Me And You For Us

Me And You For Us
Intisari 2



Kandara memikirkan apa yang dialami dan terjadi setelah bertemu dengan Darel secara nyata.


'Terlihat reaksinya terhadap Lucha waktu di Tol. Dia tidak segan-segan berhadapan dengan Lucha. Mikha sangat mengetahui itu, sehingga dia memberikan kode untuk berjalan terus.'


Aku terlalu menikmati kasih sayangnya, sehingga lupa memperhatikan hal-hal lain yang dapat membuat kami berselisi paham. Hal-hal yang bisa membuat Darel marah. Pantas saja tadi Mama bilang 'biarkan saja kalau Darel memarahimu.'


'Kenapa aku lupa menanyakan Mama, kenapa Efraim yang datang menjemputku waktu di Rest Area, Tol Jagorawi. Sedangkan Efraim duduk di belakang. Pasti Mama sudah melihat Darel marah, sehingga menyuruh Efraim yang turun.'  Kandara terus berpikir dan membatin.


'Saat itu aku memang terlalu kaget dengan semua yang terjadi secara beruntun karena kedatangan Darel yang tiba-tiba. Membuatku tidak bisa melihat segala sesuatu dengan baik. Dan Darel sangat memahami situasi itu.'


'Sedangkan aku sampai sekarang, belum memahami apa pun. Aku harus segera mencari sopir, kalau tidak mau melihatnya marah. Karena dia sudah mengatakannya dua kali.' Kandara menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.


Dia duduk di tepi tempat tidur, mengatupkan kedua tangannya dan berdoa didalam hatinya, agar tidak membangunkan putrinya.


'Yaa,, Bapa..


Berikanlah hikmat bagiku, agar dapat melihat dan mengerti segala sesuatu dengan baik. Tolong sempurnakanlah segala sesuatu yang kami persiapkan untuk acara kami di esok hari.


Dalam nama Tuhan Yesus, kami meminta. Amin.!'


*((**))*


Mentari telah membangunkan seisi jagad raya, termasuk keluarga Bu Selvine. Kandara telah bangun pagi-pagi dan membantu ibunya di dapur.


"Dara, lebih baik kau bersihkan halaman depan. Mungkin ada ranting kering atau bunga yang sudah layu dan sekalian di siram. Mama akan buatkan sarapan untuk kita. Nanti anak-anak ke sekolah, tetapi tidak usah ikut kegiatan eks-school." Ucap Bu Selvine sambil mulai mempersiapkan sarapan.


Ketika anak-anak bangun dan melihat Oma dan Mamanya sibuk, mereka menanyakannya.


"Morning Oma,." Sapa mereka bersamaan. "Morning.., bagus kalian sudah bangun. Tolong rapikan kamar kalian dengan baik dan rapih." Ucap Bu Selvine. Langsung anak-anak menyadari, keadaan rumahnya yang bersih dan rapih lebih dari biasanya.


"Baik, Oma.. tetapi Oma, apakah mau ada acara.? Dan Mommy di mana..?" Tanya Efraim.


"Mommy lagi bersihkan halaman, karena Grandma dan Grandpa kalian akan datang hari ini." Ucap Bu Selvine. Anak-anak bersorak dan langsung berlari ke halaman.


"Morniiing Mom." "Morniiing. Syukur kalian sudah bangun. Tolong bersihkan kamar kalian."


"Iyaa Mom.., Oma sudah bilang."


"Kalau begitu, tolong turuti apa yang Oma bilang." Ucap Kandara lagi.


"Baik, Mom.. tapi bolehkah kami libur sekolah hari ini...? Karena kata Oma, Grandma dan Grandpa mau datang." Ucap Efraim sambil mereka berdua mengatupkan kedua tangannya di dada.


"Baiklah., nanti Mommy minta ijin dari gurumu." Ucap Kandara dan anak-anaknya langsung memeluknya.


Kandara mengijinkannya, karena dia berpikir akan banyak waktu terbuang di jalan untuk mengantar mereka ke sekolah. Lebih baik dia pakai untuk ke tempat cuci mobil. Belum lagi harus menjemput mereka.


'Jadi teringat ucapan Darel, alangka baiknya kalian punya sopir.' Kandara jadi tersenyum sendiri ketika mengingatnya.


"Kenapa kau tersenyum sendiri begitu.?" Tanya Bu Selvine yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.


"Ngga, Ma.., tadi anak-anak riang mendengar Grandma dan Grandpa mau datang, mereka minta libur hari ini. Jadi Dara akan punya waktu untuk cuci mobil." Ucap Kandara mengalihkan., karena Jika mengatahkan yang ada dipikirannya, Mamanya akan bernyanyi tanpa nada di pagi ini.


Setelah mereka semua selesai sarapan, Bu Selvine ke pasar untuk membeli beberapa bahan kue. Bu Selvine akan membuat kue untuk persiapan di rumah, karena sore baru keluarga Darel tiba.


