
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Kandara telah merapikan dirinya, karena hendak ke Rumah Sakit untuk memeriksakan kehamilannya. Dia sedang menunggu Mamanya pulang dari Butik.
Bu Selvine pagi-pagi sudah ke butik untuk melihat beberapa produk yang telah selesai dikerjakan oleh karyawannya sebelum dikirim kepada pemesan. Sehingga Bu Selvine harus ke butik terlebih dulu, sebelum mengantar Kandara ke Rumah Sakit.
"Tok tok tok... Dara, kau sudah siap?" Tanya Bu Selvine, setelah kembali dari butik. Karena tidak melihat Kandara di ruang tamu, Bu Selvine mengetuk pintu kamar Kandara dan menanyakan persiapannya. "Sudah, Ma." Jawab Kandara sambil membuka pintu kamarnya.
"Ayooo. Mari kita berangkat, keburu siang. Jangan lupa bawa pasminamu." Ucap Bu Selvine mengingatkan Kandara sambil beranjak keluar. Kandara kembali masuk ke kamar untuk mengambil yang dibutuhkan, kemudian keluar ke halaman menyusul Mamanya.
"Mama, cepat sekali, pulangnya." Ucap Kandara setelah masuk ke mobil dan duduk di samping Mamanya. Bu Selvine memang lebih cepat dari biasanya.
"Iyaa... Mama hanya periksa hasil kerja karyawan, sebelum dikirim ke pemesan." Jawab Bu Selvine sambil membawa mobil keluar dari kompleks.
Ketika tiba di Rumah sakit, Kandara turun terlebih dahulu untuk mendaftarkan dirinya. Karena Bu Selvine harus mencari tempat parkir. Tidak lama kemudian, Kandara dipanggil ke ruang dokter untuk memeriksakan kehamilannya. Bu Selvine terus mendampingi dan menyemangatinya.
"Apa kabar Bu Kandara?" Tanya dokter, ketika Kandara dan Bu Selvine duduk di kursi depan meja dokter untuk diperiksa.
"Kabar baik, Bu dokter. Terima kasih." Kandara menjawab sambil tersenyum.
"Ooh iyaa, dok. Akhir-akhir ini saya sering pusing, kalau pagi." Kandara mengatakan apa yang dirasakannya, agar dr dapat menolongnya.
"Itu hal biasa, Bu Kandara. Mari kita periksa kandungannya." Ucap dokter sambil meminta Kandara untuk berbaring. Dokter mengangguk dan tersenyum setelah memeriksa kondisi Kandara dan bayinya.
"Kondisi kalian bagus, Bu Kandara." Ucap dokter, sambil melihat Kandara dengan wajah tersenyum. Mendengar itu, Kandara dan Bu Selvine senang dan juga ikut tersenyum.
"Bu dokter, saya rencana mau masuk kerja lagi. Apakah kondisi saya dan bayi tidak apa-apa, jika saya bekerja lagi?" Tanya Kandara, setelah dokter selesai memeriksa kehamilannya. Dia berencana masuk kerja, setelah mendengar pendapat dokter.
"Tidak apa-apa Bu Kandara. Kondisi Ibu dan bayi baik dan sehat. Hanya jangan terlalu lelah atau stres. Konsumsi makanan yang sehat dan juga jangan lupa minum susu." Jawab dokter, menjelaskan.
"Karena ini bukan jadwal pemeriksaan rutin, jangan lupa kembali minggu depan, ya. Konsumsi terus vitamin yang telah diberikan." Ucap dokter lagi, hangat dan ramah.
"Iyaa, dokter. Terima kasih." Ucap Kandara mengerti. Memang hari ini bukan waktu pemeriksaan rutin. Dia hanya mau berkonsultasi dengan dokter, apakah tidak mengapa jika dia mulai bekerja.
Dia memang mau memeriksakan kesehatan dirinya dan anak-anak, agar jika terus bekerja, dia tahu batas-batas aktivitasnya. Sehingga anak-anaknya bisa terjaga keamanannya.
Setelah mendengar dokter mengatakan semuanya baik-baik saja, Kandara dan Bu Selvine bernafas lega. Selama berkonsultasi dengan dokter, Bu Selvine terus mengelus punggung Kandara untuk menenangkannya.
Bu Selvine tahu, Kandara mulai merasa cemas setelah berencana mau masuk kerja lagi. Cemasnya bukan karena banyaknya pekerjaan saja, tetapi lebih utama pada kondisi bayinya.
Setelah tiba di rumah, mereka bersihkan diri dan Bu Selvine menyiapkan makan siang untuk mereka. "Dara, tolong siapkan perangkat makannya. Mama mau siapkan lauk pauknya." Ucap Bu Selvine sambil menuju dapur.
"Iyaa, Ma." Ucap Kandara sambil mengambil perangkat makan dan menata di meja makan.
Setelah selesai makan, mereka masih duduk di meja makan untuk berbincang-bincang. Karena ada yang mau dibicarakan Kandara dengan Mamanya. "Ma... Besok Dara berencana, mau memberitahukan kondisi kehamilan Dara kepada Pak Ari." Ucap Kandara membuka percakapan dengan Mamanya.
