
...~•Happy Reading•~...
Matahari masih belum bersinar terang ketika bunyi alaram ponsel membangunkan Kandara dari tidurnya yang lelap. Dia bangun dan bersyukur bisa tidur dengan nyenyak dan bangun dengan tubuh yang sehat.
Ketika hendak mengeluarkan baju dari lemari untuk dipakai ke kantor, tiba-tiba dia merasa mual. Dia langsung ke kamar mandi untuk mengeluarkan dan menghilangkan mualnya.
Setelah berkurang rasa mualnya, dia kembali menyiapkan bajunya. Rasa mual kembali menyerangnya. Refleks, tangannya menyentuh jacket Darel. Bau harum tubuh Darel menyeruak, menenangkannya.
Hal itu membuat Kandara mengambil jacket Darel dan menciumnya. Seketika rasa mualnya mulai berkurang dan perlahan menghilang. Ternyata bau tubuh Darel dapat menolongnya.
Kandara mengeluarkan jacket Darel dari dalam lemari dan memasukannya ke dalam paper bag untuk di bawa ke kantor. Hanya untuk berjaga-jaga, jika terjadi sesuatu seperti yang baru saja dialaminya.
Sebelum mandi Kandara keluar kamar menuju dapur untuk membantu Mamanya menyiapkan sarapan. Dia bisa membuat sarapan tanpa gangguan yang berarti. Kandara mulai terbiasa dengan rasa pusing dan mual di pagi hari.
Kata dokter dan Mamanya, rasa pusing dan mual di awal kehamilan itu biasa dialami oleh seorang ibu hamil. Jadi jangan membuat itu menjadi penyakit dengan panik atau stres. Kandara terus mengingatkan dirinya.
Jadi dia berusaha mengatasinya dengan bersikap santai dan sekarang ada penangkal yang bisa mengurangi dan menenangkannya. Mengingat itu, Kandara tersenyum sendiri.
Setelah sarapan, Bu Selvine mengantar Kandara ke kantor sekalian jalan ke butiknya. Bu Selvine menurunkan Kandara di pintu utama kantornya. "Terima kasih, Ma." Ucap Kandara sambil memeluk dan mencium Mamanya.
"Bekerja baik-baik dan temani Mommy bekerja, ya." Ucap Bu Selvine sambil mengelus perut Kandara dengan sayang.
"Baik, Oma. Oma juga, hati-hati di jalan." Ucap Kandara seakan-akan anaknya yang menjawab. Dia turun dari mobil dengan tersenyum.
Setelah tiba di ruang kerja, sudah banyak rekan kerja yang masuk. Kandara langsung ke meja kerjanya dan mulai bekerja seperti biasanya. Karena ada banyak pekerjaan menumpuk yang harus diselesaikan dalam waktu dekat.
Kelamaan ijin sakit membuat pekerjaannya menumpuk. Kandara sedikit merasa legah, karena dia telah melihat dan mempelajari dokumen proyek di rumah. Sehingga dia tinggal meneruskan dan mengerjakan yang sudah dipelajari.
Ketika telah lewat waktu masuk kantor dan Pak Ari belum masuk ke ruangannya, Kandara menanyakan keberadaannya kepada Mala. "Mas Mala, apakah Pak Ari tidak masuk kerja hari ini?" Tanya Kandara sambil mendekati meja kerja Mala.
"Sepertinya, iyaa, Dara. Ada apa? Apakah kau ada perlu dengan Pak Ari?" Tanya Mala, sambil menatap Kandara yang sedang berdiri di depan mejanya.
"Iyaa, Mas." Jawab Kandara, dan mencoba tersenyum tipis.
"Aku diinfoin sama Pak Ari, kalau akan masuk setelah istirahat siang. Tadi beliau langsung melakukan pertemuan dengan client. Jadi jika kita ada perlu dengannya, tunggu sampai beliau selesai pertemuan." Ucap Toby menjelaskan dari seberang meja Mala, ketika mendengar pembicaraan Kandara dan Mala. Karena letak meja kerja mereka tidak terlalu berjauhan.
Mendengar penjelasan Toby, Kandara jadi berpikir lagi. 'Kalau begitu, aku akan memberitahukan Mas Mala dan Mas Toby terlebih dahulu.' Kandara membatin. Mungkin ini yang lebih baik. Dia diberikan kesempatan untuk berbicara dengan kedua rekan satu timnya terlebih dahulu, sebelum berbicara dengan pimpinannya.
"Mas Mala dan Mas Toby. Nanti istirahat siang, kita makan di Chili Restaurant, yaa. Aku mau traktir makan siang." Ucap Kandara, sambil mencoba tersenyum. Mala dan Toby melihatnya dengan seksama, dan mencoba tersenyum ketika melihat Kandara tersenyum.
"Wuuuaaahh... Toby, hari ini bukan Ulang Tahun Dara, kan? Berarti diam-diam ada yang dapat borongan, nih." Ucap Mala, dan disambut senyum oleh Toby dan Kandara.
