
Kandara melihat kedua anaknya telah mandi dan duduk rapi di meja makan.
Morniiing, kids... Morniiing Ma." Ucap Kandara sambil mencium kepala kedua anaknya.
Morniiing Mom." Sambil memeluk perut Mommynya.
Kandara menyiapkan roti untuk sarapan kedua anaknya dan Bu Selvine membuat susu untuk kedua cucunya. Sambil sarapan, Kandara berbicara dengan kedua anaknya.
"Hari ini Mommy akan ke kantor, sekalian ke sekolah kalian. Jadi kalian tidak usah ke sekolah." Ucap Kandara.
"Kami ikut Mommy yaa, kami tidak akan ikut turun. Kami lihat teman-teman saja." Ucap Efrima. Kandara melihat wajah mereka, dan mengangguk.
Kandara berpikir, mungkin mereka akan kangen dengan teman-temannya, karena akan libur dalam waktu yang lama.
"Baiklah,, tapi tidak boleh rewel, ya.?" Tanya Kandara, mengingatkan mereka.
"Ok, Mom.." Ucap mereka sambil berdiri memeluk mommynya.
"Morniiing Ma,,. Morniiing kids.." Sapa Darel yang baru turun menuju dapur.
"Morniiing..,. Morniiing Dad." Sapa Bu Selvine dan kedua anaknya.
"Ada apa ini, kalian senang sekali. mmmm.?" Tanya Darel melihat kedua anaknya sedang memeluk Kandara. Dia mendekat dan mencium kepala mereka.
"Kami diijinkan untuk ikut Mommy, Dad." Jawab Efrima.
"Oooh,, ok. Kalau begitu, Daddy akan ikut juga, ya.." Ucap Darel, Kandara menatapnya dengan tidak percaya.
"Astagaaa,, nanti akan lama menunggu." Ucap Kandara khawatir, jika Darel benar-benar ikut.
"Tidak mengapa, aku akan tunggu dengan anak-anak.. Hayoooo,, aku tidak akan berikan." Ancam Darel sambil memainkan alisnya dan tersenyum mengingat ucapan Kandara tadi pagi.
Meilhat itu, wajah Kandara memerah, malu.
"Baiklah,,. Tetapi kalian tetap di mobil, tidak boleh turun." Ucap Kandara.
"Ok, deal.." Ucap Darel sambil tos dengan kedua anaknya.
"Efra dan Efri,, siapkan minum dan kue untuk dibawa.., agar kalian dan Daddy tidak rewel menunggu Mommy." Ucap Kandara sambil menyiapkan sarapan untuk Darel.
Hati Bu Selvine sangat terharu dan bersyukur melihat keluarga putrinya yang bisa berkumpul dan bercanda di pagi hari. 'Kiranya mereka senantiasa demikian adanya.' Bu Selvine membatin.
Kandara meletakan sarapan di depan Darel dengan wajah memerah.
"Jangan senyum-senyum sendiri, nanti dikira orang sudah mulai miring." Ucap Kandara, melihat Darel tersenyum dan menahan tawa.
"Hhhhhhh.." Darel tidak bisa menahan tawanya. Kandara ikut tertawa, karena dia tahu apa yang ada di kepala Darel ketika tertawa. Pasti peristiwa tadi pagi.
Bu Selvine ikut tertawa melihat tingkah mereka, walaupun beliau tidak tahu apa yang sedang mereka tertawakan. Pak Darpha dan Bu Richel yang baru keluar kamar, heran melihat Darel yang tertawa lepas. Mereka belum pernah melihatnya tertawa lepas setelah dia menjadi Idol.
"Ada apa ini.., pagi-pagi sudah pada tertawa.?" Tanya Bu Richel. Melihat wajah Kandara sudah seperti udang rebus, Darel menjawab Mommynya.
"Kami diijinkan Dara untuk ikut ke kantornya dan ke sekolah anak-anak, tetapi dilarang rewel." Jawab Darel., sambil melihat Kandara yang salah tingka. Pak Darpha dan Bu Richel tersenyum.
"Iyaa benar, kalian bertiga jangan macam-macam, tunggu di mobil sambil berdoa, biar semuanya cepat selesai." Ucap Bu Richel.
"Mom, Dad.., ini sarapannya.. Dara mau siap-siap dulu.. Ma, nanti tolong buatkan sarapan untuk Uncle, yaa.." Ucap Kandara kepada Bu Selvine, sambil naik ke kamar untuk siap-siap.
Efraim dan Efrima telah memasukan botol minum dan kue-kue yang disiapkan Bu Selvine ke dalam tas dan di masukan ke mobil. Efraim mengambil kunci mobil untuk membuka mobil.
Darel mengambil kunci mobilnya dari Efraim, sekalian memanaskan mesin. Biar Kandara turun, mereka langsung bisa berangkat. Efraim dan Efrima sekalian membuka pagar rumah.
Darel masuk mengambil masker dan kaca matanya serta mengganti celana pendeknya. Mikha yang baru keluar dari kamar mandi, terkejut melihat Darel sudah rapi.
"Mau ke mana.?" Tanya Mikha.
"Mau ikut Dara dan anak-anak." Jawab Darel.
"Kalau begitu, aku ikut juga." Ucap Mikha, langsung mengganti celana pendeknya.
