Me And You For Us

Me And You For Us
Awan Mendung.



Ketika Mikha mengetuk pintu, Kandara yang membukanya. Darel sedang mengganti baju yang diberikan Kandara.


"Mikha,, Manche mau kembali ke Amerika. Daddynya masuk Rumah Sakit, jadi kau ganti baju, kami menunggumu di ruang keluarga,. Aku akan beritahu Daddy." Ucap Darel, yang telah selesai berganti baju. Mikha memgangguk dan segera kembali ke kamarnya.


Setelah tiba di kamar tamu, Kandara langsung memeluk Manche yang hanya duduk diam. Darel mengajak mereka ke ruang keluarga, agar tidak membangunkan Efrima. Tidak lama kemudian Mikha menyusul mereka ke ruang keluarga.


"Manche, mau naik pesawat jam berapa.?" Tanya Darel.


"Yang sebisanya saja, karena aku harus kembali ke hotel untuk memgambil koperku." Ucap Manche.


"Ok, tunggu sebentar. Daddy.., kami pinjam mobil Daddy dan sopir ya., kami bertiga mau mengantar Manche ke Bandara." Ucap Darel setelah melihat Pak Darpha dan Bu Richel masuk ke ruang keluarga.


"Ok,., Manche tenang.., supaya bisa berdoa.. Daddymu baik-baik saja." Hibur Pak Darpha sambil mengusap pundak Manche. Bu Richel ke dapur untuk memgisi kue dan air mineral untuk dibawa Manche. Kandara merapikan baju manche dan memasukan ke tempatnya.


Setelah semuanya sudah rapi,, Manche berpamitan dengan Pak Darpha, Bu Richel dan Bu Selvine. Wajah Manche terlihat sangat berbeda dengan tadi sebelum mereka beristirahat. Kandara terus mengusap punggungnya.


Setelah tiba di hotel, Kandara dan Manche ke kamar untuk merapikan kopernya. Sedangkan Mikha dan Darel menunggu di lobby. Mereka tetap menggunakan masker, agar tidak terjadi gangguan yang tidak terduga.


Setelah melihat Manche dan Kandara keluar dari lift, Mikha mendekati mereka dan mengambil kartu kamar dari Manche dan menyerahkan ke resepsionis.


Mikha meminta nomor telpon Manche untuk mengirim tiket yang telah dibeli oleh Mikha.


"Ini pesawat yang dalam waktu terdekat yang masih bisa. Mari kita berangkat ke Bandara supaya tidak buru-buru. Lebih baik kita tunggu di sana." Ucap Mikha sambil membawa koper Manche untuk di masukan ke mobil yang masih menunggu mereka di dekat pintu masuk hotel. Setelah itu mereka langsung berangkat ke Bandara.


Di dalam mobil, Kandara duduk disamping Manche dan mengusap tangannya. Manche hanya diam, tanpa berucap sepata katapun.


Setelah tiba di Bandara, tidak berapa lama Manche segera cek in dan sebelum masuk ke ruang tunggu, Manche pamit dengan mereka bertiga. Manche memeluk Kandara lama dalam diam., Kandara hanya bisa mengusap punggungnya dalam diam. Karena jika dia berkata sesuatu, pasti akan menangis.


Ketika Manche hendak pamit dengan Darel, Darel memeluknya dan mengusap lengannya. "Kalau ada perlu sesuatu, hubungi kami." Ucap Darel, dan Manche mengangguk dengan air mata tergenang.


Begitu juga ketika hendak pamit dengan Mikha. Mikha langsung memeluknya dan mengusap punggungnya.


"Simpan nomorku, kalau ada apa-apa hubungi aku." Bisik Mikha, dan Manche mengangguk dengan air mata berlinang. Dia berbalik dan berjalan masuk ke ruang tunggu dengan wajah tertunduk.


Selama ini, Manche begitu tegar hadapi semua. Mengurus perusahaan bersama Mommynya dengan kuat dan tangguh setelah Daddynya mulai kurang sehat. Sehingga, kadang dia merasa tidak kalah hebatnya dengan pria.


Tetapi setelah melihat Kandara bersama Darel, ternyata dia seorang wanita yang membutuhkan tempat untuk bersandar. Terutama di saat-saat seperti ini, ketika mendengar Daddynya dilarikan ke Rumah Sakit., serasa separuh kekuatannya menghilang.


Walaupun Daddynya hanya beristirahat di rumah, dia bisa menceritakan banyak hal yang terjadi dengan perusahaan dan Daddynya bisa memberikan pendapat, nasehat, saran atau ide-ide yang membuatnya bisa bertarung di dunia bisnis yang sulit dan keras.


'Ya Tuhan..,


Ampuni aku yang sering lalai memanggil nama-Mu. Berilah kekuatan bagiku dan tolonglah daddyku yang sedang sakit. Lindungilah penerbanganku ini. Amin.!'


Manche duduk di sudut ruang tunggu dan terus berdoa untuk Daddynya.


Keluarga Darel telah mengajarkan apa arti sebuah keluarga yang dekat dan takut akan Tuhan.


