Me And You For Us

Me And You For Us
Biola Efrima.



Hari baru selalu membawa kisah baru bagi setiap orang yang tahu bersyukur. Kandara terbangun, ketika mendengar suara air di kamar mandi. Dia bersyukur dan segera turun dari tempat tidur. Dia masuk ke ruangan perlengkapan untuk menyiapkan baju Darel.


"Dara,, aku mau pakai kemeja kerja., hari ini aku ada meeting." Ucap Darel saat keluar dari kamar mandi dan melihat Kandara menyiapkan baju rumah. Mendengar itu, Kandara segera menggantikan dengan baju kerja Darel.


Lemari-lemari pakaian Darel sudah diberikan label/keterangan di bagian atas pintu oleh Darel untuk memudahkan Kandara mengambil bajunya. Karena bajunya banyak, Andara sangat bingung menentukan sesuai kebutuhan Darel.


Setelah itu, Kandara ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Darel sudah turun untuk sarapan, begitu juga Mikha dan Pak Darpha.


"Kalian kerja hari ini.?" Tanya Pak Darpha kepada Darel dan Mikha, ketika melihat Darel dan Mikha turun dengan pakaian rapi.


"Iyaa Dad.., aku ada meeting hari ini. Daddy tidak berangkat kerja." Tanya Darel.


"Daddy berangkat agak siang. Setelah sarapan, kita berbicara sebentar di ruang kerja, ya.." Ucap Pak Darpha, Darel dan Mikha mengangguk mengiyakan.


Kandara yang baru turun segera menyiapkan air hangat untuk Darel dan Mikha.


"Maaf, Mom dan Daddy.., kesiangan." Ucap Kandara dengan wajah memerah, malu.


"Tidak mengapa,,., tadi malam kalian sampai rumah jam berapa.?" Tanya Bu Richel mengingat mereka ke Bandara.


"Kami sudah tidak memperhatikan jam  lagi, karena sudah lelah dan mengantuk. Mungkin jam 1 atau 2." Ucap Darel, sambil melihat Mikha.


"Aku juga tidak melihat jam., sudah lelah dan mengantuk, Mom." Ucap Mikha.


"Semoga Manche tiba dengan selamat." Ucap Bu Richel dan semua yang di meja makan mengaminkannya.


Setelah sarapan, Darel dan Mikha ikut Pak Darpha ke ruang kerjanya.


"Darel,, Daddy dan Mommy mau memberikan kado untuk pernikahanmu. Kalian mau bulan madu ke mana.?" Tanya Pak Darpha sambil mereka duduk di ruang kerjanya.


"Kami tidak rencana bulan madu, Dad.. Dara tidak mau bulan madu ke mana-mana. Katanya di sini saja, tidak mau jauh dari anak-anak, Mommy, Daddy dan Mama. Jadi Darel akan berbicara dengan Mikha, mungkin kita semua ke Pulau Jeju saja.


"Oooh,, begitu.. Baiklah.., Daddy tunggu keputusanmu dan Mikha." Ucap Pak Darpha heran sekaligus terharu, Kandara menolak untuk pergi berbulan madu.


"Mungkin besok atau lusa, Darel akan lakukan konferensi pers untuk memberitahukan status kami, baru kita semua ke Jeju. Darel akan atur dengan Mikha dulu, baru kasih tahu Daddy." Ucap Darel, dan Pak Darpha mengangguk mengerti.


"Kalau begitu, kalian siap-siap untuk berangkat kerja, daddy juga mau siap-siap, karena ada meeting di Relkha." Ucap Pak Darpha sambil berdiri.


"Ooh iya, Darel.. aku hari ini lumayan sibuk, karena ada yang mau memakai Ballroom Hotel." Ucap Mikha sambil keluar kamar bersama Darel.


"Ok, nanti kau sudah di rumah baru kita bicarakan." Ucap Darel sambil menepuk bahu Mikha. Setelah itu Darel ke ruang makan mencari Kandara.


Ketika melihat anak-anaknya sedang sarapan, Darel menyapa dan mencium kepala mereka.


"Dara, kalau ada apa-apa, aku kerja di kamar." Ucap Darel sambil naik tangga.


Setelah sarapan, Bu Selvine, Kandara dan kedua anaknya ke kamar tamu. Sedangkan Bu Richel ke kamarnya untuk melihat Pak Darpha yang sedang siap-siap untuk berangkat kerja.


Sesampai di kamar tamu, Kandara merapikan semua baju-baju yang mereka kenakan untuk acara pernikahannya. Ketika melihat biola ada dalam ruangan, Kandara terkejut.


"Efriii,, kenapa biola ini kau bawa pulang ke sini.?" Tanya Kandara sambil menatap tajam Efrima.


"Yaaa,, itu karena punya Efri, Mom. Dua hari lalu, Daddy beli untuk Efri." Ucap Efrima dengan wajah terkejut, dan mata berembun khawatir Mommynya marah


"Astagaaa.,, Mommy kira proferti yang di bawah Uncle Mikha. Maafkan Mommy.." Ucap Kandara sambil memeluk dan mencium kepala Efrima.


"Sana,, simpan yang rapi. Jangan sampai jatuh." Ucap Kandara sambil mengacak rambut Efrima. Bu Selvine menarik nafas lega, karena tadi hendak menanyakan tentang biolanya juga.


