Me And You For Us

Me And You For Us
Kandara.



...~•Happy Reading•~...


Kandara adalah seorang programmer dari perusahan IT ternama di Indonesia. Kinerja Kandara di perusahan tersebut sangatlah diunggulkan. Sehingga dia bersama kedua rekannya, Mala dan Toby ditugaskan selama 10 hari di perusahan Inte'Q. Salah satu perusahan IT ternama di Seoul, Korea Selatan.


Hari ini mereka akan kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan tugas mereka di perusahan Inte'Q.


Saat tiba di Bandara Incheon, Kandara mencari kedua rekan kerjanya dengan harap-harap cemas. Karena dia menyadari telah melakukan kesalahan. 'Semoga mereka tidak marah padaku dengan apa yang terjadi pagi ini.'  Kandara membatin dan berharap.


Tadi pagi setelah kembali ke hotel, Kandara tidak menemukan kedua rekan kerjanya. Menurut pihak hotel, mereka berdua sudah check out dan menitipkan pesan bahwa mereka telah berangkat ke Bandara.


Kandara masuk ke kamarnya dan membersihkan tubuhnya. Dia mengganti pakaian lalu berdandan seadanya. Kemudian chehk out dan menyusul kedua rekannya ke Bandara, karena waktu tidak memungkinkan untuknya berlama-lama.


Kandara bersyukur, karena semua barang bawaan dan kopernya sudah dikemas sehari sebelumnya. Sehingga tidak banyak waktu yang terbuang untuk mengemasi semua barang bawaannya.


Kandara meminta tolong pihak hotel menyiapkan taksi untuknya. Sepanjang perjalanan di dalam taksi ke Bandara, Kandara terus berdoa mengharapkan perjalanannya lancar. Karena waktu yang sangat terbatas menjelang penerbangannya. Dia bersyukur, jalanan tidak terlalu padat, sehingga bisa tiba tepat waktu.


Setelah tiba di Bandara, Kandara mencari Mala dan Toby. Ketika melihat kedua rekannya, Kandara berjalan dengan cepat ke tempat mereka berdiri sambil menyeret kopernya dengan jantung yang berdetak cepat.


"Maafkan Dara, Mas Mala dan Mas Toby." ucap Kandara setelah di dekat mereka, sambil mengatur nafasnya dengan wajah yang merasa bersalah. Ketika melihat wajah kedua rekannya, Kandara makin merasa bersalah. 'Mereka pasti sangat panik dan khawatir ketika mencariku tadi pagi dan tidak menemukanku di kamar hotel.' Batin Kandara.


Kedua rekannya menengok ke arah Kandara dengan perasaan yang tidak bisa di gambarkan. Senang, lega, marah, kesal, khawatir, semua jadi satu.


"Kau dari mana saja, Kandara. Kau hampir terlambat." Ucap Toby sambil memperhatikan jam tangannya. Toby tidak pernah memanggilnya dengan nama jelas seperti itu. Tetapi karena kesal, juga cemas dan khawatir membuatnya berlaku demikian.


"Tadi pagi kami mencari dan meneleponmu berkali-kali, tetapi ponselmu tidak aktif. Apa yang terjadi denganmu, Kandaraa?" Toby menatap tajam wajah Kandara dan menghembuskan nafasnya perlahan setelah melihat mata Kandara yang mulai berkaca-kaca.


"Sudah, sudah. Dara, check in dulu, gih. Mumpung masih keburu check in. Kami sudah duluan check in, karena pikir kau masih mau stay di Seoul. Hehehe." Mala berucap dengan suara pelan dan mencoba bercanda untuk mencairkan suasana, karena mendengar suara Toby yang agak tinggi dan wajah mulai merah.


"Oh iya Mas, Dara check in dulu. Sekali lagi, maafkan Dara, yaa Mas." sambil menyatukan kedua tangannya di dada kepada kedua rekannya dan beranjak ke tempat check in dengan hati yang sedih karena telah mengecewakan mereka.


Hati Toby terus bertanya-tanya, tanpa mengalihkan pandangannya dari punggung Kandara yang sedang melangkah di depannya. 'Ada apa dengannya?'


Mala menyenggol bahu Toby dan berkata: "Toby, apakah ada sesuatu yang terjadi dengan Dara tadi malam? Dia tidak seperti biasanya. Wajahnya agak pucat dan matanya sangat sayu." Ucap Mala yang juga ikut menatap punggung Kandara.


"Itu juga yang ada dalam pikiranku, Mala. Apakah teman yang dijumpainya tadi malam melakukan sesuatu padanya?" Tanya Toby, sambil terus menatap Kandara yang sudah berjalan kembali ke tempat mereka setelah selesai check in.


'Dia tidak seperti Dara yang kami kenal. Yang ceria, hangat, dan wajah cantiknya selalu tersenyum riang, membuat banyak orang senang berdekatan dengannya.' Batin Toby.


'Dara adalah pribadi yang bertanggung jawab dan profesional. Dia tidak akan melakukan sesuatu yang tidak bertanggung jawab seperti tadi pagi. Dia bukan seperti Dara yang ada di depan kami saat ini.' Batin Mala.


