
Setelah bertemu dengan Kandara dan terjadi hal yang tidak mengenakan, Lucha langsung pulang. Rencananya akan makan malam bersama sekretarisnya jadi buyar, karena insiden yang terjadi dengan Kandara.
Ucapan Kandara lebih menyakitkan daripada pukulan Toby diperutnya. Lucha langsung pulang ke rumah tanpa mengantar pulang sekretarisnya.
Setelah sampai di rumah, Lucha langsung membuka pintu dan membantingnya dengan keras, karena masih kesal.
"Luchaaa, apakah kau tidak tahu sopan santun?" Teriak Pak Berto, yang terkejut mendengar bunyi pintu dibanting.
"Sorriii, Pi." Jawab Lucha singkat dan hendak ke kamarnya untuk menenangkan dirinya.
"Kau tidak menganggap Mamimu ini?" Tanya Pak Berto mulai kesal melihat kelakuan Lucha. Jadi benar yang dikatakan istrinya, tentang sikap Lucha yang tidak menganggapnya dan tidak menghormatinya.
"Mamiiii...? Yang mana? Ituuu...? Yang benar saja, dia seusia denganku." Ucap Lucha sinis, apalagi suasana hatinya sedang buruk.
Ketika mendengar itu, Pak Berto menjadi emosi. Pak Berto langsung berdiri mendekati Lucha dan menamparnya. Lucha mengelus pipinya, hatinya menjadi panas. Dia menatap Pak Berto dan istri barunya dengan mata membara.
"Sudah, Pi. Biarkan saja, mungkin Lucha belum bisa menerima kehadiranku." Ucap istri baru Pak Berto. Maksudnya mau menenangkan Pak Berto, tetapi sebenarnya sedang menuang bensin ke api yang mulai menyala.
"Hahahaha... Piii...? Aku tidak sabar melihatmu. Apakah masih bisa memanggilnya dengan Pi, Pi, Papiii... Setelah kau babak belur." Ucap Lucha, sambil tertawa sumbang sekeras-kerasnya.
Mendengar yang dikatankan Lucha, Pak Berto kembali mau menamparnya. Tetapi Lucha memegang tangan Pak Berto dengan tangannya, kemudian menghentaknya dengan kuat.
"Jangan coba-coba sekali lagi menamparku, tuan Berto. Aku bukan anak kecil lagi yang bisa kau pukul seenaknya. Ituuu, ada samsak barumu." Ucap Lucha sambil menujuk istri baru Pak Berto dengan mata berapi-api.
"Anak kurangajar, tidak tahu terima kasih dan tidak tahu bersyukur, masih tinggal di rumah ini." Ucap Pak Berto makin marah, melihat Lucha yang berani melawannya.
"Hahahahaaaa... Bersyukur? Bersyukur itu berhubungan dengan Tuhan. Sejak kapan, tuan Berto beragama? Malu sama pintu Gereja. Agama ngga jelas, tetapi bicara bersyukur." Ucap Lucha sinis dan menatap Pak Berto yang terkejut mendengar ucapan anaknya.
"Anak tidak tahu diri, keluar dari rumah iniiii..." Dengan emosi Pak Berto mengusir Lucha, sambil meleparnya dengan vas bunga yang ada di dekatnya. Lucha menghindarinya, sehingga mengenai tembok dan vasnya berantakan di lantai. Hal itu membuat Lucha tidak bisa mengendalikan amarahnya.
"Tuan Bertooo, anda mengusirku dari rumah ini? Hahaha...Tunggu saja aku yang akan melakukannya padamu. Anda kira Mamiku tidak tahu perbuatanmu selama ini yang menghabur-hamburkan uang perusahaan dengan perempuan-perempuan jal**g?"
"Salah satunya ituuu, yang ada di sampingmu. Kuburan Mami belum juga kering, sudah membawanya untuk tinggal di rumah ini. Siapa yang tidak tahu diri di sini? Itu ada cermin besar di kamar mandi, ngacaaa..." teriak Lucha yang sudah sangat emosi dan marah.
"Kau perempuan jal**g, mungkin kau bisa menipu lelaki tua yang tidak tahu diri ini, tapi tidak denganku. Aku tahu siapa kau, hanya perempuan jal**g yang numpang hidup dengan menjual diri buat lelaki tua seperti tuan Berto yang katanya terhormat ini." Ucap Lucha sambil menunjuk Pak Berto dan istri barunya.
"Setahun ini, aku telah membiarkanmu menikmati semua ini. Tunggu aku akan menyeretmu keluar dari rumah." Ucap Lucha sambil membuka kedua tangannya dan menatap istri baru Pak Berto dengan marah.
"Dan tuan Berto yang terhormat, tunggu sampai kesabaranku habis. Aku akan melihat, apakah kalian berdua masih bisa berpapi mami di rumah ini. Kau akan melihat, apakah dia masih memanggilmu Papi, jika keluar dari rumah ini, dengan hanya baju di badan." Ucap Lucha sambil masuk kamar dan membanting pintunya dengan keras.
Terasa belum puas pelampiasan amarahnya, dia masih berjalan mondar mandir di dalam kamarnya tak tertentu arah, sambil melepaskan jas dan melemparkannya dengan sekuat tenaga.
Tidak lama kemudian, ada yang mengetuk pintunya berulang-ulang kali. "Tuan Lucha, tolong keluar. Tuan Berto sakit." Ucap pelayan yang mengetuk pintunya dengan keras.
Lucha membuka pintunya dan berjalan keluar mendahului pelayan tersebut. Setelah tiba di ruang tamu, dia melihat Pak Berto terbaring di sofa dan istri mudanya sedang menepuk pipinya dan memanggil Papi. Hal itu membuat Lucha makin meluap emosinya.
