Me And You For Us

Me And You For Us
Tertolong



...~•Happy Reading•~...


Melihat Mala dan Toby terdiam, Kandara meneruskan maksud hatinya. "Karena kondisi ini, mungkin Dara tidak bisa bekerja lagi. Jadi alangkah baiknya, Dara mengajukan surat pengunduran diri." Kandara mencoba menjelaskan untuk Mala dan Toby.


"Astagaaa, Kandara. Siapa lelaki itu? Jangan katakan lelaki arogan itu." Toby tersadar dari rasa terkejutnya. Karena alasan untuk mengundurkan diri Kandara lebih mengejutkan daripada pengunduran diri itu sendiri. Sedangkan Mala tidak bisa berkata-kata, karena membayangkan Kandara dihamili oleh Lucha.


Mendengar pertanyaan Toby dan melihat wajah Mala yang memandangnya tanpa berkata-kata, Kandara terkejut. Dia tidak menyangka akan respon kedua rekannya.


"Bukan dia Mas. Bukan... Dara mohon maaf, kalau saat ini belum bisa mengatakan siapa orangnya. Dara mohon pengertian Mas Mala dan Mas Toby." Kandara merasa sangat bersalah, sambil mengatupkan kedua tangan di dadanya.


Mala dan Toby menatap Kandara tidak mengerti, dan penuh dengan banyak tanya dipikiran mereka. Kandara yang mereka kenal tidak mungkin melakukan hal yang tidak terpuji seperti itu. Walau pun begitu, Mala dan Toby sedikit bernafas lega, ketika mengetahui lelaki itu bukan Lucha. Entah mengapa, mereka tidak terlalu suka kalau Kandara bersama dengan Lucha.


Lucha terlalu kasar dan arogan. Sangat berbeda dengan Kandara yang lembut, hangat dan ramah. Mereka memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Seperti air dan minyak yang tidak mungkin tercampur.


"Syukurlah, bukan dia. Kalau begitu, kalian menikah saja. Supaya kau tetap bisa bekerja dan tidak perlu mengajukan surat pengunduran diri." Ucap Mala, dan Toby mengangguk mengiyakan.


"Aku setuju dengan yang dikatakan Mala. Jadi kau tidak perlu memikirkan tentang pengundurkan diri itu" Ucap Toby tegas.


"Justru aku tidak bisa menikah, Mas. Makanya aku harus berbicara dengan Pak Ari. Kalau beliau mengijinkan aku bekerja tanpa menikah, aku akan tetap bekerja. Saat ini aku belum bisa menceritakan alasannya untuk Mas Mala dan Mas Toby." Ucapan Kandara disambut dengan tatapan heran dan tidak mengerti oleh kedua rekannya.


"Astagaaa... Kandaraaa... Jangan bilang kau hamil dengan suami orang." Toby terkejut dengan yang ada dipikirannya. Membuat suaranya cukup keras, sehingga Mala menyikutnya. Mereka berdua kembali cemas dengan pemikiran demikian. Jika seperti itu, mereka jadi membayangkan apa yang akan dihadapi Kandara.


"Tidak Mas, tidak. Hanya kondisi yang membuat kami tidak bisa menikah." Kandara berkata sambil menatap mohon pengertian kedua rekannya.


"Baiklah, baik. Aku percaya padamu. Pasti ada alasan yang kuat membuat kau bersikap seperti ini. Pikirkan baik-baik, karena ini adalah keputusan yang sangat penting dan berat bagimu." Mala berusaha mengerti Kandara. Mala juga menyenggol Toby sebagai isyarat baginya, agar mau mengerti dan menerima keputusan Kandara.


Toby menggelengkan kepalanya beulang kali, berusaha untuk mengerti. "Baiklah Dara, aku berharap kau sudah berpikir baik-baik ketika mengambil keputusan ini. Karena keputusanmu bukan hanya menyakut dirimu sendiri, tetapi juga bayi yang ada dalam kandunganmu dan juga Tante Selvine." Akhirnya Toby mau menerimanya dan mengingatkan Kandara.


"Aku hanya bisa bilang, pikirkan lagi baik-baik. Kalau orang normal berpikir seratus kali, kau harus berpikir seribu kali. Seperti Mala, sebagai rekanmu, aku akan mendukung semua keputusanmu." Ucap Toby lagi, mencoba mengerti keputusan Kandara.


"Terima kasih, Mas." Ucap Kandara terharu melihat kedua rekannya yang bisa mengerti dan menerima penjelasannya tanpa mendesaknya untuk menjelaskan secara detail.


Setelah itu, mereka bertiga kembali ke kantor dalam diam. Kondisi yang sama terjadi lagi, seperti ketika mereka berada di Bandara Incheon. Mereka bertiga berusaha menahan diri untuk tidak bercakap-cakap satu dengan yang lain.


Toby sedang memikirkan kondisi tersebut dalam mobil. Dia merasa mereka bertiga pernah berada dalam situasi seperti ini, tetapi lupa di mana dan atas kejadian apa. Begitu juga yang dirasakan Mala dalam hatinya, sambil membatin, tetapi lupa di mana.


Setelah mereka tiba di kantor, ternyata Pak Ari sudah berada di ruangannya. Toby dan Mala menyemangati Kandara, agar bisa berbicara dengan Pak Ari dengan baik.


