
Di ruang programmer ke esokan harinya, Toby sedang berada di ruangan Pak Ari untuk membicarakan rencana pernikahan dan pengajuan cuti panjangnya.
Sedangkan Kandara duduk di meja kerjanya dengan hati was-was. Karena dia tahu apa yang sedang dibicarakan oleh Toby. Dia berdoa, berharap Toby bisa mendapakan cuti, karena mereka sedang sibuk mengerjakan proyek kejar tayang.
"Dara. Kenapa Toby, lama sekali di ruangan Pak Ari?" Tanya Mala penasaran. Menurut Mala, kalau hanya urusan kerjaan, tidak perlu terlalu lama. Karena proyek yang mereka kerjakan belum ada yang selesai. Atau ada yang bermasalah, sehingga membutuhkan bantuan Pak Ari.
Sebelum Kandara menjawab, Toby telah keluar dari ruangan Pak Ari sambil mengusap wajahnya dan tersenyum tipis. Karena dia bisa mengambil cuti yang agak lama.
"Tobiiaass, ngapain lama-lama di dalam. Bertelurrr?" Tanya Mala, saat melihat Toby keluar dan jalan ke mejanya.
"Mengeraaamm." Jawab Toby singkat.
"Astagaaa. Sejak kapan, kau berubah jadi ayam?" Tanya Mala, sambil melempar kotak tissu yang ada di mejanya ke arah Toby dan Toby menangkapnya.
"Sejak di pikiranmu, aku bisa bertelur." Jawab Toby, sambi melepar kembali kotak tissunya ke arah Mala. Semua yang ada dalam ruangan tertawa. Mala ikut tertawa sambil menangkap kotak tissunya.
"Teman-teman. Nanti istirahat siang, ngga usah keluar makan siang di luar, ya. Kita makan di sini saja, aku sudah pesan makan siang untuk kita." Ucap Toby, sambil melihat teman-temannya.
"Horeee... Terima kasih, Mas Toby." Ucap yang ada di ruangan dengan riang, kecuali Mala dan Kandara. Mala menatap Toby dengan berbagai tanda tanya. Sedangkan Kandara menatap Toby dengan hati yang lega. Karena dia tahu, berarti Toby sudah diijinkan cuti.
Melihat wajah dan dahi Mala berlipat, Toby menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ada apa dengan wajahmu, Malakaaa...?" Tanya Toby, sambil tersenyum dalam hati.
"Seharusnya aku yang bertanya, ada apa denganmu Tobiiaas...?" Mala balik bertanya.
"Jawabannya setelah makan siang. Lekas coding." Ucap Toby sambil mengibaskan tangannya dan menunjuk laptop Mala.
"Dara. Nanti pesanan makanannya datang, tolong dibantu, yaa. Yang ada sticker merah, itu punya Mala." Ucap Toby, tersenyum. Kandara mengangguk mengiyakan dengan wajah tersenyum.
"Kau mau membuatku, mures-mureess." Ucap Mala, emosi.
"Ngga, supaya kau irit ngomong, karna kepedesaann." Ucap Toby, cuek.
"Awass yaa, kalau benaran." Ucap Mala, sambil mengepalkan tangannya ke arah Toby.
Beberapa saat kemudian, sebelum waktu makan siang, makanan yang dipesan Toby telah diantar. Kandara mengambilnya dan membaginya dibantu Rina dan Yeni. Kandara mengantar satu kotak ke ruangan Pak Ari.
"Selamat makan semua." Ucap mereka semua bersamaan. Mala tersenyum, karena kotaknya sama dengan yang lain. Toby pura-pura tidak melihat Mala yang melihatnya, saat menerima kotaknya.
Setelah semua telah selesai makan dan membersihkan meja mereka masing-masing, Toby berdiri dan melihat mereka satu persatu.
"Makasi, sudah makan dengan cepat, jadi masih ada sisa waktu istirahatnya." Ucap Toby, tersenyum sambil mengusap wajahnya.
"Toby, kenapa kau berdiri membelakangiku? Mundurr, sebelum kutimpuk." Ucap Mala, protes. Toby ikut mundur, sebelum kehabisan waktu istirahat. Karena berbalas kata dan kalimat dengan Mala.
"Begini, teman-teman. Aku minta maaf sebelumnya, karena ngga bisa ngundang kalian ke acara pernikahanku." Ucap Toby pelan. Satu ruangan langsung diam terpaku. Mereka menatap Toby dengan wajah tidak percaya. Mala langsung berdiri dan menepuk pipi Toby bolak-balik.
"Tobiiaas, kau ngga salah makan, kan?" Tanya Mala.
"Makanku, sama denganmu. Jadi duduk dan dengar dulu. Ini aku lagi serius." Ucap Toby.