Akhirnya dengan berbagai tanya dan cemas, mereka bertiga berjalan dalam diam ke ruang tunggu. Masing-masing berusaha menahan diri untuk tidak bercakap-cakap.


Terutama Kandara lebih banyak diam dan cendrung menghindar untuk bercakap-cakap dengan Mala dan Toby. Seperti yang dilakukannya setelah tiba di ruang tunggu.


Kandara pamit ke toilet, dan berlama-lama di sana. Menjelang boarding, baru kembali ke ruang tunggu untuk bersama kedua rekannya masuk ke pesawat.


...°-° Setiap perubahan sikap seseorang, ...


...pasti ada penyebabnya °-°...


...~***~...


Di dalam pesawat, Kandara tidak duduk bersama dengan kedua rekannya, karena mereka mendapakan nomor kursi yang berbeda.


Kondisi ini sedikit melegakan hati Kandara, karena bisa terhindar dari tatapan kedua rekannya. Kandara juga bisa terhindar dari berbagai pertanyaan yang harus dijawab olehnya.


Hati dan pikirannya belum siap menjawab penyebab dia tidak pulang ke hotel tadi malam. Kandara tidak akan bisa menceritakan peristiwa yang dialami tadi malam bagi kedua rekannya.


Semua yang terjadi dan yang dialami oleh Kandara tadi malam bukanlah sebuah mimpi atau halusinasi. Tetapi itu adalah kenyataan yang menghantam kesadaran serta menggoncang hati dan pikirannya.


Butiran bening yang ditahannya sepanjang pagi ini mulai mengalir di pinggiran matanya. 'Apa yang akan terjadi dengan hidupku ke depan? Apa yang akan terjadi dengan hubunganku dan Mas Lucha?' Kandara terus membantin.


Berkali-kali dicobanya menghentikan air matanya, tetapi terus saja tergenang dan mengalir. 'Tenanglah. Tenanglah Dara, fokusss' Kandara membatin sambil menepuk dadanya perlahan.


Akhirnya dia menegadakan wajahnya dan berdoa untuk penerbangan dan juga dirinya. Karena hanya Tuhanlah yang dapat menolongnya saat ini. Hanya Tuhanlah yang dapat menguatkannya.


Dia meletakan kedua tangannya di dada, menekannya dengan kuat, dia berdoa: 'Ya Tuhan, lindungilah penerbangan kami ini dan tolong kuatkanlah aku. Amin.'


Kandara menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dia menyadarkan punggung dan coba memejamkan mata dan berusaha untuk beristrahat sejenak, karena tubuhnya sangat lelah dan seakan mau remuk.


Namun hatinya yang remuk lebih menguasai tubuhnya. Sehingga sia-sia saja berusaha untuk beristirahat. Ketika matanya terpejam, semua kejadian yang dialami tadi malam bagaikan slide film yang diputar berulang-ulang.


Sekeras apa pun usahanya untuk tidak mengingat apa yang terjadi, kejadian yang dialaminya itu kembali bergulir seiring dengan deraian air mata yang mengalir di pipinya.


Yang lebih menyedihkan lagi adalah, dia tidak sanggup untuk membencinya. Wajah teduh yang dikagumi selama ini, wajah itulah yang terpatri dalam benaknya. Wajah yang sama juga dalam kenyataan.


Bukan hanya karena ketampanannya saja, tetapi sikap dan pribadi yang dikenal selama ini, itu benar adanya. Wajah yang dilihatnya tadi pagi sebelum meninggalkannya, itulah dia yang sebenarnya.


Untuk bisa bertemu dengannya dalam mimpi pun tidak mungkin. Karena dia bagaikan bintang di langit, yang bukan saja jauh dari pandangan mata, tetapi juga jauh dari jangkauan tangan. Selama ini hanya bisa melihat lewat sosial media.


Tetapi ketika bisa bertemu dengannya di dunia nyata, bisa dijangkau bukan saja dengan mata, tetapi juga berada dalam jangkauan tangan, semuanya terhempas karena suatu tindakan yang tidak terpuji dan menyakitkan.


Hati Kandara masih mengaguminya, sehingga kenyataan yang terjadi sungguh sangat menyedihkan. Dalam diam hati Kandara ikut menangis, membuat air matanya tidak bisa berhenti mengalir.


Disela-sela tangis, Kandara melihat orang di sampingnya yang mulai memperhatikannya. Kandara mengambil tissu dari dalam tasnya untuk memghapus air matanya.


Ketika melihat ponselnya yang lowbat, Kandara mengeluarkannya dan menchargernya. Dia mengalihkan pandangannya ke luar jendela, tampak awan bergulung indah. Tetapi  keindahan gulungan awan tidak mampu menghiburnya.


Kemudian Kandara menutup jendela dan menyandarkan kepalanya perlahan. 'Kiranya Engkau menghiburku, ya, Tuhan. Karena Engkaulah penghiburanku.'  Kandara berkata dalam hati, lalu memejamkan matanya.


...°-° Sebuah kehilangan yang tidak diinginkan, sangat menyakitkan °-°...


...~***~...


...~●○♡○●~...