Kandara pergi mencuci mobil, sambil membeli beberapa bunga segar untuk diletakan di ruang tamu dan ruang makan. Tidak lupa juga dia membeli handuk yang berkualitas baik dan mengloundrynya dengan cepat.


Sesampai di rumah, dia merasa senang, anak-anak telah merapikan kamar mereka dengan rapih dan bersih. Dia meletakan handuk di atas tempat tidur kamar tamu dan juga di kamarnya.


Setelah itu, dia merangkai bunga mawar merah dan putih yang dibelinya dan diletakan keduanya di ruang tamu. Karena ruang makan masih dipakai Bu Selvine untuk membuat kue dan puding.


Setelah itu, Kandara membersihkan semua kamar mandi dan meletakan perlengkapan mandi. Siapa tahu ada manfaatnya.


Setelah melihat semuanya lumayan rapi, Kandara mengingatkan Mamanya untuk meletakan rangkian bunga yang satu di meja makan. Karena dia berencana akan berangkat ke Bandara lebih awal.


Dia tidak mengenakan baju formal. Dia hanya mengenakan celana panjang dan blus berkerah serta blazer lengan pendek. Dia mengenakan sepatu tanpa hak, karena dia akan menyetir mobil.


Tidak lupa dia berdoa untuk penerbangan Darel dan keluarga, juga perjalanannya ke Bandara. Semoga mereka semua dalam lindungan Tuhan.


Kandara mengambil kunci mobil, dan pamit kepada Mamanya dan anak-anak.


"Kids, jangan lupa berdoa untuk penerbangan Daddy dan perjalanan Mommy ke Bandara, yaa." Ucap Kandara, sambil mencium puncak kepala anak-anaknya dan mencium pipi Mamanya.


Melihat waktunya masih bisa, Kandara mampir ke salon langganannya untuk creambath. Dia ingin merenggangkan otot-otot di leher dan bahunya yang sangat tegang.


Sehingga ketika bertemu dengan orang tua Darel, dia tidak seperti orang yang baru selesai kerja paksa.


*((**))*


Kandara telah tiba di Bandara sebelum waktu kedatangan Darel dan keluarga. Dia bersyukur, karena jalanan tidak terlalu padat. Sehingga dia bisa duduk untuk merenggangkan kakinya sejenak.


Tidak lama kemudian, ponsel Kandara bergetar. Ternyata Darel yang menelpon.


Kandara langsung menerimanya.


"Allooo, Darel.."


"Allooo Dara, kau di mana.?" Tanya Darel.


"Aku sudah di Bandara, di tempat kedatangan. Kau sudah keluar.?" Tanya Kandara.


"Astagaaa, sorriii.., aku lupa katakan padamu kami turun di Terminal 'Q', karena kami pakai pesawat pribadi." Ucap Darel. Mendengar itu, Kandara membeku. Dia meletakan tangan kanannya di dadanya.


"Allooo, Dara.. kau mendengarku.?" Tanya Darel karena tidak mendengar suaranya. Kandara segera menguasai dirinya dan menjawab.


"Ooh iyaa, Darel.. aku akan ke sana. Tunggu sebentar yaa.." ucap Dara langsung menuju tempat parkir.


"Ok,., hati-hati.. dan tidak usah buru-buru." Ucap Darel sambil mengusap rambutnya. Dia sudah mulai mengerti Kandara.


Mereka masih duduk di lounge room, ketika melihat sikap Darel, Pak Darpha mendekat dan menanyakan


"Darel, ada apa.?"


"Daddy,, aku lupa kasih tahu Dara, kalau kita pakai pesawat pribadi, jadi dia tunggu di terminal kedatangan pesawat komersial. Daddy tolong tenangkan Mommy, yaa,,, mungkin Dara agak lama ke sini." Ucap Darel meminta dukungan dari Pak Darpha.


Mikha yang menyadari ada yang tidak beres, terus mengajak bicara Mommynya. Bercerita tentang ketika mereka berlibur di puncak. Supaya bisa mengalihkan perhatian Mommynya.


Tidak lama kemudian, Kandara menelpon.


"Allooo, Darel.. aku sudah mau sampai. Aku akan tunggu di pintu keluar." Ucap Kandara.


"Ok  c u.." jawab Darel dan langsung mengajak orang tuanya keluar sambil berbisik kepada Mikha.


"Thank u." Mikha mengangguk mengerti.


Setelah melihat orang tua Darel sudah keluar, Kandara membungkuk memberi hormat. Tetapi Bu Richel langsung memeluknya.


"Astaga Dara, jantungmu seperti orang habis lari marathon." Bisik Bu Richel sambil mengusap punggungnya. Wajah Kandara langsung memerah.


*- Kesan pertama itu selalu berkesan; entah kesan baik atau kesan buruk -*