"Apakah kau sudah siap?" Tanya Bu Selvine untuk meyakinkan Kandara dan dirinya sendiri.
"Baiklah, kalau itu menurutmu lebih baik. Dan apakah kau akan menyampaikannya juga untuk Mala dan Toby?" Tanya Bu Selvine lagi.
"Iyaa, Ma. Nanti setelah bicara dengan Pak Ari, Dara akan bicara dengan Mas Mala dan Mas Toby. Agar mereka tidak terkejut, jika Dara harus mengundurkan diri." Ucap Kandara lagi.
"Baiklah, Mama mendukung semua keputusanmu. Pikirkan baik-baik semuanya, sebelum mengambil keputusan." Ucap Bu Selvine sambil mengelus tangan Kandara.
Sebenarnya, ketika mengetahui Kandara berpacaran dengan Lucha, Bu Selvine lebih berharap Kandara berpacaran dengan Toby. Karena menurut pandangan seorang Ibu, Toby lebih baik berkali lipat dari Lucha.
Bu Selvine juga bisa melihat dan merasakan bahwa Toby menyayangi putrinya. Tetapi dengan apa yang dialami oleh Kandara saat ini, Bu Selvine pendam harapan itu dalam-dalam. Bahkan merasa malu untuk memikirkannya.
"Iyaa, Ma. Tolong doakan yang Dara rencanakan ya, Ma. Agar Dara bisa berbicara dengan Pak Ari, Mas Mala dan Mas Toby. Dan ketika Dara menyampaikan ini, mereka tidak terlalu kecewa terhadap Dara." Ucap Kandara dengan mata berembun.
Melihat wajah Kandara yang tertunduk, Bu Selvine bisa mengerti dan merasakan apa yang sedang dirasakannya. Walaupun dia berusaha untuk tegar, tapi genangan air mata tidak bisa membohongi hatinya.
Kandara pasti akan merasa kehilangan suasana kerja dan juga rekan-rekan kerjanya yang telah bersama dengannya beberapa tahun ini. Hati Bu Selvine juga ikut sedih memikirkannya.
"Mama hanya bisa berdoa, kiranya Tuhan memberikan jalan keluar yang terbaik bagimu dan anak-anak." Ucap Bu Selvine sambil menepuk pelan tangan Kandara dalam genggamannya.
"Amiiin. Makasi, Ma." Kandara mengaminkan doa dan harapan Mamanya.
"Mariii, kau beristirahat sejenak. Mama mau ke butik sebentar untuk melihat proses pengepakan sebelum dikirim." Ucap Bu Selvine sambil berdiri dari meja makan. Kandara juga berdiri dan merapikan meja makan.
Setelah itu, Kandara mencuci semua perangkat makan yang telah mereka pakai untuk makan siang. "Dara, Mama tinggalin, ya. Jangan lupa kunci pintu dan angkat kuncinya. Agar nanti Mama pulang, tidak mengganggumu." Ucap Bu Selvine, sambil mengelus pundak Kandara.
"Iyaa, Ma. Hati-hati." Ucap Kandara, sambil berbalik memeluk Mamanya dengan sayang.
Setelah Bu Selvine telah berangkat, Kandara mengunci pintu, mengangkat kuncinya dan beranjak ke kamar untuk mempersiapkan semua keperluan ke kantor.
Ketika melihat baju-baju kantornya, hatinya menjadi sedih. Dia menggeleng berulang kali, mengharapkan dapat menghilangkan apa yang sedang dipikirkannya. Suasana kantor dan sikap rekan-rekannya. 'Aku pasti akan sangat merindukan mereka.' Kandara membatin.
Dengan hati yang sedih, Kandara naik ke tempat tidur, umtuk beristirahat sejenak. Tiba-tiba ada notifikasi dari Channel youtube Darel. Kandara membuka linknya dan melihat video yang baru diuplod. Darel sedang berkumpul bersama keluarga dan bernyanyi untuk menghibur keluarganya.
Melihat yang dilakukan Darel, Kandara memegang dadanya untuk menenangkan hatinya. Dia teringat kedua anaknya, pasti dia telah membuat anak-anaknya bersedih.
Mendengar yang dikatakan Darel; 'Semoga bisa menghibur yang mendengar.' Kandara tersenyum dengan mata berembun. "Semoga kalian terhibur juga ya, kids." Ucap Kandara sambil mengelus pelan perutnya.
"Terima kasih Daddy, telah menghibur kami dengan lagu yang merdu dan indah." Ucap Kandara lagi, dan tetap mengelus perutnya. Kandara naik ke atas tempat tidur dan berdoa untuk semua yang dia alami hari ini dan yang akan dia alami di esok hari.
Dia membaringkan dirinya dan tidur ditemani alunan musik dan lagu yang dinyanyikan oleh Darel.
...°-° Setiap hati yang menyayangi memiliki frekuensi tersembunyi °-°...
...~***~...
...~●○♡○●~...