Me And You For Us

Me And You For Us
Villa.



Akhirnya sekarang Mikha bisa tersenyum lega. Dia tidak ingin ada masalah di Indonesia, saat mereka belum menyelesaikan persoalan dengan Kandara.


"Ayooo turun semua, tapi jangan turunkan barang dulu, ya. Aku akan cek ke resepsionis, mungkin kita bisa ganti villa yang kamarnya lebih banyak." Ucap Kandara, lalu turun menuju lobby.


"Tunggu Dara, aku ikut denganmu." Ucap Darel yang sudah turun dari mobil, lalu berjalan menyusul Kandara. Dia tidak lupa mengenakan masker dan rebennya.


"Mana villa yang kau pesan?" Tanya Darel. Kandara menunjuk salah satu villa di antara beberap villa di depannya. Darel ikut melihat ke arah villa yang di tunjuk oleh tangan Kandara.


"Aku pesan villa yang itu, ada 3 kamarnya. Kalau ada yang masih kosong, mungkin kita bisa pindah ke villa yang ada 4 kamar." Ucap Kandara. Tadinya dia pesan 3 kamar, karena kedua anaknya akan disatukan dalam satu kamar.


"Kalau yang di atas itu, masih bagian dari villa ini juga?" Tanya Darel sambil menunjuk ke bangunan villa mewah.


"Iyaa. Itu bagian villa mewahnya." Ucap Kandara.


"Coba cek villa itu ya, semoga masih kosong." Ucap Darel serius, sambil terus memperhatikan villa tersebut.


"Tetapi villa itu mahal sekali." Ucap Kandara secara spontan, lupa siapa yang berbicara dengannya.


"Heeiii... Kau lupa kalau di sampingmu..." Darel tidak melanjukan ucapannya. Tetapi Kandara mengerti apa yang dimaksudkan Darel, karena Darel menunjuk wajahnya dangan jari.


Darel sendiri lupa, kalau dia baru bertemu Kandara, yang mungkin saja belum mengenalnya dengan baik. "Baiklah..." Ucap Kandara sambil menurunkan tangan Darel dengan wajah memerah. Dia mengajak Darel masuk ke lobby. Darel hanya bisa tersenyum melihat perubahan wajah Kandara.


Setelah berbicara dengan resepsionis tentang maksud mereka, Kandara merasa lega. Ternyata villa mewah belum terisi dan itu membuat Darel tersenyum lebar di balik maskernya.


Mereka di bawah untuk melihat kondisi villanya sebelum reservasi. Ternyata ada dua bagian gedung dalam satu area dengan masing-masing gedung memiliki tiga kamar. Masing-masing gedung memiliki dapur tersendiri dan ruang makan berada di bagian yang menghubungkan ke dua gedung tersebut. Di depan setiap gedung ada teras dan taman dengan air mancur kecil di tengahnya.


Kamar-kamarnya memiliki kamar mandi, dan tempat tidur ukuran queen. Interior kamarnya sangat nyaman. Darel terlihat senang dan langsung memilih villa tersebut. "Ambil kedua-keduanya, Dara." Bisik Darel ke telinga Kandara. Kandara mengangguk mengerti, karena dia tahu, Darel tidak mau terganggu.


Mikha, anak-anak dan Bu Selvine berjalan-jalan sekitar villa, karena terdapat banyak pohon yang hijau dan rimbum dengan udara yang masih sejuk. Tidak lupa, Mikha mengabadikan pemandangan alam yang indah itu dengan kamera ponselnya.


Darel dan Kandara kembali ke lobby villa untuk menyelesaikan reservasi mereka. "Dara, aku lupa. Kau bisa membayarnya dulu? Nanti aku transfer." Kandara mengangguk mengerti.


"Kalau tidak, aku akan telpon Mikha untuk datang membayarnya." Ucap Darel dan hendak telpon Mikha, tapi Kandara mencegahnya.


"Nanti saja." Ucap Kandara, menggeleng.


Setelah selesai reservasi, mereka kembali ke tempat parkir. Ketika tidak menemukan yang lain, Darel menghubungi Mikha, agar kembali ke tempat parkir. Melihat keberadaan Darel dan Kandara yang sedang berdiri di bawah pohon, mereka terlihat sangat serasi. Diam-diam Mikha memotret mereka dengan ponselnya.


Tidak lama kemudian petugas villa datang membantu membawa barang bawaan mereka ke villa mewah. Anak-anak sangat senang. Mereka terus bersama Daddy dan Unclenya menikmati snack dan minum yang telah disediakan oleh petugas villa.


