
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Setelah kembali dari tugasnya di Surabaya, Lucha mengajak Kandara makan malam di salah satu restaurant terkenal di BSD.
Setelah pulang kerja, Kandara bersiap-siap untuk bertemu dengan Lucha. Untuk menghemat waktu, Kandara meminta Lucha tidak menjemputnya. Karena posisi restaurant ada di tengah antara rumahnya dengan kantor Lucha. Jadi mereka akan langsung bertemu di restaurant.
Seperti biasa, Kandara tiba terlebih dahulu dan harus menunggu. Beberapa saat kemudian, Lucha tiba dan meminta maaf karena terlambat. "Ngga papa, Mas. Mari kita pesan makanan." Ucap Kandara pelan, dan Lucha mengangguk mengiyakan. Kandara memberikan isyarat kepada pelayan bahwa mereka hendak memesan.
"Bagaimana kerjaanmu di Surabaya, Mas?" Tanya Kandara untuk mencairkan suasana dan memulai pembicaraan karena Lucha terlihat cuek dan hanya diam. "Baik, dan lancar." Jawab Lucha, singkat.
Kandara bingung dengan sikap Lucha. Mereka sudah tidak bertemu beberapa Minggu, tapi Lucha tidak menanyakan kabarnya atau pekerjaannya. Biasanya Kandara selalu bercerita walaupun tidak ditanya. Tetapi sekarang, Kandara tidak melakukannya. Karena pikirnya, mungkin kabar dan ceritanya atau yang dikerjakannya tidak menarik bagi Lucha.
Makanan yang dipesan oleh mereka telah disajikan oleh pelayan. Mereka berdoa masing-masing dan mulai menikmati makan malam mereka.
Ketika mereka sedang makan, tiba-tiba seseorang menyapa mereka. "Selamat malam, Dara. Selamat makan." Sapa Toby, ketika melihat Kandara sedang makan.
Sebenarnya Toby ragu-ragu untuk menyapa Kandara. Tetapi karna mereka dalam satu ruangan yang sama dan harus melewati meja Kandara, Toby merasa tidak enak kalau tidak menyapanya.
"Eeehh, selamat malam Mas Toby." Balas Kandara tersenyum, melihat Toby yang berdiri di depannya dengan penampilan yang keren. Sangat berbeda ketika sedang di kantor.
"Ooh iya, Mas Toby ini..." ucap Kandara hendak memperkenalkan Lucha, tetapi tidak berlanjut karena Lucha sudah memotong ucapannya. "Tidak usah, lanjut makanmu." Ucap Lucha, dingin.
Toby mengangkat tangannya dan membuat kode OK, dengan jarinya kepada Kandara. "Silahkan diteruskan makan malamnya, saya permisi." Ucap Toby sambil meninggalkan meja Kandara dengan dahi berlipat dan Kandara hanya mengangguk.
"Mas Lucha, kenapa sih. Itu kan teman kantorku." Ucap Kandara protes.
"Teman kantor, tapi lihat wajahmu seperti tidak pernah melihat." Ucap Lucha, kesal.
"Haaa... Emangnya kalau menyapaku, dia harus melihat kursi?" Tanya Kandara mulai kesal mendengar ucapan Lucha dan juga sikap Lucha terhadap Toby.
"Sudaaa, makan. Jangan membuat selera makanku hilang." Ucap Lucha dan mulai makan. Justru Kandara yang jadi tidak berselera, karena merasa tidak enak dengan Toby. Dia memandang Lucha dengan dahi berkerut, dan heran akan sikap Lucha.
Beberapa saat kemudian ; "Haaiii... Dara. Ngga nyangka bisa bertemu di sini." Tiba-tiba Mala datang menyapa Kandara. Lucha langsung meletakan sendok dan garpunya dengan kesal. Bunyinya lumayan keras ketika menyentuh piring.
Kandara mengabaikan apa yang dilakukan Lucha dan tersenyum. "Haaiii, Mas Mala. Iya, yaa. Ngga nyangkaa. Mas Mala janjian sama Mas Toby, ya?" Tanya Kandara.
"Ko', Dara tahu?" Mala balik bertanya.
"Tadi ada Mas Toby." Jawab Kandara sambil menunjuk dengan jempolnya ke arah jalan Toby.
"Tumben ngga ngaret. Ooh, iya. Selamat makan." Mala buru-buru pamit, karena melihat pacarnya Kandara sudah kaku seperti kanebo kering.
"Wuuuaah, itu juga dibilang teman? Kau melihatnya dengan mata yang senang, seakan-akan baru pernah bertemu." Ucap Lucha sambil menatap Kandara tajam.