*- Memiliki banyak harta tidak berarti, jika tidak dekat dengan Tuhan -*


*((**))*


Dalam perjalanan pulang dari Bandara, mereka bertiga bercakap-cakap.


"Manche adalah saudaraku, tetapi jika bukan karena Dara aku tidak mengenalnya. Padahal aku bolak balik ke New York." Ucap Darel mengingat Manche.


"Dara, kau kenal keluarganya.? Aku belum sempat tanya deddy tentang keluarganya Manche. Apakah dia memiliki saudara.?" Tanya Darel lagi.


"Tidak, Manche sepertiku. Dia anak tunggal. Mommynya orang Indonesia campuran Belanda." Ucap Kandara.


"Kalian sekolah sama-sama sampai kuliah.?" Tanya Darel lagi.


"Kami sama-sama waktu di Sekolah Menengah, setelah kuliah masih satu kampus tapi kami beda jurusan. Aku di IT, Manche di Management. Karena dia akan membantu Daddynya." Kandara menjelaskan.


"Lalu mengapa Manche bisa tinggal dengan kalian." Tanya Darel.


"Karena rumah mereka yang di Indonesia mau dijual., tetapi Mama tidak mau dia kost dan suruh tinggal di rumah kami. Karena Papa sudah meninggal, tinggal kami berdua. Rumah kami yang lama, hanya 2 kamar, jadi dia bersamaku. Tetapi kalau malam dia lebih suka tidur dengan Mama. Manche lebih mendengar dan dekat dengan Daddynya." Kandara menceritakan, sambil mengingat Manche.


"Iyaa,, kelihatan.. perubahan wajahnya waktu sebelum kita istirahat sama yang tadi.., dia sangat terpukul." Ucap Darel.


"Dia itu hanya cerewet buat yang dekat dengannya saja. Tetapi hatinya sangat baik. Waktu itu yang bertemu denganmu., karena dia bawa titipan untuk Mama dan memintaku untuk datang ambil di Cafe hotel yang tadi." Ucap Kandara dan Darel terdiam mengingat kejadian 10 tahun lalu.


"Darel,, bolehkah sekali saja kau membawaku ke Cafe itu.?"


"Kenapa..?" Tanya Darel terkejut.


"Aku suka suasana dan interior Cafenya. Hari itu karena Manche lagi meeting, aku tidak enak duduk lama dan berbicara dengannya." Ucap Kandara sambil menatap Darel.


"Tanya sama Mikha., kalau dia ijinin.,, yaa.. boleh." Ucap Darel tersenyum, dan Mikha mengangkat tangannya membuat tanda ok. Kandara tersenyum senang.


"Oooh, iyaa.. tadi kau bilang ada rumahmu yang lama. Apa jauh dari yang sekarang.?" Tanya Darel.


"Tidak., masih satu kompleks. Karena anak-anak sudah besar dan mau kamar sendiri, Mama menjualnya untuk beli rumah yang sekarang." Ucap Kandara.


Tiba-tiba telpon Kandara bergetar, ternyata Manche yang telpon.


"Allooo, Che.."


"Ra.., tolong doain yaa.. ini aku sudah mau boarding. Jangan lupa doain Daddy dan sampaikan terima kasihku untuk Darel dan Mikha." Ucap Manche dengan suara bergetar.


"Iyaa, aku sampaikan.. ingat tadi yang dibilang Grandpanya anak-anak.. kau harus tenang supaya bisa berdoa. Ok.?"


"Ok., Thank u.. lov u.."


"Lov u .."  Manche mengakhiri pembicaraan mereka.


Tiba-tiba ponsel Mikha bergetar., ada pesan masuk dari Manche.


"Mikha, tiketku ini nanti sudah tiba baru aku transfr, ya.. maaf.., tadi aku lupa membicarakannya denganmu." Pesan Manche.


"Tidak usah dipikirkan., fokus untuk kesembuhan Daddymu saja., jangan pikirkan yang lain." Mikha menjawab pesan Manche.


"Iyaa.., terima kasih Mikha."


"Manche.."


"Yaa.."


"Hapus air matamu.., itu tidak akan menyembuhkan Daddymu."


"Iyaa.."


"Jangan lupa berdoa sebelum take of."


"Iyaa.."


"Kasih kabar setelah tiba.."


"Iyaa.."


'Astagaaa, apa yang aku lakukan.., dia pasti tambah menangis.' Mikha membatin. Melihat jawaban Manche yang hanya pendek-pendek, Mikha baru tersadar. Manche pasti sedang menangis.


Apa yang dipikirkan oleh Mikha benar terjadi. Manche yang telah duduk di pesawat, makin menangis dalam diam. Untung Mikha membeli tiketnya di kelas bisnis, sehingga dia tidak terganggu dan mengganggu orang lain.


Ucapan Mikha lewat pesan, walaupun tegas, memiliki makna yang dalam bagi Manche. Sehingga dia tidak bisa membalas pesan Mikha dengan kata-kata yang lebih. Manche bisa merasakan kehangatan perhatian lewat kata-kata Mikha.


*- Sebuah perhatian kecil yang tulus, mampu menyentuh hati seseorang -*