Me And You For Us

Me And You For Us
Berbicara.



Setelah berpikir, Darel menatap wajah Bu Richel lama, sebelum menjawab.


"Indonesia,,, Mom." Darel menjawab, singkat.


"Apaaa.., Indonesia.? Kau mengenalnya di mana.? Bukankah kita tidak ada perusahan di Indonesia, Daddy.?" Pak Darpha mengangguk dan menenangkan istrinya.


"Iyaa Mom.., tapi tenang dulu, dan dengarkan putramu itu. Ingat,, kau sudah berjanji padanya." Ucap Pak Darpha mengingatkan istrinya., karena melihat Bu Richel sangat terkejut.


Bu Richel menatap kedua putranya bergantian. Darel dan Mikha hanya bisa menggaruk kepala mereka yang tidak gatal. Mikha tidak bisa berkata sesuatu untuk menolong Darel.


"Darel mengenalnya di sini, Mom." Jawab Darel pelan.


"Kau sudah lama mengenalnya.?" Tanya Bu Richel lagi., karena penasaran. Putranya bisa kenal dengan wanita dari Indonesia.


"Yaaa.., bisa di bilang begitu, Mom." Jawab Darel ragu-ragu., karena mau dibilang sudah lama, yaa .., sudah lama. Tetapi mengenalnya secara pribadi, belum. Karena baru bertemu dengan Kandara, belum tiga bulan. Hal itu membuat Darel ragu-ragu, mendefenisikannya.


Jawaban Darel membuat Bu Richel makin penasaran.


"Apa maksudnya bisa dibilang begitu.?" Tanya Bu Richel yang tidak mengerti dengan jawaban Darel.


"Begini ya, Mom.... "Darel menceritakan kejadian sepuluh tahun yang lalu. Bu Richel dan Pak Darpha dibuat terkejut mendengar apa yang diceritakan putranya. Mikha langsung mendekati Pak Darpha dan mengelus punggungnya.


Begitupun Darel langsung mengelus punggung Mommynya untuk menenangkannya. Bu Richel teringat akan keadaan putranya 10 tahun lalu yang pulang dalam keadaan berantakan dan langsung memeluknya.


"Darel.., kenapa saat itu kau tidak bertanggung jawab atas perbuatanmu. Walau pun kau tidak sengaja, tetapi kau telah melakukan kesalahan. Kasihan gadis itu, mungkin dia hanya mau menolongmu." Ucap Pak Darpha. Bu Richel masih menatap putranya dengan serius.


"Mommy, jangan menatapku seperti itu., katakan sesuatu." Ucap Darel sambil mengusap punggung Mommynya.


"Mommy seperti Daddy., kenapa baru sekarang kau mau melakukannya." Ucap Bu Richel.


"Yaaa,, karena baru sekarang Darel bertemu dengannya lagi." Ucap Darel.


"Astagaaa.., Darel.. Mommy akan mematahkan kakimu itu. Sepuluh tahun baru bisa bertemu.? Kau kekurangan uang untuk mencarinya.?" Ucap Bu Richel yang tidak bisa mengerti dan tidak bisa menerima apa yang diucapkan Darel.


"Yaaa,, Mommy.. Indonesia kan luas. Sedangkan Darel tidak tahu nama jelasnya.. Darel tidak bisa meminta tolong orang lain untuk mencarinya, karena Melo.. Nanti bukannya ketemu dengan orangnya, mala hebo."


"Darel mala berharap, dia mau menuntut Darel. Jadi bisa bertemu dengannya, tetapi dia tidak melakukannya." Ucap Darel menjelaskan dan berharap kedua orang tuanya bisa mengerti.


Bu Richel menatap putranya dengan serius dan bertanya:


"Kau mencintainya..?" "Sangat..!"


"Dia mencintaimu..?" "Sangat..!"


"Bagaimana kau seyakin ini.?" Tanya Bu Richel, mendengar Darel menjawab dengan yakin dan tegas.


"Yaaa,, Mommiiii.., karena kami sudah bertemu." Ucap Darel.


"Baiklah., Mommy akan percaya padamu setelah berbicara dengannya." Ucap Bu Richel menatap Darel dengan serius.


"Astagaaa,, Mommy jangan bicara galak dengannya. Nanti dia takut menikah denganku." Ucap Darel sambil mengelus lengan mommynya.


"Takut menikah denganmu..? Ada wanita yang takut menikah dengan seorang Darel Kei Jion.?" Ucap Bu Richel, emosi.


"Yaaa.., ini ada Mom.., buktinya Dara tidak mencariku., padahal dia Melons. Tahu Darel ada di mana." Ucap Darel, mencoba menjelaskan kepada Mommynya.


"Mommy., Darel benar.. 10 tahun bukan waktu yang pendek. Dengarkan dulu, penjelasan putramu." Ucap Pak Darpha, untuk menenangkan istrinya.


Mikha memberikan kode untuk Darel dengan jarinya. Darel langsung menepok jidatnya. Dia belum menjelaskan tentang anak-anaknya. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.


Ketika Bu Richel melihat apa yang dilakukan kedua putranya, dia menjadi curiga.., dan kenapa Darel tidak menelpon gadis itu.


