
Kandara makin tertawa mendengar yang dikatakan Toby dan wajahnya jadi memerah. "Kalau diingat lagi, aku sampai ngga ngomong sama Mama, gara-gara itu. Pasti waktu itu, aku agak miring seperti kata Manche. Heheheee." Ucap Kandara dan tertawa lagi mengingatnya.
"Astagaa... Kau itu, ternyata lama sadarnya. Syukur sudah selesai loadingnya, hahaha..." Ucap Toby, dan tertawa.
"Cepatan hubungi Mamamu, aku tunggu sambil kerjakan ini." Ucap Toby sambil menunjuk laptopnya. Kandara mengangguk dan meneruskan ketikan diponselnya. Dia mengirim pesan untuk Bu Selvine yang memberitahukan, bahwa pulang kerja nanti akan pergi ke tempat Toby. Dia akan memghadiri perayaan ulang tahun Papanya Toby.
'Iyaa, hati-hati. Pulangnya jangan terlalu malam. Ingat kondisimu.' Balasan pesan dari Mamanya.
"Sudah diijinin Mama, Mas. Tapi pulangnya jangan terlalu malam." Ucap Kandara memberitahukan Toby, tentang pesan Mamanya.
"Ok. Mari kerja, nanti kita pulangnya pas jam pulang kantor saja. Supaya kau tidak terlalu malam, pulangnya." Ucap Toby, senang dan bersemangat. Dia tidak memberi tahukan Ibunya bahwa Kandara akan datang.
Sebelum waktu pulang kantor, Toby sudah merapihkan laptop dan memasukannya ke dalam tas. "Dara, nanti aku tunggu di mobil, ya." Ucap Toby, sambil merapikan mejanya.
"Ooh, iya Mas." Kandara terkejut melihat Toby sudah merapikan mejanya. Ketika melihat jam, dia juga buru-buru menutup laptop dan memasukannya ke dalam tas. Karena sudah hampir jam pulang kantor.
Ketika jam pulang kantor tiba, Toby segera meninggalkan ruangan. Tidak lama kemudian disusul oleh Kandara.
"Tumben, kalian bertiga pulang duluan dari kami." Ucap Yeni, ketika melihat Kandara hendak meninggalkan ruangan.
"S'kali-kali, dong. Masa kami terus yang ditinggalin. Gimana rasanya, ditinggalin? Sepi, kaann. he he he.." Ucap Kandara sambil mendekati meja Yeni dan mencolek dagunya.
"Dara, Mala kemana? Ko' setelah istirahat siang ngga kembali?" Tanya Rina yang memperhatikan, setelah kembali dari waktu istirahat siang.
"Ada yang kangen nih, yee." Ucap Yeni ledekin Rina.
"Ooh, tadi Mas Mala ijin pulang, karena Ibunya kurang sehat." Jawab Kandara, supaya tidak ada yang berpikir macam-macam.
"Aku pamit duluan, ya." Ucap Kandara dan buru-buru meninggalkan ruangan sebelum berlanjut tanya jawabnya. 'Mas Toby bisa marah, karena kelamaan menunggu.' Kandara membatin.
Toby sudah mengirim pesan kepada Kandara, di mana tempat parkir mobilnya, sehingga dengan mudah Kandara bisa menemukannya.
Setelah Kandara masuk ke dalam mobil, Toby langsung menjalankan mobilnya. "Tadi kenapa lama sekali, baru turun?" Tanya Toby, karena merasa terlalu lama menunggu. Sedangkan sebelum keluar, dia sudah melihat Kandara sedang siap-siap.
"Ooh, itu Mas. Tadi Yeni cemberut, karena hari ini dia ditinggal oleh kita bertiga. Biasanya kan, dia yang pulang duluan tinggalin kita. Jadi sedikit protes." Ucap Kandara menjelaskan.
"Aku sudah curiga, kau lama karena dia. Karena tadi waktu aku keluar, dia mau protes, tapi ngga jadi." Ucap Toby tersenyum ingat wajah Yeni.
"Karena tidak ada Mala, jadi tidak seru kalau mau ledekin dia." Ucap Toby lagi masih tersenyum.
"Iyaa, juga siih. Tadi aku colek saja, dagunya. Supaya tidak berlanjut dan bisa cepat kabur." Ucap Kandara ikut tersenyum.
"Ooh iyaa, Mas. Nanti kalau lewat toko kue kita mampir, yaa. Aku mau beli kue untuk dibawa. Aku tidak enak, kalau datang dengan tangan kosong." Ucap Kandara.
"Baiklah... Tetapi sebenarnya, kau datang saja mereka sudah senang. Jadi tidak perlu begituan." Ucap Toby.
"Yaaa... Karena Mas Toby laki-laki, jadi bisa cuek. Kalau bisa lewat tokohnya, mampir yaa." Ucap Kandara, berharap.
"Iyaa,, kita akan lewat tokonya, ituuh.." Ucap Toby, menunjuk toko kuenya. Tidak lama kemudian mereka masuk ke tempat parkir toko kue.
Tidak lama kemudian, Kandara telah kembali dengan menenteng kotak kue. Toby langsung menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir setelah Kandara telah duduk di sampingnya. Kandara meletakan kotak kue di pangkuannya.