Kandara dan Mamanya sibuk menata barang bawaannya dan juga berdiskusi tentang menu makan siang mereka. Setelah itu bergabung dengan mereka yang sedang duduk di ruang makan, untuk membahas kegiatan apa yang akan di lakukan.


Sambil menunggu makan siang, Mikha, Darel dan kedua anaknya duduk di teras sambil bercerita tentang kegiatan mereka sehari-hari. Menceritakan teman-teman mereka di sekolah dan di Gereja. Efraim menceritakan juga, kalau mereka sering bernyanyi di sekolah Minggu dan Gereja. Mikha dan Darel tersenyum senang. Efraim teringat kolam renang yang ada di villa.


"Daddy, di sini ada kolam renang. Nanti kita berenang, ya?" tanya Efraim, dengan wajah ceria. Melihat Darel yang masih berpikir danΒ  ragu-ragu menjawab, Kandara mengerti. Dia mendekati mereka.


"Efra, besok Daddy dan Uncle harus kembali dan bekerja. Ini cuaca lagi panas, apakah kalian mau lihat Daddy dan Uncle seperti badan zebra?" Ucap Kandara, dan yang lain tersenyum.


"Nanti agak sore baru kita keluar jalan-jalan." Ucap Kandara lagi.


Ketika melihat Mikha sedang memotret, Darel langsung teringat. "Mikha, tolong foto kami." Ucap Darel sambil memberikan ponselnya kepada Mikha. Dia mengangguk mengiyakan, lalu mengambil ponsel Darel. Mikha memotret Darel dengan keluarga barunya. Tidak lupa memotret berlima bersama Bu Selvine, dan berenam bersama dirinya. Tidak lupa juga untuk berselfi ria. Darel sangat puas melihat hasil jepretan Mikha. Terutama mereka berempat, dia melihat lama dengan hati senang.


Mereka tidak makan di Restorant Villa untuk menghindari pandangan banyak orang. Mungkin saja ada Melons yang berakhir pekan di sini, atau ada yang mengenal Darel, karena Melo cukup terkenal di Indonesia.


Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Kandara pesan makan siang mereka untuk di bawa ke villa. Setelah makan siang, anak-anak bermain game bersama Daddy dan Unclenya. Sedangkan Kandara istirahat di kamar, karena kakinya lumayan pegal. Mamanya juga sudah beristirahat.


Beberapa saat kemudian, Darel menyadari ketidak hadiran Kandara. "Kids, main bersama Uncle, ya. Daddy mau lihat Mommy kalian." Kata Darel sambil meninggalkan kamarnya.


Darel mengetuk pintu kamar Kandara.


"Masuk..." Jawab Kandara, karena dikira anak-anak atau Mamanya yang mengetuk.


Ketika melihat siapa yang masuk, Kandara hendak bangun, tetapi Darel melarangnya.


"Tidak usah bangun, berbaring saja." Ucap Darel, karena melihat Kandara sedang meletakan kedua kakinya di atas guling.


"Pegal sekali?" Tanya Darel.


"Iyaa, lumayan pegal." Jawab Kandara.


"Ada minyak hangat? Biar aku pijit." Kata Darel lagi.


"Tidak usah, nanti juga hilang." Kandara menolak karena merasa tidak enak dan malu.


"Tidak mengapa, aku mau melakukannya." Ucap Darel, sambil mencari minyak di atas meja di samping tempat tidur.


"Minyaknya ada sama Mama, biar aku yang ambil." Ucap Kandara hendak turun, tetapi dilarang oleh Darel.


"Biar aku yang minta, kau berbaring saja." Ucap Darel lagi, langsung keluar kamar menuju kamar Bu Selvine dan mengetuk pintu.


"Masuk..." Jawab Bu Selvine, lalu Darel membuka pintu dan masuk.


"Ooh... Darel. Mama kira Dara, atau Efra atau Efri." Ucap Bu Selvine sambil bangun.


"Maaf, Ma. Darel mengganggu istirahatnya." Ucap Darel, merasa tidak enak, karena sudah mengganggu Bu Selvine.


"Tidak apa-apa, Darel. Bagaimana?" Tanya Bu Selvine


"Darel mau minta minyak hangat untuk pijit kakinya Dara." Ucap Darel, terus terang.


"Ooh, yang ini. Tetapi baunya agak tajam." Ucap Bu Selvine, sambil menyerakan minyak gosok.


"Tidak mengapa, Ma. Terima kasih." Darel mengambil minyak tersebut, lalu segera keluar kamar dan menutup pintu kamar Bu Selvine..


*- Kadang tidak perlu banyak kata untuk menunjukan perhatian kita -*


β™‘β€’~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... πŸ™πŸ» Makasih~β€’β™‘