali-kali pacaran dengan berbagai wanita, tetapi tidak ada yang seperti Kandara. Jika Kandara bersedia, dia mau menjadi suami dan Ayah bagi anak-anaknya. Tetapi untuk itu, terasa berat bagi Lucha, melihat sikap Kandara.
Walau hatinya sakit, Kandara diam tidak menanggapi sindiran Lucha. Dia terus berjalan melewati Lucha. Menyadari akan hal itu, Lucha menghentikan langkah Kandara dengan merai tangannya. Dia masih ingin berbicara dengan Kandara. "Heiii, kenapa buru-buru? Ini masih pagi." Ucap Lucha, dan tindakan Lucha membuat Kandara terkejut dan mengibaskan tangannya.
"Lepaskan Lucha." Tetapi Lucha tidak mau melepaskan tangannya. Dia tersenyum senang melihat wajah Kandara yang mulai memerah.
Darel terkejut melihat hal itu dari dalam mobil. Dia pakai masker dan hendak turun. Tetapi Bu Selvine mencegahnya, lalu memberikan kode kepada Efraim agar turun membantu Mommynya. Efraim turun dari mobil dan langsung berlari menemui Mommynya.
Melihat Efraim datang, Lucha segera melepaskan tangan Kandara dan berkata.
"Eeehh, ternyata ada anak yang tak berayah juga ikut." Ucap Lucha, sambil memegang tengkuknya. Padahal hatinya berharap anak-anak Kandara bisa menjadikannya sebagai ayah mereka. Namun dia tidak bisa mengontrol mulutnya. Hati dan mulutnya sering tidak kompak, ketika bertemu dengan Kandara.
"Haaa, kami tidak berayah? Memangnya kami Tuhan Yesus? Syukur, Om bukan suami Mommy kami." Ucap Efraim, sambil menggengam tangan Mommynya dan mengajaknya kembali ke mobil.
Mendengar ucapan Efraim, Kandara tersenyum sambil mengacak rambut anaknya. Dia bersyukur Efraim, datang membantunya. Kalau tidak, urusannya menjadi panjang. Kandara terus berjalan mengikuti Efraim sambil tersenyum.
Lucha terkejut dan makin kesal mendengar apa yang dikatakan Efraim. Dia tidak jadi masuk ke mini market, tetapi segera kembali ke mobilnya.
Darel melihat pria tadi masih terus memperhatikan Kandara dari mobilnya. Dia memakai masker dan rebennya. Darel langsung membuka pintu mobil dan turun mendekati Kandara dan Efraim.
"Aku sedang kesal, tetapi kenapa kau tersenyum?" Tanya Darel sambil menyenggol bahu Kandara pelan.
"Nanti tiba di tempat tujuan baru aku ceritakan." Ucap Kandara sambil memukul pelan lengan Darel.
"Ok, deal." Ucap Darel dan melakukan tos dengan Efraim, katanya: "Good job..!" Mereka kembali naik mobil untuk melanjutkan perjalanan.
Lucha yang melihat kejadian itu, jadi penasaran. 'Siapa pria yang ada di mobil Kandara?' Tanyanya dalam hati. 'Walau pun wajahnya tertutup masker dan kacamata hitam, tetapi orangnya terlihat sangat keren.' Batinnya lagi.
'Apakah Kandara telah memiliki kekasih atau itu adalah Ayah dari anak-anaknya?' Hatinya bertanya-tanya. Lucha makin penasaran, ingin mengetahui siapa pria yang bersama Kandara dan anak-anaknya. Lucha tidak mengetahui Bu Selvine ada juga bersama dengan Kandara di dalam mobil. Dia mengikuti mobil Kandara dari belakang dengan menjaga jarak, agar tidak kehilangan mobil Kandara.
*- Kebiasaan buruk yang dimanjakan, akan menjerat hidup seseorang -*
Setelah beberapa lama melakukan perjalanan, Efraim melihat ke belakang dan melihat mobil Lucha sedang mengikuti mereka. Hal itu membuatnya khawatir, karena mengingat apa yang dilakukannya tadi. Apalagi Daddynya sedang bersama mereka.