Mikha kembali mendekati Pak Darpha dan Darel mendekati Mommynya.


"Mommy dan Daddy, Darel sudah menjadi Daddy.. Kalian sudah menjadi menjadi Grandma dan Grandpa." Ucap Darel perlahan.


Kedua orang tuanya kembali terkejut dan menatap kedua putranya bergantian.


"Benarkah..? Kami sudah mau punya cucu.?" Tanya Bu Richel terkejut, tetapi takjub. Darel mengangguk kuat.


"Sudah berapa usia kandungannya.? Dan kenapa kau tidak menikah dulu.?" Tanya Bu Richel kepada Darel, sambil memukul lengannya.


"Mommy, tenang dulu.. Cucu mommy sudah berusia 9 tahun.. yaa.., dari kejadian itu... kan Darel juga baru tahu." Ucap Darel dan melihat kode Mikha lagi dengan kedua jarinya. Darel mengangguk mengerti. Karena dia tidak bisa berkonsetrasi.


"Dan cucu mommy ada dua, mereka kembar." Ucap Darel pelan sambil mengelus punggung mommynya.


"Astagaaa.." ucap Pak Darpha dan Bu Richel bersamaan.


"Lekas telpon calon mantuku itu., aku akan mematahkan tangannya. Berani sekali dia menyembunyikan cucu-cucuku selama ini." Ucap Bu Richel sambil berdiri. Pak Darpha juga ikut berdiri, karena tidak menyangka dan memeluk istrinya untuk menenangkannya.


"Darel akan menelpon, jika mommy berjanji, tidak akan memarahinya." Ucap Darel., Pak Darpha memberikan kode agar Darel menelpon. Melihat itu, Darel langsung VC Kandara. Ketika tersambung, yang menerima adalah Efrima.


"Alloooo,, Daddy.. apa kabar.?" Tanya Efrima tersenyum senang, Daddynya menelpon.


"Alloooo, Efri.., kabar daddy baik. Efri apa kabar.?"


"Efri baik, juga Dad.. Daddy..." ucap Efrima dan mau bercerita, Darel menghentikannya. Karena mommynya sudah ingin berbicara dengannya.


"Efri,, Mommy di mana.?" Tanya Darel.


"Ooh.., Mommy sedang mandi, Dad,. Mammy baru pulang kantor." Ucap Efrima. Dan Bu Richel tidak sabar berbicara dengan cucunya, karena mereka bisa berbahasa Korea dengan baik.


*- Kebahagian seseorang tidak hanya bergantung pada banyaknya harta -*


Melihat Bu Richel yang ingin berbicara dengan cucunya, Darel langsung mengatakan kepada anaknya.


"Efrii,, ini ada yang mau bicara dengan Efri.." Darel belum selesai bicara.


"Oooh,, uncle Mikha ya.., mana Dad.,." Mikha langsung berdiri dan mengambil telpon dari tangan Darel. Bu Richel menjadi kesal, tetapi ditenangkan oleh Pak Darpha.


"Allooo sayang,, uuiii.., makin cantik, yaa." Ucap Mikha, sambil mengirimkan cium sayang dari jauh..


"Terima kasih Uncle.., uncle Mikha juga, makin tampan." Ucap Efrima, sambil tersenyum dan mengangkat jempolnya.


"Lebih tampan siapa, Uncle atau Daddy.?" Tanya Mikha bercanda.


"Sama-sama tampan, tapi Daddy lebih banyak." Ucap Efrima, dan tertawa..,  Mikha ikut tertawa. Darel langsung mengambil ponselnya dari tangan Mikha. Kalau dibiarkan bisa lama., pikir Darel.


"Efriii, lihat Daddy.. yang mau bicara dengan Efri itu, Mommy Daddy,, Grandmanya Efri.." Darel langsung mengatakannya, supaya Efrima bisa fokus dan mengerti.


"Benarkah., daddy..?" Tanya Efrima, terkejut.., dan matanya sudah mulai berkaca-kaca. Darel mengangguk dan Bu Richel mengambil ponselnya, karena tidak sabar melihat cucunya. Ketika melihatnya, Bu Richel sangat terkejut. Seperti melihat Darel dalam versi wanita. Bu Richel yang bersemangat langsung terdiam.


"Allooo, Grandma.., saya Efrima." Ucap Efrima sambil berdiri dan membungkuk. Ponselnya sudah dia letakan di tempatnya di atas meja.


"Astagaaa.., cucu Grandma sudah besar sekali dan sangat cantik." Ucap Bu Richel tidak bisa menahan tangisnya, melihat cucunya. Efrima juga mulai menangis melihat Grandmanya. Darel langsung memeluk mommynya.


"Allooo, Efriii.., ini Grandpa." Ucap Pak Darpha mengambil ponsel dari istrinya dan juga terkejut melihat Efrima.


"Allooo Grandpa .., saya Efrima." Ucap Efrima sambil menangis. Pak Darpha terdiam dan takjub melihat cucunya.


*- Kadang kasih sayang seseorang bisa ditunjukan dengan cara yang berbeda -*