
...~•Happy Reading•~...
Mikha menatap Darel terkejut, ketika mendengar yang dikatakannya. "Astaga, Lanna memang tidak ada rasa malunya. Atau mungkin dia pikir kau tidak tahu perbuatannya?" Ucap Mikha, Darel hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dengan hal yang terjadi ini, makin membenarkan apa yang aku katakan selama ini. Dia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkanmu." Ucap Mikha.
"Aku sudah melihat dia mendekatimu dan juga kedekatanmu dengannya, sering membuatku khawatir." Ucap Mikha, sambil mengingat keresahan hatinya ketika mengetahui Darel sedang bersama dengan Lanna.
Darel dan Mikha memang sangat dekat, tetapi untuk urusan perasaan, mereka saling menjaga dan menghargai keputusan atau pilihan masing-masing.
"Iyaa, Mikha. Jadi mari kita selesaikan persoalan ini sebelum meluas. Sekarang Melo sedang mempersiapkan comeback, jadi tiga bulan ke depan akan sangat sibuk. Jangan sampai dia merepotkanku." Ucap Darel, dan Mikha mengangguk menyetujuinya.
"Tolong kau bicarakan dengan karyawan di cafe dan nanti aku akan beritahukan waktunya, agar kau bisa mengatur pertemuanku dengannya dan juga Lanna. Supaya dia tidak bisa mengelak lagi." Ucap Darel kesal.
"Ok. Karyawannya sudah aku save, tinggal tunggu instruksi darimu. Jangan menunda sesuatu yang bisa kau selesaikan, sakitnya itu di siniii." Ucap Mikha sambil menunjuk matanya, dan tersenyum. Darel pun ikut tersenyum.
"Ooh iya Mikha, aku mau minta tolong." Ucap Darel, mengingat ucapan dan sikap Baek, saat pertemuan beberapa waktu lalu. Darel merasa ada hal yang mengganjal di hatinya dan perlu disingkirkan atau diselesaikan.
"Kau mau minta tolong apa?" Tanya Mikha, melihat wajah Darel yang kembali serius.
"Begini, Mikha. Kau tolong cek, apakah Baek ada berhubungan dengan Lanna? Hubungan apa saja, karena aku sedang mencurigai sesuatu." Ucap Darel.
"Ok, nanti aku akan cek untukmu. Tetapi sebenarnya beberapa waktu lalu, aku mau mengingatkanmu mengenai Baek. Tetapi karena aku tidak punya bukti dan hanya feelling saja, aku tidak bisa mengatakannya padamu. Apalagi kalian satu grup, bisa merusak kerja sama kalian." Ucap Mikha.
"Msksudmu, bagaimana?" Tanya Darel, karena tidak mengerti maksud Mikha..
"Dia sepertinya ingin bersaing denganmu. Entah mungkin iri atau ingin menunjukan dirinya lebih baik darimu." Ucap Mikha.
"Sebenarnya, kalau dia ingin menjadi Leader Melo, dia cukup bilang padaku. Aku akan memberikan itu kepadanya dengan senang hati." Ucap Darel.
"Bukan saja tentang leader, tapi juga tentang lagu-lagu yang kau ciptakan untuk Melo. Lagumu selalu dipilih sebagai lagu utama dan hasilnya, booom... Menurutku, itu sepertinya yang menjadi faktor utama." Ucap Mikha, menyampaikan apa yang dipikirkannya.
"Tetapi Mikha, kalau lagu ciptaanku booom, dampaknya bagus untuk Melo dan dia juga menikmati hasilnya." Ucap Darel bingung kalau Baek sampai berpikir dan iri karena demikian.
"Itu pikiranmu, karena kau utamakan kebaikan Melo. Kalau Baek, sepertinya tidak. Mungkin dia ingin lebih terkenal darimu." Ucap Mikha, memganalisa.
"Yaaa... Kalau memang dia berpikir begitu, kita lihat saja Mini Album yang akan dirilis nanti. Ini kesempatan baginya untuk membuktikan dirinya." Ucap Darel, memcoba berpikir positif.
"Untuk Mini Albun ini, lagumu dipakai lagi sebagai lagu utama?" Tanya Mikha.
"Tidak. Lagunya Baek." Jawab Darel singkat.
"Haaaa...?! Padahal lagu yang kau dengarkan untukku itu, sangat bagus. Aku sangat menyukainya, dan ingin mendengar Melo menyanyikannya." Ucap Mikha kecewa.
Beberapa waktu yang lalu saat ke studio, Darel pernah mendengarkan padanya, lagu baru ciptaannya yang telah selesai dibuat untuk rencana comeback Melo. Sehingga Mikha tahu, lagu tersebut sangat bagus. Baik musik, atau liriknya, Mikha sangat senang mendengarnya.