Mikha tahu, mobil itu terus mengikuti, karena Kandara berkali-kali melihat spion. Kandara tidak tenang dan cemas melirik Darel. Mikha justru mencemaskan Kandara, khawatir dia tidak bisa berkonsentrasi dalam mengemudi.
Mikha berharap, Darel tidak memperhatikannya. Ternyata Darel juga memperhatikan di spion, mobil Lucha yang terus mengikuti mereka sejak keluar dari Rest Area. Hal itu membuatnya kesal dan marah. "Dara... Kalau di depan nanti ada Rest Area, tolong berhenti." Ucap Darel, tegas.
"Tidak usah Dara, jalan terus saja." Ucap Mikha, karena dia tahu Darel sudah mulai marah. Dia memberikan kode di kaca spion untuk Kandara tidak berhenti.
"Mikhaaa..." Teriak Darel emosi, menganggapi ucapan Mikha.
"Yaa, sayang..." Jawab Mikha, sengaja untuk menurunkan emosi Darel. Sontak mereka semua tertawa.
Darel tetap diam, tidak tersenyum atau tertawa mendengar candaan Mikha. Pikirannya masih tertuju kepada pria di dalam mobil yang sedang membuntuti mobil mereka. Dia merasa terganggu dengan apa yang dilakukannya dan ingin menyelesaikan.
Darel khawatir Kandara terganggu konsentrasinya, sehingga bisa terjadi sesuatu dengan mobil yang mereka tumpangi. Melihat diamnya Darel, Kandara menyadari Darel dalam mood yang tidak baik. Dia sedang kesal dan marah, karena mengetahui mobil Lucha yang terus saja mengikuti mobil mereka.
Kandara menarik nafas dalam menghembuskanya pelan dan berusaha tenang. Agar sikapnya tidak ikut menambah dan memperburuk suasana hati Darel.
Kandara terus berpikir, bagaimana caranya agar bisa lolos dari situasi ini. Dia sudah beberapa kali melewati mobil yang ada di depannya, tetapi Lucha juga melakukan hal yang sama.
Dia tidak ingin peristiwa ini menganggu suasana hati anak-anak dan Darel. Ini adalah liburan pertama mereka sebagai keluarga yang utuh. Dia berharap ini bisa menjadi moment yang indah bagi mereka sekeluarga. Dia sangat berharap, liburan ini bisa berlangsung dengan tenang dan damai.
Situasi ini berlangsung terus sampai mereka keluar dari Tol. Kandara tidak bisa ngebut karena kondisi tubuh dan juga padatnya kendaraan. Padahal dia ingin mereka bisa menikmati perjalanan ini dengan baik dan senang.
Tinggal beberapa meter lagi mereka akan belok masuk ke jalan kecil menuju villa. Kandara tidak ingin Lucha mengetahui tempat tinggal mereka.
Dia akan menjadi biang pengacau, atau bisa berhadapan dengan Darel.
Kandara merasa bersalah, melihat Darel yang terus diam dengan wajah memerah. Kelihatan jelas karena warna kulitnya seperti gading, bersih sangat merah.
Ketika melihat ada tempat makan di depan, Kandara mendapat ide. Dia memperlambat mobilnya seakan-akan hendak mencari tempat parkir untuk makan. Melihat itu, Lucha langsung ambil tempat parkir paling ujung yang kosong. Pikirnya Kandara akan istirahat atau mau makan.
Melihat itu, Kandara langsung menjalankan mobilnya dengan kencang. Beberapa saat kemudian, mobilnya belok kiri ke jalan kecil dan masuk ke area parkir villa. Kandara langsung menghembuskan nafasnya lega. Begitu pun dengan semua yang duduk di kursi belakang. Darel hanya tersenyum tipis, saat menyadari yang dilakukan oleh Kandara.
Mikha dan anak-anak di belakang tersenyum dan mentautkan jari mereka. Terutama Mikha yang sangat mengenal Darel. Jika ada yang mengganggunya, dia tidak segan-segan atau berlama-lama membereskannya.
*- Jangan biarkan gangguan yang dapat merusak ketenangan dan kebahagiaan -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