"Mengapa kau tidak membawanya ke Rumah Sakit?" Tanya Lucha kepada istri baru Pak Berto.
"Apakah kau hanya tahu melayaninya di atas ranjang?" Tanya Lucha, sinis.
"Biii, segera telpon Rumah Sakit, minta dikirim Ambulans. Saya yang bayar Ambulansnya. Biaya Rumah Sakit, Bibi minta kartu BPJS nya dari perempuan jal**g itu." Ucap Lucha dingin, sambil menunjuk istri baru Pak Berto yang diam ketakutan.
"Anak durhakaaa..." Tiba-tiba Pak Berto bangun dan berteriak dengan suara keras kepada Lucha.
"Hahahaaaa... Tuan Berto, mungkin Mamiku bisa ditipu dengan taktik licikmu itu. Kau kira aku tidak tahu, setiap ketahuan bermain dengan perempuan jal**g di luar sana, kau pura-pura sakit?" Lucha bertanya, sambil menatap Pak Berto dengan mimik mengejek.
"Kalau mau hidup enak, mulailah bekerja. Makanan di rumah ini tidak lagi gratis. Makin tua, bukannya mikir. Kaki sebelahmu sudah di kuburan dan perempuan jal**g itu tidak bisa menariknya dari sana." Ucap Lucha, sambil menunjuk istri baru Pak Berto.
"Aku kira, dengan meninggalnya Mami, mulai sadar. Tapi ini, makin menjadi-jadi. Jangan menyebut anak durhaka di depanku, kalau tidak ingin melihatnya." Ucap Lucha, marah.
"Bibiii, kalau ada begitu lagi, lakukan seperti yang saya bilang tadi. Jangan panggil saya. Bayar Ambulans pakai uang Bibi, nanti saya ganti. Hanya uang Ambulans yang saya ganti. Jadi kalau Bibi kasih yang lain, Bibi yang tanggung sendiri." Lucha berkata tegas.
"Baik, tuan Lucha. Bibi mengerti." Ucap Bibi, pelan.
"Bibi harus hati-hati di rumah ini, karna ada orang yang tidak tau malu. Kalau dia mau makan, suruh dia masak untuk makannya. Biarkan dia mengurus perut suaminya juga." Ucap Lucha, dan kembali ke kamar sambil geleng kepalanya.
Selama ini Lucha tidak mau mengurus perusahaan Maminya, karena tidak mau ribut dengan Pak Berto. Tetapi beberapa hari yang lalu, Asisten dan pengacara Maminya menghubungi Lucha. Mereka mengatakan perusahaan hampir bangkrut, karena pemakaian kartu kredit yang tidak terkendali oleh Pak Berto. Hal itu membuat Lucha terkejut dan kesal.
Apalagi mengetahui Pak Berto sudah jarang datang ke kantor, makin membuatnya marah. Akhirnya dia menutup semua akses Pak Berto, ketika mengetahui perusahaan dan semua milik Maminya di wariskan kepadanya.
*((**))*
Di sisi yang lain ; Toby yang sedang mengantar Kandara pulang, telah sampai di depan rumah Kandara. "Ok, sudah sampai. Cuup... Selamat Natal." Ucap Toby sambil mencium pipi Kandara, membuatnya terkejut dan membeku.
"Astagaaa, Dara. Kau pasti membuat anakmu terkejut." Ucap Toby, membuat Kandara refleks memegang perutnya.
"Melihatmu begitu, kalau dia lahir laki-laki, dia akan mengirimkan jab ke wajahku. Heheheeee..." Ucap Toby, mencoba bercanda untuk mengalihkan rasa terkejut Kandara.
"Kalau dia perempuan?" Tanya Kandara, mencoba menenangkan hatinya.
"Yaaa, dia pasti akan senang menciumku. Jadi aku mengharapkan dia lahir perempuan." Ucap Toby tersenyum.
"Kalau begitu, kasihan Mas Mala." Ucap Kandara ikut tersenyum.
"Apa hubungannya dengan Mala?" Tanya Toby tidak mengerti.
"Yaaa... Harus traktir satu ruangan, karna kalah taruhan sama Yeni." Ucap Kandara tersenyum lebar.
"Astagaaa, aku ngga mengingatnya. Tetapi ngga papa. Mala banyak duitnya." Ucap Toby lagi.
"Mas Toby, sembarang aja." Ucap Kandara sambil mengibaskan tangannya, seakan mau memukul Toby.
"Kau ngga percaya? Benar, Mala itu banyak duitnya. Warisan dari Alm Ayahnya buanyaakk." Ucap Toby sambil membuka kedua tangannya.
"Benarkah...?" Tanya Kandara tidak percaya.
"Benar. Kami suka pergi berlibur itu, aku dibayarin tiket pp sama Mala." Ucap Toby meyakinkan Kandara.
"Dara ngga nyangka, berarti Mas Mala dan Mas Toby benar-benar rendah hati. Di kantor ngga kelihatan, saluuuttt..." Ucap Kandara sambil mengangkat dua jempolnya.
"Sudah sana turun. Nanti dikira Tante Selvine, siapa yang ngga sopan, parkir di depan pagar tanpa ijin." Ucap Toby sambil tersenyum.
"Ooh iyaa, makasi Mas. Hati-hati di jalan." Ucap Kandara setelah turun dan mengangkat tangannya.
"Ok, tidur yang nyenyak. Kalau ada perlu apa-apa, kontek aku." Ucap Toby sambil meletakan tangannya ke telinga, kode untuk Kandara menelponnya.
*- Amarah yang tersimpan di hati, seperti larva yang menyembur keluar tanpa bisa dicegah -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