
Setelah peristiwa yang terjadi di ruang programmer, semua duduk kembali sambil melihat laptop masing-masing dengan diam. Ada yang bekerja, ada yang memikirkan kondisi Kandara. Ketika menjelang pulang kantor, Toby mendekati meja Mala.
"Mala, nanti tolong antarin Dara pulang, ya. Aku mau langsung pulang." Ucap Toby, dan Mala mengangguk sambil memberikan tanda OK dengan jarinya.
Mendengar pembicaraan Toby dan Mala Kandara berkata pelan. "Ngga usah, Mas. Nanti Mama yang jemput. Mama tadi sudah kirim pesan, dari butik langsung kesini menjemputku." Mala mengangguk mendengar ucapan Kandara, lalu memberikan isyarat OK dengan jarinya. Toby juga mengangguk.
"Baiklah, kalau begitu aku pulang duluan, yaa." Ucap Toby sambil memasukan laptop ke dalam tas dan berjalan keluar ruangan. Mala dan Kandara hanya menatap punggung Toby yang sedang meninggalkan ruangan.
Baru pernah terjadi, Toby pulang meninggalkan mereka di saat jam pulang kantor. Biasanya mereka akan pulang bersama-sama. Entah lembur atau tidak. Mala dan Kandara menarik nafas panjang bersamaan.
"Lebih baik ngga usah dinamain, tim kwak kwak. Membawa pengaruh buruk untuk kita." Ucap Mala, mencoba tersenyum. Kandara juga mencoba tersenyum.
Toby yang sudah di tempat parkir langsung menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir. Setelah di jalan raya, dia memacuh kedaraannya, dalam kecepatan tinggi menuju rumah. Dia merasa lega, karena jalanan belum terlalu padat. Karena dia ingin segera berbaring, menghilangkan kepenatan pikiran dan juga kegundahan hatinya.
Sampai di rumah, dia langsung masuk ke kamarmya tanpa melihat kedua orang tuanya yang terbengong-bengong, melihatnya masuk rumah tanpa memberikan salam atau melihat kiri atau kanan.
"Yah, apakah terjadi sesuatu dengan Toby? Mengapa dia ngga menyapa atau melihat kita?" Tanya Bu Asri, khawatir dan hendak berdiri menyusulnya.
"Bu... Biarkan dia dulu, nanti lapar dia pasti akan keluar. Biarkan dia istirahat." Pak Danny mencega istrinya melangkah dengan memegang tangan Bu Asri agar tetap duduk.
"Sekarang lebih baik, Ibu siapkan makan malam. Supaya kalau dia minta makan, sudah ada yang bisa dimakan." Pak Danny berkata lagi, memberikan saran kepada Bu Asri. Agar bisa mengalihkan perhatiannya dari kondisi Toby.
Sebenarnya, Pak Danny juga sedang merasa heran dengan sikap Toby, tetapi ditahannya. Agar tidak membuat Bu Asri makin panik dan menyusul Toby ke kamarnya.
Selang beberapa waktu kemudian, Toby keluar kamar masih dengan baju kerjanya, tetapi wajahnya seperti baru bangun tidur. Hal itu membuat heran Pak Danny yang sedang duduk di meja makan. Toby ambil air mineral dan ikut duduk di meja makan.
"Ayah sudah makan?" Tanya Toby, setelah minum dan duduk di depan Ayahnya.
"Belum, Ayah sedang menunggumu." Ucap Pak Danny sambil melihat wajah Toby yang kusut.
"Ooh, maaf Yah. Toby agak lelah. Ibu kemana, Yah?" Tanya Toby mengalihkan perhatian Ayahnya yang terus memperhatikannya.
"Lagi di belakang, ngga tau masak apa, dari tadi belum matang." Ucap Pak Danny, mencoba tersenyum.
"Waah... Semoga Ibu ngga tebang pohon dulu, buat kayu api." Ucap Toby, sambil tersenyum sendiri dengan ucapannya.
"Kalau tau orang tua lagi masak pakai kayu api, yaa, bantuuu.." Ucap Bu Asri sambil membawa makan malam bersama Mbo'.
"Sini, Toby bantuin gendong, Bu." Ucap Toby sambil mengulurkan tangannya.
"Astaga, kau belum mandi?" Tanya Bu Asri terkejut melihat baju kantor Toby.
"Nanti selesai makan baru mandi, sekalian tidur, Bu." Ucap Toby sambil mengambil piringnya.
"Sebenarnya ada apa denganmu, Toby." Tanya Bu Asri yang penasaran dengan penampilan Toby yang tidak biasanya.
"Buuu... Aku makan dulu, supaya kuat ceritanya. Ibu juga makan yang banyak, supaya kuat dengarnya." Ucap Toby dengan wajah serius. Membuat Bu Asri terdiam dan ikut makan seperti yang dikatakan Toby.
Pak Danny ikutan makan dalam diam, tanpa berusaha untuk bertanya. Beliau jadi berpikir, pasti Toby akan membicarakan hal yang serius.
Setelah selesai makan, Pak Danny, Bu Asri masih duduk di meja makan menunggu apa yang akan disampaikan oleh Toby. "Bu, jangan diam saja. Ambil buahnya, supaya dia makin bertenaga." Ucap Pak Danny, mencoba mencairkan suasana dengan bercanda.
"Ngga usah Bu, Ibu duduk saja. Nanti Toby yang ambil." Lalu Toby berdiri dan berjalan ke belakang untuk mengambil buah. Pak Danny dan Bu Asri hanya bisa saling menatap, heran dengan sikap Toby.
"Kalau begit..." Ucapan Bu Asri terhenti, ketika Pak Danny mengisyaratkan untuk tetap diam.
