
Kandara mendekati Bu Richel yang sudah duduk di meja makan.
"Grandma,, tolong cicipi ini., kalau tidak cocok, biar Dara buatkan roti." Ucap Kandara sambil meletakan piring dan sendok kecil berisi sedikit nasi goreng.
"Yang ini saja, Dara.. Tidak usah buatkan roti. Yang masih tidur dikasih sarapan ini juga. Mommy minta air jeruk hangat ya.. Kita sarapan saja dulu, tidak usah tunggu yang lagi tidur. Karena mereka pasti sangat lelah... Kemaren mereka sibuk ngurusin banyak hal untuk bisa datang ke sini." Ucap Bu Richel setelah mencicipi nasi goreng.
Kandara segera menata nasi goreng spesial,; pake telur mata sapi setengah matang, dengan hiasan timun dan tomat untuk Bu Richel dan kedua anaknya. Bu Richel menikmati dan menghabiskan sarapan paginya dengan tak bersisa.
"Terima kasih untuk sarapannya, Bu Selvine dan Dara. Ini enak sekali." Ucap Bu Richel setelah melap mulutnya dengan tissu.
"Terima kasih juga Bu Richel, telah menyukai sarapannya." Ucap Bu Selvine tersenyum senang.
"Nasinya dan bumbunya sangat enak, nanti ajarkan saya untuk membuatnya, ya., biar nanti kembali ke Seoul saya akan membuatnya." Ucap Bu Richel mendapat ide buat masakan baru. Bu Selvine mengangguk mengiyakan.
*- Segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati yang senang, memiliki rasa yang bisa dinikmati oleh orang lain -*
*((**))*
Bu Richel sedang berbicara dengan kedua cucunya tentang sekolah dan kegiatannya, karena tidak bisa membantu di dapur. Bu Selvine dan Kandara melarangnya.
"Morniiing.." Darel yang baru bangun menyapa mereka di dapur.
"Morniiing.." semua yang di dapur membalas sapaan Darel.
"Wuuuaahh.., 'muka bantal' daddy tetap tampan." Ucap Efrima, membuat sendok yang ada di tangan Kandara terjatuh.
Melihat Kandara terkejut, Darel menanyakan Efraim apa arti ucapan Efrima. Efraim menjelaskan, itu sebutan untuk wajah yang baru bangun tidur. Semua tertawa,, dan Darel menyisir rambutnya dengan tangan sambil tersenyum.
"Kau itu, di sana dan di sini sama saja." Ucap Bu Richel.
"Lapar, Mom.. Dara, aku lapar." Ucap Darel, Bu Richel menggelengkan kepalanya. Tetapi Bu Selvine tersenyum melihat tingka Darel. Ia tersenyum senang, Darel telah berlaku seperti rumahnya sendiri.
Dara segera menyiapkan sepiring nasi goreng spesial seperti yang disediakan untuk Bu Richel. Setelah diletakan di meja, Darel melihatnya dengan wajah bertanya ke Kandara. Dia berpikir akan disiapkan roti.
"Sarapan itu saja., rasanya OK." Ucap Bu Richel merekomendasikannya. Darel mencicipi sedikit, kemudian memakannya.
"Mau teh, kopi atau air jeruk.?" Tanya Kandara pelan.
"Aku mau teh dan air hangat, ya.. Thanks." Jawab Darel.
Darel sangat menyukai sarapannya.
"Terima kasih untuk sarapannya, Ma.. sarapannya enak." Ucap Darel dan memberikan jempol untuk Bu Selvine dan Kandara. Darel menghabiskan teh hangatnya.
"Wuuuaahh.., ternyata 'muka bantal' uncle tidak kalah tampan dari daddy." Ucap Efrima, ketika melihat Mikha yang baru turun dari tangga. Mendengar itu, Darel tersedak teh hangat yang sedang diminumnya. Efraim langsung menepuk punggung daddynya pelan.
Mikha yang tidak mengerti ucapan Efrima bertanya kepada Efraim, apa maksudnya sampai membuat Darel seperti itu. Efraim kembali menjelaskan dan kembali mereka tertawa.
"Kau itu, sama saja., biarkan saja mereka katakan kalian 'muka bantal'." Ucap Bu Richel geleng kepala.
"Yang penting, masih tampan, Mom." Ucap Mikha sambil mengacak rambut Efrima.
"Morniing Ma Selvine, morning Dara,, laparrr." Ucap Mikha sambil mengusap perutnya. Bu Selvine dan Kandara membalas sapaan Mikha, dan tersenyum melihat yang dilakukan Mikha.
Kandara kembali menyiapkan sepiring nasi goreng spesial, teh dan air hangat. Dia meletakannya di depan Mikha. Melihat piring nasi goreng di depannya, Mikha menatap Kandara dan Darel bergantian. Darel memberikan kode dengan jari kebibirnya., sebagai tanda enak.
