
Pak Darpha melanjutkan ketika melihat Kandara dan anak-anaknya diam, menyimak.
"Granpha tidak bermaksud merendahkan Oma dan Mommy. Yang Grandpa maksud, adalah apa yang Grandpa dan Grandma miliki, yang bisa kalian nikmati." Ucap Pak Darpha lagi.
"Walaupun Daddy kalian hidup dalam kemewahan, dia tidak pernah menganggap itu suatu keistimewaan. Dia hidup dan berperilaku seperti orang lainnya. Bergaul, berbaur dengan orang lain, tanpa melihat status sosialnya." Ucap Pak Darpha.
"Daddy kalian lebih suka naik trasportasi umum ke sekolah, atau taksi kalau lihat Grandma sudah mulai khawatir."
"Grandpa harus mengacam tidak usah sekolah, kalau tidak mau diantar jemput ke sekolah. Akhirnya dia menerimanya, tetapi dengan syarat, sopir harus menurunkan atau menjemput dia jauh dari sekolah. Karena dia tidak mau teman-temannya mengetahui bahwa dia dari keluarga berada."
"Bahkan dia bisa menghidupi dirinya sendiri semenjak di bangku sekolah menengah, karena dia sudah menjadi Idol."
"Kalau Grandpa tidak berkeras untuk membiayai kuliahnya, dia akan membayar kuliahnya sendiri." Cerita Pak Darpha, sambil teringat bagaimana bersitegang dengan Darel.
"Selama karier Idolnya, tidak ada yang tahu bahwa dia adalah anak Grandpa.
Suatu saat,, sesama Idol memiliki kedaraan yang bagus, dia tetap santai dengan mobilnya yang biasa."
"Sehingga Grandpa pernah marah, menyuruh mereka memakai mobil di rumah atau Grandpa beli mobil yang baru. Mereka bilang., lagi senang dengan mobil mereka yang mereka beli sendiri. Kalau mobil mereka yang sekarang, itu baru mereka beli hampir setahun yang lalu." Ucap Pak Darpha sambil tersenyum.
"Jadi semua yang dia miliki bukan karena orang tuanya kaya, tetapi dia perjuangkan sendiri. Dia mengatur hidupnya dengan baik, karena Grandma mendampinya dengan baik."
"Dia mengatur keuangannya juga dengan baik. Tidak sembarang saja membelanjakannya. Kalau dia mau, dia bisa beli mobil seperti yang kalian pakai tadi. Tapi untuk apa, dia tahu orang tuanya punya dan setiap saat dia bisa menggunakannya."
"Tetapi dia tidak pernah menggunakan semua yang bukan dia beli sendiri, dengan sesuka hati. Padahal apa yang Grandpa punya, itu juga milik mereka berdua."
"Tetapi dia akan minta ijin atau bertanya kepada Grandpa: 'Daddy, Darel pakai mobil, ya..' Daddy kalian membuat garis batas yang jelas, tidak sembarang atau sesuka hatinya.
"Dan pasti semua orang tua akan katakan anak mereka baik. Kami pun mengatakan anak kami baik. Kami bersyukur dia berkecimpung di dunia musik begitu lama, dia tidak terlibat minum keras dan narkotika atau pergaulan bebas yang menjerumuskannya."
"Itu adalah kebahagiaan kami sebagai orang tua. Karena banyak Idol yang terjerumus ke hal yang negatif, karena dunia mereka sering bersinggungan dengan hal-hal yang mengkhawatirkan."
"Darel juga seperti anak lelaki biasanya,,. Yaaa.., mau dibilang nakal.., mungkin. Karena dulu masih sekolah, Grandpa sering menyuruh Asisten untuk membereskan persoalannya di kantor polisi karena berkelahi. Seringnya karena persoalan Mikha. Kalau ada yang mengganggu Mikha, yaaa . , ujung-ujungnya babak belur."
"Entah dia yang babak belur, atau lawannya. Lebih seringnya, Grandpa harus membayar biaya Rumah Sakit lawannya." Ucap Pak Darpha sambil tersenyum mengingat masa kecil dan remaja Darel.
"Saat itu sangat mengkhawatirkan kami, tetapi sekarang ketika mengingat semua yang dilakukannya bisa membuat kami tersenyum." Pak Darpha terus mengingat masa kecil dan remaja kedua putranya.
"Darel dan Mikha itu dua pribadi yang berbeda. Mikha lebih sabar, kalau Darel, tidak. Dia tidak akan diam jika merasa tergannggu atau ada yang mengganngu orang di sekitarnya." Ucap Pak Darpha.
Bu Selvine mengingat peristiwa di Rest Area Tol Jagorawi. Ketika Lucha mencoba mengganggu Kandara. Bu Selvine makin memgerti Darel, begitu juga dengan Kandara. Dia mengingat peristiwa ketika mobil Lucha mengikutinya.
Tiba-tiba Bu Richel memotong pembicaraan Pak Darpha.