"Dara, letakin kotak kuenya di belakang saja, biar nyaman dudukmu." Ucap Toby, sambil menunjuk kursi di belakang.
"Ngga usah, Mas. Aku pangku saja, takut kuenya berantakan." Ucap Kandara. Mendengar itu, Toby tidak bisa berkata-kata lagi.
"Ooh, iya Mas. Apakah nanti aku bisa bilang kalau aku sedang hamil kepada orang tuamu?" Tanya Kandara pelan.
"Mengapa kau pikirkan itu." Tanya Toby, terkejut dan heran.
"Karena waktu bertemu kemarenan, Ibu menanyakan, aku sudah menikah atau belum. Dan aku jawab belum, tapi mungkin Ibu sudah tahu aku lagi hamil. Jadi lebih baik, aku bilang saja." Ucap Kandara lagi.
"Dara, kalau orang tuaku tidak berbicara atau singgung-singgung ke arah itu, tidak usah kau katakan. Makan dan cerita yang ringan-ringan saja, lalu pulang." Ucap Toby berusaha santai.
"Tetapi kalau kau merasa harus bilang, yaa, ngga papa. Kau bilang saja. Aku tidak berpikir sampai ke situ. Kalau tahu banyak sekali yang kau pikirkan ketika menerima undangan Ibuku, aku akan melarangmu untuk menerima undangannya." Ucap Toby lagi.
Dia tidak menyangka ada banyak hal yang dipikirkan Kandara. Dan baginya, tidak mengapa juga kalau orang tuanya tahu Kandara sedang hamil. Karena kondisi itu tidak bisa ditutup-tutupi. Dia menyayangi Kandara apa adanya. Pasti telah terjadi sesuatu yang membuatnya dalam kondisi seperti ini. Toby yakin, pria yang menghamilinya tidak tahu kalau Kandara sedang hamil.
Kalau pria itu tahu, dia akan memaksa Kandara untuk menikah. Karena Kandara bukan wanita yang hidupnya sembarang dan juga dari keluarga baik-baik. 'Aku saja bersedia menikahinya, apalagi pria itu.' Toby membatin.
"Iyaa Mas, maafin. Tolong ceritakan tentang orang tua Mas, ya. Biar nanti kalau ngobrol, bisa nyambung." Ucap Kandara, untuk mengalihkan pembicaraan dan merubah suasana yang mulai serius.
"Ayahku, campuran Jawa Kalimantan, dan dosen di Universitas Trinusa. Sedangkan Ibuku, dari Jawa, dan guru matematika di SMU 7. Bisa menolong? Karena aku tidak tahu kau butuh cerita yang mana." Ucap Toby sambil tersenyum.
"Wuuuaaah, pantesan Mas Toby cerdas, yaa. Ternyata orang tuanya pendidik semua." Ucap Kandara, mengagumi.
"Astagaaa, kau itu. Kalau yang bilang begitu orang lain, mungkin bisa dimaklumi. Tetapi kau, coba lihat kau dan Mala. Orang tua kalian bukan pendidik, ternyata lebih cerdas. Jangan membuatku malu." Ucap Toby, sambil mengangkat tangannya.
"Benar, Mas. Kami berdua tidak seteliti Mas Toby. Karena Mas Toby cermat memperhatikan semua dokumen, sehingga pekerjaan kita bisa cepat selesai. Tidak perlu diulang-ulang waktu dites dan tidak terjadi banyak error." Ucap Kandara serius menanggapi pembicaraan Toby.
Karena selama ini mereka tidak pernah membicarakannya. Mereka hanya saling mengagumi keahlian masing-masing dalam hati. "Kau berpikir begitu?" Tanya Toby, seakan tidak percaya.
"Iyaa, Mas. Pasti Mas Mala juga begitu, hanya ngga pernah bilang saja. Ini aku bilang, karena Mas yang duluan bilang. Aku bersyukur, bisa bekerja bersama Mas Mala dan Mas Toby. Banyak ilmu yang di dapat, yang tidak didapat di bangku kuliah." Ucap Kandara lagi.
"Yaaa, akupun sama. Sangat bersyukur, bisa bekerja dengan kalian. Pekerjaan yang tadinya berat, jadi terasa lebih ringan." Ucap Toby sambil masuk ke halaman rumahnya yang luas dan asri. Mereka tidak tinggal di kompleks perumahan, tetapi lingkungannya sangat nyaman.
"Ayooo... Mari turun, kita sudah sampai." Ucap Toby, lalu melihat Kandara yang sedang diam.
"Mas, ko' rumahnya sepih?" Tanya Kandara yang sedang terheran-heran.
"Astaga... Kau itu, aku kira ada apa. Jadi dari tadi kau berpikir ada pesta perayaan yang meriah? Silahkan kecewa, dan silahkan protes sama Ibuku. Mengundangmu, tetapi tidak membuat sebuah pesta meria." Ucap Toby sambil tersenyum melihat wajah Kandara yang mulai memerah karena malu dengan pikirannya sendiri.
"Sssssttt... Diam Mas, nanti didengar sama orang di rumah. Malu-maluin, saja." Ucap Kandara sambil meletakan jari di bibirnya. Toby makin tersenyum melihat yang dilakukan Kandara.
*- Seperti pepatah: buah jatuh tidak jauh dari pohonnya -*
♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