Me And You For Us

Me And You For Us
Ketulusan



Baek bersama teman-temannya masih berpesta di bar merayakan kemenangan Baek atas Darel, menurut mereka.


"Baek. Apakah hal yang kita lakukan ini, baik untuk masa depan Melo?" Tanya seorang temannya yang masih belum mabuk. Dia mulai merasa khawatir melihat apa yang dilakukan oleh Baek.


Karena selama ini, dia bisa hidup dengan baik, karena kesuksesan Melo. Selama dia mengikuti dan membantu Melo, Darel adalah bintangnya Melo. Jika keadaan ini berlanjut, sama saja Baek sedang membunuh Melo.


Kalau Darel, pasti akan bangkit lagi dengan semua potensi dirinya. Dan sebuah kebohongan tidak akan bertahan lama. Suatu saat akan terbongkar dan Darel bisa bersinar lagi. Sedangkan Melo yang telah hancur, mungkinkah masih bisa dipulihkan lagi? Apalagi jika Darel sudah tidak menjadi leadernya.


Dia memandang Baek yang sudah mabuk dengan hati was-was. Karena ini menyangkut masa depan keluarganya juga. "Apakah kau melihat semua ini baik?" Tanyanya kepada teman di sebelahnya yang belum mabuk, karena tidak banyak minum.


"Itu yang sedang aku pikirkan. Yang kita lakukan ini sudah melewati batas. Semoga Darel tidak memperkarakan ini. Karena aku tahu, kita yang salah. Memang benar yang dikatakan orang yang posting itu. Mereka menerima hadiah itu." Ucapnya lagi.


"Mengapa kita tidak menyelidikinya dulu, baru berkomentar mengikuti keingiman Baek? Aku jadi khawatir dengan masa depanku. Bukan saja karena Melo yang hancur, tetapi perbuatan ini bisa membawa kita ke pengadilan."


"Kau benar, semoga masih ada kesempatan untuk kita memperbaikinya. Sudah cukup kita bersenang-senang. Setelah ini, mari kita pulang." Ucapnya lagi.


*((**))*


Di sisi yang lain ; Darel masih duduk di balkon merenungi semua yang sedang terjadi hari ini. Dia mengingat semua yang telah mereka lalui bersama lebih dari lima tahun.


Memang tidak semuanya baik dan mulus, tetapi semua kesulitan bisa dilewati karena saling percaya dan menghormati satu dengan yang lain. 'Semoga kejadian ini tidak membuat kita saling melupakan dan menyakiti.' Darel berkata dalam hatinya yang kecewa dan sedih.


Tidak lama kemudian, ada bunyi ketukkan di pintu. Ketika melihat Mikha yang berdiri di depan pintu, Darel membuka pintu untuknya. Mereka berdua berjalan menuju balkon dan duduk di sana sambil minum minuman hangat yang di bawa oleh karyawan.


"Darel, ada apa denganmu? Apakah kau sudah mengetahui, siapa orangnya?" Tanya Mikha ragu-ragu, karena melihat wajah Darel yang redup.


"Iyaa, Mikha. Itulah yang membuatku sedih. Aku sedang memikirkan hal baik ketika bersamanya, supaya jangan sampai aku  membencinya." Ucap Darel, tetap memandang jauh kedepan.


"Apakah aku mengenal orangnya?" Tanya Mikha, seakan tidak percaya mendengar apa yang Darel katakan.


"Iyaa, dan mungkin kau yang lebih tahu dariku." Jawab Darel. Mikha langsung memandang Darel dan berpikir.


"Apakah ini perbuatan Baek?" Tanya Mikha ragu-ragu. Darel hanya menggaguk tanpa melihat Mikha.


"Astagaaa. Aku pernah merasa dia iri kepadamu, tetapi tidak menyangka dia bisa lakukan perbuatan serendah ini." Ucap Mikha sambil berdiri, karena kesal.


"Aku sendiri sampai sekarang masih belum bisa percaya, tetapi semua bukti clear. Dia dan teman-teman yang melakukannya." Ucap Darel yang masih bersedih.


"Apakah kau akan memperkarakan dia?" Tanya Mikha prihatin, jika itu sampai terjadi.


"Tidak, Mikha. Melo lagi seperti ini, jika para member saling ribut. Melo makin terpuruk dan memalukan." Ucap Darel tetap merasa sedih.


"Biarkan saja dulu. Kita lihat saja, apa lagi yang akan dilakukannya. Supaya hatinya mungkin lebih lega, setelah keluar semuanya. Aku tidak menyangka dia begitu membenciku, sampai tega mengorbankan Melo." Ucap Darel lagi. Dia sedang berpikir, mungkin ada yang salah ketika mereka bersama-sama.