...°-° Memulai sebuah pertengkaran adalah seperti membuka jalan air °-°...
Kandara balik menatap Lucha dengan mimik wajah yang tidak bisa ditebak. "Astagaaa, apakah aku harus melihat temanku dengan mata tertutup atau dengan air mata?" Ucap Kandara sudah mulai kesal.
"Kau yang memulainya, Mas. Kau tidak sopan pada teman-temanku. Mereka hanya datang menyapaku. Bukan mau mengambil laukmu." Ucap Kandara tidak mau mengalah.
Entah dari mana datangnya keberanian Kandara, sehingga bisa membalas ucapan Lucha. Biasanya dia diam membisu ketika Lucha bersikap demikian terhadapnya.
"Kau katakan aku tidak sopan? Mereka yang tidak sopan. Sudah tahu orang lagi makan, datang mengganggu. Kau juga, ikut tidak sopan." Ucap Lucha menatap Kandara, dia mulai emosi dan marah.
"Kalau kau tidak mau diganggu, makan saja di rumah atau di gurun." Ucap Kandara mulai emosi dan makin berani.
Lucha menatap Kandara dengan mata memerah karena marah. "Sekarang kau sudah berani menentangku?"
"Kalau ini dibilang menentangmu, iyaaa. Aku menentangmu." Ucap Kandara dengan wajah memerah menahan marah.
"Selama ini aku sabar dan diam saja atas semua perlakuanmu terhadap teman-temanku di Gereja. Tetapi aku tidak akan sabar dan diam atas perlakuanmu, terhadap teman-teman kantorku." Ucap Kandara emosi dan marah.
"Apa yang baru saja mereka lakukan, tidak layak kau perlakukan mereka demikian. Jadi, silahkan nikmati makan malammu." Ucap Kandara sambil berdiri. Dia sudah tidak tahan untuk duduk berlama-lama di tempat itu.
"Jika sekarang kau meninggalkan meja ini, hubungan kita sampai di sini." Ancam Lucha dengan wajah merah padam. Mendengar ucapan Lucha, Kandara makin tidak ingin berlama-lama berdiri di tempat itu.
"Baik. Selamat tinggal." Kandara membanting serbet yang ada ditangannya ke meja, mengambil tasnya dan langsung meninggalkan Lucha dalam kemarahannya.
"Kandaraaa..." teriak Lucha saat menyadari Kandara telah meninggalkannya. Mendengar suara Lucha, banyak mata memandangnya dan juga Kandara yang sedang berjalan keluar restaurant. Termasuk Toby dan Mala yang duduk tidak terlalu jauh dari meja Kandara.
Kandara berjalan keluar dari restaurant tanpa memperdulikan teriakan Lucha atau banyak mata yang memandangnya. Selain marah, Kandara sangat malu. Wajahnya sudah seperti udang rebus.
Lucha hendak mengejarnya, tetapi di tahan oleh pelayan restaurant karena belum membayar makan malam mereka. Dengan perasaan marah tidak karuan, dia mengeluarkan kartu dan berikan kepada pelayan tersebut.
Mala yang melihat Kandara keluar ruangan dengan demikian, hendak berdiri untuk mengantarnya. Tetapi Toby menahannya, agar tetap duduk.
"Jangan membuat makin keruh. Niatmu itu baik mau menolong Dara. Aku pun juga berniat demikian. Tetapi pria itu tidak berpikir demikian. Biarkan mereka menyelesaikan persoalan mereka." Ucap Toby, mengingat sikap pacar Kandara.
"Kau benar, mungkin juga Dara akan merasa malu jika bertemu dengan kita saat ini. Pacarnya sungguh, sesuatu. Kata anak jaman now." Ucap Mala dengan senyum tawar.
Kandara yang keluar dalam keadaan emosi langsung naik taksi yang sedang menurunkan penumpang. Dia menyebutkan alamatnya dan taksi langsung meninggalkan restaurant.
Ketika telponnya berbunyi dan melihat nama Lucha di sana, dia mereject dan memblokir nomornya. Kandara menjadi emosi dan marah. 'Memalukan... Benar-benar memalukan.' Guman Kandara sendiri dan air mata yang ditahannya mengalir keluar tanpa bisa ditahan lagi.
Dia menutup mulutnya untuk menahan suara tangisnya. Karena sopir taksi mulai memperhatikannya lewat kaca spion, tetapi Kandara tetap menangis. Dia tidak bisa menahan rasa malu dan sedihnya, sehingga membuatnya terus menangis.
...°-° Pengendalian diri adalah pagar yang bisa mengamankan hidup seseorang °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...