"Saat ini, Dara sedang dalam masa sulit, karena dia sedang hamil." Ucapan Toby terhenti karena melihat Bu Asri menutup mulut dengan kedua tangannya sambil mata membulat.
"Toby tidak bisa mengatakan siapa pria yang menghamilinya, karena Dara sendiri tidak mengatakannya. Tapi saat ini, Toby katakan untuk Ayah dan Ibu, supaya jangan sampai Ayah dan Ibu terlalu berharap dan akan kecewa." Ucap Toby melanjutkan.
"Apakah mereka akan menikah?" Tanya Pak Danny yang menjadi tidak sabar.
"Sepertinya tidak, Yah. Karna kalau mau menikah, Dara tidak akan mengajukan pengunduran diri." Ucap Toby, mencoba menebak.
"Kau baru tahu hari ini?" Tanya Bu Asri penasaran, mengetahui kondisi Kandara.
"Tidak Bu, sudah dari beberapa waktu yang lalu. Dara membicarakanya dengan Toby dan Mala, sebelum dengan Pak Ari. Karna dia mau mengajukan surat pengunduran diri." Toby, menjelaskan.
"Astagaaa, jadi saat kita bertemu dengannya di swalayan itu, dia sudah tahu sedang hamil?" Ucap Bu Asri terkejut.
"Astagaaa, pantas pertanyaan Ibu membuat wajahnya memerah karna malu. Pasti Dara berpikir, Ibu telah mengatahui dia sedang hamil, makanya bertanya seperti itu." Ucap Pak Danny ikut terkejut mengingat peristiwa di swalayan buah segar.
"Astagaaa, Ayah benar sekali. Pasti Dara dan Mamanya berpikir begitu, makanya mereka segera pamit pulang. Astaga, tanpa sadar Ibu telah menyinggungnya." Ucap Bu Asri, lalu memegang dadanya.
"Ayah, Ibu harus minta maaf pada Dara dan Mamanya." Ucap Bu Asri lagi.
"Ngga usah, Bu. Dara tahu ko', Ibu ngga bermaksud menyinggungnya. Buktinya dia datang saat Ultah Ayah." Ucap Toby, menenangkan kedua orang tuanya.
"Ooh, iyaa. Lalu kau bagaimana, apakah bisa menikahinya jika lelaki itu tidak bertanggung jawab? Ibu dan Ayah tetap bersedia menerimanya sebagai menantu kami. Iya kan, Yah?" Tanya Bu Asri, dan Pak Danny mengangguk setuju.
"Tidak semudah itu Bu, Yah. Toby sudah kenal Dara lama dan Toby tahu sifatnya. Jika Toby mengatakan hal itu kepadanya, sama saja menambah beban baginya."
"Dia akan ngga enak hati terhadap Toby. Dan juga, dia bisa menganggap Toby hanya kasihan padanya. Jika dia ngga mau menikah dengan Toby, dia akan benar-benar mengundurkan diri dari kantor, karna merasa ngga enak untuk bertemu dengan Toby."
"Sementara ini, biarkan begini saja dulu. Kita lihat sampai dia melahirkan, mungkin saja ada perubahan. Yang penting Ayah dan Ibu sudah tahu, supaya suatu saat bertemu dengannya, tolong menyemangatinya."
"Hari ini di kantor, ada teman yang baru tahu Dara sedang hamil. Responnya membuat Toby terkejut dan agak marah padanya. Makanya sekarang, Toby katakan untuk Ayah dan Ibu. Bukan minta bersandiwara jika bertemu dengannya. Tetapi tunjukan Ibu dan Ayah sudah tahu dan menerima keputusannya.
"Sebagaimana Mamanya, pasti berat menerima keputusan Dara. Jangan kita menambahnya lagi, dengan sikap yang pura-pura baik sedangkan bergosip di belakang."
"Toby masih ingin berkarier dan belum berniat menikah dalam waktu dekat ini. Jadi biarkan seperti ini dulu, bisa bekerja bersama Mala, Dara dan rekan-rekan yang lain." Ucap Toby, dan menarik nafas, dalam.
"Mungkin saja, setelah Dara melahirkan, dia akan berubah pikiran. Biarkan Toby lindungi dia dengan cara seperti sekarang. Toby memang suka cuek dan sembrono dalam bersikap. Tetapi terhadap Dara, Toby ngga bisa demikian." Ucap Toby lagi.
"Untuk kondisinya sekarang, Toby ngga bisa bilang dia bodoh. Karena dia wanita yang cerdas. Mungkin dia sedang terjebak oleh keluguan dan kebaikan hatinya." Ucap Toby pelan, karena sudah mengenal Kandara dengan baik.
"Ayah mengerti perasaanmu, dan kami akan mendukung semua keputusanmu. Ngga usah pikirkan kami, akan kecewa. Sebagaimana kau percaya, Dara sedang kesulitan, kami juga merasakan hal yang sama."
"Walau baru bertemu dengannya dua kali, kami mengerti mengapa kau ingin bisa bekerja bersamanya. Karena menurut Ayah, bisa bekerja dan berada di dekatnya adalah suatu kebahagiaan. Jangan sampai kau bersikap ceroboh, hingga kehilangan itu." Ucap Pak Danny, dan Bu Asri mengangguk menyutujuinya.
"Sekarang kau mandi, berdoa dan istirahat." Bu Asri berdiri lalu mengusap punggung Toby. Kedua orang tuanya terharu, karena baru pertama kali, Toby bicara terbuka kepada mereka.
*- Orang tua yang baik adalah labuan tempat anak berlabuh -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