"Fighting..!!!" Ucap Mala dan Toby menyemangatinya.


"Thank you, Mas." Ucap Kandara, lalu berjalan ke ruangan Pak Ari.


Melihat tingkah mereka bertiga dan kemudian Kandara menemui Pak Ari, Yeni datang mendekati Mala dan Toby. "Ada apa siiih? Serius bangeettt." Ucap Yeni, sambil mendekati mereka.


Mala memandang Yeni yang datang mendekati mejanya. "Yeeeh... Kepooo... Perhatikan tuu, ada cabe ungu di gigi." Ucap Mala. Mendengar itu, Toby langsung tersenyum sambil membuka laptopnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Mala.


"Hahahaha..." Toby dan Mala tertawa, melihat tingkah Yeni. Karena Toby tahu, Mala hanya bercanda, tetapi Yeni menanggapinya dengan serius.


Setelah itu, mereka terdiam mengingat Kandara sedang berada di ruangan Pak Ari. Mereka menunggu Kandara keluar dari ruangan Pak Ari sambil melihat laptopnya, tanpa bisa berkonsentrasi. Mereka bertiga sedang mengerjakan proyek penting, sehingga mereka tidak bisa berkonsentrasi sebelum mengetahui keputusan Pak Ari terhadap Kandara.


...~°°°~...


Di sisi yang lain; Di dalam ruang kerja Pak Ari, Kandara sedang menyampaikan kondisinya dan maksudnya untuk mengundurkan diri. Pak Ari yang mendengarnya, diam terpaku. Karena tidak menyangka Kandara yang dikenal baik selama ini, bisa berada dalam kondisi seperti ini.


Sebagai pimpinan, beliau tidak ingin kehilangan seorang pegawai yang cerdas, loyal dan kinerjanya sangat baik. Tetapi kondisi Kandara adalah kondisi khusus yang tidak ada dalam peraturan perusahaan.


Kalau dia sudah menikah dan hamil, itu tidak ada masalah. Pak Ari harus mengecek lagi dan berbicara dengan HRD. Beliau akan berusaha mempertahankan Kandara, karena timnya sedang mengerjakan beberapa proyek penting.


"Dara... Sementara ini, kau kerja dulu sambil saya akan bicarakan dengan pihak terkait." Pak Ari berkata, setelah berpikir beberapa lama.


"Baik, Pak." Ucap Kandara sambil menunduk.


"Apakah kau siap menerima ucapan atau pandangan miring tentang kondisimu jika tetap bekerja di sini?" Pak Ari memikirkan apa yang akan dihadapi Kandara jika tetap bekerja.


"Iyaa Pak, saya siap." Kandara berkata sambil mengangguk mengerti. Dia tahu apa yang dimaksudkan oleh Pak Ari. Kondisinya akan menjadi perbincangan di kantor. Akan ada orang yang bergosip tentang dirinya di belakang atau di depannya.


Ketika mengetahui bahwa, Kandara telah siap menerima semua konsekuensinya, Pak Ari akan memperjuangkan agar dia bisa tetap bekerja. Itu yang ada dalam pikiran Pak Ari.


"Baiklah, kalau begitu. Sementara ini kau bekerja seperti biasanya. Nanti saya akan sampaikan keputusannya setelah berbicara dengan pihak terkait.


"Baik, Pak. Trima kasih." Ucap Kandara, lalu berdiri dan mengatupkan kedua tangannya di dada.


Kandara keluar dari ruangan Pak Ari dengan hati yang ringan, karena sudah bisa menyampaikan kepada pimpinan dan kedua rekannya. 'Sekarang biarlah kehendak Tuhan yang terjadi atas hidupku.' Kandara membatin sambil keluar dari ruangan Pak Ari.


Setelah kembali ke meja kerjanya, Mala dan Toby datang mendekati Kandara ke mejanya. "Bagaimana, Dara. Apa kata Pak Ari?" Tanya Mala tidak sabar untuk mengetahui hasil pembicaraan Kandara.


"Dara diminta tetap kerja dulu, sambil menunggu Pak Ari berbicara dengan para petinggi, Mas." Ucap Kandara menjelaskan yang dikatakan oleh Pak Ari.


"Baiklah... Kalau begitu kita bisa bekerja dulu, sambil menunggu. Semoga semua usaha Pak Ari berjalan dengan baik." Toby berharap, Kandara dan Mala mengaminkan.


"Mulai sekarang, kalau kau merasa sesuatu, kau istirahat saja. Jangan dipaksakan." Ucap Toby lagi, ketika mengingat Kandara sedang hamil.


"Iyaa Mas, makasi. Dara merasa kurang enak saat pagi saja. Kalau seperti sekarang, tidak apa-apa." Kandara menjelaskan kondisinya. Mala dan Toby merasa lega dan mengucapkan OK dengan isyarat jarinya.


Mereka berdua kembali ke meja kerja masing-masing dan sudah bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan mereka yang menumpuk. Kandara duduk di meja kerja, membuka laptopnya untuk mulai bekerja dengan hati yang bersyukur. Karena memiliki pimpinan dan rekan kerja yang baik hati.


...~°°Ada teman yang mendatangkan celaka, tetapi ada teman yang mendatangkan kebaikan°°~...


...♡•~Jangan lupa like, komen, vote dan  favorit, yaa... 🙏🏻 Makasih~•♡...