Me And You For Us

Me And You For Us
Kebaikan.



Darel dan Mikha terus bercakap-cakap.


Selain membicarakan rencana konferensi Pers, mereka membicarakan keluarganya, terutama membicarakan permasalahan Manche.


"Iyaa,, Mikha... Melihat Mommy dan Daddy,., melihat Dara dan Mamanya., tidak perlu banyak harta untuk berbahagia. Mereka bisa berbahagia dilingkungannya sendiri. Dan mereka membuat orang lain bisa berbahagia dengan lingkungan yang mereka miliki." Ucap Darel.


"Mengenai apa yang sedang dialami oleh Manche saat ini., jika usaha kita gagal, kau tolong berbicara dengan Manche. Dia relakan saja untuk Mommynya. Mungkin semua itu bukan untuk dirinya." Ucap Darel berserah.


"Dan Mikha,, jangan berikan nomorku untuk Manche, aku khawatir dia telpon dan bicara denganku. Kalau Dara tahu dan tanya, aku tidak mungkin tidak bercerita padanya."


"Berbeda seperti sekarang, karena Dara tidak tahu jadi ia tidak akan bertanya. Yaaa,, kalau Dara tahu sendiri dan ajak aku bicara, aku akan memberikan pendapatku." Ucap Darel lagi.


"Iyaa, aku mengerti.. tetapi Manche harus perhatikan ucapan daddynya." Ucap Mikha.


"Tentang apa itu..?" Tanya Darel.


"Dia tidak boleh tinggal di rumah itu." Jawab Mikha.


"Astagaaa,, benar katamu. Jangan sampai Daddynya tahu, ada 'serigala berbulu domba.?" Ucap Darel terkejut dan Mikha juga ikut terkejut.


Darel melihat Mikha yang juga terkejut. Mereka saling melihat dengan wajah yang mengkhawatirkan.


"Astagaa.., aku tahu pikiranmu. Buang itu jauh-jauh dari pikiran kita." Ucap Darel mengibaskan tangannya.


"Iyaa., tetapi tidak ada salahnya kita membicarakannya dengan Manche agar dia bisa berhati-hati." Ucap Mikha, dan Darel mengangguk mengerti.


"Iyaa, kau benar.., nanti kau bicarakan dengan dia, sementara ini dia bisa tinggal di sekitar Rumah Sakit. Cari hotel atau Apartemen terdekat. Itu alasan yang masuk akal saat ini untuk bisa keluar dari rumahnya."


"Bilang saja, supaya dekat dengan Rumah Sakit, agar ia lebih mudah merawat Daddynya." Ucap Darel, dan berdiri untuk kembali ke rumah.


"Kau benar, itu ide yang baik dan logis." Ucap Mikha lagi.


"Ok, aku pulang dulu untuk berbicara dengan semua yang di rumah tentang acara besok. Kalau pengacara sudah memberikan kabar, aku akan menghubungimu." Ucap Darel dan Mikha mengangguk mengerti.


Sebelum Darel sampai di pintu untuk keluar, pengacara menghubunginya.


"Pak Darel, semua sudah beres. Nanti saya email dokumennya." Ketika mendengar itu, Darel kembali duduk bersama Mikha dan bersyukur.


"Tuhan tidak akan meninggalkan orang yang berniat baik. Nanti aku email untukmu, jika sudah di email oleh pengacara." Ucap Darel senang sambil menepuk bahu Mikha..


Setelah Darel meninggalkan ruangan, Mikha mengirim pesan untuk Manche.


"Manche.."       


"Yaa, Mikha."


"Sudah OK."      


"Thank u.."


"Nanti hubungi aku., aku tunggu." Pesan Mikha.


"Iyaa." Jawab Manche singkat.


Setelah itu, Mikha memanggil Asistennya untuk mengecek persiapan acara Darel besok.


"Bagaimana, apakah semua yang kami undang bisa datang.?" Tanya Mikha.


"Semua bersedia Pak Mikha. Ini ada permintaan dari stasiun TV X untuk siaran langsung. Apakah bisa di setujui.? Tanya Asistennya.


"Nanti saya bicara dengan Pak Darel, karena beliau hanya minta Stasiun TV AA. Mereka ini tahu dari mana tentang acara besok.?" Tanya Mikha.


"Mungkin sesama wartawan atau karyawan, tuan muda." Jawab Asisten Mikha.


"Ooh, ok.. kalau begitu., tolong daftar nama undangan ini di berikan kepada yang menerima tamu undangan. Supaya tidak ada yang menyusup. Sebelumnya, untuk Stasiun TV AA yang sudah kita undang, katakan kepada mereka jika mau kirim orang, max 2 orang. Kita akan sediakan kursi sesuai undangan." Ucap Mikha menjelaskan.


"Baik, tuan muda." Jawab Asistennya.


"Tolong saya jangan diganggu ya,.. tunggu sampai saya keluar ruangan baru kita bicarakan lagi." Ucap Mikha ketika melihat panggilan dari Manche. "Baik, tuan muda." Ucap Asistennya dan langsung keluar ruangan.