"Begini teman-teman. Mengapa aku tidak mengundang kalian, karena aku menikahnya di Jogja. Calon istriku orang sana." Ucap Toby.
"Tobiiaass... Mala langsung berdiri karena terkejut. Dia menyangka akan menikah dengan Kandara. Mala tahu, Toby diam-diam menyayangi Kandara. Mendengar itu, Yeni juga terkejut dan malu sendiri dengan pikirannya.
"Mala, sebentar. Aku selesaikan ini dulu." Ucap Toby sambil meminta Mala duduk.
"Aku tidak mengundang kalian, bukan saja karna jauh. Tetapi kita lagi banyak kerjaan yang kejar tayang. Sedangkan cutiku agak lama. Dan terutama juga, ketika melihat kalian, aku tidak bisa konsentrasi untuk acaranya. Jadi mohon pengertiannya." Ucap Toby lagi.
Mala menutup laptopnya dan mendekati meja Kandara. "Dara, mari kita keluar cari minuman dingin. Ususku sedang panas." Ucap Mala dengan wajah serius, sambil mengajak Kandara keluar ruang kerja.
Melihat wajah Mala yang serius, Kandara menutup laptopnya dan mengikuti Mala keluar ruangan. Mereka berdua berjalan menuju kantin.
Toby bernafas lega telah menyampaikan semuanya. Dan juga lebih lega lagi, tadi malam sudah bicara dengan Kandara. Entah apa jadinya, jika belum. Mala dan Kandara akan keluar ruangan dengan hati dan wajah yang tidak bisa dilukiskan. Jadi saat ini, hanya perlu menghadapi Mala saja. Toby tahu, Mala tidak akan lama marah padanya.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Mala dan Kandara sudah berada di kantin. "Dara, duduk sebentar. Aku mau bicara sebentar denganmu." Ucap Mala, sambil mengajak Kandara duduk.
"Bagaimana pendapatmu tentang apa yang dikatakan Toby? Apakah kau tidak mau menghadirinya? Kalau kau mau, aku ngga papa." Ucap Mala, karena dia menyadari ada kedekatan diantara Kandara dan Toby. Dan itu hanya mereka yang tahu.
"Aku ngga papa, Mas. Walaupun terkejut, aku berharap kita dapat mengerti dan mendukung keputusan Mas Toby. Aku ngga bisa menghadiri karna bukan saja pekerjaan, tetapi juga anak-anak masih kecil." Ucap Kandara pelan.
"Mari kita mendukung keputusannya, karna aku tahu Mas Toby bisa berbicara seperti tadi kepada kita, itu berat baginya. Dia pasti ingin kita ada bersamanya, mendukunya di hari spesial baginya."
"Tetapi ada pertimbangan yang hanya Mas Toby tau, sehingga memilih putuskan seperti itu. Mungkin yang lain tidak terlalu berpengaruh, tetapi dukungan Mas Mala sangat berarti bagi Mas Toby."
"Aku pun berharap, Mas Mala bisa membuat Mas Toby menjalani keputusannya dengan hati yang tenang." Ucap Kandara panjang dan lebar.
Kandara tahu, Mala sedang mengkhawatirkan dia juga. Sehingga dia harus menunjukan bahwa dia telah menerima keputusan Toby.
"Kalau kau sudah bilang begitu, aku menjadi lega. Mari kita kembali ke ruangan. Sebelum waktu istrirahat berakhir." Ucap Mala sambil berjalan ke kasir untuk membeli juice dan soft drink.
"Mas, tolong bawa ini ke ruang programmer, ya." Ucap Mala, meminta tolong pelayan kantin. Karena dia membeli juice dan soft drink dingin untuk semua yang ada di ruangan.
Mala dan Kandara masuk ke ruang programmer diikuti oleh pelayan kantin. "Teman-teman, itu minumannya. Aku yang traktir." Ucap Mala sambil berjalan mendekati meja Toby dan meletakan sebotol soft drink dingin di atas meja Toby. Melihat yang dilakukan Mala, Toby tersenyum dalam hati.
"Setelah pulang kantor, aku akan mentraktirmu makan malam." Ucap Toby sambil memukul bahu Mala, senang. Dia yakin, Mala bisa menerima keputusannya.
"Aku akan pesan makanan yang mahal, biar kau bangkrut." Ucap Mala, balik balas meninju bahu Toby.
"Aku akan bangkrut, jika perutmu itu panci bocor." Ucap Toby tersenyum. Mala dan Kandara juga ikut tersenyum. Begitu pun dengan yang lain karena melihat mereka telah tersenyum.
Toby mengirim pesan kepada Kandara dengan huruf kapital. "THANK U". Toby yakin, tadi mereka telah berbicara di kantin. Dan Kandara pasti telah membuat Mala bisa menerima keputusannya.
*- Sebuah dukungan tulus dari orang terdekat, mampu membuat hati berbunga -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