"Maaf Grandpa,, kalau soal Mikha sabar, mungkin hanya untuk Darel. Di depan Darel, Mikha akan sangat sabar, untuk meredam amarah Darel. Karena dia tahu, Darel tidak segan-segan beradu dengan orang lain."
"Oooh,, Mommy tau dari siapa.?" Tanya Pak Darpha terkejut.
"Dari para member Idol itu, kalau mereka menelpon Mommy untuk mencari Darel mommy bilang,; hubungi saja Mikha. Mereka bilang,; tidak usah, lebih baik mereka menunggu Kak Darel saja untuk berbicara dengannya." Ucap Bu Richel lagi, Pak Darpha terkejut mendengar yang dikatakan Bu Richel.
*- Setiap orang tua yang baik, mengenal anaknya dengan baik -*
"Sebagaimana tadi Grandpa katakan.. Daddy kalian tidak sempurna, karena tidak ada manusia yang sempurna. Tetapi kalian bisa belajar, mengambil hal yang baik dari Daddy kalian. Sebagaimana Daddy kalian belajar dan mengambil hal yang baik dari Grandpa."
"Grandpa tahu,, hidup Efra dan Efri akan berbeda dengan Daddy kalian.
Kalau Darel bisa menyembunyikan identitasnya sebagai anak kami sampai dia dewasa. Beberapa tahun lalu, publik baru mengetahui Darel adalah anak kami."
"Tetapi kalau untuk kalian berdua, Darel sendiri yang akan membukanya kepada publik. Grandpa sangat yakin itu,., oleh sebab itu tetaplah rendah hati. Jangan sampai kalian sombong dengan keberadaan Daddy kalian." Ucap Pak Darpha serius, sambil memandang Efraim dan Efrima.
"Saya tidak tahu, seberapa banyak kalian mengenal Darel. Saya berharap, anak cucu kami bisa hidup dengan baik, dan bisa melakukan banyak kebaikan untuk banyak orang. Karena kebaikan itulah ujud dari kasih yang bertahan lama."
"Sebagaimana Grandpa,, Daddy kalian kerja keras sampai sekarang, bukan untuk diri sendiri. Tetapi untuk banyak orang yang ikut bersamanya. Dia berusaha agar mereka bisa dalam keadaan baik."
"Jadi Bu Selvine, kalau dia bisa mengurusi banyak orang dengan baik, apalagi istri dan anak-anaknya. Dia pasti akan mengutamakan mereka." Ucap Pak Darpha, dan Bu Selvine mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
"Daddy juga berharap untuk Dara, pengertian dua kali lipat dari istri pada umumnya, agar ketika dia lagi lelah jangan tambahkan dengan persoalan yang sederhana atau bisa Dara selesaikan sendiri."
"Deddy bicara begini karena kalian belum lama bersama. Mungkin Dara belum terlalu mengenalnya. Tetapi Daddy percaya, Dara bisa mensupportnya."
"Daddy sangat berharap banyak kepada Dara, karena sebagaimana Daddy. Kami bisa seperti begini, karena ada Mommy di samping Daddy. Bukan lihat kekayaannya, tetapi pengertian, saling memahami dan saling percaya. Kekayaan ini adalah bonus yang Tuhan berikan bagi kami."
"Kalau Mommy, mungkin seperti istri kebanyakan pada umumnya. Jika terjadi sesuatu, bisa hubungi Daddy kapan saja untuk dibicarakan dan membuat keputusan bersama."
"Sangat berbeda dengan Dara, ada saatnya Darel tidak bisa dihubungi atau lambat responnya dan Dara harus putuskan sendiri. Jadi bijak-bijaklah bersama anak-anak." Ucap Pak Darpha, sambil menatap Kandara.
"Daddy yakin, Darel sedang berusaha menjadi suami dan Daddy yang baik bagi anak-anak." Ucap Pak Darpha, Kandara dan anak-anak mengangguk dengan air mata tergenang.
"Terima kasih, Daddy.., Mommy." Ucap Kandara terharu. Kedua anaknya ikut terharu dan menyandarkan kepala ke lengan Kandara.
"Setelah mereka mulai berkarier, saat inilah waktu bersama kami dengan mereka yang terbanyak. Kami bersyukur sudah ada Dara dan anak-anak. Kami sempat khawatir, apakah mereka memikirkan untuk berkeluarga., melihat kesibukan mereka." Ucap Pak Darpha, sambil tersenyum dan menarik nafas lega.
"Grandpa kira, cukup dulu, nanti besok kita berbicara lagi." Ucap Pak Darpha., melihat mata kedua cucunya yang mulai redup.
"Iyaa, nanti besok kita bicarakan tentang hari pernikahan kalian., Dara. Biar cepat selesai, supaya bisa mengatur yang lain lagi. Jadi sekarang mari kita istirahat, supaya besok kita bisa segar." Ucap Bu Richel, menyetujui yang disampaikan Pak Darpha.
Bu Selvine, Kandara dan kedua anaknya mengangguk, kemudian berdiri sambil mengucapkan salam.
*- Setiap orang tua akan bercerita dengan bangga tentang anaknya yang membanggakan hati -*