Me And You For Us

Me And You For Us
Shopping.



Ketika telah di kamar mandi, Kandara takjub melihat kamar mandi Darel. Kamar mandinya lebih mewah lagi dari kamar mandi di kamar tamu.


Kandara mencoba airnya dan memang agak panas. Kemudian dia menambah airnya dan sabun., Kandara merendam tubuhnya. Sangat nyaman., bisa membuatnya tertidur. Kandara segera membersihkan tubuhnya dan keluar kamar mandi.


Entah sudah berapa lama Kandara di kamar mandi, karena keluar kamar mandi, dilihatnya Darel telah tertidur. Kandara perlahan naik ke tempat tidur, berdoa dan berbaring di samping Darel. Entah sudah berapa lama Darel tertidur.


Ketika menggerakan tubuhnya, Darel merasakan ada yang menghalangi gerakan tangannya. Dia membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadarannya, dan melihat Kandara yang tidur di sampingnya.


'Aku pasti ketiduran.' Darel membatin.


Darel menaikan selimut dan balik memeluk Kandara dengan sayang. 'Sekarang kau telah di kamarku, tidak lama lagi kau akan menjadi milikku.' Darel membatin sambil tersenyum, dia kembali memejamkan matanya.


Ketika matahari bersinar terang dari balik tirai kamar Darel, Kandara membuka matanya perlahan dan mengumpulkan kesadarannya. Dia melihat Darel sedang tertidur pulas sambil memeluknya. Kandara bersyukur, telah bangun dalam baik dan sehat.


Dia merapikan rambut Darel yang ada di dahinya dan memandangnya puas.


"Sudah puas memandangku., mmmm..?" Ucap Darel sambil memeluk Kandara erat. Darel telah bangun ketika merasakan gerakan tubuh Kandara.


"Morniiing." Ucap Darel sambil mencium kepala Kandara.


"Morniiing." Ucap Kandara, tersenyum malu. Dia tidak menyangka Darel telah bangun.


"Darel,.. ayooo bangun. Aku mau turun tapi belum tahu jalan ke dapur." Ucap Kandara.


"Sebentar lagi,.. dan kau hari ini tidak usah membuat sarapan, kita sarapan yang disediakan Pak Jae saja." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk mengiyakan. Kemudian Darel bangun dan ke kamar mandi. Kandara merapikan tempat tidur.


Tidak lama kemudian, Darel keluar kamar mandi dalam balutan bathrobe dan membuka sebuah pintu. Kandara mengira itu adalah pintu lemari, tidak tahunya pintu menuju ruangan yang lain. Terdapat lemari sepanjang dinding. Tempat keperluan Darel.


"Darel,, mana bajuku yang satu., aku mau mandi." Ucap Kandara setelah mencari bajunya dan tidak ditemukan.


"Ooh,, masuklah. Itu ada di lemari, nanti  setelah sarapan kita akan keluar untuk mencari keperluan kalian." Ucap Darel, dan Kandara membuka lemari yang ditunjuk Darel.


Ternyata kosong, hanya ada baju dan pakaian dalam Kandara. Wajah Kandara langsung memerah, sambil memeluk bajunya dia menuju ke kamar mandi. Darel tersenyum melihat Kandara yang malu.


Setelah mandi mereka turun ke kamar tamu untuk melihat Bu Selvine dan Efrima. Kandara mengetuk pintu dan Efrima membukanya.


"Morniiing.." Sapa Darel dan Kandara.


"Morniiing, Dad.., Mom. Morniiing." Balas Efrima dan Bu Selvine.


"Efra sudah turun ambil baju belum.,?" Tanya Kandara, mengingat baju Efraim.


"Sudah, Mom.. Tadi Uncle yang datang ambil." Jawab Efrima.


"Ayooo,, kalau begitu mari kita sarapan." Ucap Darel sambil mengajak mereka ke ruang makan. Mereka sudah ditunggu di ruang makan. "Morniiing..."


"Morniiing..." Mereka saling menyapa.


Mereka duduk di meja makan panjang dengan kursi-kursi yang mewah.


Bu Selvine dan Kandara duduk dalam diam. 'Semoga kami bisa menyesuaikan diri dengan calon keluarga baru ini.'  Kandara membatin.


Kandara dari keluarga cukup, yang boleh dibilang tidak kekurangan. Tetapi untuk kondisi keluarga Darel, jangankan mimpi, membayangkan pun tidak.


Mereka sarapan dilayani oleh pelayan berseragam.


"Bu Selvine, nanti setelah acara anak-anak, ajarin saya masak nasi goreng, yaa.." Ucap Bu Richel, membuka percakapan.


"Iyaa Bu Richel." Jawab Bu Selvine sambil tersenyum.


"Pak Jae dan yang lain., kenalkan. Ini Mama Mertua, Istri dan anak-anak tuan muda Darel." Ucap Bu Richel, dan para pelayan menunduk hormat.


