
Pak Darpha dan Bu Richel langsung melihat Bu Selvine dan Kandara. Begitu juga dengan Darel dan Mikha.
"Efra dan Efri., setelah Grandpa pikirkan lagi, apa yang dibilang Mommy dan Oma itu benar.
"Yaaa,, seperti yang di bilang tadi. Daddy malaikat pelindung Uncle dan sebaliknya. Begitu juga Efra malaikat pelindung Efri dan sebaliknya."
"Grandpa jadi menyadari, Grandma juga yang menjadi malaikat pelindung Grandpa dan sebaliknya juga." Ucap Pak Darpha merenung.
"Ooh,, begitu ya.,.., Grandpa..,? Lalu apakah Mommy punya malaikat pelindung juga.? Karena Mommy Efra juga orang baik." Tanya Efraim sambil melihat Mommynya dengan sayang.
"Iyaa, Efraa.., Oma telah menjadi malaikat pelindung Mommy dan juga sebaliknya. Setiap orang baik ada malaikat pelindungnya. Grandpa setuju dengan itu. Maka kita harus jadi orang baik, supaya mempunyai malaikat pelindung." Ucap Pak Darpha, takjub dengan pemikirannya dan juga pemikiran Bu Selvine dan Kandara.
"Grandpa bersyukur, malam ini kita bisa bicarakan itu untuk sebagai keluarga besar. Kiranya ini dapat diingat sepanjang hidup kita." Ucap Pak Darpha lagi, dan semua mengangguk mengiyakan.
"Terima kasih, Grandpa.." Ucap Efraim sambil menyandarkan kepalanya ke lengan Daddynya dan Darel mengelus kepalanya dengan sayang.
*- Orang baik bisa memiliki malaikat pelindung dan bisa menjadi malaikat pelindung -*
*((**))*
Ketika melihat situasi itu, Bu Richel teringat yang akan dibicarakan. "Darel dan Dara,, bagaimana kalau hari Senin besok kalian menikah di Gereja.?"
"Kalau kalian setuju, Mommy akan bicarakan dengan Pendeta di Gereja. Setelah itu, kita makan malam di belakang. Kalau resepsinya, kalian rencanakan sendiri." Ucap Bu Richel.
"Baik, Mom.. Nanti besok baru kita bicarakan lagi,.. Darel akan atur dengan Hyun dulu, supaya hari H tidak diganggu." Ucap Darel.
"Ok, besok kita bicarakan lagi. Yang penting hari ini sudah berlalu dengan baik. Jadi mari kita beristirahat." Ucap Bu Richel dan mereka saling memberikan salam dan beranjak ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Efraim ikut ke kamar Mikha untuk tidur bersamanya. Sedangkan Darel ke kamar tamu bersama Kandara.
"Ma,, bagaimana menurut Mama kalau kami menikah dua hari lagi.?" Tanya Darel sambil duduk di sofa yang ada di kamar tamu. Sedangkan Kandara menemani Efrima yang sudah berbaring.
"Bagaimana baik menurut Darel saja. Karena dua hari atau berapa hari lagi itupun, sama. Bagi Mama, sekarang ini Dara sudah menjadi istrimu. Tetapi kita beragama, mendahului segala sesuatu harus memohon berkat Tuhan."
"Begitu juga untuk membentuk sebuah keluarga harus memohon berkat Tuhan atas niat hati kita. Dan kalian juga harus sah secara hukum. Seperti kata Pak Darpha, supaya Dara dan anak-anak jelas statusnya." Ucap Bu Selvine.
"Kalau di sini memungkinkan kalian bisa menikah dalam waktu yang secepat itu, lakukanlah. Mama percaya pada keputusanmu." Ucap Bu Selvine lagi.
"Baik, Ma.. Terima kasih dan selamat tidur." Ucap Darel sambil mengelus pundak Bu Selvine. Darel mengajak, Kandara untuk beristirahat.
"Terima kasih dan selamat tidur, Ma." Ucap Kandara dan mencium pipi Mamanya. Mereka berdua ke kamar Darel.
"Dara,, bagaimana menurutmu dengan usul Mommy.?" Tanya Darel setelah mereka di kamar dan Darel mengajak Kandara duduk di sofa untuk bicarakan rencana pernikahan mereka.
"Apakah bisa secepat itu.?" Tanya Kandara.
"Yang penting kau sudah OK, besok akan di urus oleh Mommy dan Mikha." Ucap Darel.
"Kalau begitu, aku ikut keputusanmu." Ucap Kandara, mengerti.
"Baiklah .., berarti untuk di Gereja, kita sudah OK ya .. Sekarang., kau mau ada resepsi atau tidak.?" Tanya Darel lagi.
"Aku tidak mau." Jawab Kandara singkat.
"Dara, kalau kau mau, aku tidak masalah." Ucap Darel sambil memegang tangan Kandara.
"Benar,, Darel.. Tidak usah., anak-anak sudah besar." Ucap Kandara meyakinkan Darel bahwa dia tidak menginginkannya.
"Atau kau mau adakan resepsi di Indonesia.?" Tanya Darel mencoba memberikan pilihan bagi Kandara.