Dengan hati yang heran dan penuh tanya, Mikha melihat Darel dan bertanya. "Apakah lagu Baek lebih bagus dari lagumu, sehingga mereka memilih lagunya?" Mikha bertanya lagi, karena penasaran.
Darel terdiam, karena tidak tahu harus menjawab apa kepada Mikha. Karena baginya, bagus tidaknya sebuah lagu tergantung selerah musik seseorang.
Bisa saja menurut dirinya dan Mikha bagus, tetapi belum tentu untuk para member atau pihak Agency. Karena Mikha adalah orang yang terdekat dengannya. Dia pasti akan membelanya, akan mengatakan bagus, karena mungkin juga satu selera musiknya.
Hal itu selalu dia ingatkan kepada dirinya sendiri, untuk mengendalikan hatinya. Supaya tidak merasa lebih baik dari orang lain atau menjadi angkuh.
"Mereka belum mendengar laguku. Mereka menentukan lagu untuk Melo saat aku tidak ada. Waktu peristiwa itu." Ucap Darel mengingatkan peristiwa yang terjadi beberapa waktu yang lalu.
"Mereka mau dengarkan laguku, tetapi aku tidak mengijinkannya. Karena mereka sudah memutuskan semua lagu untuk Mini Album Melo. Jadi untuk apa lagi mendengarkan laguku." Ucap Darel.
"Aku setuju denganmu, tidak usah dengarkan lagumu untuk mereka semua. Dan kau juga tidak usah membantu Baek untuk memperbaiki lagunya." Ucap Mikha
"Ko', kau tahu aku akan bantu memperbaiki lagu Baek?" Tanya Darel heran.
"Astagaaa, kalau aku tidak tahu, berarti namamu bukan Darel. Apa pun alasannya, tidak usah dibantu. Biarkan saja Baek yang memperbaikinya sendiri." Ucap Mikha mulai emosi.
"Dia mau menunjukan kemampuannya bukan? Jadi biarkan dia sendiri yang memperbaikinya. Biarkan mereka semua menerima akibat keputusan mereka." Ucap Mikha lagi makin emosi.
"Sekali-sekali Manager Melo dan para member Melo perlu belajar membedakan emas dan perunggu." Ucap Mikha yang sudah emosi dan kesal. Dia tidak rela Darel diperlakukan demikian, setelah apa yang telah dilakukan Darel untuk Melo selama ini.
"Aku sedang memikirkannya, makanya tadi bertemu dengan Pak Yook. Beliau mengatakan ada yang mau dengar laguku dan mau memakainya. Tapi aku belum putuskan." Ucap Darel untuk menenangkan Mikha.
"Kenapa kau tidak gunakan lagu itu untuk dirimu sendiri saja? Kau punya studio, punya semua perangkat pendukung. Aku yakin, jika kau membuat Album Solo dengan lagu-lagu ciptaanmu pasti booom..." Ucap Mikha memberikan ide sambil mengangkat kedua tangannya.
"Iyaa. Aku pernah pikirkan itu, setelah laguku tidak jadi dipakai untuk Melo. Aku berpikir untuk merilis Album Soloku. Aku akan mengarensemen ulang lagu itu untuk kunyanyikan sendiri."
"Aku juga akan menulis beberapa lagu lagi, sekalian kirim pesan untuk Dara." Ucap Darel lagi dan bersemangat, karena muncul ide membuat lagu baru untuk mengirimkan pesan untuk Kandara.
"Aku setuju, lebih baik kau nyanyikan sendiri lagu itu. Aku tidak sabar mendengar lagu itu dinyanyikan olehmu. Aku yakin, pasti booom..." Mikha juga ikut bersemangat.
"Baiklah, nanti kita pikirkan lagi. Malam ini aku akan tidur di hotel." Ucap Darel dan keluar dari ruang kerja Mikha menuju kamar pribadinya.
Ketika tiba di kamarnya, Darel memandang seluruh ruangan dengan hati yang berbeda. Karena sekarang kamarnya selalu mengingatkannya kepada Kandara. Sebelum tidur, Darel berdoa :
"Ya, Tuhan. Terima kasih untuk hari ini. Ampunilah pikiran dan sikapku yang tidak berkenan kepada-Mu. Kiranya Engkau memberikan tidur yang nyenyak bagiku dan mereka yang kusayangi. Dalam nama Tuhan Yesus aku berdoa. Amin!"
...°-° Persaingan adalah hal biasa, yang menjadi tidak biasa, jika persaingan itu tidak sehat °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...