Bu Selvine, Kandara dan kedua anaknya berdiri dan memperkenalkan nama mereka. Para pelayan tersenyum senang melihat sikap mereka. Sangat baik seperti majikan mereka.


"Pak Jae, kenapa tersenyum." Tanya Pak Darpha melihat Pak Jae tersenyum. Pak Jae menjadi salah tingkah.


"Itu tuan, ketika melihat mereka berdua, tadi malam saya mau tanya., tetapi tadi sudah dikasih tahu Nyonya. Karena mereka mirip sekali dengan tuan muda Darel." Ucap Pak Jae tersenyum senang.


Semua dalam ruangan ikut tersenyum.


"Pak Jae ini, sudah lama bekerja di sini. Sejak Daddy dan Uncle kalian masih kecil. Nanti kalian akan mengenal keluarganya, karena tinggalnya tidak jauh dari sini." Ucap Pak Darpha.


Setelah selesai sarapan, mereka masih duduk di meja makan untuk merencanakan kegiatan mereka.


"Daddy, hari ini ke kantor.?" Tanya Darel.


"Iyaa, tadi malam Berdy katakan ada pertemuan penting. Bagaimana.?" Tanya Pak Darpha.


"Kami akan ke Relkha untuk membeli keperluan Mama, Dara dan anak-anak. Kami pakai mobil Daddy, yaa.." Ucap Darel.


"Ooh,, mobil yang tadi malam. Ok.., mau pakai sopir Daddy.? Biar mobil Daddy dibawa sama Berdy.." Ucap Pak Darpha.


"Tidak usah Dad.., pakai sopir mommy saja, karena mommy juga ingin ikut mereka." Ucap Bu Richel sebelum dijawab Darel.


Darel hanya tersenyum dan geleng kepala.


"Mommy boleh ikut, tetapi harus pakai masker. Karena kalau mommy ikut, sama saja bawa daddy." Ucap Darel, Bu Richel tersenyum mengangguk.


"Aku bawa mobil sendiri yaa,, karena setelah selesai, aku tidak ikut pulang. Nanti malam baru aku pulang." Ucap Mikha., dan Darel mengangguk mengiyakan.


"Ok,.. kalau begitu kalian siap-siap. Daddy mau ke kantor." Ucap Pak Darpha sambil berdiri. Begitu juga yang lain, Kandara mengambil tangan Pak Darpha dan meletakan di pipinya, begitu juga dengan kedua cucunya. Walaupun terkejut, Pak Darpha membiarkan dan mencium kepala mereka


Bu Richel mengantar suaminya ke luar sambil membawa tas kantor suaminya dengan terharu. Mereka belajar banyak hal setelah bertemu dengan keluarga Kandara. Ternyata ada banyak hal baik di luar sana yang mereka belum tahu.


Pak Darpha memanggil sopir Bu Richel dan memberikan kunci mobil yang akan mereka gunakan ke Relkha Mall. Setelah Pak Darpha berangkat, Bu Richel masuk untuk bersiap-siap.


"Darel, mobilnya sudah siap." Ucap Bu Richel ketika melihat Darel naik tangga.


"Ok, Mom.. Thank u.." Ucap Darel, dan segera ke kamar. Setelah mengganti celana panjang, Darel dan Mikha turun ke ruang keluarga.


"Daraa,, sebentar.." Darel memanggil Kandara dan mereka menuju meja makan.


"Duduk dulu, kita bicara sebentar. Keluarkan ponselmu dan tolong catat yang aku katakan." Ucap Darel, dan Kandara mengeluarkan ponsel dari tasnya.


"Nanti kau pikirkan baju apa yang hendak kau beli untuk sepuluh hari ke depan. Baju untuk pergi, baju untuk di rumah dan baju tidur. Untuk Mama, untukmu dan anak-anak.


Begitu juga dengan sepatu, sendal,  termasuk tas kalian. Jangan lupa perlengkapan mandi dan pakaian dalam kalian semua. Untuk handuk tidak usah.


"Itu kau bisa pikirkan dalam mobil dan mencatatnya. Agar nanti kita tidak banyak buang waktu di sana. Jika mommy mengajak beli yang lain, tunggu selesaikan keperluan inti dulu." Ucap Darel tegas.


"Nanti semua yang kau beli akan di bawa sopir ke mobil. Jadi tidak usah kau pikirkan akan berat jika kau bawa. Ada yang kau suka di toko yang aku dan Mikha masuk, kau ambil saja. Tidak usah melihat harganya. Begitupun dengan anak-anak, jika mendadak ada yang mereka suka, biarkan saja. OK.?" Ucap Darel serius, sambil menatap Kandara.


*- Kadang perlu mengantisipasi sesuatu yang tidak terduga, jika sudah bisa menduga akan terjadi -*