
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Mini Album Melo akan dirilis pada pertengahan bulan Oktober. Hal ini membuat member Melo harus bekerja keras untuk mempersiapkan comeback mereka. Karena ini adalah tahun kelima Melo berkarier.
Ada enam lagu yang akan mereka nyanyikan dalam Mini Album tersebut. Dengan demikian untuk tiga bulan ke depan mereka akan sangat sibuk untuk berlatih lagu, koreografi, pembuatan MV dan lain sebagainya. Seperti biasanya, saat comeback.
Para Manager member telah mengatur dan menyesuaikan schedule para member dengan Manager Melo. Agar schedule mereka bisa berjalan dengan baik dan tidak berbenturan.
Beberapa waktu kemudian, setelah selesai latihan, Darel menghubungi Pak Yoon seperti yang pernah dimintanya. Mereka sepakat akan bertemu di salah satu restaurant di Relkha Mall.
"Mikha, tolong reservasi di salah satu restaurant di Relkha Mall untukku malam ini, ya. Aku akan bertemu dan makan malam dengan Pak Yoon." Ucap Darel ketika menghubungi Mikha.
"Ok, aku akan reservasi di Relkha Restaurant." Ucap Mikha.
"Baik, thank u." Ucap Darel, dan mengakhiri pembicaraan mereka.
Kemudian Darel mengirim pesan kepada Pak Yoon untuk memberitahukan tempat pertemuan mereka. Setelah selesai latihan, Darel mendekati Asistennya.
"Hyun, nanti tolong antar saya ke Relkha Mall, ya. Saya mau bertemu dengan Pak Yoon." Ucap Darel kepada Asistennya. Sedangkan Managernya sedang ada meeting dengan Manager Melo.
"Baik, tuan muda." Ucap Hyun sambil membungkuk. Manager Darel hanya mengurus semua kegiatan Darel yang berhubungan dengan Melo. Sedangkan asistennya mengurus semua kegiatan Darel diluar kegiatan Melo, termasuk bisnisnya.
"Hyun, tidak usah menunggu saya. Kau langsung pulang saja, saya akan menghubungimu besok pagi." Ucap Darel setelah mereka tiba di Relkha Mall. Darel memakai maskernya sebelum turun dari mobil.
Darel tiba di Relkha Restaurant sebelum Pak Yoon, hal itu melegakan hati Darel. Ketika bertemu dengan Pak Yoon, mereka membicarakan tentang lagu yang telah ditulis oleh Darel.
"Darel, ada yang ingin mendengar lagu yang telah kau tulis, mereka mau menggunakannya untuk Idol mereka. Bagaimana menurutmu?" Ucap Pak Yoon sambil menunggu makan malam mereka disajikan oleh pelayan.
"Saya belum berpikir ke arah sana, Pak Yoon. Tetapi nanti kalau sudah ada keputusan, saya akan menghubungi Pak Yoon." Ucap Darel.
"Baik, kalau begitu. Mengenai lagu utama yang akan di bawakan Melo apakah kau sudah mendengarnya?" Tanya Pak Yoon.
"Sudah, Pak Yoon. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki oleh Baek agar lagu itu bisa dibawakan oleh Melo." Ucap Darel menjelaskan.
"Dan kau pasti akan bantu memperbaikinya." Ucap Pak Yoon tersenyum, Darel pun ikut tersenyum. Pak Yoon tahu Darel akan membantu, karena memiliki hati yang baik dan juga demi kebaikan Melo.
Ketika mereka sedang menikmati makan malam yang telah disediakan oleh pelayan, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara yang menyapa mereka.
"Selamat malam Pak Yoon." Sapa Lanna.
"Apa kabar Darel." Ucap Lanna dan hendak mencium pipi Darel.
"Jaga sikapmu, Lanna." Ucap Darel sambil menarik kepalanya dan menatap tajam Lanna.
Melihat wajah Darel, Pak Yoon menyadari kalau Darel tidak nyaman dengan kehadiran Lanna.
"Pak Yoon, mari kita selesaikan makan malam ini." Ucap Darel tidak peduli akan kehadiran Lanna. Darel bersyukur dalam hati, karena Mikha mereservasi meja dan kursi tunggal untuknya.
Lanna yang masih ingin berbicara dengan Darel berusaha berbagai cara. "Saya ada rencana mau bertemu dengan Pak Yoon, tahunya bisa bertemu di sini. Pak Yoon tidak keberatan kan, kalau saya bergabung di sini?" Tanya Lanna sambil hendak memanggil pelayan restaurant untuk meminta kursi tambahan. Tanpa menunggu persetujuan dari Pak Yoon.
