Me And You For Us

Me And You For Us
Kamar Darel.



Kandara hanya diam dan berharap Efrima tidak menjawab pertanyaan Mikha.


"Nanti saja, Uncle.,., lagi banyak orang." Ucap Efrima sambil menutup mulutnya. Darel hanya bisa tersenyum dan mengusap kepala putrinya yang selalu ceplas ceplos kalau berbicara..


"Astaga,, sudah mulai main rahasia-rahasian dengan Uncle, ya.." ucap Pak Darpha dan semua ikut tertawa.


Setelah melakukan perjalanan yang lumayan lama, mereka tiba di Mansion keluarga Jion. Ketika turun dari mobil;  Bu Selvine, Kandara dan anak-anak mengira mereka tiba hotel.


Mereka disambut oleh kepala pelayan.


"Ayooo,, masuk.., ini rumah Grandpa dan Grandma." Ucap Bu Richel sambil tersenyum melihat reaksi Efrima yang menutup mulut dengan kedua tangannya, ketika Bu Richel mengatakan ini adalah rumahnya.


"Uncle,, Efri tidak jadi bertanya lagi." Ucapan Efrima membuat Pak Darpha mengacak rambutnya sambil tersenyum. Karena menurut Efrima, jawabannya sudah di depan mata, yang sedang dilihatnya.


Begitu juga dengan Bu Richel dan Kandara yang mengerti maksud ucapan Efrima. Sedangkan Mikha dan Darel hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.


Kepala pelayan dan Pak Berdy menurunkan koper dan ransel anak-anak. Pak Darpha mengajak mereka masuk, karena pintu rumahnya telah dibuka lebar oleh para pelayan.


Mereka masuk ke ruang keluarga yang luasnya melebihi rumah Kandara. Penuh dengan lemari-lemari kayu yang antik dan sofa-sofa besar yang mewah serta TV layar datar yang besar. Bu Selvine dan Kandara hanya bisa diam dan takjub.


Mereka semua duduk sebentar untuk berdoa syukur yang dipimpin oleh Pak Darpha, karena telah tiba dengan selamat di rumah.


"Selamat malam Nyonya, apakah ada yang mau makan malam.?" Tanya kepala pelayan. Karena tidak ada yang bereaksi Bu Richel mengatan:


"Tidak ada Pak Jae., tolong antarkan Bu Selvine ke kamar tamu, ya.." Ucap Bu Richel. Bu Selvine mengikuti kepala pelayan ke kamar tamu yang dimaksud.


Ketika tiba di kamar tamu, Bu Selvine makin takjub. Kamar yang luas dengan tempat tidur berukuran king size. Ada lemari kayu dan sofa serta TV layar datar yang lebar. Walaupun tidak selebar di tuang keluarga, tetap saja besar.


Di ruang keluarga, Bu Richel memandang Darel. Dan Darel mengerti maksud Mommynya.


"Darel akan mengajak Dara dan anak-anak ke kamar Darel saja dulu, Mom. Nanti besok baru diatur lagi." Ucap Darel.


Bukan karena tidak ada kamar, tetapi karena kamarnya luas. Darel berpikir, apakah mereka bisa tidur, karena terbiasa dengan kamar dan tempat tidur yang kecil. Mereka semua naik ke kamar Darel, sedangkan Mikha sudah di kamarnya untuk mandi. Dia sudah rindu berendam dengan air hangat.


Setelah tiba di kamar Darel, Kandara dan anak-anak makin takjub. Kamar Daddynya sangat luas, ada tempat tidur besar, ada TV  berlayar datar yang lebar.


Sebelum anak-anak lompat tempat tidur, Kandara mencegahnya.


"Kalian mandi dulu baru naik tempat tidur." Ucap Kandara, dan Darel tersenyum melihat gerakan anak-anaknya yang tertahan.


Kandara mengingat baju ganti Mamanya yang ada di ransel anak-anak.


"Oooh, iya.. Daddy.., kita ke kamar Oma dulu., bawa bajunya." Ucap Kandara, mereka berempat segera ke kamar tamu, sambil membawa ransel.


Benar saja Bu Selvine sedang kebingungan mau hubungi mereka, karena tidak bisa menelpon Kandara.


Ketika pintunya diketuk, Bu Selvine langsung membukanya.


"Syukur kalian datang, anak-anak tidur dengan Mama saja ya., kamar ini terlalu besar." Ucap Bu Selvine., tidak merasa malu lagi. Kandara melihat kedua anaknya dan mereka mengangguk, ketika melihat wajah Omanya yang mengharapkan mereka tidur bersamanya.


"Baiklah.., kalau begitu keluarkan baju Mama, biar Mama yang mandi terlebih dulu. Tolong siapkan air hangat di bathtub untuk Mama, Dara. Aku akan minta handuk untuk anak-anak." Ucap Darel, dan Kandara segera ke kamar mandi bersama mamanya.