Begitu pun dengan Bu Selvine yang sedang membantu memisahkan dan merapikan baju-bajunya. Baju-baju yang sangat mahal. Hatinya hanya bisa tersenyum mengingat harga baju yang dikenakannya saat Kandara menikah.


Karena melihat Mommy dan Omanya yang sedang sibuk dan Efrima sudah mulai tertidur, Efraim keluar kamar hendak tidur di kamar Uncle Mikha.


Ketika melewati kamar Daddynya, Efraim mengetuk. Dia ingin sekali tidur di kamar Daddynya.


Darel sudah melepaskan jas, meletakannya di kursi. Kemudian meletakan punggungnya di atas tempat tidur, mendengar ketukan di pintu.


"Masuk." Ucap Darel, tanpa mengangkat tubuhnya.


"Daddy masih kerja.?" Tanya Efraim melihat Daddynya masih berpakaian rapi.


"Ooh.., kau Efra.. sini.." Ucap Darel sambil menepuk tempat disampingnya. Efraim mendekat, naik ke tempat tidur dan berbaring di samping Daddynya.


"Daddy lagi break.., nanti lanjutkan lagi. Jadi Daddy istirahat sebentar... Efra.., kalau mau tidur dengan Daddy, datang saja, jangan dengan Uncle terus., mmmm.?" Ucap Darel, melihat Efraim memeluk perutnya. Darel mengelus kepala Efraim yang ada di bawah ketiaknya.


"Efraa,, kalau perlu sesuatu langsung katakan pada Daddy. Karena Daddy mengurus banyak hal., sehingga kadang tidak bisa mengerti yang Efra mau.," Ucap Darel, sambil mengelus kepala Efraim dengan sayang.


"Daddy memiliki banyak karyawan, jadi harus memikirkan mereka juga. Efra sudah lihat di studio bukan., mereka itu hanya sebagian kecil di bawa tanggung jawab Daddy. Jadi Daddy harus membagi waktu dan pikiran untuk mereka selain kalian bertiga dan Oma." Ucap Darel sambil tetap mengelus rambut Efraim yang ikal dan lebat. Efraim mengangguk mengerti.


"Oooh, iyaa.. Efraa mau Daddy beli apa. Piano atau Orgen.?" Ucap Darel mengingat Efra bisa memainkan orgen dengan baik juga waktu di studio.


"Benarkah.., Daddy..?" Tanya Efraim, sambil melihat wajah Darel. Melihat reaksi Efra., Darel mengerti.


Setelah merasa pundaknya lebih baik, Darel membalikan badannya menghadap Efraim.


"Iyaa.., Daddy akan belikan yang kau mau." Ucap Darel lagi untuk meyakinkan Efraim.


"Orgen saja, Daddy.. piano ada di sekolah musik. Kalau orgen bisa dibawa-bawa." Ucap Efraim, dan Darel terkejut dengan pemikiran Efraim. Dia langsung memeluk putranya.


"Baik,, nanti kita pergi lihat dan kau pilih yang kau suka dan cocok denganmu. Mmmm..? Ada lagi yang kau butuhkan.?" Tanya Darel lagi.


"Tidak, Daddy.." Ucap Efraim sambil memeluk Daddynya.


"Kalau begitu, kau tidur di sini, Daddy bekerja sebentar sebelum makan siang." Ucap Darel, mencium kepala Efraim dan bangun menuju ruang kerjanya. Efraim mengangguk tersenyum dan tidur.


Sebelum makan siang, Darel telah selesai meeting dan keluar dari ruang kerjanya. Ketika melihat Efraim masih tidur, dia berbaring disampingnya tanpa melepaskan jasnya.


Dia sangat lelah, karena memimpin rapat dengan para staf Perusahannya yang di Amerika selalu berkonflik. Asistennya yang meneruskan selanjutnya, karena yang perlu keputusannya sudah selesai.


Kandara yang masuk ke kamar untuk membangunkan Efraim untuk makan siang terkejut melihat Darel sedang tidur bersama Efraim.


Tadi Kandara sudah ke kamar untuk membawa minum bagi Darel yang katanya sedang bekerja di kamar, tetapi tidak ada Darel di kamar. Sehingga Kandara berpikir mungkin Darel sedang keluar.


Melihat Darel yang tidur dengan masih mengenakan jas, Kandara berpikir Darel pasti sangat lelah. Dia kurang istirahat, karena tadi malam pulang dari Bandara sudah lebih dari tengah malam.


Kandara membangunkan Efraim dengan pelan. Setelah Efraim membuka matanya, Kandara memberikan isyarat untuk tenang dengan melatakan jari di bibirnya. Efraim mengangguk mengerti, dan turun dari tempat tidur dengan perlahan.


Kandara dan Efraim turun menuju ruang makan. Bu Richel menanyakan Darel, dan Kandara menceritakan kondisi Darel.


"Dara,.., kalau begitu kau makan dengan Darel di kamar saja. Bangunkan Darel untuk makan, setelah itu kasih obat, supaya dia istirahat lagi." Ucap Bu Richel, kemudian memintah kepala pelayan untuk menyiapkan makan siang untuk Darel dan Kandara di kamar.


Bu Richel segera ke tempat kotak obat untuk mengambil obat dan memberikannya kepada Kandara. Kemudian Kandara mengikuti kepala pelayan yang membawa makanan ke kamar Darel.


*- Segala sesuatu ada batasnya, begitu pun dengan kekuatan tubuh -*