Me And You For Us

Me And You For Us
Kenyamanan.



Kandara memperlihatkan video di channel youtube Darel untuk kedua anaknya.


"Coba kalian lihat ini, apa yang dikatakan oleh Daddy untuk Grandma dan Grandpa. Untuk bisa makan bersama saja, mereka jarang bisa melakukannya." Kandara mengajak anak-anaknya mencoba mengerti Daddynya.


"Padahal itu hal yang sangat sederhana. Yaaa.., mungkin karena ada kita, jadi Daddy lebih sering di rumah saat ini." Ucap Kandara, sambil dia sendiri memikirkannya. Kedua anaknya mengangguk dan ikut Bu Selvine istirahat. Begitupun dengan Kandara ikut tidur di samping anak-anaknya.


Setelah bangun tidur, mereka merapikan semua belanjaannya dan masukan ke lemari. Sedangkan yang punya Kandara, tetap dibiarkan dalam paper bag.


"Mama, jangan melihatnya.., nanti membuat pusing." Ucap Kandara ketika Bu Selvine hendak melihat harga barang yang mereka beli.


"Iyaa juga.., tidak ingin melihat, tetapi penasaran.., hehehee..." Ucap Bu Selvine sambil tertawa. Apalagi Bu Selvine memiliki butik, walaupun untuk baju hamil.


"Dara juga begitu, Ma.. dari pada Dara pingsan, lebih baik tutup mata saja.. heheheee.." Ucap Kandara ikut tersenyum. Kandara telah berusaha keras dari Mall, tidak melihat harganya. Karena dia akan merasa sayang, harus menghabiskan banyak uang untuk sepotong baju atau tas. Dia lebih suka menggunakan tas buatan tangan Mamanya. Lebih unik dan tidak pasaran dengan harga tidak menguras kantong.


Setelah mandi dan berganti baju yang baru dibeli, mereka hendak keluar kamar. Ternyata kepala pelayan sudah berdiri di depan pintu hendak mengetuk pintu. Mereka semua jadi tersenyum.


"Nyonya muda di tunggu Nyonya di ruang keluarga." Ucap kepala pelayan dan mengantarkan mereka ke ruang keluarga.


Setelah mereka masuk ke ruang keluarga, Bu Richel telah ada di sana.


"Ayooo,, mari duduk.., kita akan minum teh di sini." Ucap Bu Richel sambil meminta kepala pelayan untuk membawakan teh mereka ke ruang keluarga saja.


Setelah selesai minum teh, Bu Richel mengajak mereka untuk keliling melihat ruangan-ruangan dan kamar-kamar yang ada di Mansion. Juga bagian dapur, kamar para pelayan, tempat laundy.


'Ini harus berapa lama menghapal, supaya tidak tersesat.' Ucap Kandara dalam hati. Hal yang sama juga, dipikirkan oleh Bu Selvine


Di bagian depan ada tempat parkir mobil yang luas, ada mobil besar milik Pak Darpha yang tadi dipakai ke Relkha Mall. Ada juga satu mobil mewah milik Bu Richel.


Di bagian samping kiri dan kanan ada taman yang luas dan indah. Di bagian belakang ada kolam renang, gazebo dan juga ruang terbuka untuk tempat baberque. Mansion keluarga Jion sangat luas, dikelilingi oleh pohon palem.


Tadi malam mereka hanya melihat bagian depannya., tetapi sekarang bisa melihat semuanya. Apalagi menjelang sunset., sangat mewah dan indah.


Kalau soal kamar dan ruangan-ruangan, Kandara dan Bu Selvine belum menghapalnya. Mereka hanya menghapal jalan ke arah belakang, karena tempatnya luas dan kosong. Hanya ada gazebo diantara pohon-pohon yang rimbun.


Mereka bisa melihat di atas ada banyak kamar-kamar, ruangan fitness.., karena bisa terlihat pelengkapan dan peralatan fitnessnya.


Bu Richel mengajak mereka duduk di gazebo di antara rimbunan pohon untuk bercakap-cakap.


"Dara, juga Efra dan Efri., ritme kerja daddy kalian seperti itu, bahkan lebih. Grandma katakan ini, agar kalian bisa mengerti dan memahami Daddy kalian."


"Grandma dan Grandpa, bisa bertemu dengan Daddy dan Uncle kalian paling lama itu hanya pada saat Natal. Setelah itu, kalau mereka bisa pulang ke rumah, itu adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami."


"Terutama daddy kalian, beberapa tahun belakangan ini, dia lebih sering berada di luar negeri, jadi kadang-kadang kalau merindukannya, kami ke sana untuk menemuinya."