*((**))*
Kandara yang baru turun dan melihat telah ditunggu empat orang, hanya bisa geleng-geleng kepala. Mikha makan rotinya sambil jalan dengan air mineral di tangan kirinya.
Bu Selvine, Bu Richel dan Pak Darpha hanya bisa menggelengkan kepala.
"Mari kita berdoa, semoga semuanya lancar hari ini." Ucap Pak Darpha.
Mereka langsung ke kamar untuk merapikan semua bawaan mereka. Begitu pun Bu Selvine., hanya obat-obat dan surat penting yang disiapkan di dalam tas tangan yang akan di bawanya.
Di dalam mobil, Darel terkejut karena tidak terlalu lama mobil Kandara sudah masuk ke area parkir gedung yang lumayan tinggi. Darel merasa senang melihat sikap security, yang mengenal Kandara dengan baik.
Darel duduk di belakang bersama Mikha dan Efraim. Sedangkan Efrima duduk di depan bersama Kandara, supaya tidak menarik perhatian.
"Efriii,, turun dengan Mommy, jangan sampai Pani Toby kesini." Ucap Kandara, karena melihat Toby telah turun dari mobilnya dan melihat mobil Kandara yang hendak parkir.
Mobil Kandara parkir di area bertuliskan Staf bersama-sama dengan Mobil Toby. Tiga tahun terakhir mereka bertiga telah diangkat menjadi Staf, begitu pun dengan Pak Ari telah naik jabatan.
Kandara turun sambil memegang tangan Efrima. Melihat Efrima ikut, Toby senang sekali.
"Astagaa,, putri aniku juga ikut." Ucap Toby tersenyum.
"Morniiing, Pani Toby.." sapa Efrima.
"Morniiing, sayang.." Ucap Toby sambil memeluknya. Mereka langsung masuk ke gedung.
Darel bertanya., kepada Efraim, siapa yang tadi memeluk Efrima dan dijelaskan oleh Efraim. Ketika, Efraim mengatakan itu Om Toby, Darel mengingat teman Kandara yang satu lagi, Pak Mala.
Darel langsung membuka jendela sedikit dan mematikan mesin mobil. Dia khawatir ada teman kantor Kandara yang datang lagi dan parkir di samping mobil Kandara dan mengetahui mesin mobilnya masih menyala.
Benar saja,, tidak lama kemudian, Mala datang dan parkir di samping mobil Kandara. Ketika melihat mobil Kandara, Mala tersenyum senang. Rina yang turun dari mobil Mala juga ikut tersenyum, karena akan bertemu dengan Kandara.
Melihat hal itu, Efraim menjelaskan sebelum Daddynya bertanya.
"Itu Om Mala, Dad.. Teman satu tim dengan Mommy, bersama Tante Rina." Ucap Efraim. Darel mengangguk.
"Efra kenal teman kantor Mommy.?" Tanya Darel heran.
"Hanya yang satu ruangan dengan Mommy saja, Dad. Karena mereka suka datang ke rumah untuk rayakan ulang tahun kami." Efraim menjelaskan dan Darel mengangguk mengerti.
Tidak berapa lama kemudian, Kandara telah keluar dari gedung menuju parkir. Darel langsung membuka pintu dan memberikan kunci kepada Kandara. Mereka langsung menuju sekolah kedua anaknya.
"Bagaimana, Dara.. bisa cutinya." Tanya Darel tidak bisa menunggu, karena baginya yang penting Dara bisa cuti. Kalau anak-anak tidak diijinkan, mereka tertinggal satu tahun tidak mengapa.
"Iyaa, bisa.." Ucap Kandara tersenyum melihat wajah Darel di spion yang tidak sabar.
"Waaah.., syukurlah.. kalau begitu aku mau tidur." Ucap Darel, memejamkan matanya dan yang lain tersenyum.
Setelah tiba di sekolah, Kandara turun sendiri untuk menemui Kepala Sekolah dan Guru mereka. Karena mereka duduk satu kelas, jadi hanya bertemu dengan satu guru.
Darel teringat kedua orang tuanya, langsung menghubungi mereka.
"Allooo, Dad.. Dara bisa cuti. Jadi kita bisa berangkat sesuai rencana. Kalau anak-anak tidak masalah, kita bicarakan nanti di rumah." Ucap Darel.
"Ok, kalau begitu Daddy hubungi ke Bandara." Ucap Pak Darpha dan mengakhiri pembicaraan.
Ketika Kandara kembali dan melihat wajahnya, mereka tahu, pasti kurang memuaskan.
"Ma, itu Guru Efri memanggil." Ucap Efrima ketika melihat Ibu gurunya keluar dari gerbang sekolah. Kandara berbalik mendekatinya. Mereka berbicara sebentar dan Kandara mengusap lengan Ibu gurunya.
"Terima kasih Bu Guru, nanti saya akan kirim email saya." Ucap Kandara sambil menggenggam tangan Ibu Gurunya.
Ibu guru terus memandang punggung Kandara, karena beliau sangat mengagumi mommy sikembar. Membesarkan kedua anaknya tanpa rasa minder dan mengabaikan ucapan miring terhadapnya. Sehingga beliau bersedia membantunya.
"Ok, mari kita pulang untuk bersiap-siap, sebelum makan siang." Ucap Kandara lega., tetapi Darel melihat wajah Kandara yang berubah dengan heran.
*- Selalu ada jalan keluar untuk sebuah niat baik -*