"Tidak usah menambah kursi. Silahkan duduk di sini, karena saya sudah selesai makan." Ucap Darel sambil meletakan sendok dan garpunya.
"Pak Yoon, saya pamit, ya. Nanti kita atur waktu lagi untuk membicarakan lagu Melo." Ucap Darel lagi, sambil memakai maskernya dan berdiri, kemudian membungkuk kepada Pak Yoon.
Pak Yoon yang kebingungan dalam situasi itu, juga ikutan berdiri. "Baik, Darel. Nanti kita bicarakan lagi. Saya juga sudah selesai makan. Maaf Lanna, nanti hubungi saya saja untuk atur pertemuannya." Ucap Pak Yoon sambil berjalan menyusul Darel.
Setelah berjalan berdampingan dengan Darel keluar restaurant, Pak Yoon katakan : "Darel... Berhati-hatilah! Wajah tampan dengan berbagai kebisaan di dunia musik adalah karunia yang tidak semua orang miliki. Itu bisa melambungkanmu tinggi, tetapi bisa juga menjatuhkanmu." Nasehat Pak Yoon sambil menepuk pundak Darel pelan. Beliau bisa mengetahui tujuan Lanna, ketika datang menemui mereka tadi.
"Terima kasih untuk nasehatnya, Pak Yoon." Ucap Darel sambil membungguk hormat dan mereka saling memberikan salam untuk berpisah.
Lanna terkejut dan kesal ketika diperlakuan demikian. Dia adalah seorang artis penyanyi yang cukup terkenal. Banyak orang yang rela antri berjam-jam untuk bisa bertemu dengannya. Tetapi ini ditinggalkan begitu saja.
Lanna memandang sekeliling, khawatir ada yang melihat hal tersebut. Karena jika ada yang melihat, sangat memalukan. Apalagi saat ini dia sudah melepaskan maskernya.
Ketika melihat Pak Yoon dan Darel yang masih melanjutkan pembicaraan mereka di depan restaurant, Lanna langsung menghentakan kakinya dengan kesal.
Sangking keras hentakan kakinya, membuat hak sepatunya patah. Akhirnya dia harus menelpon Managernya supaya membawa sepatu untuknya, agar dia bisa keluar dari restaurant.
Saat keluar dari restaurant dan disusul oleh Pak Yoon, Darel menyadari, Lanna sedang memperhatikannya. Hal itu membuatnya, semakin muak. Darel langsung menelpon Mikha untuk menanyakan posisinya. Ketika mengetahui Mikha masih di kantor, Darel pergi menemuinya.
Darel langsung ke ruang kerja Mikha, karena di ruang kerjanya ada sofa yang nyaman. Mereka bisa duduk dengan santai untuk bercerita atau berdiskusi.
Setelah mereka bertemu dan Mikha melihat wajah Darel yang tidak happy, Mikha tahu ada sesuatu yang membuat Darel kesal. Wajah Darel selalu melukiskan semua rasa hatinya.
"Ada apa denganmu? Apakah pertemuanmu dengan Pak Yoon mengecewakan?" Tanya Mikha yang merasa heran.
"Tidak. Tadi kami berbicara dan makan malam dengan tenang dan baik, sebelum ularnya datang." Ucap Darel sambil meneguk air mineral yang disediakan Mikha.
Mendengar ucapan Darel, Mikha memastikan yang dipikirkannya. "Maksudmu, tadi kau bertemu dengan Lanna di restaurant?" Tanya Mikha, seakan tidak percaya.
Darel mengangguk mengiyakan. "Iyaa, dia datang saat aku dan Pak Yoon lagi makan dan...." Darel menceritakan semua tentang pertemuan tersebut. Mikha menatap Darel semakin heran.
"Astagaaa, Seoul begini besar dan banyak restaurant di Relkha Mall, ko' bisa bertemu dengannya di sana. Dia benar-benar tidak tahu malu. Jadi sekarang, kau sudah tahu betapa nekatnya dia mendekatimu bukan?" Tanya Mikha, menyakinkan Darel.
"Berbagai cara dia akan lakukan untuk bisa mendapatkanmu. Apa kau akan terus diam saja dan tidak mengambil tindakan terhadapnya?" Tanya Mikha lagi, dan sedikit mendesak karena kesal.
"Sebagaimana yang pernah kukatakan, aku akan melihat. Apakah dia masih berani menunjukan wajahnya di depanku atau tidak." Ucap Darel.
"Ternyata bukan saja dia berani menunjukan wajahnya, tetapi berusaha menciumku." Ucap Darel sambil menggelengkan kepalanya tidak percaya. Lanna benar-benar nekat dan tidak tahu malu.
...°-° Menunda sesuatu yang sudah pasti menyakitkan, ibarat membiarkan bisul tanpa diobati °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...