"Saat ini, kami bisa bertemu sangat lama karena kalian ada di sini. Seperti tadi, kalau tidak ada kalian, pasti daddy kalian tidak akan pamit seperti itu kepada Grandma.


'Mom, jangan tunggu kami makan malam'.,, tetapi.. 'By, Mom.' Ucap Richel sambil tersenyum.


"Nanti pulangnya,, yaa, sepulangnya. Tetapi komunikasi kami tetap baik. Grandma dan Grandpa setiap hari menanyakan kabar mereka." Ucap Bu Richel menjelaskan.


"Grandma,, kalau Daddy dan Uncle tidak pulang ke sini, Daddy dan Uncle tinggal di mana.?" Tanya Efraim, bingung mendengar penjelasan Grandmanya.


"Oooh itu,, Daddy kalian lebih banyak di studio atau hotel. Begitu juga dengan Uncle, lebih banyak di hotel. Supaya lebih mudah mobilitasnya." Bu Richel menjelaskakan.


"Maaf, Nyonya .., tuan sudah pulang." Kepala pelayan datang memberitahukan, bahwa Pak Darpha telah pulang.


Mereka semua masuk ke rumah utama, ketika mengetahui Pak Darpha telah pulang kerja.


"Ooh,, ok.. thank u.., sekarang ada di mana..?" Tanya Bu Richel.


"Tuan sedang di ruang keluarga, Nyonya." Jawab Pak Jae.


"Baik., Pak Jae,, tolong siapkan makan malam, yaa.." Ucap Bu Richel sambil jalan ke arah ruang keluarga. Bu Selvine, Kandara dan anak-anak mengikutinya. Karena mereka belum terlalu mengerti arah jalannya.


Pak Darpha telah berada di ruang keluarga. Kandara dan kedua anaknya mendekatinya dan memberikan salam. Pak Darpha tersenyum sambil mengacak rambut kedua cucunya dan memeluk mereka dengan sayang.


"Darel ke mana Mom., tidak kelihatan." Ucap Pak Darpha ketika tidak melihat Darel bersama mereka.


"Tadi setelah pulang dengan kami, langsung berangkat lagi. Katanya tidak usah menunggunya makan malam." Bu Richel menjelaskan.


"Kalau begitu, mari kita makan malam." Ucap Pak Darpha sambil berdiri.


Ucapan itu sudah menjadi tanda bagi Pak Darpha dan Bu Richel, mereka tidak akan makan di rumah.


Setelah selesai makan malam, mereka masih berbincang-bincang di meja makan. Pak Darpha senang melihat mereka telah membeli pakaian baru.


Pak Darpha melihat Kandara dan kedua anaknya dengan seksama. Pak Darpha memgingat pembicaraan Darel sebelum mereka ke Indonesia untuk melamar Kandara.


Pak Darpha menyadari,; walaupun mereka saling menyayangi, mereka belum terlalu mengenal satu dengan lainnya. Terlihat dari reaksi terkejut Kandara, walaupun dia berusaha menutupinya dan belajar menyesuaikan diri dengan Darel.


Memikirkan hal itu, Pak Darpha merasa ini adalah waktu yang tepat menceritakan sedikit tentang Darel dan keluarganya. Karena Pak Darpha yakin, Darel sendiri atau Mikha tidak akan menceritakannya.


"Dara,, Efra dan Efri,, Grandpa mau katakan ini, agar kalian mulai belajar mengerti sejak dini. Jadi Grandpa berharap, kalian dengar baik-baik dan coba belajar memahami." Ucap Pak Darpha pelan dan tenang.


"Grandpa tahu,;  kalian pasti berpikir Grandpa dan Grandma kalian ini kaya sekali.." Ucap Pak Darpha tersenyum sambil memandang Efrima.


Efrima tersenyum, sambil sandarkan kepalanya ke bahu Kandara. Karena dia ingat pernah mengatakan itu. Kandara mengelus kepalanya.


"Yaaa,, memang bisa dibilang seperti itu. Tetapi Grandpa mau bilang, ; kami mempunyai semua ini tidak dari awal."


"Kami berdua memulainya dari nol, harus bekerja bersama-sama siang dan malam. Dari perusahan yang kecil, dan Tuhan memberkati semua kerja keras kami, sampai bisa seperti sekarang ini." Ucap Pak Darpha sambil membuka kedua tangannya.


"Saat ini: kalian berbeda dengan daddy kalian. Daddy kalian dari lahir sudah menikmati semua kemewahan ini. Sedangkan kalian di usia sekarang baru menikmatinya."


*- Kadang.,, kenyamanan hidup dapat membuat seseorang terbuai -*