"Mungkin bukan sebuah resepsi pernikahan seperti pada umumnya. Tetapi bisakah kita adakan semacam makan malam.? Yang kita undang hanya teman-teman kantorku, beberapa teman Gereja, keluarga inti Papa/Mama dan tetangga." Ucap Kandara, merespon.
"Untuk pernikahan kita di sini, bolehkah aku mengundang Manche.?" Tanya Kandara ragu-ragu.
"Manche..?. Ooh yaa.., sahabatmu yang di Amerika. Boleh.., tolong hubungi dia., jika dia bisa datang besok, aku akan mengirim akomodasinya." Ucap Darel. Setelah mendengar apa yang dikatakan Darel, Kandara mengirim pesan kepada Manche.
"Che.., bisakah besok kau datang ke hari pernikahanku.?" Isi pesan Kandara.
"Darel, kau tolong ke tempat tidur ya., jangan sampai dia telpon." Kandara belum selesai berbicara dan Darel belum sampai ke tempat tidur, Manche sudah VC
"Allooo, Che.." Ucap Kandara pelan sambil mengangkat tangannya.
"U crazy..?.. siapa lelaki itu.? Apa kedua anak aniku setuju.? Apa Tante setuju.? Jangan kau gila." Ucap dan tanya Manche beruntun dalam bahasa Inggris.
Kandara menjawabnya juga dalam bahasa Inggris, agar Darel bisa mengerti yang mereka bicarakan. Sedangkan Darel sudah tersenyum mendengar ucapan Manche.
"Che.., sabar.. satu-satu,, tanyanya." Ucap Kandara sambil mengangkat tangannya untuk mengisyaratkan agar Manche sabar.
"Apanya yang satu-satu.,, lama-lama aku ikutan gila.. Tidak hujan, tidak ada angin, tiba-tiba bilang besok mau menikah. Jangan katakan kau kecelakaan lagi." Ucap Manche emosi.
Kandara terkejut mendengar apa yang dikatakan Manche..
"Astagaaa.., Che.., pikiranmu.." Ucap Kandara sambil mengetuk dahi dengan tangannya.
"Jangan bilang lelaki yang mulutnya tidak bersekolah itu sudah berhasil merayumu." Ucap Manche lagi.
"Astagaaa.., kapan aku bisa menjelaskannya jika kau terus mengomeliku.?" Tanya Kandara, sambil mengurut dadanya.
Baiklah.., habis kau membuatku jantungan.., sekarang aku dengarkan." Ucap Manche sambil mengangkat tangannya. Darel hanya bisa tersenyum mendengar pembicaraan mereka.
"Aku akan menikah hari Senin besok dengan Daddynya Efra dan Efri."
"Apa..?.. Serius..? Diberkatilah kedua anak Aniku." Ucap Manche tertawa senang. Tetapi tiba-tiba dia berhenti tertawa dan kembali serius.
"Eeeeh,, tetapi kenapa baru sekarang kau memberi tahuku.?" Ucap Manche mulai emosi lagi.
"Yaaa.., karena baru sekarang keputusannya. Kau orang kedua yang tahu setelah Mama." Ucap Kandara untuk menenangkan Manche.
"Astagaaa.., baiklah.. kau harus cerita sejelas-jelasnya setelah aku tiba di situ. Yaaa., sayang... mungkin Daddy tidak bisa ikut, karena Daddy lagi kurang sehat." Ucap Manche kecewa.
"Eeeh,, tidak usah bilang Tante dan Om aku mau menikah. Nanti setelah menikah baru aku kasih tau dan meminta maaf kepada mereka." Ucap Kandara berusaha mencega Manche
"Baiklah.., aku akan plester mulutku." Ucap Mancha sambil memperagakan dengan jari, cara plester mulutnya.
"Astagaaa.., aku sampai lupa., aku tidak menikah di Indonesia, tetapi di Seoul,., Che." Ucap Kandara setelah melihat kode tangan dari Darel.
"Astagaaa.., apakah daddy Efra dan Efri orang Korea..?" Tanya Manche dengan mata membulat, dan Kandara mengangguk.
"Jadi sekarang Tante, kau dan anak-anak sudah di Seoul.?" Tanya Manche lagi, dan kembali Kandara mengangguk.
"Astagaaa,, kau hutang banyak penjelasan untukku. Tapi nanti saja setelah kita bertemu." Ucap Manche mengibaskan tangannya.
"Iyaaa.. aku akan reservasi hotel dan mengirimkan untukmu." Ucap Kandara dan mengirimkan kode OK untuknya.
"Ok,, aku akan mengurusnya sekarang, agar bisa tiba di situ sore atau malam... C u.. by.. lup u." Ucap Manche, menyadari waktu yang terbatas.
"Thank u., lup u too." Kandara mengakhiri pembicaraan dan mengelus dadanya. Melihat itu, Darel tersenyum.
Darel terus tersenyum mengingat pembicaraan Kandara dan Manche. "Kini aku mengerti, kenapa kau bilang bernyanyi tanpa nada..." Ucap Darel, tetap tersenyum mengingat ucapan Manche.
*- Seorang sahabat mengerti dan memahami sahabatnya -*