Mikha mencicipinya sedikit dan mengangguk mengiyakan. Ketika sedang menikmati sarapannya, Efrima bertanya kepada Grandmanya.
"Grandma,, melihat Daddy dan Uncle., apakah Grandpa akan 'muka bantal' juga.?" Tanya Efrima, Mikha langsung tersedak mendengarnya. Darel menepuk punggunya pelan. Bu Selvine dan Kandara di dapur tidak bisa menahan tawa.
"Efrii,, kalau nanti Grandpa 'muka bantal' berarti Grandpa merasa ada di rumahnya." Ucap Bu Richel tersenyum.
"Morniiing.." Sapa Pak Darpha yang baru bangun.
"Morniiing Grandpa.." Efrima langsung menutup mulutnya, melihat muka bantal Grandpanya. Semuanya langsung tertawa melihat reaksi Efrima.
"Kenapa kau melihat Grandpa seperti itu, Efrii.?" Tanya Pak Darpha sambil menyisir rambutnya dengan tangan.
"Ternyata Grandpa juga 'muka bantal' yang tampan." Ucapan Efrima disambut tawa riu..
"Ada apa ini, Mom.." Tanya Pak Darpha yang tidak mengerti. Bu Richel menjelaskan dan Pak Darpha tersenyum masam.
"Lebih baik 'muka bantal' tampan dari pada pingsan karena lapar.. Dara., masih ada sarapan.? Daddy lapar.." ucap Pak Darpha sambil mengusap perutnya.
"Iyaa, Dad.. ini Dara siapkan." Ucap Kandara sambil meletakan sepiring nasi goreng spesial dan segelas air jeruk dan air hangat di depan Pak Darpha. Bu Richel langsung memberikan kode kalau sarapannya enak.
Pak Darpha mengangguk dan memakannya. "Sarapan yang enak dan mengenyakan. Terima kasih Bu Selvine dan Dara." Ucap Pak Darpha setelah sarapan. Bu Selvine dan Kandara mengangguk mengiyakan.
Setelah sarapan mereka kembali ke kamar untuk membersihkan tubuh, karena akan mengurusi banyak hal. Terutama Pak Darpha, Darel dan Mikha.
Mereka keluar dari kamar sambil menenteng laptop masing-masing.
Melihat itu, Efra dan Efri sangat takjub.
"Grandma,, melihat Grandpa, Daddy dan Uncle, yang mulai bekerja, rumah kita seperti kantor." Ucap Efraim. Bu Richel tersenyum mendengarnya.
Darel menggunakan meja makan untuk bekerja. Sedangkan Pak Darpha dan Mikha bekerja di ruang tamu.
"Daraa, tolong berikan paspor kalian semua untuk Daddy." Ucap Pak Darpha.
"Baik, Daddy.. Mom.., Dara permisi ke kamar ya., Dara mau ambil paspor kami." Ucap Kandara dan Bu Richel mengangguk. Kandara langsung ke kamarnya untuk mengambil paspor mereka dan menyerahkan kepada Pak Darpha.
Kandara bersyukur telah membuat paspor kedua anaknya satu tahun lalu. Ketika mereka berempat berlibur ke Singapure.
Ketika melihat pasport kedua cucunya, Pak Darpha terharu.
"Dara, sebentar lagi nama belakang mereka akan ditulis jelas." Ucap Pak Darpha, Kandara mengangguk terharu.
Mendengar itu, Darel berdiri dan ikut melihat pasport kedua anaknya. Nama mereka tertulis : Efraim Kaindra J dan Efrima Tama J. Ada inisial J dibelakang nama kedua anaknya.
Darel tersenyum dan mengusap lengan Kandara.
"Thank u.." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk, mengerti.
"Mikha tolong urus semuanya, ya.. anggap saja mereka lebih dari 2 Minggu di sana." Ucap Pak Darpha, dan Mikha mengangguk mengerti.
Kandara dan Bu Selvine sedang sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Ketika bau harum ayam yang sedang diungkep memenuhi ruangan dapur, Bu Richel ikut ke dapur untuk melihat apa yang sedang di buat oleh Kandara dan bertanya tentang apa yang sedang dimasak.
Kandara menjelaskan tentang masakan ayam berbumbuhnya.
"Ini ayam berbumbuh, Mom.. nanti setelah ini baru digoreng." Ucap Kandara.
"Tapi nanti ada yang akan dipangggang juga." Ucap Bu Selvine.
Mencium bau harumnya, membuat Bu Richel jadi pingin belajar.
"Efraa, tolong siapin tempat pembakaran di luar., yaa.. ini arangnya." Ucap Kandara. Efraim berdiri, mengambil arang dan keluar ke halaman untuk menyiapkan tunggku pembakaran.
*- Hal sederhana dapat menceriakan suasana untuk memulai hari baru -*