
...~•Happy Reading•~...
Di bagian bumi yang lain ; Beberapa waktu kemudian, Bu Selvine sedang menjemput Kandara pulang kerja karena habis lembur.
"Dara, jangan lembur terus. Sesekali kau pulang sore, biar kita bisa makan malam bersama. Dan juga ada hal yang mau Mama bicarakan denganmu." Ucap Bu Selvine ketika menjemput Kandara pulang dari kantor untuk kesekian kalinya.
"Iyaa, Ma. Apa yang mau Mama bicarakan dengan Dara?" Tanya Kandara sambil melihat Mamanya.
"Begini, teman-teman Gerejamu mau ikut lomba paduan suara. Mereka meminta ijin dari Mama dan minta sampaikan kepadamu. Mungkin kau bisa ikut dengan mereka." Ucap Bu Selvine menjelaskan
"Yaaa, sementara ini Dara tidak bisa, Ma. Lagi banyak kerjaan, jadi tidak bisa fokus untuk latihan. Nanti Mama tolong sampaikan mohon maafku, ya." Ucap Kandara sambil memandang Bu Selvine.
Kandara belum bisa latihan bersama teman-temannya karena dia tidak mau bertemu Lucha sendiri. Kalau hari Minggu, Lucha tidak berani mendekatinya, karena ada Bu Selvine bersamanya.
"Yaaa, baiklah. Nanti Mama sampaikan kepada mereka kalau ditanya." Ucap Bu Selvine menyerah, karena melihat putrinya yang sering kelelahan.
Beberapa waktu kemudian, Lucha berusaha menemui Kandara setelah pulang kantor. Karena Lucha tidak bisa menemuinya di Gereja dan nomor telponnya telah di blokir oleh Kandara.
Lucha tidak bisa menemui Kandara di rumahnya. Karena dia tahu, Bu Selvine tidak terlalu menyukuainya. Sehingga dia selalu datang ke kantor Kandara setelah pulang kerja atau sebelum pulang kerja untuk menunggunya.
Lucha berkali-kali menunggunya pulang kerja, tetapi Kandara tidak mau menemuinya. Seperti hari ini, Lucha telah menunggu Kandara di depan kantornya. Mengetahui hal itu, Kandara menghindarinya lagi dengan kembali ke ruangan kerjanya.
Melihat Kandara kembali lagi, Mala dan Toby mengerti, pasti pacarnya itu sedang menunggunya lagi. Mereka sering melihatnya beberapa hari belakangan ini, melakukan hal itu.
Mereka berdua mendekati meja kerja Kandara dan coba memberikan solusi kepadanya. Mereka khawatir kondisi ini bisa mengganggu konsentrasi dan kinerja Kandara. Tim mereka sedang menangani beberapa proyek penting.
Mereka selalu melihat Kandara cemas menjelang jam pulang kantor. "Dara, kau tidak bisa terus-terusan seperti ini. Sampai kapan kau mau menghindarinya. Masalah itu harus dihadapi, jangan hanya dihindari." Ucap Toby, sambil berdiri di depan meja Kandara.
Sebenarnya, Toby sangat menyayangi Kandara. Tetapi karena Kandara hanya menganggapnya sebagai rekan kerja dan juga seperti seorang Kakak, Toby tahu diri dan lebih memilih berada dalam kondisi seperti itu.
'Daripada nanti Dara menjadi tidak enak hati, atau mala menjauhiku. Lebih baik seperti ini, bisa bekerja dengan baik dan profesional.' Toby membatin.
"Daraa... Jika kau tidak menghadapinya, kau akan berputar terus di situ. Nanti kau juga yang pusing. Kasihan juga Tante Selvine, malam-malam harus datang menjemputmu." Ucap Toby lagi.
"Iyaa, Dara. Aku setuju dengan apa yang dikatakan Toby. Kalau kau takut, jangan ikut naik mobilnya. Bicara saja di bangku taman samping kantor." Mala mencoba berikan solusi.
"Kalau dia kasar padamu, kami akan lapor security. Tenang saja, kami belum pulang, ko'. Kami akan menunggumu." Saran Mala lagi dan disetujui juga oleh Toby.
"Kami tidak suka melihat wajahmu seperti itu. Lama-lama kau dilambung oleh Yeni." Ucap Mala lagi. Kandara tersenyum dan mengangguk.
"Fighting..!! Ucap Toby dan Mala menyemangatinya.
"Makasiii, Mas." ucap Kandara mengatup kedua tangan di depan dadanya.
Mala dan Toby tersenyum, mereka kembali ke meja masing-masing untuk membereskan meja. Memasukan laptop ke dalam tas kerja mereka dan ikut pulang menemani Kandara.
Kandara yang sudah mengambil tasnya, menarik nafas dalam, menghembuskannya perlahan dan melangkah ke lift untuk turun ke lobby.