Darel menghubungi kepala pelayan.


"Pak Jae, tolong antarkan tiga handuk dan 1 bathrobe ke kamar tamu yang tadi, ya.. Thank u." Ucap Darel., dan mengajak anak-anaknya duduk di sofa.


Di kamar mandi Kandara sedang mendesak Bu Selvine untuk berendam,;


"Mama, lebih baik berendam air hangat sebentar, biar agak berkurang cape'nya. Kami tunggu di luar." Ucap Kandara dan Bu Selvine mengangguk mengerti.


"Dara,, mana bajumu.?" Tanya Darel, dan setelah ditunjuk Kandara, Darel memasukan semuanya ke salah satu ransel bersama handuk dan bathrobe.


"Dara,, aku ke kamar dulu, nanti aku akan menjemputmu. Tolong baju anak-anak dan Mama di masukan ke dalam lemari, itu..." Ucap Darel sambil menunjuk lemari kayu yang ada di kamar. Kandara mengangguk mengerti.


Darel segera keluar kamar, menuju kamarnya sambil membawa ransel. Karena badannya belum terlalu pulih, dia ingin berendam air hangat.


Tidak lama kemudian, Bu Selvine keluar dari kamar mandi dengan dengan wajah yang segar. Kandara langsung menyuruh Efrima untuk mandi.


"Mandi air hangat ya, Efri.. jangan sampai sakit." Ucap Kandara mengingatkan juga untuk Efraim.


Setelah Efraim selesai mandi, Kandara merapikan baju kotor mereka dan meletakan dalam keranjang loundry yang ada dalam kamar itu. Kandara menggantung jacket kedua anaknya di dalam lemari, begitu juga dengan ransel Efraim.


Darel yang sudah selesai mandi segera turun menjemput Kandara. Di tangga dia bertemu dengan Mikha yang baru naik.


"Darel, anak-anak tidur di mana.?" Tanya Mikha.


"Mereka mau tidur dengan Omanya." Jawab Darel.


"Oooh,, kalau begitu., biarkan Efra tidur denganku..." Ucap Mikha.


"Mari ikut denganku,., dan coba tanyakan pada Efra." Ucap Darel, dan mengajak Mikha ke kamar tamu.


"Mommy, Grandpa kaya sekali, yaa." Ucap Efrima yang sudah tidak tahan berkomentar dari tadi. Kandara mengangguk, sambil tersenyum.


"Syukur tadi kau tidak jadi tanyakan itu kepada Uncle. Sekarang ini, kita harus belajar menyesuaikan diri, agar kita tidak membuat malu Daddy, Uncle, Grandpa dan Grandma.. OK.?" Ucap Kandara. Bu Selvine hanya tersenyum mendengar yang dikatakan Efrima.


"OK, Mom.." ucap Efraim dan Efrima, sambil berlari memeluk Kandara. Darel dan Mikha yang ada di depan kamar dibuat terharu mendengarnya.


Tidak lama kemudian Darel mengetuk pintu, dan Efraim membuka pintunya. Ketika melihat Mikha ikut, Efrima turun dari tempat tidur dan berlari memeluknya.


"Ayooo,, mau main rahasia-rahasiaan lagi,, sama Uncle.?" Ucap Darel, dan Kandara tersenyum melihat Efrima menggelengkan kepala.


"Efraa, tidur dengan Uncle, yaa.. biar Oma dan Efri tidurnya, lebih lega." Ucap Mikha, sambil melihat Efraim.


"Iyaa, Uncle.." jawab Efraim, setelah  melihat Omanya mengangguk.


"Kalau begitu,, selamat tidur, Ma, Efri sampai besok... Jangan lupa berdoa." Ucap Darel sambil mencium kepala Efrima. Mereka keluar kamar tamu menuju kamar mereka.


Darel dan Kandara mencium Efraim, sebelum berpisah.


"Gd night.., jangan lupa berdoa." Bisik Kandara.


"Gd night,,, Mom.., Dad." Ucap Efraim, lalu berjalan mengikuti Mikha ke kamarnya.


Darel mengajak Kandara ke kamarnya.


"Dara,, kalau kau tidak membawa perlengkapan mandi, pakai punyaku yang ada di kamar mandi saja. Nanti besok baru kita pergi beli keperluamu, Mama dan anak-anak." Ucap Darel ketika Kandara mau mandi.


"Aku ada bawa.." Ucap Kandara sambil mengambil dari dalam tas yang dibawanya.


"Kalau begitu,., mandilah. Aku sudah isi air di bathtub, tetapi coba cek dulu ainya., jangan sampai terlalu panas. Handuk dan bathrobemu sudah ada di kamar mandi." Ucap Darel, dan Kandara mengangguk.


Kandara membawa baju gantinya yang telah diletakan Darel di sofa dan masuk ke kamar mandi.


*- Lain lubuk, lain ikannya..,; lain tempat, lain orangnya, lain juga kehidupannya -*