"Mari, kita makan malam. Kau mau makan di sini, atau kita makan di luar?" Tanya Mikha, mengalihkan pemikiran Darel dari rasa kecewa dan sedihnya terhadap Baek.


"Kau mau makan apa? Biar aku pesan untuk mereka bawa." Tanya Mikha, berusaha mengajak Darel bercakap-cakap untuk mengalihkan pemikirannya dari peristiwa yang sedang terjadi.


"Kau pesan sesuai denganmu saja, karena aku lagi tidak berselera untuk makan. Aku akan mengikuti makanmu." Ucap Darel, tidak bersemangat. Mikha langsung pesan makan malam yang sesuai dengan kondisi Darel, agar dia bisa makan.


*((**))*


Di bagian bumi yang lain ; Kandara yang baru pulang dari tempat Toby, langsung masuk ke rumah dan duduk di meja makan untuk minum minuman hangat yang telah dibuat oleh Bu Selvine.


"Minum ini, bersihkan tubuhmu lalu istirahat. Besok baru diceritakan, kenapa kau diundang oleh orang tua Toby." Ucap Bu Selvine sambil memberikan segelas susu panas untuk Kandara.


"Dara jawab sekarang saja, Bu. Karena Dara tidak tahu, kenapa diundang. Tadi di kantor, Ibunya Mas Toby telpon Mas Toby, dan minta bicara dengan Dara. Yaa, itu tadi. Ibunya mengundang Dara hadir di ulang tahun Ayahnya Mas Toby." Jawab Kandara sesuai yang dialaminya.


"Apakah di sana ada orang lain yang diundang juga?" Tanya Bu Selvine menyelidiki.


"Ada Ma, sepertinya keluarga besar orang tua Mas Toby." Jawab Kandara pelan.


"Astaga, jangan sampai mereka menyangka kau adalah pacarnya Toby." Ucap Bu Selvine khawatir.


"Mungkin ada, Ma. Tetapi Mas Toby perkenalkan Dara sebagai teman kerjanya." Ucap Kandara sambil tersenyum dalam hati mengingat wajah-wajah keluarganya yang tidak percaya.


"Syukurlah, sekarang cepatlah istirahat. Karna besok harus bangun pagi untuk pergi kerja." Ucap Bu Selvine yang tidak mau bertanya lebih lanjut lagi.


Sebagai seorang Ibu, Bu Selvine bisa mengerti yang dilakukan orang tua Toby. Pasti mereka ingin menjodohkan Toby dengan Kandara. Jika hal ini terjadi sebelum mengetahui kehamilan Kandara, Bu Selvine akan senang sekali. Bu Selvine akan mendukung niat hati orang tua Toby. Tetapi sekarang, jangankan mendukung, mengharapkan saja Bu Selvine tidak berani.


Kandara telah masuk ke kamar dan sudah membersihkan tubuhnya dengan air hangat yang telah disediakan oleh Bu Selvine untuknya.


Sebelum berbaring, Kandara melihat sosial media dan notifikasi dari channel Darel. Kandara terkejut melihat MV, Lagu Natal Darel yang baru di rilis. Dia baru melihatnya, karena seharian sibuk di kantor dan rumah Toby.


Dia juga terkejut melihat berita negatif tentang MV Darel. 'Astaga, kenapa ada orang yang jahat sekali. Mengapa berpikir sejauh itu, atau berbicara sejahat itu untuk sebuah MV.' Kandara membatin.


'Aku percaya, tidak mungkin Darel akan berbohong untuk mempromosikan karyanya. Karena tanpa melakukannya juga, orang akan menyukai lagunya.' Kandara kembali membatin.


'Aku percaya pada apa yang diposting oleh orang tersebut. Dia pasti telah menerima kado yang berisi hadiah seperti yang disampaikannya. Bukan pada komentar negatif oleh segelintir orang tersebut.'


"Kids, mari kita berdoa untuk Daddy. Semoga tidak kecewa atau bersedih. Karena masih ada yang percaya, Daddy orang baik." Ucap Kandara sambil mengelus perutnya pelan dan membaringkan tubuhnya untuk beristirahat. Sekali lagi Kandara mendengarkan lagunya dan memandang Sinterklas yang sedang membagikan hadiah.


'Pasti salah satu dari ketiga Sinterklas ini adalah Darel. Aku bisa merasakan kebaikan hatimu, karena MV nya sangat hidup dan real.'  Ucap Kandara dalam hatinya. Kandara mengusap wajah Darel yang ada di layar ponselnya. Semoga kau baik-baik saja. Hatinya merasa sedih, walaupun wajah Darel tersenyum di layar ponselnya.


*- Hati yang baik dapat merasakan ketulusan dalam keheningan -*


♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