"Malaa. Ada yang sakit, tetapi masih bisa kerjakan borongan, ya. Wuuaooo, dua jempol." Ucap Toby, menjawab candaan Mala sambil mengangkat dua jempolnya.
"Mas Mala dan Mas Toby mau kebagian borongan ngga?" Kandara ikut menanggapi candaan kedua rekannya dan tersenyum.
"Yaaa... Diiiing, doooong. OK." Sahut Toby sambil menahan tawanya dan memberikan tanda OK dengan jarinya. Begitu juga Mala membalasnya, dengan isyarat OK.
"Ssssttt... Ayooo codiiing, udah diliatin Yeni, tuuh." Ucap Kandara sambil berjalan kembali ke mejanya.
Yeni melihat keakraban mereka bertiga dengan hati yang mulai berasap. "Pagi-pagi sudah ngerumpi, kerjaaa..." Ucap Yeni, sambil ngelap mejanya dengan tissu sekuat tenaga, karena kesal.
"Ayooo... Yang sarapan pagi batako, lap meja yang kuat. Siapa tahu, mejanya bisa berubah jadi tembok." Ucap Mala ngeledekin Yeni yang sedang kesal.
"Tobiii... Tolong disemprot air, siapa tahu bisa lebih cepat mengeras." Canda Mala lagi. Mendengar itu, Yeni meleparkan tissu di tangannya ke arah Mala.
"Malaaa... Sejak kapan, kau jadi tempat sampah?" Ucap Toby sambil tertawa.
"Sejak Yeni salah sarapan." Balas Mala tertawa, sambil melihat Yeni yang sedang kesal. Mereka berdelapan yang ada dalam satu ruangan tertawa pecah, mendengar candaan Mala dan Toby.
Yeni sendiri ikut tersenyum dalam hati mengingat candaan Mala dan Toby. Sebenarnya, Yeni senang berbalas candaan dengan Mala, Toby dan Kandara. Ini yang namanya: 'kesal, tapi kangenin.' Yeni melihat laptopnya dengan hati tersenyum.
Ketika tiba waktu istrahat siang, Kandara, Mala dan Toby pergi makan siang di Chili Restaurant kesukaan mereka dengan menggunakan mobil Mala. Walaupum restaurantnya tidak terlalu jauh dari kantor, tetapi lumayan berkeringat kalau harus berjalan kaki.
Selain itu, Mala mengajak mereka naik mobil, karena Kandara baru masuk kerja setelah pulih dari sakitnya. Hal itu disampaikan kepada Toby, dan Toby setuju dengan usulan Mala agar mereka naik mobil ke restaurant.
Setelah tiba di Chili Restaurant, Kandara turun terlebih dahulu untuk memilih tempat duduk yang nyaman bagi mereka. Kandara sangat bersyukur, masih bisa memilih tempat duduk. Karena belum banyak orang yang datang untuk makan siang.
Chili Restaurant cukup terkenal, sehingga selalu penuh, ketika tiba waktu makan siang atau makan malam. Makanannya juga sangat lezat, sehingga peminatnya lumayan banyak.
Setelah Mala dan Toby telah duduk, mereka segera pesan makanan kesukaan masing-masing. Kandara menunggu selesai makan, baru menyampaikan kepada Mala dan Toby tentang kehamilannya.
Karena dia tidak mau kedua rekannya makan dalam keadaan tidak enak. Atau mungkin juga, mereka tidak bisa makan setelah mendengar apa yang disampaikannya. Sehingga dia membiarkan mereka makan dengan tenang sambil membahas perkembangan proyek yang sedang mereka kerjakan bertiga.
Setelah selesai makan, Kandara menyampaikan maksud hatinya. "Mas Mala dan Mas Toby, hari ini kita makan bersama bukan karena Dara mendapat borongan. Tetapi Dara sengaja mengajak makan siang di sini, karena ada hal yang akan Dara sampaikan kepada Mas Mala dan Mas Toby, sebelum Dara berbicara dengan Pak Ari." Ucap Kandara pelan, dengan wajah tertunduk.
Melihat dan mendengar yang dikatakan Kandara, Mala dan Toby langsung menatapnya. Mereka sudah curiga, pasti ada hal yang akan dibicarakan Kandara. Karena mereka jarang saling mentraktir secara khusus, kecuali ada perayaan atau sukses melakukan pekerjaan mereka.
"Begini, Mas. Dara berencana mau menyerahkan surat pengunduran diri kepada Pak Ari." Ucap Kandara pelan dan tetap menunduk. Mala dan Toby terkejut mendengar apa yang diucapkan Kandara.
"Kenapa?" Tanya mereka bersamaan. Mereka yakin, Kandara serius dengan ucapannya karena dia berbicara sambil memilin jarinya.
"Dara sedang hamil, Mas. Dan Dara belum menikah." Ucap Kandara makin pelan dan menunduk. Mala dan Toby terkejut dan diam. Mereka tidak bisa berkata-kata, karena mereka tidak menyangka hal itu yang akan dikatakan oleh Kandara.
...°-° Ada suatu hal yang mudah dipahami, tetapi ada juga sulit untuk dimengerti °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...