*- Ketika bekerja dengan baik, hasilnya tidak akan mengecewakan -*


Setelah Asistennya keluar dari ruang kerjanya, Mikha merespon panggilan Manche.


"Allooo, Manche..


"Allooo, Mikha.. Thank u.."


"Ok., bagaimana Daddymu.?"


"Sepertinya sudah tidur."


"Mommymu sudah pulang atau .?"


"Ooh, ok.. tadi aku sempat bicara dengan Darel.. jadi sekarang kau dengar baik-baik dan tidak usah pikirkan yang lain. Ok.?" Tanya Mikha.


"Ok.." Jawab Manche singkat.


"Begini, Manche.., untuk sementara ini kau cari tempat tinggal dekat Rumah Sakit, mungkin Hotel atau Apartemen. Tidak usah memberi tahukan Mommymu., bilang saja kau sedang jaga Daddymu di Rumah Sakit." Mikha berbicara serius


"Kalau Mommymu sedang ke kantor, kau pulang ke rumah ambil semua keperluanmu, pelengkapan pribadi dan juga dokumen pribadimu." Ucap Mikha.


"Iyaa,, Mikha.. tadi sempat terpikirkan juga olehku, mau tinggal di Apartemen yang tidak jauh dari Rumah Sakit dan kantor." Ucap Manche.


"Ooh,, Ok.. tidak usah bilang Mommymu. Nanti setelah semuanya redah, baru mau memberi tahukannya,, silakan..." Ucap Mikha lagi.


"Iyaa Mikha.. Thank u.."


"Mikhaaa.." panggil Manche, karena ia mengira Mikha akan mengakhiri pembicaraan mereka.  


"Mmmm.."


"Boleh aku tahu proses yang tadi.?" Tanya Manche berharap.


"Tadi pengacaranya hanya mengatakan sudah OK dan nanti akan mengirim dokumennya. Tetapi alangka baiknya kami tidak mengirimkannya untukmu. Tunggu saja, yang penting kau tahu semuanya bisa selesai dengan baik."


"Aku hanya ingin tahu, apakah tadi Daddy bisa bangun atau tidak." Ucap Manche pelan.


"Kalau yang itu, nanti aku akan sampaikan kepadamu jika sudah berbicara dengan pengacara. Sementara ini, tidak usah dipikirkan. Sekarang kau tidur di mana.?"


"Di Rumah Sakit.."


"Ada tempat tidur.?"


"Ada kursi.."


"Astagaaa.., kau abis lakukan perjalanan jauh., lebih baik cari hotel terdekat disitu dan tidur dengan tenang malam ini. Untuk besok nanti dipikirkan lagi."


"Iyaa., Mikha."


"Mau aku resevasi dari sini.?"


"Tidak usah Mikha, nanti selesai berbicara denganmu, aku akan ke hotel.


"Kau naik apa ke sana.?"


"Aku naik taksi saja., mobilku ada di rumah. Karena kemaren cape' sekali jadi aku naik taksi ke Rumah Sakit.


"Kalau begitu, sekarang keluar dan naik taksi sambil telpon." Ucap Mikha.


"Ooh., iyaa.. sebentar, aku ambil tasku. Ucap Manche sambil mengambil tasnya dan berjalan cepat ke tempat taksi di depan Rumah Sakit.


"Iyaa Mikha, ini aku sudah di dalam taksi." Ucap Manche setelah meletakan tas di sampingnya.


Mikha terus mengajak Manche berbicara di dalam taksi.


"Ok., besok kalau ada apa-apa., kirim pesan saja,.. karena besok aku lumayan sibuk. Darel mau lakukan konferensi pers." Ucap Mikha mencoba mengajaknya berbicara sampai Manche tiba di hotel.


"Ooh,, ada apa.?"


"Tidak ada apa-apa.., hanya mau memberitahukan status pernikahannya."


"Ooh iyaa, aku kira ada apa. Ini sudah di hotel, Mikha." Ucap Manche sambil reservasi.


Ketika selesai reservasi, Manche ke kamar dan terus berbicara dengan Mikha.


"Mikha.."   


"Mmmm..?!"


"Aku sudah di kamar.


"Ooh ok,, mandi lalu istirahat. Jangan lupa berdoa untuk hari ini.


"Iyaa., terima kasih." Mikha mengakhiri pembicaraan mereka.


Mikha kembali menghubungi Darel untuk menyampaikan hasil pembicaraan dengan Manche. Demikian juga Mikha menyampaikan hasil pembicaraan dengan Asistennya tentang rencana acara konferensi pres.


Sedangkan Manche duduk di atas tempat tidur dalam diam, mengingat semua yang baru dialami dan dilewatinya. Sungguh sesuatu yang tidak terduga, dia hanya bisa bersyukur dan berucap pelan.


'Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengirimkan Mikha dan Darel untuk menolongku melewati hari ini. Amin.!'


*- Ucapan dan tindakan seseorang menunjukan kondisi hatinya -*