...°-° Kadang kita berputar di tempat, karena tidak bisa tegas °-°...
"Kita harus bicara. Mengapa kau memblokir nomorku?" Ucap Lucha. Kandara merasa heran dengan pertanyaan Lucha. Tetapi dia mengangguk mengiyakan untuk berbicara, sambil berjalan ke bangku taman kantor.
"Kau mau kemana?" Tanya Lucha yang melihat Kandara tidak berjalan ke tempat parkir mobil, tetapi ke arah taman. Hal itu membuatnya tetap berdiri di tempat.
"Katanya mau berbicara, jadi mari kita bicara di sana." Ucap Kandara dan menunjuk dengan jempolnya ke bangku taman kantor. Hal itu membuat dahi Lucha berlipat-lipat, heran.
"Kau sudah miring? Ini jam pulang kantor dan orang akan melihat kita." Ucap Lucha yang heran dan protes.
"Tidak mengapa orang melihat. Kita hanya bicara, kan? Orang kantor juga suka duduk di situ bercengkrama atau tunggu jemputan." Ucap Kandara, berusaha tenang. Tetapi jantungnya mulai berdebar kencang melihat sikap dan wajah Lucha.
"Itu orang kantormu, tetapi apa kata orang kantorku jika melihatku?" Ucap Lucha, mulai emosi.
"Yaa sudah. Kalau kau tidak mau duduk di situ, kita bicara di sini saja." Ucap Kandara dan itu membuat Lucha marah.
"Dan juga apa yang harus kita bicarakan lagi? Bukankah kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi? Kau sendiri yang mengatakan bahwa kita sudah tidak berhubungan lagi." Ucap Kandara mengingatkan Lucha, tetapi dengan hati yang was-was.
Mendengar itu, Lucha menjadi murka dan menarik tangannya. Kandara mengibaskan tangannya dengan kuat dari genggaman Lucha. "Lepaskan tanganku, atau aku panggil security." Ancam Kandara yang sudah takut dan khawatir.
Ketika Lucha mendengar yang dikatakan Kandara, dia menyadari ada di mana. Lucha segera melepaskan tangan Kandara dengan kasar karena marah.
"Kau sekarang sombong, ya. Sudah merasa hebat, karena aku datang menemuimu? Baiklah, kalau itu maumu. AND..." ucap Lucha sambil membuang kedua tangannya kesamping, sebagai isyarat selesai.
"Bukan cuma kau perempuan di dunia ini. Jadi jangan belagu." Ucap Lucha lagi dan berjalan meninggalkan Kandara ke tempat parkir mobil.
Kandara hanya diam terpaku, tanpa bisa mengucapkan sepata katapun. Dia tidak menyangka Lucha bisa mengucapkan kata-kata seperti itu kepadanya. Kebaikan Lucha selama ini, hilang tidak bersisa.
Kandara berjalan pelan ke kursi taman. Dia harus duduk untuk menenangkan hatinya. Sambil menahan dadanya yang sedang bergemuru, dia melangkah pelan ke taman.
Toby dan Mala yang melihat kejadian itu dari balik kaca lobby kantor, menarik nafas lega karena pacarnya Kandara telah pergi. Tetapi sekarang mereka jadi khawatir melihat kondisi Kandara.
Mereka keluar kantor dan mendekati Kandara yang sedang duduk di taman sambil memegang dadanya. Kandara yang sedang menunduk sedih, karena ucapan Lucha, tidak menyadari kehadiran kedua rekannya. Mala dan Toby berdiri di depan Kandara, sambil melihatnya dengan cemas.
"Daraa, itu biasaaa... Pukulan pertama itu memang mengagetkan dan juga mungkin sakit. Tetapi sering juga pukulan bisa menghilangkan pusing." Ucap Mala sambil bercanda dengan memperagakan orang yang sedang bertinju.
"Astagaa, Mala. Kau sudah pernah dipukul?" Tanya Toby.
"Belum, Toby. Memang, kenapa?" Tanya Mala, heran.
"Siniii... Mari kupukul kepalamu, pasti kau akan melihat kunang-kunang beribu-ribu." Ucap Toby, laku mendekati Mala untuk memukulnya. Mala berlari memutari Kandara yang sedang duduk diam. Melihat yang dilakukan kedua rekannya, Kandara tersenyum.
"Ayooo, Dara. Mari aku mengantarmu pulang, sebelum aku melihat banyak kunang-kunang." Ucap Mala sambil berhenti berputar dengan nafas tersengal. Toby memukul lengannya sambil tertawa. Kandara ikut berjalan ke tempat parkir mobil dengan hati yang lebih baik.
°-° Kadang penilaian yang kita sematkan kepada orang lain adalah cerminan diri kita sendiri °-°
...~●○♡○●~...
...~***~...